MasukSuamiku dan keluarganya selalu menghina serta merundungku hanya karena statusku sebagai anak angkat. Mereka tidak tahu saja kalau aku sebenarnya ....
Lihat lebih banyakBandara-- bukan, tepatnya landasan pribadi yang Arjuna punya di pinggiran kota.Safran berdiri di sana dengan Nata di gendongannya, menatap rombongan yang datang satu per satu dengan ekspresi seseorang yang sudah berdamai dengan takdir.Daddy Arjuna dan Bunda Karina sudah lebih dulu ada di sana. Bunda sibuk membaca materi seminar di ponselnya, Daddy berdiri di sampingnya dengan tangan di saku — tenang, seperti biasa, seperti mengorganisir perjalanan dua belas orang ditambah tiga bayi adalah hal paling normal di dunia.Frans mengatur semua bagasi tanpa banyak bicara. Jumlahnya tidak masuk akal untuk perjalanan beberapa hari.Ken dan Rara menyusul. Rara tampak segar, Ken tampak seperti baru selesai sprint.Lalu Kairo muncul — dengan triplet dalam satu stroller ganda yang lebar, satu bayi carrier di dadanya, dan Aika di sebelahnya yang berjalan dengan langkah seseorang yang baru dibebaskan dari rutinitas panjang."Libur tlah tiba! Libur tlah tiba! Hore! Hore! Hore!" Aika bersenandung ria
Nata celingukan dari bahu Safran saat di bawa masuk, Menemukan Shanum di ranjang. Lalu kembali menatap Safran dengan dahi berkerut."Pipi... sini?""Iya."Nata memproses. Lama. Lalu tampaknya memutuskan hal itu tidak perlu dipahami sekarang — yang penting Pipi ada — dan menyandar kembali dengan puas.Safran membawa Nata makin masuk sambil melirik Shanum di ranjang. "Sudah mau bangun?""Mau mandi dulu.""Kakinya ... oke?"Shanum melempar bantal ke arahnya.Safran berkelit sambil terkekeh, satu tangannya masih menopang Nata yang tidak mengerti kenapa Pipi dan Mami-nya lucu pagi ini.Sarapan dipesan ke kamar. Mereka bertiga duduk di meja dekat jendela — Nata di tengah dengan celemek yang dipasangkan Safran, sibuk dengan buahnya dan sesekali menyodorkan potongan ke mulut Safran tanpa permisi.Tidak banyak yang dibicarakan. Tidak perlu. Yang penting menikmati momen baru sebagai keluarga kecil yang manis.Tok. Tok."Ini Bunda, Sha."Shanum dan Safran saling pandang.Pintu dibuka — dan seper
Shanum membuka mata perlahan.Cahaya pagi sudah menyelinap masuk dari celah tirai — tipis, keemasan, jatuh miring di atas karpet kamar. Dari luar jendela, suara kota sudah mulai bergerak. Tapi di dalam kamar ini, semuanya masih tenang.Ia berkedip beberapa kali. Membutuhkan beberapa detik untuk sepenuhnya sadar.Lalu mengingat semuanya.Pipinya langsung memanas. Awalnya ia kira, karena sudah pernah menikah dan baginya bukan yang pertama lagi, pasti hal itu akan jadi pengalaman biasa saja. Ternyata oh ternyata. Produk lokal sama luar itu memang beda rasanya. Entah itu stamina atau ukurannya. Shanum sampai dibuat kewalahan. Rasanya bener-bener, ugh! Ngerti kan' maksudnya? Parahnya, ternyata Safran lumayan 'doyan'. Gak cukup sekali. Gak pingsan saja udah untung rasanya. Anehnya, Shanum semalam tidak keberatan sama sekali, malah ikut menikmati. Karena ditengah kepuasannya, Safran juga selalu memikirkan perasaan Shanum. Hal yang dulu tak diberikan Reksa. Ini adalah pernikahan keduanya,
Kamar pengantin yang sudah disiapkan malam itu terasa terlalu sunyi setelah keramaian resepsi yang baru saja mereka tinggalkan.Shanum duduk di tepi ranjang, melepas sepatunya satu per satu dengan napas lega yang tidak bisa ia sembunyikan. Meski sudah di ganti oleh Safran dengan spatu plat yang nyaman, tetap saja kakinya sudah protes sejak dua jam lalu tapi baru sekarang bisa ia turuti.Bunda Karina dan Mama Arletta masih ada di ruangan — membantu melepas beberapa aksesori rambut yang terlalu rumit untuk dilepas sendiri, merapikan gaun, dan tentu saja tidak melewatkan kesempatan untuk mengobrol."Safran tadi bilang apa, Let?" Celetuk bunda, mulai iseng kayaknya."Ketularan gak bobo kalau gak sama aku?" Mama Alle tertawa kecil sambil menggeleng. Bunda terkikik, "Anak itu, ya? Gak nyangka bisa modus juga. Mode halus lagi.""Begitu emang dia, Dari kecil kalau sudah mau sesuatu, caranya halus tapi tepat sasaran.""Beda sama Shaki yang langsung tembak, ya?" sahut Bunda Karina sambil menca
"Masih kepikiran, ya?"Shanum tersentak halus saat merasakan sentuhan lembut pada tangannya. Siapa lagi kalau bukan Safran pelakunya. Saat ini, mereka masih di toko kue untuk melanjutkan rencana semula. Akan tetapi, sejak pertemuan dengan mantan mama mertuanya, Shanum jadi susah fokus.Karenanya,
"Aku ... " Shanum terlihat ragu menjawab " ... nggak ..."Senyum Safran yang beberapa saat lalu terbit kecil di sela wajahnya yang nampak cemas. Mendadak pias mendengar lanjutan sepotong kalimat dari jawaban Shanum. Jangan, Tuhan! Aku mohon! Hatinya terus menggaungkan kalimat tersebut sambil menat
"Kamu lagi ng'prank ya, Sha?" Shanum memijat keningnya yang mendadak pening. Luar biasa memang Safran itu. Padahal Shanum sudah bilang tidak harus malam ini juga. Minggu depan, atau minimal lusa gitu baru datang. Shanum kan juga butuh persiapan di sini. Akan tetapi pria itu seolah tuli. Tetap be
Setelah sesi temu pengantin selesai dan suasana heboh perlahan mereda, acara resepsi kembali berjalan lebih khidmat.Safran dan Shanum duduk berdampingan di pelaminan besar bernuansa putih gading. Lampu kristal di atas mereka memantulkan cahaya hangat, membuat suasana ballroom terasa megah sekaligu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak