MasukPagi itu masih basah oleh embun, matahari belum sepenuhnya naik saat Arum berdiri ragu di samping tangga, menunggu Saka untuk segera sampai di ujung anak tangga. Begitu sosok tegap Saka melaluinya begitu saja seakan sosok Arum tak pernah ada, senyum yang dipaksakan di wajah Arum segera benar-benar menghilang.
Arum menunduk, tangannya menggenggam ujung bajunya, bingung harus melangkah atau tidak. Ia menatap punggung suaminya, lelaki yang kini mengikatnya dalam ikatan tanpa cinta itu berjalan menjauh dengan gagahnya. Aura lelaki itu terasa begitu kuat, tegas, dingin dan tajam dari ujung rambut sampai nada bicaranya. Setelah mengumpulkan keberanian, Arum berjalan perlahan, langkahnya nyaris tanpa suara. Saat posisinya tepat di belakang Saka, Arum menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mencoba memanggil nama sosok di hadapannya. ".. Tuan..." panggil Arum pelan. Saka menoleh sekilas. Wajahnya tak berubah, tetap datar seakan tak ada hal menarik dari perempuan yang saat ini berdiri di sampingnya. "Saya cuma... mau nganterin ke depan, dan bilang hati-hati di jalan," ucap Arum ragu, senyum canggung terlihat mengembang di wajahnya. Saka menghela napas berat lalu menatap jam tangannya, sebelum akhirnya melempar pandangannya ke halaman depan rumah. "Lain kali, ga usah pura-pura perhatian. Saya muak," ucapnya dingin sebelum melangkah keluar tanpa menoleh. Langkah kaki Saka menjauh, meninggalkan aroma parfum maskulin dan dingin yang menyesakkan. Arum masih berdiri di tempat, tangannya bergerak mengusap air mata yang jatuh diam-diam. Namun tak lama, Arum segera menghapus air matanya, berusaha tetap terlihat tenang meski suaranya masih tercekat. Ia melangkah pelan menyusul Saka yang sudah sampai di ambang pintu. Hatinya berkata satu hal sederhana, setidaknya ia ingin mengantar, walau hanya sampai teras. Namun baru satu langkah ia keluar dari ambang pintu, suara tajam Saka terdengar membentaknya. "Jangan ikut-ikut keluar!" Arum berhenti. Tangannya yang sempat menyentuh pegangan pintu perlahan turun. Saka menoleh setengah, tak sepenuhnya melihat wajah Arum, namun cukup untuk membuat perempuan itu mengecil di tempatnya. "Jauh-jauh dari saya, dan jangan pernah bersikap pura-pura manis kayak gitu, apa kamu tau kalau saya benar-benar jijik liatnya? Saya ga butuh perhatian dari barang jaminan seperti kamu." Suaranya memukul, dingin dan penuh amarah yang ditahan setengah mati. Saka menarik napas pelan, lalu bicara lebih lirih tapi menggertak. "Masuk. Tutup pintunya." Arum menggigit bibirnya, menahan air mata yang rasanya hampir mengalir dengan deras. Ia menunduk dengan cepat, memundurkan langkah tanpa suara. Perlahan, pintu ditutup. Tanpa suara bantingan, namun gemanya terasa keras di dadanya sendiri. Begitu pintu tertutup, Arum berdiri mematung di baliknya. Tak ada pelukan, tak ada perpisahan manis pagi itu. Hanya dinding yang membatasinya dari suaminya sendiri, dan dari dunia yang tak pernah sepenuhnya mau menerima kehadirannya. Tangannya masih menempel di gagang pintu, getar di ujung jemarinya menjalar sampai ke dada. Helaan napasnya tercekat. Ia tak sanggup bergerak. Perlahan, keningnya bersandar pada permukaan pintu. Pintu yang terasa dingin itu menyalurkan pedih yang membakar di dalam dirinya. Matanya terpejam, air matanya jatuh tanpa sempat ditahan. Ia menggigit bibir, menahan suara tangis yang mendesak keluar. Tapi tubuhnya tak bisa menipu, bahunya bergetar, napasnya tersendat-sendat. Dan ketika semuanya tak tertahan lagi, akhirnya isakan kecil lolos juga. Arum menatap tangannya yang sebelumnya ingin menjabat. Terasa begitu dingin juga kosong. Dan pagi itu, sekali lagi, Arum belajar cara menelan luka dalam diam. --- Hari berganti malam, lampu teras kecil menyala redup. Udara malam menggigit, namun Arum tetap berdiri tegak di balik pintu. Tangannya menggenggam erat ujung cardigan tipis yang ia kenakan. Detik demi detik terasa panjang hingga akhirnya suara mobil terdengar dari kejauhan. Lampu depan menyapu jalan masuk. Arum mengangkat wajah, jantungnya berdetak lebih cepat. Mobil itu berhenti, pintu terbuka dan sesosok tinggi dengan langkah tenang namun letih turun dari mobil. Sesaat mata saka sempat membulat begitu melihat pintu rumah terbuka dan Arum berdiri di sana. "Selamat datang, tuan," ucap Arum pelan, mencoba tersenyum. Saka diam, sorot matanya dingin seperti biasa. Tanpa menjawab, ia melangkah masuk begitu saja melewati Arum, seolah kehadiran perempuan itu hanyalah angin malam. Arum menutup pintu perlahan dan menyusul. "Kerjanya gimana tadi? Capek, ya? Udah makan belum?" tanya Arum lembut, mencoba tetap hangat walau dadanya cemas. Tangannya terulur, mencoba mengambil tas kerja Saka. "Biar saya bantu—" Tak membiarkan Arum melakukan niatnya, Saka menepis pelan tapi tajam. "Jangan sentuh." Arum membeku. Tatapan Saka menghunjam lurus ke matanya. "Kamu gak pantas pegang barang-barang saya. Bahkan nafas kamu aja ga seharusnya ada di tempat yang sama dengan saya." Arum menunduk, suaranya tercekat. Namun ia tetap mengikuti langkah Saka ke dalam. "Saya udah masak, tuan. Kalau tuan mau makan, saya siapin sekarang," ucap Arum pelan. Langkah Saka terhenti sejenak, lalu berjalan ke arah dapur. Melihat itu, Arum segera menuju meja makan dan mulai menyiapkan piring. Ia mencoba tetap tersenyum meski tangannya sedikit gemetar. Saka duduk diam. Tatapannya tajam mengamati Arum, bukan karena peduli, namun seperti mengamati makhluk asing yang menyebalkan. "Saya dengar dari mama, tuan suka ayam kecap, ya? Ini saya coba buatin semoga cocok sama lidah tuan," ucap Arum seraya meletakkan piring lauk terakhir di hadapan Saka. Saka menatap sepiring ayam kecap di hadapannya dengan malas, lalu kembali menatap Arum dengan mata elangnya. "Kamu ngorek informasi soal saya?" "Bukan gitu, tuan. Tadi siang saya kebetulan lagi ditelepon mama, jadi saya sekalian tanya tentang—" "Apapun hubungan atau kedekatan kamu sama keluarga saya, saya tetap ga suka bahkan benci kalau kamu mencoba tau sesuatu tentang saya," potong Saka dengan cepat. Ia menekan setiap katanya seakan benar-benar membenci apa yang Arum lakukan. "Maaf, tuan. Saya cuma mau berusaha menjalankan kewajiban saya, saya pikir tuan bisa sedikit menerima saya," balas Arum lirih. Ia menundukkan kepalanya, berusaha meredam perasaan sesak yang menjalar di dadanya. Sebuah senyum simpul terbentuk di wajah Saka, senyuman dingin dan mengejek. Tangan Saka bergerak mengambil piring itu, lalu dengan santai, ia miringkan hingga potongan ayam itu berjatuhan dan mengotori lantai. Arum terkejut. Matanya membelalak melihat apa yang baru saja Saka lakukan. Saka masih bersandar di kursi dengan santai, ada kepuasan tersendiri baginya ketika melihat ekspresi takut sekaligus terkejut di wajah perempuan yang begitu ia benci. "Saya ga pernah minta kamu masak. Dan perlu kamu tau, saya ga sudi makan apapun dari tangan perempuan seperti kamu." Arum menatap Saka dengan tatapan tak percaya, bibirnya kembali bergetar. Ia tetap di tempat, berusaha mengatur napas seraya berpikir apa yang membuat Saka begitu membencinya. Kesalahan apa yang sudah Arum lakukan hingga Saka bersikap seperti ini padanya. Saka berdiri, tangannya menyentuh piring kosong lain di meja, lalu menjatuhkannya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Arum tersentak mundur. Ia meringis kecil ketika satu serpihan mengenai kaki kirinya. Langkah kaki Saka terdengar menjauh, menapaki anak tangga satu per satu dengan tenang, seolah yang baru saja terjadi hanyalah rutinitas biasa. Tak ada niat untuk menoleh, apalagi meminta maaf. Pintu kamarnya di lantai dua pun tertutup dengan bunyi klik yang dingin. Di dapur yang sunyi, Arum tetap berlutut. Pecahan piring berserakan, makanan yang ia masak bersusah payah kini berserakan di lantai. Tangannya meraih satu per satu serpihan kaca meski jari-jarinya gemetar. Luka kecil di kakinya mulai terasa perih, tapi bukan itu yang membuat air matanya mulai jatuh. Isakan pertama lolos tanpa suara. Dadanya sesak, terlalu sakit. Tangannya masih memungut pecahan sambil berusaha menahan napas. Namun emosi itu akhirnya pecah juga. Air matanya jatuh deras, bahunya mulai terguncang. Ia buru-buru menutup mulut dengan tangan. Suara isakannya terlalu berat, nyaris seperti batuk yang tertahan, seperti suara orang yang menjerit dalam diam. Ia menunduk lebih dalam, dahinya hampir menyentuh lututnya, tangannya tetap membekap mulutnya sendiri agar tak terdengar sampai ke atas. Ia mencoba mengatur napasnya, satu napas, dua napas, namun gagal. Tangisnya pecah kembali, kini tubuhnya bergetar hebat. "Kenapa… aku salah apa...," bisiknya lirih di antara sesak nafas. Tangannya yang masih menggenggam pecahan mulai berdarah, namun ia tak mempedulikannya. Satu-satunya yang ada di pikirannya hanyalah perasaan ditolak, dipandang rendah dan sendirian di rumah yang bahkan tak terasa seperti rumah. Ketika isakan itu mulai mereda, pikirannya tiba-tiba melayang pada satu nama, Sekala. "Kalau Sekala...." Bayangan Sekala muncul jelas di kepala Arum, sosok yang selama ini seolah selalu ada di sudut hatinya. Sekala, dengan senyum yang tulus dan tatapan hangat yang tak pernah ia dapat dari Saka. "Pasti dia ga akan seperti ini... dia pasti ga akan memperlakukan aku seperti ini." Air matanya hampir jatuh lagi, namun Arum cepat-cepat menggeleng pelan. "Engga. Aku ga boleh mikir kayak gini. Aku ga boleh berharap sama Sekala lagi. Aku harus lupain dia." Tangan yang sempat berhenti mengumpulkan pecahan kini menggenggam kuat, seakan berusaha menahan ingatan yang datang tiba-tiba itu. Dengan satu isakan kecil yang tertahan, Arum kembali membersihkan pecahan itu.Koridor itu kembali sunyi setelah pintu ruang kerja Saka tertutup. Lampu-lampu putih memantul di lantai marmer, dingin dan rapi, kontras dengan kepala Raka yang sedang riuh.Langkahnya melambat ketika dua sosok keluar dari ruangan itu.Nico lebih dulu, wajahnya datar namun bahunya kaku, seperti seseorang yang menahan lelah terlalu lama. Di belakangnya, Arga menyusul, jasnya rapi, tetapi sorot matanya tidak. Bukan lelah biasa, itu adalah tatapan seseorang yang baru saja membicarakan sesuatu yang terlalu serius untuk dibawa keluar ruangan.Raka berhenti sepersekian detik, alisnya bertaut. Dalam sepersekian detik itu, cukup bagi Raka untuk benar-benar mengenali siapa yang berdiri di samping Nico. "Ngapain Arga di sini?"Pertanyaan itu muncul cepat, tajam dan langsung melekat di kepalanya. Arga bukan tipe orang yang akan datang tanpa alasan. Apalagi dengan raut wajah seperti itu. Nico dan Arga sendiri berhenti berbicara saat seseorang muncul dari arah berlawanan. Seseorang dengan langkah
Beberapa jam kemudian, pintu ruang kerja kembali terbuka. Arga melangkah masuk lebih dulu, disusul Nico di belakangnya.Langkah Arga lebih lambat dari biasanya, bahunya turun, wajahnya sedikit pucat, seperti baru saja mengalami sesuatu yang mengguncang dirinya.Saka langsung mengangkat kepala. Tatapannya menajam mencari sosok yang tak kunjung masuk ke dalam ruangan. "Mana Maverick?"Pertanyaan itu keluar spontan, bahkan sebelum Arga duduk.Arga menelan ludah, wajahnya berubah sedikit sendu. Nico yang berdiri di sampingnya menepuk bahu Arga, memberi sedikit tekanan pada bahu itu untuk duduk di kursi.Untuk sepersekian detik, ketiganya terdiam dalam hening yang aneh, berat dan tidak nyaman. Suara helaan napas Arga akhirnya memecah keheningan, sebelum akhirnya ia bicara dengan suara serak, "Dia di rumah sakit, lagi nemenin Lia."Alis Saka berkerut, ada sesuatu yang langsung terasa salah. "Kenapa di rumah sakit? Emangnya udah waktunya lahiran?"Nico menoleh pada Arga dengan raut sedih, le
Ruang kerja itu terasa lebih sempit dari biasanya. Udara di dalamnya berat, seolah ada sesuatu yang menggantung dan menekan dada.Nico berlari panik memasuki ruangan, langkahnya melambat saat melihat ekspresi Saka, tangan lelaki itu mengepal erat, rahangnya jelas terlihat mengeras. Nico sempat melirik pada sebuah amplop cokelat yang tergeletak di atas lalu menatap Saka. "Ada apa? Ada kiriman lagi?"Saka langsung memberikan kertas kosong itu pada Nico, wajahnya memucat. "Orang ini udah masuk rumah, Nico," suaranya rendah, nyaris datar. Namun Nico tahu, itu bukan suatu ketenangan, melainkan amarah yang ditahan mati-matian.Nico menatap kertas itu dengan kening mengernyit, ia merasa sudah tahu kertas apa ini sebelum Saka menjelaskan. Ia memiringkan kepala, tangannya refleks mengangkat kertas itu ke arah cahaya jendela. Saat itu juga, ia melihat garis-garis bayangan mulai jelas menampilkan foto Arum. "Sa, ini..."Saka yang masih berdiri di depan jendela, menatap keluar dengan mata gelap,
Pagi itu, cuaca sedikit mendung saat Saka dan Arum baru turun dari kamar. Belum sempat mereka duduk di meja makan, terdengar suara ketukan pintu disertai suara pak Dadang yang memanggil dengan sopan.Segera, Saka dan Arum menghampiri. Begitu bertatapan dengan pak Dadang, lelaki paruh baya itu menyerahkan sebuah paket besar yang baru saja dikirim oleh kurir. Kotaknya elegan, dibungkus rapi tanpa label pengirim. Hanya nama Saka yang tertulis di bagian atasnya. Saka mengernyit, lalu menatap Arum. "Kamu pesan sesuatu?"Arum menggelengkan kepala. "Engga, kok. Ini tertulis untuk tuan, bukan tuan yang pesan?"Saka menggelengkan kepala, ia juga tak merasa memesan apapun. Ingatannya berputar pada paket sebelumnya yang datang, apakah ini berasal dari orang yang sama?Rasa penasaran itu mengalahkan rasa curiganya. Ia membawa kotak itu masuk dan membukanya perlahan di ruang tamu.Begitu tutup terbuka, aroma bunga segar langsung menyergap. Namun itu bukanlah bunga biasa. Mata Arum membesar saat m
Awalnya hanya hal kecil, terlalu kecil untuk disebut masalah. Namun cukup aneh untuk membuat Saka mengernyitkan keningnya.Email klien penting tiba-tiba menghilang dari server internal. Laporan keuangan yang sudah disetujui tiba-tiba berubah angka. Meeting yang seharusnya tertutup bocor ke pihak luar, lengkap dengan detail yang seharusnya hanya diketahui jajaran tertentu. Bahkan Clara sebagai sekretaris pun mengaku tidak tahu menahu tentang hal ini. Meski dia sering menghilang di saat kerja, namun dia bersumpah tidak pernah membocorkan apapun pada pihak luar."Ini bukan human error,” gumam Saka, berdiri di depan layar ruang rapat dengan rahang mengeras. Naluri manajemennya langsung berisik, pola ini terlalu rapi untuk disebut sebagai kebetulan.Kantor mulai terasa panas. Karyawan saling bisik, kepala divisi panik. Semua orang menunggu keputusan, namun sebuah keputusan tidak bisa dibuat begitu saja.Tak hanya itu, masalah terus datang beruntun. Investor meminta klarifikasi, partner huk
Begitu Raka Pradipta melangkah masuk ke gedung tinggi Savera Holdings, udara dingin dari AC tak sanggup meredam panas di dadanya, jantungnya berdegup keras. Ini... adalah wilayah kekuasaan dari seorang Saka Valenbrand. Bangunan itu megah, logo perusahaan terukir angkuh di dinding resepsionis. Meski begitu, tak ada sedikit pun kebencian tergambar di wajahnya ketika Nico menyapanya. "Selamat siang. Pak Raka, ya? Saya Nico, orang kepercayaan tuan Saka. Mari saya antar ke atas." Raka tersenyum hangat, lalu menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak, pak Nico. Saya sudah merepotkan." Mereka masuk ke dalam lift dan naik bersama menuju ruangan presiden direktur. Raka diam-diam mencuri pandang ke arah lantai lift yang terus naik, dan sesekali melihat pantulan dirinya dan Nico di dinding lift stainless itu. Lift berdenting, mereka tiba di lantai paling atas. Nico mempersilakan Raka masuk ke dalam ruangan presiden direktur, tempat di mana Saka sudah menunggu. Ruangan kerja Saka sian







