ログインJanuari, 2024
Kyra dan laki-laki yang menuduhnya main petasan itu, kini sedang berhadap-hadapan. Saling memandang dengan sorot yang sengit. Tidak ada satupun di antara keduanya yang ingin mengalah. Kyra bersedekap dada, mencoba bersikap pongah. Tiba-tiba ia ingat janjinya pada diri sendiri untuk tidak bersikap ramah pada laki-laki tersebut. Apalagi dalam situasi seperti ini, dimana ia bahkan tidak bisa diajak kerja sama. "Coba ulangi kalimatnya," pinta Kyra dengan nada yang ketus. Ditto menghela napasnya panjang. Ia selalu merasa sudah lelah duluan setiap kali menghadapi manusia diusia 20-an. Belum juga bicara, energinya rasanya sudah terserap habis. Apalagi manusia usia 20-an ini adalah Kyra Aruma Wahid. Si kepala batu. "Kamu boleh membatalkan rencana pernikahan ini." Kyra menggeleng pelan. Ia mendengus. "Kenapa harus aku?" Ditto mengernyit. "Jadi harus aku?" "Iya dong!" tegas Kyra. Ditto semakin mengernyit. "Tapi 'kan kamu yang ingin rencana pernikahan ini batal." Kyra terkekeh. "Do you love me?" Ditto ikutan terkekeh. "Kamu gila ya?" Kyra mendengus pelan. "Makanya batalin. Mas Ditto juga 'kan nggak suka sama aku, jadi memang seharusnya Mas Ditto yang batalin." Ditto meraih plastik yang berisi camilan yang tergeletak di depan pintu. Ia lantas menyerahkannya -dengan paksa- pada perempuan itu. "Aku nggak bisa jadi pihak yang membatalkan rencana itu, sekalipun aku mau-sangat mau. Kamu sediri tahu kondisi Mama. Kalau aku menambah beban pikiran Mama ... aku nggak mau punya penyesalan apapun." Kyra hendak menjawab dan memprotes, tapi mulutnya hanya mampu terbuka sedang suaranya lenyap tersapu desau angin. Ia urung membantah karena ia memang tahu keadaannya. Tapi rasanya tetap saja menjengkelkan. "Ya sudah, terserah!" Perempuan itu kesal. Ia lantas berbalik, menghentak-hentakkan kaki dan berniat berlalu. Tapi Ditto sudah hafal dengan tabiatnya. Oleh karena itu, dengan cepat, laki-laki itu menahan lengan Kyra. Menahan perempuan itu untuk tidak masuk ke dalam rumah. Meninggalkan percakapan mereka yang masih mengambang. "Kita belum selesai bicara," tandas Ditto. "Apalagi sih, Mas? Kamu nggak bisa kasih solusi, jadi apa lagi yang mau dibicarakan?" Suara Kyra sedikit naik, membuat atmosfer di sana sama sekali tidak menyenangkan. Semilir angin bahkan pergi, menjadikan suasana di sana senyap hingga yang terdengar adalah helaan napas masing-masing. "Aku sudah kasih kamu solusi, Kyra. Kamu bisa batalkan pernikahan ini." Kyra menatap mata itu dengan marah. "Menurut Mas Ditto, aku bisa?" Ditto bergeming. "Ketika yang aku punya cuma Mama kamu, ketika hutang budiku setinggi gunung, ketika orang yang paling menyayangiku cuma beliau, menurut Mas Ditto, aku bisa?" Ditto memejamkan matanya; lelah. "Kalaupun memang bisa dibatalkan, Mas Ditto yang harus melakukannya. Mas Ditto anak Mama. Mama pasti tidak akan merasa kecewa. Sedangkan aku ... aku cuma anak perempuan di seberang rumah yang kebetulan disayanginya." Kyra terengah-engah. Ia berbicara dengan rasa marah. Lalu setelah beberapa kalimat itu keluar, ia jadi lelah. Sangat lelah. "Oke." Ditto mengambil alih atensi. Tapi Kyra enggan menatap. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pada gelap di bawah pohon mangga dan ayunan besi yang baru dicat ulang. "Karena tidak ada satupun di antara kita yang bisa meminta rencana pernikahan ini dibatalkan ... Let's just get married." Kyra membelalakkan mata. Ia benar-benar tidak percaya pada rungunya saat ini. Pada kata-kata yang baru saja meluncur dengan lancarnya dari mulut laki-laki itu. "Apa, Mas?" "Let's just get married." "Nggak mau!" tolak Kyra cepat. Ditto mendengus kesal. "Aku juga nggak mau ya." "Terus tadi?" "Ayo kita menikah demi Mama. Kita sama-sama tahu kondisi mama. Tapi setelah menikah, hiduplah terserah; sesukamu. If you have a boyfriend, go ahead. Tidak masalah. Selama kamu bisa menjaga pernikahan ini di depan Mama, di depan orang tua." Kyra menganga, tidak menyangka dengan ide dari laki-laki yang sebulan lalu baru saja wisuda S3. Perempuan itu tidak mengerti di mana otak brilian yang selalu ia pamerkan ketika idenya saja -barusan- terdengar sangat sampah sekali. "Dasar Mas Ditto gila!" Lalu perempuan itu berlalu, masuk ke dalam rumah dengan meninggalkan suara bantingan pintu yang mengejutkan Ditto. **** Langkahnya teraruk-saruk, napasnya terengah-engah. Ia sudah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya lebih dari dua puluh kali. Tapi sialnya, semakin sering dilihat, semakin resah ia dibuatnya. Sial! Ia kesiangan. Galau ternyata membawa banyak kerugian. Andai semalam ia tidak memutuskan menangis sambil mendengarkan lagu galau, ia yakin tidak akan bangun terlambat dan kocar-kacir ke kampus seperti ini. Oh ayolah, sekalipun Kyra bukan mahasiswa jenius dan teladan, ia tetap tidak pernah datang terlambat. Terlebih di mata kuliah ini. Sial! Sepertinya memang Kyra sedang sial belakangan ini. Terbukti, ketika ia -dengan lelehan keringat dan suara ngos-ngosan- tiba di depan pintu kelas, dosennya sudah berdiri di depan kelas dengan buku di tangan. "Permisi, Pak. Maaf saya telat." Dosen laki-laki itu menoleh, menatap dengan pandangan tidak menyenangkan pada Kyra. Ia lantas melihat pada arlojinya dan mengernyit. Firasat Kyra buruk sekali. "Kamu terlambat 20 menit." "Iya, Pak. Tadi di jalan macet." Dosen laki-laki itu nampak menimbang. Membuat Kyra merasa akan ada angin segar. Ia mungkin akan dimaafkan karena ini pertama kalinya ia datang terlambat. Namun saat dosen muda itu menggeleng pelan, lantas mengibaskan tangannya selayakna ia mengusir seekor anjing, Kyra tahu husnudzon-nya sia-sia! "Kamu masuk di pertemuan selanjutnya. Hari ini, karena terlambat lebih dari batas toleransi, silakan tutup pintunya dari luar." Kyra lunglai. Ia tidak mengatakan apapun selain melakukan perintah tersebut. Lalu saat ia sudah menjauh dari kelas tersebut, Kyra berulang-ulang mengumpat dengan suara tertahan. "Bajingan!" "Dosen bajingan!" "Dasar dosen nggak punya hati!" "Dasar Mas Ditto si dosen paling nyebelin!" **** TO BE CONTINUED FOLLOW I* @nana.sshi_ Di sana akan ada versi chat random Kyra dan Ditto yaaaCHAPTER 44 . . . "Ini sudah menyala ya, Mas?" "Sudah, ma. Mama bisa langsung ngomong." "Oh ... oke-oke. Tapi mama kelihatan cantik 'kan di video? Nggak pucat atau jelek, kan?" "Nggak, mama sayang." "Soalnya video ini buat Kyra. Mama harus tampil cantik." "Mama cantik kok." "Ya sudah, mama mulai, ya." (Hening sesaat. Mama Mona menunduk, menatap selimut putih yang menutup separuh tubuhnya. Sebentar kemudian, ia mengusap rintik air mata yang tumpah. Meski menunduk, jelas sekali ia sedang menangis). "Mama ... oke?" (Suara khawatir Ditto dari balik kamera). "Oke, oke. Mama oke kok. Mama mulai, ya." (Mama Mona berdehem pelan. Ia tersenyum). "Hai, Kyra. Anakku Kyra sayang. Apa kabarnya? Mama harap, Kyra dalam keadaan baik, sehat, dan bahagia." "Nak, Kyra sayang, waktu terasa lama sekali ya. Lama sekali. Kapan ya terakhir kali mama melihat wajah kamu? Pagi itu, membawakan Kyra garang asem ayam, ya?" (Mama Mona kembali menyeka air matanya sebelum akhirnya
Bagi manusia yang tengah merindu, satu detik itu menjadi lama sekali. Seolah dengan satu detik, kita bahkan bisa membuat kue, membuat nasi uduk, hingga membuat candi. Satu detik yang terasa lama itu, saat ini, tengah mencekik Ditto. Tapi Ditto tidak bisa gegabah. Ia tidak ingin membuat Kyra berlari semakin jauh dan sulit ditemukan lagi. Ia sudah kapok harus mencarinya berbulan-bulan dengan hasil nihil. Oleh karena itu, sekalipun ia sudah mengantongi alamat beserta nomor teleponnya –dengan bantuan Bu Nina– Ditto tidak buru-buru pergi ke sana. Ia masih menimbang, perihal perkataan apa yang akan ia sampaikan pada Kyra agar perempuan itu bisa paham. Bisa mengerti. Bahwa … What happened to Mama Mona was not her fault. Juga yang terjadi malam itu antara dirinya dan Ikri, Ditto tidak menganggap itu sebagai sebuah pengkhianatan. Mereka belum bersepakat saling mencintai saat itu. Dan Kyra jelas menangis malam itu, sampai-sampai meminta dijemput saat itu juga. It already showed that Kyra did
Bus melaju dengan pelan saat sampai di area yang sudah dipenuhi hijau-hijau sepanjang jalan. Hijau-hijau dari daun teh. Lalu sekitar sepuluh menit kemudian, bus memasuki pekarangan villa dan berhenti. Penumpang di dalam bus bersorak riang sekali saat menyadari bahwa mereka telah tiba di tempat tujuan. Satu persatu turun. Anak-anak yang memakai kaos hitam bertuliskan Gathering Rumah Bahagia itu lantas berbaris di samping bus, mengikuti instruksi dari para kakak yang memakai pakaian serba putih. Mereka berbaris dengan rapi, di mulai yang paling kecil-kecil di depan, dan yang lebih tinggi berdiri di baris paling belakang. Wajah semringah mereka semua sama. Tidak ada yang tidak bahagia. Baik yang balita, sampai yang remaja. Mereka menikmati perjalanan liburan itu dengan perasaan syukur. Sebab bagaimanapun, manusia-manusia malang seperti mereka, yang tumbuh di dalam sebuah panti asuhan, menikmati liburan sampai keluar kota adalah sesuatu yang langka sekali. Ditto dan Gio turun paling te
(Banyakin komennya donggg, udh mau akhir ini gengssss) . . . Awalnya ia berjalan dengan cepat, lalu kemudian berubah menjadi berlari. Ia tergesa-gesa, mengabaikan sapaan orang-orang yang berpapasan dengannya, juga mengabaikan keheranan sang ayah maupun mata Gio yang sembap dan memicing padanya. Ia sungguh tidak peduli apapun sekarang selain segera mencapai rumah itu. Sebab beberapa saat lalu, tepat setelah doa selesai dan satu persatu pelayat pulang, seseorang menepuk pundak Ditto dan membisikkan sesuatu. “Pakde lihat Kyra, tadi dia berdiri di bawah pohon kamboja. Coba kamu susul ke rumahnya, siapa tahu dia masih ada di sana.” Karena alasan itu, ia sudah berdiri di depan pintu rumah dengan napas terengah-engah. “Ra ….” Entah sudah berapa ribu kali, dalam tiga bulan terakhir ini, ia memanggil nama itu. “Ra ….” Baik saat ia pulang dari mengajar di kampus. Atau saat ia sedang terlelap tidur dan tiba-tiba terbangun. Sesekali bahkan saat ia hanya sekedar duduk di sofa ruang tenga
Tiga Bulan Setelahnya . . . Ada banyak hari, dalam tiga bulan itu. Lalu dari seratus hari lebih itu, tidak pernah sekalipun Ditto mampu tidur dengan nyenyak. Atau sekedar bersenda gurau dan menelan makanan bukan hanya karena ia harus makan. Atau merasa riang setiap kali melihat jejak-jejak yang tersisa dari perempuan itu. Tidak sekalipun. Hidupnya berubah menjadi begitu tidak asik. Karena perempuan itu hilang, hingga kini, setelah tiga bulan berlalu. "Kamu sudah lapor polisi, kamu juga sudah mencari sendiri. Kamu sudah mengusahakan segalanya. Kalau kenyataannya hingga kini kamu masih belum bertemu dia ... itu karena memang sudah takdirnya demikian." Malam itu, di ruang depan rumah keluarga Ditto, Papa Shandi berbicara sambil meletakkan secangkir teh di hadapan Ditto. Anak sulungnya itu nampak frustrasi sekali. Papa Shandi lalu menepuk pelan pundaknya. "Aku khawatir sekali." Ditto memijit dahinya yang berdenyut-denyut. Sejak kehilangan Kyra, ia jadi lebih sering sakit kepala
(Sudah mendekati ending, tolong dong diramaikan, bantu dshare-share di menfess dan lain-lain wkwkwkw. Oh iya, vote dan komen yang panjang kalau mau besok update lagi!) . . . . . Malam Insiden, Sebelum Kecelakaan Ditto Bandung yang dingin. Bandung yang terlalu jauh. Bandung yang hanya diisi oleh manusia-manusia jatuh cinta. Bandung yang sedemikian itu, membawa pagut dari truth or dare berlanjut ke sebuah ruang yang hanya ditempati oleh berdua. Karena selain mereka berdua, sisanya asik terlelap karena sekaleng bir atau memang tidak terbiasa dengan suhu Bandung yang dingin. Napas-napas yang terengah, aksi saling pandang dan kemudian kembali bersatu bibir dengan bibir. Kyra --beberapa waktu lalu-- menyadari bahwa dare yang diberikan teman-temannya pada Ikri, jelas mengganggu perasaannya. Dare yang meminta Ikri untuk menciumnya, dan langsung spontan dipenuhi, membuat ia disusupi segunung rasa bersalah. Pada status 'istri' yang dia emban, pada pernikahan yang diam-diam ia sembunyik
Ia mungkin tidak bisa mengamuk di kampus setelah dengan seenaknya didaftarkan pada seleksi tersebut. Bagaimanapun, ia masih ingin merahasiakan pernikahan itu dari siapapun manusia-manusia kampus, terlebih pacarnya, Zikri Ananda. Jadi setidaknya, butuh tiga jam sampai semua mata kuliah selesai dan i
"Hai, i made you breakfast. Kamu hari ini masih belum ke kampus, kan?"Saat itu, ketika Ditto membuka pintu, untuk sesaat ia terpaku. Yang pertama dilakukannya adalah menoleh ke belakang, ke anak-anak tangga menuju lantai dua. Lalu setelah memastikan hal tersebut, Ditto kembali menoleh pada perempu
Matanya masih nyalang, di antara detak-detak jam yang menunjukkan pukul 1 dini hari. Padahal, sosok yang terlelap di sampingnya --dengan dua guling yang membatasi-- nampak begitu menikmati tidur dengan mimpi di dalamnya. Tidak merasa terganggu sama sekali dengan suara yang ditimbulkan dari geraknya
Sebelum Kecelakaan, Bandung, Malam BarbequeMenyenangkan sekali menghabiskan waktu dengan teman. Melakukan banyak game sampai hanya berbicara santai dan berseloroh bodoh. Sesekali, mereka juga membicarakan masa depan dan setelahnya --yang semula ceria-- atmosfer berubah menjadi muram karena mereka







