ログインKemenangan Dewangga Corp atas Grup Barata menjadi tajuk utama di semua portal berita bisnis pagi ini. Judul-judul bombastis seperti "Manuver Jenius Dewangga: Titik Balik di Lentera Logistik" menghiasi layar televisi di lobi kantor. Dewa berhasil memukul mundur hiu-hiu Barata tepat di menit terakhir, membekukan proses merger dengan gugatan administrasi yang tak terduga.Namun, di lantai tiga puluh, sang pemenang justru tidak terlihat merayakan apa pun. Dewa duduk di kursi kebesarannya, mengabaikan tumpukan bunga ucapan selamat yang memenuhi meja sekretaris di luar. Matanya tertuju pada sebuah papan tulis putih di ruang rapat kecil yang terhubung langsung dengan ruang kerjanya."Rahmat, panggil semua staf yang punya akses ke lantai ini semalam. Semuanya. Tanpa kecuali," perintah Dewa lewat interkom. Suaranya datar, tapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah."Termasuk tim kebersihan, Pak?" suara Rahmat terdengar ragu."Semuanya, Rahmat."Sepuluh menit kemudian, ruangan itu penuh.
Ketegangan di lantai tiga puluh Dewangga Corp tidak mereda meski Nyonya Martha telah pergi. Justru, atmosfer di sana berubah menjadi lebih pekat dan dingin. Dewa mengurung diri di ruangannya selama berjam-jam. Rahmat mondar-mandir dengan wajah sepucat kertas, membawa tumpukan dokumen hukum yang tebalnya nyaris menyamai bantal tidur. Chika, yang kini memiliki akses lebih bebas ke lantai eksekutif, mencium aroma "darah" di udara bisnis. Sebagai putri Adiwangsa, ia tahu bau ini: bau pemangsa yang sedang mencoba menelan mangsanya bulat-bulat. "Rahmat, ada apa sebenarnya?" tanya Chika saat Rahmat keluar dari ruangan Dewa dengan bahu merosot. Rahmat menoleh, ragu sejenak, lalu berbisik pelan. "Grup Barata. Mereka melakukan hostile takeover. Mereka sudah menguasai empat puluh persen saham di pasar dan sekarang memaksa Pak Dewa untuk menandatangani perjanjian merger paksa. Kalau Pak Dewa menolak, mereka akan menjatuhkan nilai saham kita besok pagi." Chika tertegun. Grup Barata adalah r
Lantai tiga puluh yang biasanya sunyi dan berwibawa mendadak terasa mencekam. Di dalam ruangan kerja Dewa, seorang wanita paruh baya dengan setelan tweed Chanel dan tatanan rambut sasak sempurna sedang duduk di kursi kebesaran Dewa. Nyonya Martha Dewangga. Matanya yang tajam bak elang langsung menghunjam ke arah Dewa dan Chika yang baru saja masuk. "Keluar dari gedung di jam kerja hanya untuk makan bubur pinggir jalan, Dewa? Kamu sudah kehilangan akal sehat?" suara Martha dingin, bergetar karena amarah yang tertahan. Dewa berdiri tegak, tangannya yang tadi sempat santai kini kembali kaku di samping tubuh Ibunya. "Ibu, lambung saya sedang bermasalah. Makanan di kantor terlalu berat." "Dan kamu membiarkan pelayan ini membawamu ke tempat kumuh seperti itu?" Martha menunjuk Chika dengan dagunya, seolah Chika adalah kuman yang baru saja menyerang putranya. "Rahmat bilang dia hanya staf kebersihan. Kenapa dia punya akses begitu dekat dengan kamu?" Chika menunduk sedalam mungkin. Ia b
Siang itu, matahari Jakarta berada tepat di puncaknya, memanggang aspal Sudirman hingga tampak bergelombang karena panas. Di lantai tiga puluh, pendingin ruangan bekerja ekstra keras, namun suasana di dalam ruang kerja Dewa terasa lebih gerah daripada suhu di luar.Dewa tampak gelisah. Wajahnya yang tadi pagi sudah sedikit segar, kini kembali menekuk. Ia berkali-kali memijat ulu hatinya sambil menatap layar monitor dengan tatapan kosong. Rapat koordinasi dengan tim legal baru saja selesai, dan Dewa tidak menyentuh makan siang katering premium yang disediakan Rahmat."Pak, Bapak belum makan," tegur Chika yang sedang mengganti bunga di vas sudut ruangan. Ia memperhatikan nampan makanan mewah berisi wagyu steak dan salad organik itu masih utuh."Saya tidak selera," jawab Dewa pendek. Suaranya terdengar agak serak."Bapak mau pingsan lagi kayak semalam? Nanti saya nggak mau ya mijit perut Bapak lagi. Capek," sindir Chika tanpa rasa takut.Dewa mendongak, menatap Chika dengan tajam. "Kamu
Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit menyentuh kelopak mata Chika, memaksanya terbangun. Ia mengerjap, menyadari dirinya tidak terbangun di atas kasur busa tipis kos-kosannya, melainkan di atas sofa kulit Italia yang empuk. Dan yang lebih mengejutkan, sebuah jas wol berwarna charcoal—yang baunya sangat maskulin dan akrab—menyelimuti tubuhnya.Chika terduduk tegak, jantungnya berpacu. Ia melirik ke arah meja kerja. Dewa sudah di sana, duduk rapi dengan kemeja baru yang entah kapan ia ambil dari ruang ganti pribadinya. Pria itu sedang menyesap kopi, matanya tertuju pada layar tablet seolah insiden "cokelat murah" semalam tidak pernah terjadi."Sudah bangun?" tanya Dewa tanpa menoleh. Suaranya kembali dingin, namun tidak setajam biasanya.Chika segera berdiri, merapikan seragam birunya yang kusut. "Maaf, Pak. Saya... saya ketiduran. Harusnya saya tidak boleh di sini.""Kamu memang tidak boleh di sini kalau hanya untuk tidur," Dewa meletakkan tabletnya dan
Malam di lantai tiga puluh biasanya hanya menyisakan kegelapan yang dipantulkan oleh gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Namun bagi Chika, malam ini adalah lembur paksa. Bukan karena perintah Dewa, melainkan karena kesalahannya sendiri yang menumpahkan sebotol tinta printer di atas karpet ruang arsip saat mencoba merapikan berkas yang diminta Rahmat.Setelah hampir dua jam berlutut dan menggosok karpet hingga tangannya memerah, Chika akhirnya menyerah. Ia berjalan menuju pantry untuk mencuci tangannya yang bernoda hitam. Saat melewati koridor menuju ruang kerja Dewa, ia melihat cahaya redup merayap dari balik pintu jati yang sedikit terbuka.Jam satu pagi? Dia masih di sini?Chika berniat lewat begitu saja. Urusan Dewa bukan urusannya. Namun, sebuah suara aneh menghentikan langkahnya. Bukan suara ketikan keyboard atau gumaman telepon, melainkan suara napas yang pendek dan berat, diikuti bunyi denting kaca yang bersentuhan dengan meja.Didorong oleh rasa ingin tahu yang lebih besar
"Sedang apa kalian?" Suara Darius menyadarkan Dean dan Marion."Eh," Dean langsung melepas pegangan tangannya pada Marion."Sorry, Dar. Tangan Marion kena kuah bakso. Gue bantu bersihin biar nggak melepuh," Dean menjelaskan."Iya, Sayang." Tambah Marion. Tidak ada raut mencurigakan dari mereka ber
Hari kelulusan tiba. Darius mendapatkan nilai tertinggi di sekolahnya. Sekaligus mendapatkan beasiswa di Singapura. Pemuda itu memang sungguh-sungguh berusaha mendapatkan beasiswa."Hari ini gue traktir kalian makan buat ngerayain gue dapat beasiswa," Darius begitu senang.Dean dan Marion bertepuk
"Bunda??"Aurora terheran saat Dean mengatakan Marion. Ia berusaha menebak. Mencoba mencari arah pembicaraan ini. Apa hubungannya semua ini dengan bunda Aurora yang telah tiada sejak lama."Dulu Ayah, Darius, dan bunda kamu berteman dekat. Bisa dibilang Ayah menyayangi Darius seperti saudara Ayah s
Marion terkejut. Matanya membulat melihat Dean. Sahabat Darius itu menatap sayu pada Marion. Seolah meminta maaf karena telah mengambil keputusan ini."Bagaimana Marion? Kamu setuju menikah dengan anak saya?" tanya Tuan Harisson.Marion tidak menjawab. Dalam hati dan pikirannya saat ini hanya Dariu







