เข้าสู่ระบบPenerbangan ke Monaco seharusnya biasa saja. Tapi, semua berubah ketika pion emas milik Maximo jatuh tepat ke balik seragam Selena. Pramugari itu menolak membuka bajunya, membuat sang miliarder murka.Sejak saat itu, Selena bukan lagi pramugari ... dia hanyalah tahanan pribadi miliarder.
ดูเพิ่มเติมLangit malam selalu terlihat indah dari ketinggian tiga puluh ribu kaki.
Orang-orang menyebutnya pemandangan terbaik di dunia. Bintang lebih dekat. Awan seperti kapas. Kota-kota di bawah tampak seperti gugusan cahaya kecil yang tenang. Tapi bagi Alya, langit tidak pernah benar-benar terasa indah. Langit hanya tempatnya bekerja. Tempatnya tersenyum palsu selama berjam-jam. Tempatnya pura-pura baik-baik saja. Padahal hidupnya sedang runtuh pelan-pelan. “Makeup-mu luntur, Ly. Touch up dikit,” bisik Rina di ruang kru. Alya tersentak kecil. Ia menatap cermin. Benar. Maskaranya sedikit pudar di sudut mata. Entah karena lelah… atau kurang tidur. Semalam ia tidak tidur. Tagihan rumah sakit masuk lagi. Nominalnya bertambah. Selalu bertambah. Seakan-akan angka-angka itu sengaja mengejeknya. Rp 287.450.000 Ia bahkan hafal sampai digit terakhir. Uang sebanyak itu mustahil untuk pramugari kontrak seperti dirinya. Gajinya habis untuk cicilan kos, makan, dan obat ibunya. Tabungan? Sudah lama kosong. Pinjaman? Menumpuk. Telepon penagih hutang berbunyi seperti alarm neraka setiap hari. Tapi seragam biru mudanya tetap harus rapi. Senyumnya tetap harus manis. Karena di pesawat, penumpang tidak peduli hidupmu hancur atau tidak. Yang mereka mau hanya pelayanan. “Ly?” Rina menyenggol lengannya. “Kamu melamun lagi.” Alya tersenyum cepat. Senyum profesional. “Capek aja.” “Flight terakhir kok malah kelihatan mau pingsan.” “Abis ini cuti dua hari. Istirahat total.” Ia berbohong. Besok ia harus bolak-balik rumah sakit. Mengurus administrasi. Memohon perpanjangan waktu pembayaran. Lagi. Selalu begitu. Boarding dimulai pukul 20.40. Pesawat malam selalu berbeda rasanya. Lebih sepi. Lebih dingin. Lampu kabin redup, seperti sengaja membuat semua orang ingin cepat tidur. Alya berjalan menyusuri lorong sambil menyapa penumpang satu per satu. “Selamat malam, Pak.” “Welcome onboard.” “Seat 14A di sebelah kanan, Bu.” Rutinitas. Berulang. Tanpa rasa. Sampai langkahnya terhenti di kursi paling depan. 2A. Seorang pria duduk sendirian. Setelan jas hitam rapi. Terlalu rapi untuk penerbangan malam. Tangannya bertumpu santai di sandaran kursi, tapi posturnya tegak. Tegas. Berwibawa. Jam tangannya berkilau halus terkena cahaya. Bukan jam biasa. Alya tahu tipe itu. Harga jamnya mungkin setara gaji setahun. Laptop tipis terbuka di depannya. Ia mengetik tanpa melihat sekitar. Aura dinginnya terasa bahkan sebelum Alya berbicara. “Selamat malam, Pak. Boleh saya lihat boarding pass-nya?” Pria itu menyerahkan tanpa menoleh. Gerakannya singkat. Hemat. Seperti tak ingin membuang energi. Nama di boarding pass membuat Alya membaca dua kali. Arkan Mahendra. Nama itu terdengar familiar. Seperti pernah ia lihat di berita bisnis. Tapi ia tak yakin. “Silakan, Pak. Jika butuh bantuan, tekan tombol panggil ya.” Tak ada jawaban. Hanya anggukan kecil. Alya melanjutkan langkah. Namun entah kenapa, tengkuknya terasa dingin. Seperti ada yang memperhatikannya. Ketika ia menoleh sekilas— Pria itu menatapnya. Langsung. Tajam. Bukan tatapan tertarik. Bukan juga ramah. Lebih seperti seseorang yang… mengenali. Padahal mereka belum pernah bertemu. Alya buru-buru memalingkan wajah. Jantungnya berdetak aneh. Kenapa cuma ditatap begitu saja bisa bikin merinding? Dua jam kemudian, pesawat mendarat. Penumpang turun satu per satu. Kabinnya kosong. Tenang. Alya menghela napas lega. Selesai. Tinggal beres-beres, lalu pulang. Ia ingin cepat sampai kos, mandi air hangat, lalu tidur panjang. Tapi rencananya hancur. “Alya, ke kantor ground sekarang ya.” Suara supervisor terdengar kaku. Tidak biasa. “Kenapa, Kak?” “Ada urusan sedikit.” Sedikit. Kata yang terdengar sepele. Tapi entah kenapa membuat perutnya mual. Ruangan itu dingin. Terlalu dingin. Dua petugas keamanan berdiri di dekat meja. Dan seseorang duduk di kursi tamu. Santai. Kaki disilangkan. Seolah ruangan itu miliknya. Alya berhenti di ambang pintu. Jantungnya langsung jatuh. Pria kursi 2A. Arkan Mahendra. Dia di sini. “Dia orangnya?” tanya salah satu petugas. Arkan mengangguk pelan. Tatapannya tetap datar. “Iya. Dia.” Alya mengerutkan kening. “Maaf… ada apa ya?” Petugas mendekat. “Nona Alya Pramesti, kami menemukan barang mencurigakan di bagasi Anda.” “Barang… apa?” “Uang tunai dalam jumlah besar. Dokumen palsu. Dan paspor berbeda nama.” Darahnya seperti tersedot habis. “A-apa? Itu bukan punya saya!” “Kami temukan di koper Anda.” “Tidak mungkin! Saya cuma bawa seragam!” Tangannya gemetar. Napasnya memburu. Ia menoleh ke Arkan tanpa sadar. Berharap. Entah berharap apa. Penjelasan? Pembelaan? Tapi pria itu justru berdiri. Melangkah mendekat. Sepatunya berderap pelan di lantai. Setiap langkahnya membuat ruangan terasa makin sempit. Ia berhenti tepat di depan Alya. Terlalu dekat. Alya bisa mencium aroma parfum maskulin yang dingin. “Mau keluar dari masalah ini?” tanyanya pelan. Suaranya rendah. Tenang. Mengintimidasi. “A-apa maksud Anda…?” Ia menatap lurus ke mata Alya. Tanpa emosi. Tanpa simpati. “Utang ibumu tiga ratus lima puluh juta.” Alya membeku. Bagaimana dia tahu? “Saya bisa lunasi malam ini juga.” Jantungnya berhenti berdetak. “Tapi,” lanjutnya, “kamu ikut saya.” Sunyi. “Sebagai apa…?” Tatapannya tak berubah. “Sebagai milik saya.”Matahari belum sepenuhnya muncul ketika mobil hitam itu meluncur keluar dari gerbang mansion. Alya duduk di kursi belakang, tangan menggenggam tas kecil, tubuh kaku. Ia merasa seperti boneka, bergerak di antara manusia, tapi setiap gerakannya diawasi. Arkan duduk di kursi depan, mata menatap jalan, wajah tetap tanpa ekspresi. Diamnya menekan, membuat setiap detik perjalanan terasa panjang. Mobil berhenti di gedung mewah, lantai dasar dipenuhi mobil-mobil mahal dan orang-orang berpakaian rapi. Alya menelan ludah. Ia tidak tahu harus menatap ke mana, atau bagaimana bertindak. Setiap langkah harus sempurna. Setiap gerak harus tepat. Satu kesalahan—dan ia tahu Arkan tidak akan segan menegurnya di depan semua orang. “Masuk,” kata Arkan singkat saat membuka pintu mobil. Alya berdiri, melangkah keluar, sepatu hak tinggi membuatnya canggung. Langkahnya terasa berat, tapi aura Arkan di sampingnya membuat semua orang yang lewat sadar akan keberadaannya. Ia bukan lagi hanya Alya Prame
Pagi datang terlalu cepat. Alya membuka mata, tubuhnya terasa berat seperti batu. Setiap otot menjerit, tapi ia tahu: tidak ada pilihan untuk menunda. Arkan sudah menunggu. Setelah mandi cepat, ia mengenakan pakaian yang sudah dipilihkan Arkan: setelan formal abu-abu gelap, rok pensil, sepatu hak tinggi hitam. Ia menatap dirinya di cermin, mencoba mengenali sosok yang menatap balik. Tapi wajah itu tampak asing. Mata yang dulu lincah kini terlihat lelah. Bibir yang biasa tersenyum manis kini kaku, tegang. Ini bukan dirinya. Ini topeng yang harus ia pakai. Ponsel bergetar di meja. Pesan singkat dari Arkan: “Mobil menunggu. Tepat waktu. Jangan terlambat.” Alya menelan ludah. Tidak terlambat, tidak salah gerak. Itu perintah tidak tertulis yang ia pahami dengan jelas. Ia menggenggam tas kecil, menuruni tangga, dan berjalan ke ruang utama. Arkan duduk di meja sarapan, jas hitamnya rapi, tangan mengepal di atas meja. Tatapannya ke arah Alya tajam, menembus, menilai. Ia tidak menyapa
Mata Alya masih berat ketika alarm berbunyi. Lampu kamar yang lembut kini terasa menyiksa. Ia menatap jendela besar di depannya, taman yang tertata rapi terlihat tenang di bawah sinar pagi, tapi hatinya kacau. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi rasa takut tidak pergi. Ia berada di rumah orang yang menguasai hidupnya—bukan sekadar harta, tapi seluruh keberadaannya. Setelah mandi cepat, Alya berdiri di depan lemari, mencoba memilih pakaian. Semua sudah disiapkan—rapi, mahal, dan terlalu sempurna untuk dirinya yang terbiasa dengan seragam pramugari dan celana jeans sederhana. Ia memilih setelan formal hitam yang sederhana, menyesuaikan dengan instruksi Arkan: “Tampil rapi. Tidak mencolok. Tapi harus cukup untuk terlihat profesional.” Tangannya gemetar saat memasang sepatu hak tinggi. Rasanya bukan dirinya yang mengenakan pakaian ini. Rasanya seperti topeng. Dan topeng itu harus ia pakai, atau semua yang ia cintai—utamanya ibunya—akan hancur. Ponsel bergeta
Mobil hitam melaju tanpa suara di jalan tol. Lampu kota bergeser di kaca jendela, tapi Alya tidak memperhatikannya. Tangannya masih menggenggam koper, jari-jarinya gemetar. Arkan duduk di kursi depan, menatap layar tablet sesekali. Diamnya membuat udara di dalam mobil terasa berat, hampir bisa dipotong. Alya ingin bicara, ingin melawan, ingin berteriak… tapi kata-kata tersangkut di tenggorokannya. Setengah jam perjalanan. Setengah jam untuk merenungkan hidupnya yang baru saja dijual. “Ini… rumahmu?” suaranya akhirnya pecah. Arkan menatap ke kaca spion, sekilas saja. “Ya. Kamu akan tinggal di sini mulai malam ini.” Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang menekan, membuat Alya merasa semua pilihan telah hilang. Mansion itu muncul di ujung jalan, besar dan megah, berdiri di atas bukit dengan gerbang besi tinggi. Lampu taman menyorot air mancur yang memercik di halaman, membentuk bayangan menari. Alya menelan ludah. Indah, tapi dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang baru saja






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น