MasukAncaman melalui email anonim itu ternyata bukan gertakan kosong. Hanya dalam waktu dua belas jam setelah Chika menerima pesan tersebut, mimpi buruk itu menjadi nyata. Saat Chika baru saja turun dari mobil di basemen apartemennya. Tempat yang seharusnya paling aman. Tiga pria bertopeng menyergapnya. Bahkan Rahmat, yang mencoba melawan, tersungkur setelah dihantam gagang senjata api. Chika diseret masuk ke dalam mobil van hitam yang melesat keluar, meninggalkan keheningan mencekam di basemen yang dingin. Dewa, yang saat itu baru saja menyelesaikan panggilan telepon dengan otoritas keuangan, mendapati Rahmat merangkak di lantai basemen dengan pelipis berdarah. Dunia Dewa seolah runtuh saat ia melihat tas tangan Chika tergeletak tragis di samping mobil yang pintunya masih terbuka. "Mereka membawanya, Pak..." rintih Rahmat. "Mereka tidak bicara, tapi mereka sangat profesional." Dewa tidak membuang waktu. Ia segera menghubungi nomor yang paling tidak ingin ia hubungi dalam hidupnya
Jakarta menyambut kepulangan Dewa dan Chika dengan wajah yang berbeda. Tak ada lagi baliho raksasa yang memajang wajah Sherly atau berita utama tentang pengambilalihan paksa oleh Adiwangsa Group.Yang tersisa adalah gedung Dewangga Corp yang berdiri kokoh, menanti pemimpinnya untuk melakukan pembersihan besar-besaran.Dengan dokumen wasiat asli Larasati di tangan, Dewa secara resmi menduduki kursi CEO tanpa ada lagi bayang-bayang Martha. Namun, restrukturisasi total bukanlah perkara mudah. Di hari pertama kembali berkantor, Dewa mengumpulkan seluruh manajer senior di ruang rapat utama.Di sampingnya, Chika duduk bukan lagi sebagai asisten yang membungkuk, melainkan sebagai penasihat strategis dengan hak suara penuh."Mulai hari ini, setiap kontrak yang ditandatangani di bawah tekanan Martha atau Sherly akan ditinjau ulang," suara Dewa bergema, dingin namun penuh wibawa. "Dewangga Corp akan kembali ke nilai intinya: inovasi dan integritas. Siapa pun yang merasa keberatan dengan transpa
Lantai bursa mungkin sudah tenang, namun badai di dalam hati Chika justru baru saja dimulai. Pernyataan Sherly dari balik jeruji ruang interogasi polisi seperti sebuah granat yang dilemparkan ke masa lalu. Ia menyebutkan sebuah nama desa di pesisir Jawa Tengah. Desa Karang Sewu, tempat di mana rahasia antara Larasati, ibu kandung Dewa, dan almarhumah ibu kandung Chika, Saraswati, terkubur bersama dendam Dion Adiwangsa. "Kita harus ke sana, Dewa," ucap Chika saat mereka berdiri di lobi apartemen yang gelap. "Polisi tidak akan bergerak tanpa bukti fisik, dan Sherly bilang bukti itu ada di rumah tua milik keluarga Larasati." Perjalanan delapan jam itu terasa sunyi. Hanya suara deru mesin dan rintik hujan yang menemani mereka menembus kegelapan pantura. Deru ombak di pesisir Karang Sewu terdengar seperti bisikan masa lalu yang menuntut penjelasan. Desa ini adalah tempat di mana Larasati, ibu kandung Dewa, menghabiskan masa kecilnya bersama Saraswati, ibu kandung Chika. Di sinilah
Suara sirene ambulans dan pemadam kebakaran di luar Hotel Gran Melia terdengar seperti latar belakang yang jauh bagi Chika. Ia duduk di dalam ambulans, bahunya dibungkus selimut darurat, namun matanya terpaku pada ponsel Sherly yang masih menyala di genggamannya.Kalimat itu terus berulang di kepalanya seperti kaset rusak. “...karena dia bukan anak kandungmu.”Dewa berdiri di sampingnya, mengabaikan luka bakar ringan di lengannya. Ia menatap Chika dengan cemas. "Chika, kamu harus ke rumah sakit. Paru-parumu perlu diperiksa."Chika mendongak, wajahnya yang terkena jelaga tampak pucat pasi. "Dewa... dengarkan ini."Ia memutar kembali pesan suara itu. Dewa membeku. Keheningan yang janggal tercipta di antara mereka, kontras dengan hiruk-pikuk petugas medis di sekitar mereka."Itu suara Nyonya Martha," bisik Dewa. "Dia bicara pada Papamu."Belum sempat Dewa mencerna informasi itu, sosok Dion Adiwangsa muncul di depan pintu ambulans. Wajah sang raksasa bisnis itu tidak lagi menunjukkan amar
Setelah malam pengakuan di bawah bintang, Chika terbangun dengan perasaan bahwa dunia sedikit lebih ringan. Namun, di dunia korporat yang kejam, ketenangan hanyalah jeda sebelum badai kategori lima menghantam.Pagi itu, kantor Dewangga Corp tidak lagi dipenuhi oleh bisik-bisik soal asisten culun, melainkan oleh kepanikan massal.Layar monitor di lobi menampilkan grafik merah yang menukik tajam. Adiwangsa Group baru saja mengumumkan Hostile Takeover—pengambilalihan paksa—terhadap Dewangga Corp.Dion Adiwangsa tidak lagi bermain di balik bayangan. Ia menyerang jantung pertahanan Dewa dengan membeli saham-saham kecil di pasar terbuka dalam jumlah masif."Papa benar-benar melakukannya," bisik Chika saat ia memasuki ruangan Dewa.Dewa berdiri di depan jendela kaca besarnya, ponsel di telinganya tak henti-henti bergetar. "Dia menyerang saat kita sedang lemah pasca skandal Martha. Dia ingin melumpuhkan operasional kita sebelum kita sempat memulihkan dana taktis yang dicuri kemarin."Namun, s
Dua jam yang diminta Dewa terasa seperti dua abad bagi para penghuni lantai tiga puluh. Ketika pintu ruang komisaris kembali terbuka, suasana tidak lagi dipenuhi teriakan. Heningnya mencekam, seperti udara sesaat sebelum badai besar menghantam pesisir. Chika melangkah masuk lebih dulu. Ia tidak lagi membawa tumpukan map kertas. Ia hanya membawa sebuah tablet tipis. Di belakangnya, Dewa berjalan dengan langkah tegap, matanya lurus menatap Martha yang duduk di ujung meja dengan tangan bersedekap angkuh. "Waktumu habis, Dewa," ujar Martha dingin. "Mana bukti bahwa asistenmu ini tidak merampok perusahaan?" Chika tidak menunggu Dewa menjawab. Ia meletakkan tablet-nya di tengah meja dan mengaktifkan proyeksi layar. "Saya tidak akan membela diri soal IP address atau jejak digital yang bisa dimanipulasi, Nona Sherly," Chika melirik Sherly yang mulai tampak gelisah. "Saya akan bicara soal aliran dana yang sebenarnya." Layar proyektor menampilkan skema rumit. Titik merah menunjukkan dana







