เข้าสู่ระบบSuamiku dan keluarganya selalu menghina serta merundungku hanya karena statusku sebagai anak angkat. Mereka tidak tahu saja kalau aku sebenarnya ....
ดูเพิ่มเติม"Safran, maaf...." Shanum bercicit dengan rasa bersalah sambil menoel-noel lengan kokoh yang tengah sibuk mengupas apel di kursi samping tempat tidurnya. Sayangnya yang di toel hanya mendesah berat saja."Safran... Aku beneran minta maaf. Kamu jangan marah." Mendapati sang calon suami bungkam, Shanum semakin merasa bersalah.Bagaimana tidak merasa bersalah. Teringat tadi, Pria itu nampak kacau sekali saat datang menghampirinya. Lalu mengecek kondisi Shanum dengan kekhawatiran yang tak main-main, kemudian memberondong pertanyaan pada dokter dengan sangat teliti tentang kondisi Shanum saat ini. Seolah Shanum sedang menghadapi kondisi kritis dan mengidap penyakit kronis. Padahal faktanya, dia tadi hanya tiba-tiba pingsan di kantor karena kecapean semata. Meski begitu, melihat hal itu hati Shanum merasa semakin hangat. Selain Daddy, Safran mungkin pria kedua yang memperlakukannya seperhatian itu. Karenanya, Shanum pun merasa bersalah kini melihat kebungkaman Safran.Shanum pun akhirnya i
Selepas kunjungan ke makam itu, langkah Shanum terasa jauh lebih ringan. Seolah beban berat yang bertahun-tahun ia pikul akhirnya perlahan terlepas satu demi satu. Ini terasa seperti keajaiban untuk Shanum. Ternyata benar pepatah yang mengatakan "Memaafkan bukan cuma untuk orang lain, tapi juga untuk diri sendiri."Bukan, ini bukan tentang ia yang bisa melupakan semua perbuatan Reksa. Tidak, tentu saja tidak. Semua itu akan menjadi bagian kisah Shanum yang tak mungkin ia lupakan. Proses hidup untuk menuju pribadi yang lebih baik. Shanum memaafkan Reksa, karena ia sadar, hatinya sendiri terlalu lelah untuk terus memelihara luka.Luka itu akan selalu ada, tapi biarkan mengering sendiri seiring dengan waktu yang terlewati. Tentu juga, dengan kisah dan kenangan baru yang akan ia ukir bersama Safran. "Cie yang senyum-senyum sendiri. Mulai jatuh cinta sama calon suami, apa mulai gila nih menjelang ijab?" Shanum tersentak halus sebelum refleks memutar kepala mendengar suara cempreng berna
"Masih kepikiran, ya?"Shanum tersentak halus saat merasakan sentuhan lembut pada tangannya. Siapa lagi kalau bukan Safran pelakunya. Saat ini, mereka masih di toko kue untuk melanjutkan rencana semula. Akan tetapi, sejak pertemuan dengan mantan mama mertuanya, Shanum jadi susah fokus.Karenanya, sejak tadi malah Safran yang mengambil alih semuanya. Bahkan, saking tidak fokusnya, Shanum sampai tidak sadar jika Nata sudah tertidur pulas dalam pangkuan Safran sejak tadi."Nggak, kok. Cuma ... masih kaget aja," bohongnya kemudian. Ya! Shanum memang bohong. Faktanya, bagaimana ia tidak sampai kepikiran coba, dengan sebuah kabar yang Rima bawa beberapa saat lalu.Reksa sudah tiada!Ya, Tuhan ... Shanum benar-benar terkejut dengan kabar itu. Apalagi, ia juga dengar Reksa pergi dengan cara yang .... nekad.Bunuh diri!Melompat dari flyover!Nah, kalian juga pasti terkejut, kan!"Kalau kamu mau, aku bisa menyuruh orang mencari makamnya dan ... kamu bisa mengunjunginya." Suara Safran kembali
Shanum kira, setelah berpisah dan hidup di kota yang berbeda, bahkan dengan jarak lumayan jauh. Ia tidak akan pernah bertemu merek lagi. Tetapi, apa ini? Kenapa dunia mendadak sempit?Beberapa bulan lalu ia bertemu pria brengsek itu, sekarang ...."Shanum, tolong katakan. Apa itu benar cucuku?"Shanum yang sempat tertegun beberapa saat lantas menoleh. Kemudian agak tersentak setelah melihat siapa yang memangilnya barusan. Dari suara, ia sudah mengenali pemiliknya. Tetapi setelah melihat penampakannya, Shanum langsung membeku. Wajah itu berbeda dari yang ia ingat selama ini. Lebih dari itu, Shanum juga lumayan kaget karena ternyata yang memanggilnya adalah pengemis tadi!Tunggu dulu! Benarkah dia salah satu penggores trauma dalam hidup Shanum. Wanita yang sering menekan mentalnya dan meremehkannya. Tetapi ... kenapa wajahnya ... BERBEDA?"Shanum?" Tak segera mendapatkan jawaban. Tuna wisma itu kembali memanggil. "Maaf, anda kenal saya?" tanya Shanum pura-pura bodoh. Juga, meyakinkan
Pagi hari, seusai mandi, Shanum berniat menghampiri Baby Nata yang tadi diculik Bunda Karina setelah mandi. Katanya, "Bunda mau mengajak Baby Nata tour di rumah ini. Biar kalau dia keasyikan merangkak terus nyasar, tau arah pulang."Ada-ada saja memang bundanya itu. Akan tetapi, Shanum merasa tak a
"Biarkan saja. Aku tidak keberatan kok dengan keberadaannya di sini.""Oh, ya sudah kalau begitu."Shanum pasrah melihat Baby Nata tidur nyaman di dada Safran, ia akhirnya memilih duduk di sofa, mencoba menikmati suasana acara yang masih berjalan. Tetapi ketenangan itu tidak berlangsung lama, karen
Shaki tersenyum lebar seperti anak kecil yang baru mendapat permen. "Kak Sha nggak bohong, kan? Aku takut Kak Sha lupa sama aku setelah satu tahun di luar negeri!" Shanum tertawa kecil sambil menggeleng. "Mana bisa aku lupa sama biang onar satu ini?" Shaki memasang ekspresi dramatis, menepuk dad
Satu Tahun Kemudian ..."Akhirnya setelah satu tahun, kita kembali ya, Sayang," ucap Shanum ketika turun dari pesawat, sambil mengusap kepala Baby Nata yang tertidur lelap di pangkuannya.Penerbangan panjang itu cukup melelahkan, tapi hatinya sedikit lebih ringan. Banyak hal yang sudah ia lalui dal












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
คะแนน
ความคิดเห็นเพิ่มเติม