/ Romansa / ISTRIKU SUGAR BABYKU / 5. RA, KAMU GILA

공유

5. RA, KAMU GILA

작가: Mystique
last update 게시일: 2023-10-09 17:20:59

"Setelah menikah, Ra. Setelah menikah baru bisa melakukan itu."

Darius memegang wajah Aurora. Gadis itu mengerucutkan bibir tanda kecewa.

Aurora benar-benar tidak tahu. Atau memang benar-benar sableng. Kok bisa-bisanya dia seperti kecewa begitu.

Bibirnya monyong seperti itu, kan membuat Darius ingin mencicipinya. Tapi lagi-lagi sikap dewasa Darius menyadarkan. Darius belum benar-benar brengsek untuk melakukan hal itu dengan gadis yang baru ditemuinya selama beberapa jam.

**

Darius menatap langit-langit kamar. Akhirnya dia benar-benar bisa menghindari godaan iman dari Aurora dan menyuruh gadis itu segera tidur.

Namun nyatanya, sekarang Darius lah yang justru tidak bisa tidur karena terbayang-bayang kebersamaan singkatnya tadi bersama Aurora.

Sial, bertemu dengan Aurora mungkin adalah hal sial paling menyenangkan. Sial karena gadis itu terus-terusan memancingnya. Tapi Darius tidak mau berbuat sesuatu yang tidak benar.

Menyenangkan, karena baru beberapa jam saja bertemu dengan Aurora. Darius sudah menikmati hidup yang beraneka rasa.

Di kamar sebelahnya, Darius sadar betul ada Aurora yang mungkin sudah tertidur pulas.

Sekarang Darius membayangkan. Andai tiba-tiba saja Aurora masuk ke dalam kamarnya. Lalu memancingnya seperti tadi. Apakah Darius bisa menghindari lagi. Mengingat untuk kali ini tempatnya sangat pas dan Darius memang sedang terbayang-bayang. Memikirkan itu Darius jadi malu sendiri.

Memikirkan setan kecil. Setan kecil pun datang.

Tok ... Tok ... Tok ...

Tiba-tiba pintu kamar Darius diketuk. Dan tidak perlu menunggu Darius menjawab. Sekarang pintu itu sudah terbuka.

Aurora muncul dengan kemeja putih kedodoran milik Darius yang sedang dipakainya tadi.

"Om," panggil Aurora.

"Ra, kamu ngapain ke sini. Udah malam ini. Sana kamu tidur di kamarmu."

Darius terkejut. Tidak menyangka jika tiba-tiba pikirannya menjadi kenyataan. Gadis bernama Aurora ini benar-benar tidak bisa disangka-sangka.

"Aku takut tidur sendiri, Om."

Aurora berjalan mendekat, masuk ke dalam bad cover dan langsung berbaring di samping Darius. Memeluk pria itu dengan erat.

"Ra, kamu gila. Sana pergi. Jangan di sini. Berbahaya."

'Berbahaya, Ra. Saya takut nggak bisa berpikir jernih kalau terus-terusan dipancing begini,' batin Darius.

"Ihh ... apaan sih, Om. Dari tadi terus bilang ini berbahaya itu berbahaya. Memangnya kita lagi melakukan apa. Pedang-pedangan. Orang kita cuma berbaring begini. Aku cuma peluk Om Darius. Aku tuh takut Om tidur sendirian."

Aurora tidak bergeming. Ia justru mengeratkan pelukannya. Darius yang dipeluk jadi gelabakan sendiri. Disentuh tanpa peringatan begitu membuat darahnya mendesir tiba-tiba.

"Lah memangnya kalau di rumah kamu dikelonin Ayah kamu. Kok bisa takut tidur sendirian."

Darius mencoba membantah. Darius takut tapi ini juga menyenangkan.

"Ya enggak, Om. Tapi kan kalau di rumah itu rumahku. Kalau di sini kan tempat baru bagiku. Jadi aku takut. Imajinasiku tinggi, Om. Nanti kalau pas aku tidur tiba-tiba ada yang grayangin aku gimana?"

"Hehh ... mana ada. Sekarang yang ada justru kamu yang grayangin saya, Ra." Bantah Darius mencoba menahan keinginan syaraf-syaraf yang meremang dahsyat.

"Ehh ... masak sih. Aku kan cuma peluk doang. Bukan grayang-grayang. Lagian meluk pacar sendiri masak nggak boleh. Udah ya diem. Om Darius udah setuju jadi pacar aku jadi sekarang manut aku mau apain juga. Punya pacar itu harus disenengin Om pacarnya."

"Aduhh ... kamu itu gila. Tapi nggak gini caranya, Ra. Kamu itu mancing-mancing."

"Mancing apa sih, Om. Orang aku cuma pelukin doang. Kalo mancing-mancing tuh kayak gini nih."

Tiba-tiba saja tangan Aurora melesat memegang senjata Darius yang belum pernah difungsikan itu.

"Aduhh ... burung kutilangku. Kenapa kamu pegang, Ra. Jangan dipegang!!"

"Eehhh ... jadi ini to namanya burung kutilang. Aku baru tau, Om. Ternyata bentukannya kenyal."

"Aduhh ... Ra, Ra, lepas. Saya bilang jangan dipegang. Kamu malah tambah ditekan-tekan."

Darius jadi belingsatan sendiri. Setelah dianggurkan selama tiga puluh delapan tahun. Malam ini tanpa rencana, burung kutilang Darius terus-terusan dipancing untuk bisa berfungsi semestinya.

"Lohh ... saya kan cuma mau tau burung kutilang, Om. Kirain burung kutilang itu yang hinggap di pohon-pohon. Ternyata ini to. Eh Om, Om. Kok sekarang jadi keras gitu. Enakan pas keras Om dipegangnya."

"Aduhh Raaa ... lepas. Kok malah kamu mainin."

"Kenapa, Om. Sakit ya??" Aurora sok polos. Sok tidak tahu tapi dia terus memainkan burung kutilang Darius dari luar celana boxer.

"Ya enggak. Enak Raa ... bukan sakit."

"Oh ... enak. Hehehe ... bagus dong."

Aurora masih tidak berhenti. Gadis itu justru memeta pada bagian-bagian lain. Seperti pada telur burung kutilang itu. Darius panas dingin. Darahnya mendesir. Akal sehatnya mulai tidak berfungsi beralih menjadi panas tubuh yang ingin segera dituntaskan.

"Ra, saya sebenarnya nggak mau melakukan ini. Tapi dari tadi kamu terus yang mancing-mancing saya. Sekarang saya nggak bisa tahan lagi."

"Maksudnya, Om?"

"Kamu mau tau burung kutilang kan? Sekarang saya kasih tau kamu burung kutilang itu lengkap."

Hmm ... sekarang kenak kau. Batin Darius lega. Tidak mungkin kan Aurora benar-benar tidak tahu kalau burung kutilang itu yang memang ada di pohon-pohon. Bukan yang ada di dalam celananya. Itu tadi kan cuma sebutan. Masak iya langsung disebut namanya gitu. Sarkas sekali.

Darius memegang tangan Aurora. Mengarahkannya masuk ke dalam boxer celananya sendiri.

Emhhh ... Darius menghela nafas besar saat tangan Aurora memegang secara langsung burung kutilang miliknya. Sedang mata Aurora membulat sempurna setelah memegang burung kutilang Darius.

"Kenapa mata kamu begitu?" tanya Darius berusaha menahan tawa melihat reaksi wajah Aurora.

"Ternyata burung kutilang itu nggak berbulu."

Darius menutup mata kaget mendengar kalimat pertama Aurora. Dia pikir gadis ini akan takut atau menyesal tapi sepertinya sama sekali tidak. Sekarang Aurora malah seperti mempelajari.

"Om, teksturnya seperti pentol bakso berotot yaa. Tapi ini bentuknya lonjong bukan bulat. Tapi kerasan ini, Om. Enak Om ditangan. Anget. Hehehe. Ini kalau digigit gimana rasanya ya. Sama kayak makan bakso nggak itu ya."

Darius kepanasan sendiri. Aurora memegang burung kutilangnya naik turun. Terus gadis itu juga penasaran gimana rasanya kalau digigit. Membuat Darius tidak bisa berpikir lagi. Kalau mau tahu, coba dimakan aja.

"Ra, kamu mau tau rasanya?"

"Iya, Om."

"Oke. Saya kasih tau kamu rasanya sekarang."

Darius sudah tidak sungkan. Rasa panas yang merebas-rebas ingin ia ikuti sampai tuntas. Darius yang berbaring di samping Aurora mulai bergerak ingin menindih tubuh gadis itu untuk memulai semua.

Bug. Tiba-tiba Darius terjatuh dari tempat tidur. Ia membuka mata dan melihat ke sekeliling dengan bingung. Ia lihat di atas tempat tidur. Tidak ada Aurora di sana. Ternyata semuanya cuma mimpi.

Yahh ... Darius. Sok-sokan nolak pancingan Aurora. Nyatanya dia yang ke bawa sampai mimpi juga.

Darius tersenyum malu. Bisa-bisanya dia mimpi seperti itu dengan gadis yang baru saja ia temui selama beberapa jam. Bangkit dari posisi jatuh, Darius langsung bergegas menuju kamar mandi. Hari sudah siang. Mungkin Aurora juga sudah bangun dan mulai menyiapkan sarapan untuk mereka.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 35. ALIANSI YANG TAK TERDUGA

    Ancaman melalui email anonim itu ternyata bukan gertakan kosong. Hanya dalam waktu dua belas jam setelah Chika menerima pesan tersebut, mimpi buruk itu menjadi nyata. Saat Chika baru saja turun dari mobil di basemen apartemennya. Tempat yang seharusnya paling aman. Tiga pria bertopeng menyergapnya. Bahkan Rahmat, yang mencoba melawan, tersungkur setelah dihantam gagang senjata api. Chika diseret masuk ke dalam mobil van hitam yang melesat keluar, meninggalkan keheningan mencekam di basemen yang dingin. Dewa, yang saat itu baru saja menyelesaikan panggilan telepon dengan otoritas keuangan, mendapati Rahmat merangkak di lantai basemen dengan pelipis berdarah. Dunia Dewa seolah runtuh saat ia melihat tas tangan Chika tergeletak tragis di samping mobil yang pintunya masih terbuka. "Mereka membawanya, Pak..." rintih Rahmat. "Mereka tidak bicara, tapi mereka sangat profesional." Dewa tidak membuang waktu. Ia segera menghubungi nomor yang paling tidak ingin ia hubungi dalam hidupnya

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 34. ANCAMAN TERAKHIR

    Jakarta menyambut kepulangan Dewa dan Chika dengan wajah yang berbeda. Tak ada lagi baliho raksasa yang memajang wajah Sherly atau berita utama tentang pengambilalihan paksa oleh Adiwangsa Group.Yang tersisa adalah gedung Dewangga Corp yang berdiri kokoh, menanti pemimpinnya untuk melakukan pembersihan besar-besaran.Dengan dokumen wasiat asli Larasati di tangan, Dewa secara resmi menduduki kursi CEO tanpa ada lagi bayang-bayang Martha. Namun, restrukturisasi total bukanlah perkara mudah. Di hari pertama kembali berkantor, Dewa mengumpulkan seluruh manajer senior di ruang rapat utama.Di sampingnya, Chika duduk bukan lagi sebagai asisten yang membungkuk, melainkan sebagai penasihat strategis dengan hak suara penuh."Mulai hari ini, setiap kontrak yang ditandatangani di bawah tekanan Martha atau Sherly akan ditinjau ulang," suara Dewa bergema, dingin namun penuh wibawa. "Dewangga Corp akan kembali ke nilai intinya: inovasi dan integritas. Siapa pun yang merasa keberatan dengan transpa

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 33. MASA LALU DUA IBU

    Lantai bursa mungkin sudah tenang, namun badai di dalam hati Chika justru baru saja dimulai. Pernyataan Sherly dari balik jeruji ruang interogasi polisi seperti sebuah granat yang dilemparkan ke masa lalu. Ia menyebutkan sebuah nama desa di pesisir Jawa Tengah. Desa Karang Sewu, tempat di mana rahasia antara Larasati, ibu kandung Dewa, dan almarhumah ibu kandung Chika, Saraswati, terkubur bersama dendam Dion Adiwangsa. "Kita harus ke sana, Dewa," ucap Chika saat mereka berdiri di lobi apartemen yang gelap. "Polisi tidak akan bergerak tanpa bukti fisik, dan Sherly bilang bukti itu ada di rumah tua milik keluarga Larasati." Perjalanan delapan jam itu terasa sunyi. Hanya suara deru mesin dan rintik hujan yang menemani mereka menembus kegelapan pantura. Deru ombak di pesisir Karang Sewu terdengar seperti bisikan masa lalu yang menuntut penjelasan. Desa ini adalah tempat di mana Larasati, ibu kandung Dewa, menghabiskan masa kecilnya bersama Saraswati, ibu kandung Chika. Di sinilah

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 32. SENJATA MAKAN TUAN

    Suara sirene ambulans dan pemadam kebakaran di luar Hotel Gran Melia terdengar seperti latar belakang yang jauh bagi Chika. Ia duduk di dalam ambulans, bahunya dibungkus selimut darurat, namun matanya terpaku pada ponsel Sherly yang masih menyala di genggamannya.Kalimat itu terus berulang di kepalanya seperti kaset rusak. “...karena dia bukan anak kandungmu.”Dewa berdiri di sampingnya, mengabaikan luka bakar ringan di lengannya. Ia menatap Chika dengan cemas. "Chika, kamu harus ke rumah sakit. Paru-parumu perlu diperiksa."Chika mendongak, wajahnya yang terkena jelaga tampak pucat pasi. "Dewa... dengarkan ini."Ia memutar kembali pesan suara itu. Dewa membeku. Keheningan yang janggal tercipta di antara mereka, kontras dengan hiruk-pikuk petugas medis di sekitar mereka."Itu suara Nyonya Martha," bisik Dewa. "Dia bicara pada Papamu."Belum sempat Dewa mencerna informasi itu, sosok Dion Adiwangsa muncul di depan pintu ambulans. Wajah sang raksasa bisnis itu tidak lagi menunjukkan amar

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 31. JEBAKAN SKANDAL

    Setelah malam pengakuan di bawah bintang, Chika terbangun dengan perasaan bahwa dunia sedikit lebih ringan. Namun, di dunia korporat yang kejam, ketenangan hanyalah jeda sebelum badai kategori lima menghantam.Pagi itu, kantor Dewangga Corp tidak lagi dipenuhi oleh bisik-bisik soal asisten culun, melainkan oleh kepanikan massal.Layar monitor di lobi menampilkan grafik merah yang menukik tajam. Adiwangsa Group baru saja mengumumkan Hostile Takeover—pengambilalihan paksa—terhadap Dewangga Corp.Dion Adiwangsa tidak lagi bermain di balik bayangan. Ia menyerang jantung pertahanan Dewa dengan membeli saham-saham kecil di pasar terbuka dalam jumlah masif."Papa benar-benar melakukannya," bisik Chika saat ia memasuki ruangan Dewa.Dewa berdiri di depan jendela kaca besarnya, ponsel di telinganya tak henti-henti bergetar. "Dia menyerang saat kita sedang lemah pasca skandal Martha. Dia ingin melumpuhkan operasional kita sebelum kita sempat memulihkan dana taktis yang dicuri kemarin."Namun, s

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 30. PENGAKUAN DI BAWAH BINTANG

    Dua jam yang diminta Dewa terasa seperti dua abad bagi para penghuni lantai tiga puluh. Ketika pintu ruang komisaris kembali terbuka, suasana tidak lagi dipenuhi teriakan. Heningnya mencekam, seperti udara sesaat sebelum badai besar menghantam pesisir. Chika melangkah masuk lebih dulu. Ia tidak lagi membawa tumpukan map kertas. Ia hanya membawa sebuah tablet tipis. Di belakangnya, Dewa berjalan dengan langkah tegap, matanya lurus menatap Martha yang duduk di ujung meja dengan tangan bersedekap angkuh. "Waktumu habis, Dewa," ujar Martha dingin. "Mana bukti bahwa asistenmu ini tidak merampok perusahaan?" Chika tidak menunggu Dewa menjawab. Ia meletakkan tablet-nya di tengah meja dan mengaktifkan proyeksi layar. "Saya tidak akan membela diri soal IP address atau jejak digital yang bisa dimanipulasi, Nona Sherly," Chika melirik Sherly yang mulai tampak gelisah. "Saya akan bicara soal aliran dana yang sebenarnya." Layar proyektor menampilkan skema rumit. Titik merah menunjukkan dana

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status