Home / Male Adult / GODAAN SUGAR BABY CENTIL / 6. MEMBANGUNKAN SUGAR BABY

Share

6. MEMBANGUNKAN SUGAR BABY

Author: Mystique
last update publish date: 2023-10-10 13:51:54

Darius sudah selesai mandi. Ia ke luar dari kamar dan langsung menuju dapur. Barangkali jika di sana ada Aurora, ia akan ikut membantu gadis itu memasak. Tadi malam saat Aurora meminta sabun dan shampo, Darius sekalian membeli bahan-bahan makanan untuk memasak pagi ini.

Sesampainya di dapur, tidak ada siapa pun di sana. Darius terkekeh sendiri, berpikir apa dia. Aurora jelas nona besar di rumahnya. Bagaimana gadis itu akan memasak. Lihat saja dari caranya meminta sabun dan shampo semalam. Pasti harus dituruti. Dan jangan lupakan lilin wangi. Itu jelas menggambarkan bagaimana hidup Aurora di rumahnya.

Okey, apakah sekarang Darius pula yang akan menyiapkan sarapan untuk Aurora. Hmm ... baiklah. Anggap saja sedang menyiapkan makanan untuk calon istri. Ehh ... calon anak. Ahh ... entahlah.

Sayur kembang kol, jagung muda, wortel, dada ayam. Semua sudah tersedia di atas meja. Darius mulai memasak. Darius sudah terbiasa masak sendiri seperti ini. Dahulu dia bukan pria kaya seperti sekarang. Jadi mengerjakan apa pun sendiri sudah lumrah baginya.

Dan sekarang saat uangnya sudah banyak pun. Darius tidak berubah. Ia masih menjadi pria sederhana yang tidak membutuhkan orang lain hanya untuk menyiapkan kebutuhannya sendiri.

"Nahh ... udah mateng semua."

Makanan sudah ada di atas meja makan. Ada rasa bangga saat Darius menyiapkan makanan hari ini. Padahal ia sudah biasa melakukannya. Mungkin karena kehadiran Aurora yang membuat Darius merasa berbeda. Sedikit Darius merasa seperti menyiapkan makanan untuk istri kecilnya.

Istri? Darius ingin tertawa memikirkan kata istri. Darius merasa sudah gila. Istri dia bilang. Cinta saja belum tumbuh di hati mereka. Ini malah berpikir tentang Istri. Entah apa yang membuat tadi malam Darius menerima ajakan Aurora untuk menjadi pacarnya. Hatinya berbicara seolah hal itu sangat sayang jika dilewatkan.

"Ra," Darius mengetuk pintu kamar Aurora. Namun tidak ada jawaban. Cukup lama melakukan itu sampai akhirnya Darius memilih untuk langsung masuk begitu saja.

Di dalam kamar, Aurora tampak tertidur pulas. Gadis itu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Bahkan pada wajahnya juga. Darius terkekeh, rasanya benar-benar seperti membangunkan istri rasa anak.

Darius berjalan mendekat ke arah bantal. Ia usap gundukan bantal itu. Bagaimana wajah Aurora saat bangun tidur.

"Ra, bangun." Ucapnya lirih. Aurora masih tidak menjawab.

Darius membuka selimut yang menutupi wajah Aurora. Seketika wajah pacar kecilnya itu terlihat. Aurora tidur begitu lelap dengan mulut terbuka. Seketika Darius tertawa.

"Untung cantik, tidur model gimana pun masih kelihatan cantik." Celoteh Darius sendiri.

Darius menatap wajah Aurora dalam-dalam. Tangannya tidak bisa untuk tidak meraba wajah pacar kecilnya itu. Cantik, seolah mengisi kekosongan di hati Darius akan sosok wanita.

Cup, sebuah kecupan ia layangkan pada pacar kecilnya. Setelah itu Darius keheranan. Bisa-bisanya dia tidak bisa menahan untuk tidak mencium Aurora. Jika diteruskan lama-lama Darius jadi pedofil beneran.

"Ahh ... gila. Beneran gila aku lama-lama," celoteh Darius sendiri setelah mencium Aurora.

Ia gelengkan kepalanya berkali-kali seolah hal itu bisa menghilangkan apa yang ada di pikirannya sekarang. Beberapa saat melakukan itu, Darius berbalik badan berniat ke luar dari kamar Aurora. Namun langkahnya terhenti oleh tangan Aurora yang tiba-tiba menariknya.

"Om, mau ke mana? Enak aja habis gangguin orang tidur mau kabur gitu aja. Ayo tanggung jawab!"

Rupanya Aurora sudah bangun. Meski matanya masih menutup rapat. Gadis itu berbicara dengan suara masih melayang tidak jelas. Pertanda nyawanya belum utuh sepenuhnya.

"Kamu sudah bangun, Ra? Dari tadi?"

Mendadak Darius gugup. Takut jika Aurora tahu jika tadi dia mencium keningnya.

"Udah. Udah tau juga kalo tadi Om cium kening aku."

Aurora pelan-pelan membuka mata. Spontan Darius menggigit bibirnya. Malu dan gugup bercampur menjadi satu.

"Kamu pura-pura tidur ya tadi waktu saya datang?"

Darius bingung. Kepalanya sibuk mencari alasan atau pengalihan dari topik tadi dia mencium Aurora.

"Enggak. Aku emang baru bangun. Tadi aku bangun begitu bibir Om Darius nempel di keningku. Bibir Om dingin, habis mandi ya?"

Darius ingin menghindari topik ciuman tapi Aurora malah bicara blak-blakan.

"Iya, saya habis mandi. Tapi agak tadi sih. Orang saya malah sudah selesai masak juga."

Baru Darius selesai bicara. Tapi Aurora sudah menarik tangan Darius hingga tubuh pria itu jatuh di atas tubuh Aurora.

"Eh, Ra. Kenapa kamu tarik tangan saya?"

Darius kanget. Dia hendak berdiri lagi namun Aurora justru semakin memeluk erat tubuh Darius.

"Ssttt ... Om, diem. Aku mau nikmatin dinginnya badan Om Darius yang baru mandi. Hmm ... seger deh dipeluk."

"Ra, kamu itu jangan aneh-aneh. Lepasin pelukannya. Saya mau berdiri."

Darius meronta berusaha melepaskan tubuhnya. Tapi Aurora semakin mengeratkan pelukannya.

"Apanya yang aneh sih, Om. Orang aku cuma mau peluk pacarku sendiri. Sekarang Om Darius diem deh. Jangan ganggu aku lagi nikmatin meluk tubuh pacar aku."

Aurora berbicara begitu santai. Seolah hal yang ia lakukan hanya menimbulkan rasa nyaman tanpa ada rasa gugup sama sekali. Darius yang tidak bisa menolak keinginan pacar kecilnya, akhirnya memilih diam mengabulkan keinginan Aurora. Batinnya tersenyum merasa nyaman dengan tingkah centil sugar babynya.

"Ternyata punya pacar itu enak ya? Aku baru tau rasanya pelukan itu senyaman ini."

Baru aja merasa tenang membiarkan Aurora memeluknya dengan santai. Sekarang Darius kembali gugup dan salah tingkah dengan ucapan gadis itu.

"Udah ah, Ra. Lepasin. Saya mau sarapan. Ayo kamu cepetan bangun juga. Saya sudah siapin makanan buat kita."

Bukannya melepaskan Darius. Aurora malah tertawa kecil.

"Kenapa kamu ketawa?" tanya Darius.

"Wajah Om Darius lucu. Om, gugup ya aku peluk gini. Sampe merah gitu mukanya. Hahaha ...."

"Apanya yang gugup? Wajah saya merah karena habis masak. Kena panasnya kompor," elak Darius mencari alasan.

"Gitu?? Merah kenak panas kompor apa merah karena malu habis ketahuan diem-diem cium aku. Ciyee ... Om genit nih hahaha ...."

"Kenak kompor, Ra. Orang tadi itu saya nggak sengaja cium kamu. Saya itu mau bangunin kamu, eh kepleset jadinya jatuh terus kecium deh kamunya." Mendadak Darius jadi pintar mengarang cerita. Kenapa nggak sekalian menulis novel saja.

"Hhmm ... gitu ..." Aurora manggut-manggut seolah percaya tapi wajahnya yang mungil itu jelas sedang mengejek Darius.

"Iyaaa ... lagian tadi kamu tidurnya mangap. Kan saya jadi pengen ketawa terus nggak fokus deh, akhirnya jatuh. Untung aja nggak dipake jadi sarang laba-laba itu mulutnya."

Spontan Aurora tertawa. Ternyata selain sopan, Om-om yang biasa sopan dan dewasa ini bisa melucu juga.

"Hahaha .... masak aku tidurnya mangap sih, Om."

"Iya, kamu tidurnya mangap. Aku kira goa hira itu tadi. Eee ... ternyata mulut kamu."

"Wkwkw ... masak gitu. Aku kelihatan lucu dong tadi waktu tidur. Terus, terus, kalo lucu, kok Om ciumnya cuma di kening. Kenapa nggak di mulutnya juga?"

Aurora tersenyum manis saat mengatakannya. Gadis ini memang ahlinya mancing-mancing. Darius terus dibuat heran dengan kelakuannya.

"Nggak mau. Bau iler. Orang kamu ileran sampe mengalir panjang kok mau dicium."

Seketika Aurora menutup mulutnya dengan tangan. Seumur-umur hidup, Aurora belum pernah ngiler kecuali dulu waktu masih bayi.

Hahh ... Hahh ... Aurora meniupkan nafasnya sendiri pada telapak tangan. Untuk mencium apakah benar dia bau iler. Aurora juga menyeka area bibirnya untuk memastikan benar ada iler tidak di sana.

"Hhmmm ... Om, bohong nih. Mana ada iler."

"Wkwkwkw ..." Darius tertawa karena berhasil mengelabuhi Aurora.

"Ohhh ... dasar Om Om jahil. Sini sini hukumannya aku cium di bibir. Biar kenak iler aku beneran."

Darius masih tertawa. Aurora menarik-narik kepala Darius untuk untuk diciumnya. Sedang Darius terus berusaha menghindar. Entah Aurora akan mendapatkan keinginannya atau tidak. Yang pasti, dapat tidak dapat, Darius tetap untung juga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GODAAN SUGAR BABY CENTIL    (S2) 36. CAHAYA DIBALIK TOPENG (TAMAT )

    Pagi ini udara Jakarta terasa berbeda di paru-paru Chika. Tak ada lagi debar ketakutan, tak ada lagi beban rahasia yang menghimpit dada. Di atas meja kerjanya yang kini terletak persis di samping ruang kerja Dewa, sebuah buku bersampul keras dengan ilustrasi siluet seorang wanita yang melepas topeng kaca bertengger dengan anggun . “Cahaya di Balik Topeng”—oleh C.P. Adiwangsa. Novel itu baru dirilis satu minggu lalu secara serentak di seluruh toko buku nasional, lengkap dengan versi digitalnya yang langsung menduduki peringkat pertama di berbagai platform baca daring. Chika tidak menyembunyikan identitasnya lagi. Ia tidak menulis sebagai asisten culun. Melainkan sebagai dirinya yang utuh. Seorang wanita yang telah melewati badai intrik korporat dan keluar sebagai pemenang atas takdirnya sendiri. Novel itu bukan sekadar fiksi romantis. Itu adalah memoar terselubung yang membuka mata publik tentang bagaimana keserakahan bisa menghancurkan sebuah keluarga, dan bagaimana kejujuran

  • GODAAN SUGAR BABY CENTIL    (S2) 35. ALIANSI YANG TAK TERDUGA

    Ancaman melalui email anonim itu ternyata bukan gertakan kosong. Hanya dalam waktu dua belas jam setelah Chika menerima pesan tersebut, mimpi buruk itu menjadi nyata. Saat Chika baru saja turun dari mobil di basemen apartemennya. Tempat yang seharusnya paling aman. Tiga pria bertopeng menyergapnya. Bahkan Rahmat, yang mencoba melawan, tersungkur setelah dihantam gagang senjata api. Chika diseret masuk ke dalam mobil van hitam yang melesat keluar, meninggalkan keheningan mencekam di basemen yang dingin. Dewa, yang saat itu baru saja menyelesaikan panggilan telepon dengan otoritas keuangan, mendapati Rahmat merangkak di lantai basemen dengan pelipis berdarah. Dunia Dewa seolah runtuh saat ia melihat tas tangan Chika tergeletak tragis di samping mobil yang pintunya masih terbuka. "Mereka membawanya, Pak..." rintih Rahmat. "Mereka tidak bicara, tapi mereka sangat profesional." Dewa tidak membuang waktu. Ia segera menghubungi nomor yang paling tidak ingin ia hubungi dalam hidupnya

  • GODAAN SUGAR BABY CENTIL    (S2) 34. ANCAMAN TERAKHIR

    Jakarta menyambut kepulangan Dewa dan Chika dengan wajah yang berbeda. Tak ada lagi baliho raksasa yang memajang wajah Sherly atau berita utama tentang pengambilalihan paksa oleh Adiwangsa Group.Yang tersisa adalah gedung Dewangga Corp yang berdiri kokoh, menanti pemimpinnya untuk melakukan pembersihan besar-besaran.Dengan dokumen wasiat asli Larasati di tangan, Dewa secara resmi menduduki kursi CEO tanpa ada lagi bayang-bayang Martha. Namun, restrukturisasi total bukanlah perkara mudah. Di hari pertama kembali berkantor, Dewa mengumpulkan seluruh manajer senior di ruang rapat utama.Di sampingnya, Chika duduk bukan lagi sebagai asisten yang membungkuk, melainkan sebagai penasihat strategis dengan hak suara penuh."Mulai hari ini, setiap kontrak yang ditandatangani di bawah tekanan Martha atau Sherly akan ditinjau ulang," suara Dewa bergema, dingin namun penuh wibawa. "Dewangga Corp akan kembali ke nilai intinya: inovasi dan integritas. Siapa pun yang merasa keberatan dengan transpa

  • GODAAN SUGAR BABY CENTIL    (S2) 33. MASA LALU DUA IBU

    Lantai bursa mungkin sudah tenang, namun badai di dalam hati Chika justru baru saja dimulai. Pernyataan Sherly dari balik jeruji ruang interogasi polisi seperti sebuah granat yang dilemparkan ke masa lalu. Ia menyebutkan sebuah nama desa di pesisir Jawa Tengah. Desa Karang Sewu, tempat di mana rahasia antara Larasati, ibu kandung Dewa, dan almarhumah ibu kandung Chika, Saraswati, terkubur bersama dendam Dion Adiwangsa. "Kita harus ke sana, Dewa," ucap Chika saat mereka berdiri di lobi apartemen yang gelap. "Polisi tidak akan bergerak tanpa bukti fisik, dan Sherly bilang bukti itu ada di rumah tua milik keluarga Larasati." Perjalanan delapan jam itu terasa sunyi. Hanya suara deru mesin dan rintik hujan yang menemani mereka menembus kegelapan pantura. Deru ombak di pesisir Karang Sewu terdengar seperti bisikan masa lalu yang menuntut penjelasan. Desa ini adalah tempat di mana Larasati, ibu kandung Dewa, menghabiskan masa kecilnya bersama Saraswati, ibu kandung Chika. Di sinilah

  • GODAAN SUGAR BABY CENTIL    (S2) 32. SENJATA MAKAN TUAN

    Suara sirene ambulans dan pemadam kebakaran di luar Hotel Gran Melia terdengar seperti latar belakang yang jauh bagi Chika. Ia duduk di dalam ambulans, bahunya dibungkus selimut darurat, namun matanya terpaku pada ponsel Sherly yang masih menyala di genggamannya.Kalimat itu terus berulang di kepalanya seperti kaset rusak. “...karena dia bukan anak kandungmu.”Dewa berdiri di sampingnya, mengabaikan luka bakar ringan di lengannya. Ia menatap Chika dengan cemas. "Chika, kamu harus ke rumah sakit. Paru-parumu perlu diperiksa."Chika mendongak, wajahnya yang terkena jelaga tampak pucat pasi. "Dewa... dengarkan ini."Ia memutar kembali pesan suara itu. Dewa membeku. Keheningan yang janggal tercipta di antara mereka, kontras dengan hiruk-pikuk petugas medis di sekitar mereka."Itu suara Nyonya Martha," bisik Dewa. "Dia bicara pada Papamu."Belum sempat Dewa mencerna informasi itu, sosok Dion Adiwangsa muncul di depan pintu ambulans. Wajah sang raksasa bisnis itu tidak lagi menunjukkan amar

  • GODAAN SUGAR BABY CENTIL    (S2) 31. JEBAKAN SKANDAL

    Setelah malam pengakuan di bawah bintang, Chika terbangun dengan perasaan bahwa dunia sedikit lebih ringan. Namun, di dunia korporat yang kejam, ketenangan hanyalah jeda sebelum badai kategori lima menghantam.Pagi itu, kantor Dewangga Corp tidak lagi dipenuhi oleh bisik-bisik soal asisten culun, melainkan oleh kepanikan massal.Layar monitor di lobi menampilkan grafik merah yang menukik tajam. Adiwangsa Group baru saja mengumumkan Hostile Takeover—pengambilalihan paksa—terhadap Dewangga Corp.Dion Adiwangsa tidak lagi bermain di balik bayangan. Ia menyerang jantung pertahanan Dewa dengan membeli saham-saham kecil di pasar terbuka dalam jumlah masif."Papa benar-benar melakukannya," bisik Chika saat ia memasuki ruangan Dewa.Dewa berdiri di depan jendela kaca besarnya, ponsel di telinganya tak henti-henti bergetar. "Dia menyerang saat kita sedang lemah pasca skandal Martha. Dia ingin melumpuhkan operasional kita sebelum kita sempat memulihkan dana taktis yang dicuri kemarin."Namun, s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status