LOGINSaka keluar dari kamar ketika mendengar dentingan piring dan sendok yang beradu, wajahnya tertekuk ketika membayangkan dirinya dilupakan dan yang di dapur sana seenaknya makan sendiri, bahkan ketika sedang berada di rumah orang lain. Belum sampai di dapur, Saka menghentikan langkahnya ketika melihat Arum sedang berjalan ke arahnya dengan membawa sepiring makanan serta segelas susu di tangannya.
"Mau makan bareng di meja makan?" tanya Arum ragu-ragu. Bukannya menjawab pertanyaan Arum, Saka justru balik bertanya. "Mau ke mana kamu?" "Tadinya mau nganterin tuan makan, tapi kalau mau makan bareng di meja makan, ayo," balas Arum. "Yaudah ayo cepet, saya lapar." Saka meraih gelas yang ada di tangan kanan Arum dan meminumnya sambil berjalan. "Hm, ini enak. Bikinin buat saya tiap pagi sama malam," ucap Saka yang sudah berjalan lebih dulu di depan Arum. Sesampainya di meja makan, Arum mengambilkan makanan baru dan meletakkannya di depan Saka yang sudah duduk dan siap untuk makan. "Ngomong-ngomong, papah sama mamah ada perlu apa ke sini?" tanya Saka to the point. "Tadi papah sama mamah habis jalan-jalan, terus karena dekat sama rumah kamu, jadi mampir dulu sebentar." Saka mengangguk paham lalu tak menanggapi lagi. Tangannya yang sedang menyendok nasi berhenti ketika ponsel di saku celananya bergetar, segera ia meraih ponsel itu dan melihatnya. Begitu nama penelepon terlihat, senyum kecil terukir di wajah lelaki itu. Saka bangkit dari duduknya, meninggalkan makanannya dan menjauh untuk mengangkat panggilan yang masuk itu. "Ya, halo?" Sapa Saka pada seseorang di ujung sana. "Halo, tuan. Saya mau melaporkan kalau sekarang saya sudah resmi menjadi sekretaris Satya, dan besok sudah mulai masuk kantor." Saka menyeringai ketika mendengar laporan tersebut, sesuai dengan yang ia harapkan. "Bagus, Diana. Lakukan tugas kamu, dan hancurkan keluarganya," titah Saka yang dengan segera Diana iyakan. Tak ada pembicaraan lebih lanjut, Saka menutup panggilan tersebut dan beralih menelepon seseorang yang merupakan orang kepercayaannya sekaligus sahabat dekatnya sejak kecil, Nico. "Ya, Saka?" sahut Nico. "Koordinasi sama sekretaris saya dan siapkan dokumen yang diperlukan untuk tender bersama pak Broto. Saya tunggu besok di kantor," titah Saka sebelum mematikan telepon beberapa detik setelahnya. Ia tersenyum simpul lalu kembali bergabung di meja makan. --- Dengan langkah ringan dan penuh percaya diri, Diana melangkah di trotoar pagi yang sepi, menatap gedung tinggi di hadapannya. Pakaian yang ia kenakan sempurna, blazer hitam yang pas di badan, dan rok pensil yang menonjolkan lekuk tubuhnya, membuatnya terlihat seperti seorang profesional yang siap menaklukkan dunia. Rambut panjangnya yang tergerai di atas bahu, dihiasi dengan sedikit gelombang, berkilau di bawah sinar matahari yang menembus celah-celah gedung. Setiap gerakan tubuhnya dipenuhi dengan pesona yang sulit untuk diabaikan. Namun, dibalik senyuman manis yang selalu ia tunjukkan, ada sebuah niat licik yang tersembunyi. Matanya yang tajam melirik ke arah pintu utama gedung kantor SkyLine Group, tempat Satya, ayah Arum bekerja. Ini adalah hari yang sangat ia nantikan, saat di mana ia akan mulai mendekati Satya sesuai dengan perintah tuan Saka. Diana tahu betul bagaimana caranya menarik perhatian orang yang gila akan perempuan dan harta seperti ayah Arum. Sudah cukup lama Diana mempelajari segala hal tentang keluarga Arum, dan sudah merencanakan ini dengan cermat. Dengan pesonanya yang tidak bisa ditolak, ia yakin bisa menyusup ke dalam kehidupan pria hidung belang itu, menciptakan ketertarikan yang perlahan-lahan akan mengarah pada kedekatan dan berujung pada rusaknya keluarga yang sangat Saka benci itu. Sekali lagi, senyum manis terulas di wajahnya saat pintu kantor terbuka dan ia melangkah masuk, menyadari bahwa dunia ini hanya akan memutar ke arah yang dia tentukan. Diana masuk ke dalam ruangan besar yang dipenuhi dengan aroma kopi panas dan suara laptop yang bekerja. Di depan meja besar, nampak sosok Satya yang sedang sibuk memeriksa laporan proyek terbaru. Diana melangkah perlahan menuju meja, senyum manis di wajahnya memancarkan aura yang memikat. Dengan suara lembut, Diana berjalan perlahan sambil mendekati meja kerja Satya. "Selamat pagi, pak Satya. Maaf mengganggu waktu bapak. Ada beberapa dokumen yang perlu bapak tanda tangani." Diana menyelipkan map berisi dokumen penting di atas meja Satya, lalu berdiri dengan posisi lebih dekat dari biasanya. Satya mengangkat pandangannya dan menatap Diana sejenak. Ada sedikit kelelahan di wajah lelaki itu. "Oh, oke Diana. Bisa kamu kasih dokumen itu ke saya?" Diana semakin menggeser posisinya agar menjadi lebih dekat dengan Satya, suaranya yang halus rasanya sangat menyejukkan begitu masuk ke telinga Satya. Tangan Diana bergerak, mengelus lembut bahu lelaki paruh baya itu. "Tentu, pak. Tapi saya khawatir kalau bapak terlalu banyak bekerja. Jangan terlalu dipaksakan, pak." Satya tersenyum sejenak, namun sedikit terkejut dengan perhatian yang lebih pribadi dari Diana. "Hm, saya bisa mengurus semuanya. Ini memang pekerjaan yang harus saya selesaikan." Satya menegakkan posisi duduknya, lelaki itu terlihat sedikit enggan untuk menerima perhatian yang Diana berikan. "Saya mengerti, pak. Tapi... Mungkin bapak perlu sedikit istirahat. Bapak sudah banyak bekerja keras, saya hanya ingin melihat bapak lebih santai sedikit." "Terkadang, bukan hanya fisik yang lelah, tapi pikiran kita juga butuh waktu untuk sejenak berhenti." Diana sedikit mencondongkan tubuhnya ke meja, memberi kesan lebih dekat, tapi masih terlihat sopan. Satya tersentak, merasa sedikit canggung, namun ada kehangatan dari perhatian yang diberikan Diana. Lelaki itu memandangi Diana, tampak sedikit terperangah. "Sepertinya... Kamu benar juga." Diana mendekatkan wajahnya sedikit lagi, tersenyum lembut namun penuh arti, matanya menatap dalam ke arah Satya. "Pak, bapak terlalu keras pada diri sendiri. Saya selalu ada di sini untuk membantu bapak. Saya... Ingin melihat bapak baik-baik saja." Senyum Diana semakin manis, seolah menyiratkan kepedulian yang lebih dalam, namun jelas ada niat tersembunyi di baliknya. "Baiklah, Diana. Terima kasih. Mungkin saya akan istirahat sebentar. Kamu memang selalu perhatian." Satya tersenyum, sedikit canggung, namun ada sesuatu yang mulai menarik perhatiannya dari Diana setelah satu minggu perempuan itu bekerja sebagai sekretaris pribadinya. Diana menyeringai sedikit, tahu bahwa dia sudah mulai berhasil menanamkan benih manipulasi dalam pikiran Satya. "Saya senang bisa membantu, pak. Jangan ragu untuk bilang kalau bapak membutuhkan sesuatu lagi. Saya di sini, selalu siap membantu bapak." Satya mengangguk pelan, kemudian kembali melirik Diana yang mulai berjalan menuju pintu. Ada rasa ketertarikan yang tiba-tiba muncul, namun ia mencoba menepisnya. "Terima kasih, Diana." Setelah Diana keluar, Satya duduk sejenak di sofa, memikirkan percakapan yang baru saja terjadi. Meskipun ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah perhatian biasa dari seorang sekretaris, tapi ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang membuatnya ingin lebih dekat dengan Diana. Namun, ia berusaha menahannya, tidak ingin terlalu tergoda oleh hal itu. --- "Selamat siang, tuan Saka," sapa Diana pada atasannya, Saka. "Hm. Gimana?" Tanya Saka terdengar dingin. "Saya sudah berhasil membuat celah, dan saya pastikan target akan segera masuk ke dalam perangkap," lapor Diana, membuat senyum lawan bicaranya mengembang seketika.Setelah kejadian Saka refleks menolak sentuhan Arum, suasana sempat canggung untuk beberapa detik. Namun begitu Saka mengizinkan, Arum pun mulai memijat perlahan.Arum mulai dari menempelkan telapak tangannya ke kedua sisi bahu Saka, memastikan tekanan awalnya lembut, memberi waktu untuk tubuh Saka beradaptasi. Arum menyadari, Saka bukan seseorang yang biasa disentuh, terlebih dalam kondisi sedang rentan. Maka gerakannya ia lakukan perlahan tanpa paksaan.Jemari Arum terus bergerak lembut dari punggung atas sampai ke pangkal leher. Terkadang menggunakan jempol untuk melepaskan simpul otot, terkadang menggunakan telapak tangan untuk tekanan yang lebih besar. "Sakit?" tanya Arum hati-hati."Engga," jawab Saka singkat, matanya setengah terpejam.Semakin lama, tubuhnya mulai lemas. Saka mulai merasa... tenang. Bukan seperti saat disentuh Clara yang selalu punya maksud tersembunyi. Sentuhan Arum ringan, ritmis dan tak berlebihan. Benar-benar membuatnya tenang.Setelah beberapa menit, jemar
Pagi itu matahari baru naik separuh. Dari arah dapur tercium wangi nasi hangat dan aroma tumisan buatan Arum. Ia menyiapkan bekal dengan hati-hati, masukkan sayur dan ayam ke dalam kotak makan stainless yang kemudian dibungkus rapi. Kebetulan Saka muncul dari tangga ketika Arum sudah selesai menyiapkan bekal. Ia menyodorkan lunch box itu pada Saka dengan senyum kecil di bibirnya. "Ini bekalnya, tuan." Saka melirik kotak makan itu, tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. "Maaf, tapi saya ga mau diri saya repot bawa-bawa kotak makan kayak gitu," ucapnya datar, namun ada nada sinis dalam caranya bicara. Arum mengerutkan kening mendengar itu. "Kan bisa ditaruh di mobil, tuan? Dan biasanya juga kan kak Nico yang bantu bawain." Saka menoleh dengan alis terangkat, mata tajamnya tertuju pada Arum. "Pokoknya kalau kamu emang mau saya makan bekal, antar langsung ke kantor di jam makan siang. Ga perlu pagi-pagi begini." Arum nampak kebingungan, karena sebelumnya Saka sudah mulai se
Saka masih diam menatap piring kosong di hadapannya, pikirannya penuh kekacauan yang tak bisa ia atur. Namun suara lembut Arum tiba-tiba menyela lamunannya."Tuan..." Saka kaget, nyaris gelagapan saat menoleh.Arum tersenyum kecil, lalu menggeser sebuah kotak berwarna hitam berukuran sedang ke arahnya. "Ini kado ulang tahun dari saya. Semoga tuan suka," katanya pelan. Begitu kotak hitam itu disodorkan ke meja, Saka otomatis menegang. Ia tak langsung menyentuhnya, hanya menatap penuh tekanan seolah kotak itu bisa meledak kapan saja. Matanya beralih menatap Arum dengan tatapan curiga. Hening menyelimuti beberapa detik yang terasa sangat panjang.Gejolak dalam pikirannya langsung melompat liar. "Apa ini... surat cerai? Apa ini akhirnya...?"Karena dari awal, malam itu memang terasa terlalu tenang, terlalu lembut dan itu yang justru menakutkan. Terlalu banyak yang terasa 'terakhir'.Tatapan Arum yang hangat meski redup, perhatian Arum yang terasa serba ekstra, masakan kesukaannya, hingga
Malam itu udara terasa berat bagi Saka. Ia duduk di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan, tubuhnya bersandar, satu tangan memegangi setir sementara yang lain menggenggam ponsel dengan erat. Ban mobilnya pecah, jasnya kusut dan wajahnya kusam oleh lelah dan kecemasan yang campur aduk.Layar ponselnya menampilkan satu nama, Arum.Saka mendesah pelan. Jempolnya sempat ragu, namun akhirnya ia menekan ikon hijau itu. Dering pertama, kedua, ketiga. Saka menggigit bibir bawahnya, tangan yang memegang ponsel mulai berkeringat entah mengapa. "Angkat dong…" gumamnya pelan, gelisah. Dan di dering keempat…"Halo, tuan?"Saka langsung menegakkan tubuhnya ketika mendengar suara Arum yang sedikit serak di ujung sana. ".. Kamu udah tidur?" tanya Saka, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Belum, tuan. Tadi saya dari kamar mandi. Ada apa, tuan?"Saka terdiam sebentar, menatap gelap di luar jendela sebelum menjawab. "Ban mobil saya pecah," katanya datar."APA?!" Suara Arum terdengar pani
Pagi itu, udara terasa lebih ringan dari biasanya. Langit cerah dan angin pagi di teras rumah tak sedingin biasanya. Saka yang sudah siap berangkat ke kantor melangkah ke mobil dengan langkah santai dengan senyum merekah, dan itu cukup aneh bagi Nico yang sudah menunggunya sejak tadi, seperti biasa.Begitu membukakan pintu belakang mobil, Nico tak melewatkan kesempatan untuk menyapa dan memberikan ucapan selamat. "Selamat ulang tahun, tuan."Saka sempat diam sepersekian detik, baru akhirnya melirik ke arah Nico dengan tatapan dingin yang gagal menutupi senyuman kecil yang nyaris muncul. "Siapa yang ulang tahun?" jawabnya sengaja.Nico tertawa pelan. "Ah, ngeles. Padahal tadi keluar rumah mukanya cerah banget. Pasti habis dapat kejutan, ya?"Saka masuk ke mobil tanpa menanggapi, namun mulutnya melengkung tipis ke arah jendela. "Kejutan, ya…"***Sesampainya di kantor, seperti biasa Saka langsung masuk ke ruangannya. Ia duduk di balik meja kerjanya dan membuka laptop, siap untuk bekerja
Begitu pintu utama terbuka, Arum sudah berdiri di ambang, seperti biasa. Ia menyambut Saka dengan senyum kecil, lalu mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan suaminya. "Selamat datang, tuan," ucapnya pelan.Saka membalas uluran tangan itu lalu mengangguk singkat, setelahnya ia melangkah masuk tanpa menatap langsung ke mata Arum. Wajahnya datar, dingin, ada sesuatu yang terasa berbeda dari biasanya. Saka yang terasa sedikit lebih lunak akhir-akhir ini, entah kenapa kembali mengeras di mata Arum.Belum sempat Arum membuka mulut untuk menawarkan makan malam atau sekadar bertanya kabar, Saka lebih dulu bicara. "Habis ini, kamu ke ruangan saya," titah Saka singkat dan tajam.Arum mengerjap, lalu menganggukkan kepala. "Iya, tuan."Saka tak berkata lebih lanjut, ia langsung naik ke lantai atas, meninggalkan Arum yang berdiri bingung di ruang tamu.---Di ruang kerjanya, Saka kembali membuka lembar tagihan yang sebelumnya ia baca di kantor. Matanya menyapu deretan transaksi yang terce







