ログイン"Setelah menikah, Ra. Setelah menikah baru bisa melakukan itu."
Darius memegang wajah Aurora. Gadis itu mengerucutkan bibir tanda kecewa.
Aurora benar-benar tidak tahu. Atau memang benar-benar sableng. Kok bisa-bisanya dia seperti kecewa begitu.
Bibirnya monyong seperti itu, kan membuat Darius ingin mencicipinya. Tapi lagi-lagi sikap dewasa Darius menyadarkan. Darius belum benar-benar brengsek untuk melakukan hal itu dengan gadis yang baru ditemuinya selama beberapa jam.
**
Darius menatap langit-langit kamar. Akhirnya dia benar-benar bisa menghindari godaan iman dari Aurora dan menyuruh gadis itu segera tidur.
Namun nyatanya, sekarang Darius lah yang justru tidak bisa tidur karena terbayang-bayang kebersamaan singkatnya tadi bersama Aurora.
Sial, bertemu dengan Aurora mungkin adalah hal sial paling menyenangkan. Sial karena gadis itu terus-terusan memancingnya. Tapi Darius tidak mau berbuat sesuatu yang tidak benar.
Menyenangkan, karena baru beberapa jam saja bertemu dengan Aurora. Darius sudah menikmati hidup yang beraneka rasa.
Di kamar sebelahnya, Darius sadar betul ada Aurora yang mungkin sudah tertidur pulas.
Sekarang Darius membayangkan. Andai tiba-tiba saja Aurora masuk ke dalam kamarnya. Lalu memancingnya seperti tadi. Apakah Darius bisa menghindari lagi. Mengingat untuk kali ini tempatnya sangat pas dan Darius memang sedang terbayang-bayang. Memikirkan itu Darius jadi malu sendiri.
Memikirkan setan kecil. Setan kecil pun datang.
Tok ... Tok ... Tok ...
Tiba-tiba pintu kamar Darius diketuk. Dan tidak perlu menunggu Darius menjawab. Sekarang pintu itu sudah terbuka.
Aurora muncul dengan kemeja putih kedodoran milik Darius yang sedang dipakainya tadi.
"Om," panggil Aurora.
"Ra, kamu ngapain ke sini. Udah malam ini. Sana kamu tidur di kamarmu."
Darius terkejut. Tidak menyangka jika tiba-tiba pikirannya menjadi kenyataan. Gadis bernama Aurora ini benar-benar tidak bisa disangka-sangka.
"Aku takut tidur sendiri, Om."
Aurora berjalan mendekat, masuk ke dalam bad cover dan langsung berbaring di samping Darius. Memeluk pria itu dengan erat.
"Ra, kamu gila. Sana pergi. Jangan di sini. Berbahaya."
'Berbahaya, Ra. Saya takut nggak bisa berpikir jernih kalau terus-terusan dipancing begini,' batin Darius.
"Ihh ... apaan sih, Om. Dari tadi terus bilang ini berbahaya itu berbahaya. Memangnya kita lagi melakukan apa. Pedang-pedangan. Orang kita cuma berbaring begini. Aku cuma peluk Om Darius. Aku tuh takut Om tidur sendirian."
Aurora tidak bergeming. Ia justru mengeratkan pelukannya. Darius yang dipeluk jadi gelabakan sendiri. Disentuh tanpa peringatan begitu membuat darahnya mendesir tiba-tiba.
"Lah memangnya kalau di rumah kamu dikelonin Ayah kamu. Kok bisa takut tidur sendirian."
Darius mencoba membantah. Darius takut tapi ini juga menyenangkan.
"Ya enggak, Om. Tapi kan kalau di rumah itu rumahku. Kalau di sini kan tempat baru bagiku. Jadi aku takut. Imajinasiku tinggi, Om. Nanti kalau pas aku tidur tiba-tiba ada yang grayangin aku gimana?"
"Hehh ... mana ada. Sekarang yang ada justru kamu yang grayangin saya, Ra." Bantah Darius mencoba menahan keinginan syaraf-syaraf yang meremang dahsyat.
"Ehh ... masak sih. Aku kan cuma peluk doang. Bukan grayang-grayang. Lagian meluk pacar sendiri masak nggak boleh. Udah ya diem. Om Darius udah setuju jadi pacar aku jadi sekarang manut aku mau apain juga. Punya pacar itu harus disenengin Om pacarnya."
"Aduhh ... kamu itu gila. Tapi nggak gini caranya, Ra. Kamu itu mancing-mancing."
"Mancing apa sih, Om. Orang aku cuma pelukin doang. Kalo mancing-mancing tuh kayak gini nih."
Tiba-tiba saja tangan Aurora melesat memegang senjata Darius yang belum pernah difungsikan itu.
"Aduhh ... burung kutilangku. Kenapa kamu pegang, Ra. Jangan dipegang!!"
"Eehhh ... jadi ini to namanya burung kutilang. Aku baru tau, Om. Ternyata bentukannya kenyal."
"Aduhh ... Ra, Ra, lepas. Saya bilang jangan dipegang. Kamu malah tambah ditekan-tekan."
Darius jadi belingsatan sendiri. Setelah dianggurkan selama tiga puluh delapan tahun. Malam ini tanpa rencana, burung kutilang Darius terus-terusan dipancing untuk bisa berfungsi semestinya.
"Lohh ... saya kan cuma mau tau burung kutilang, Om. Kirain burung kutilang itu yang hinggap di pohon-pohon. Ternyata ini to. Eh Om, Om. Kok sekarang jadi keras gitu. Enakan pas keras Om dipegangnya."
"Aduhh Raaa ... lepas. Kok malah kamu mainin."
"Kenapa, Om. Sakit ya??" Aurora sok polos. Sok tidak tahu tapi dia terus memainkan burung kutilang Darius dari luar celana boxer.
"Ya enggak. Enak Raa ... bukan sakit."
"Oh ... enak. Hehehe ... bagus dong."
Aurora masih tidak berhenti. Gadis itu justru memeta pada bagian-bagian lain. Seperti pada telur burung kutilang itu. Darius panas dingin. Darahnya mendesir. Akal sehatnya mulai tidak berfungsi beralih menjadi panas tubuh yang ingin segera dituntaskan.
"Ra, saya sebenarnya nggak mau melakukan ini. Tapi dari tadi kamu terus yang mancing-mancing saya. Sekarang saya nggak bisa tahan lagi."
"Maksudnya, Om?"
"Kamu mau tau burung kutilang kan? Sekarang saya kasih tau kamu burung kutilang itu lengkap."
Hmm ... sekarang kenak kau. Batin Darius lega. Tidak mungkin kan Aurora benar-benar tidak tahu kalau burung kutilang itu yang memang ada di pohon-pohon. Bukan yang ada di dalam celananya. Itu tadi kan cuma sebutan. Masak iya langsung disebut namanya gitu. Sarkas sekali.
Darius memegang tangan Aurora. Mengarahkannya masuk ke dalam boxer celananya sendiri.
Emhhh ... Darius menghela nafas besar saat tangan Aurora memegang secara langsung burung kutilang miliknya. Sedang mata Aurora membulat sempurna setelah memegang burung kutilang Darius.
"Kenapa mata kamu begitu?" tanya Darius berusaha menahan tawa melihat reaksi wajah Aurora.
"Ternyata burung kutilang itu nggak berbulu."
Darius menutup mata kaget mendengar kalimat pertama Aurora. Dia pikir gadis ini akan takut atau menyesal tapi sepertinya sama sekali tidak. Sekarang Aurora malah seperti mempelajari.
"Om, teksturnya seperti pentol bakso berotot yaa. Tapi ini bentuknya lonjong bukan bulat. Tapi kerasan ini, Om. Enak Om ditangan. Anget. Hehehe. Ini kalau digigit gimana rasanya ya. Sama kayak makan bakso nggak itu ya."
Darius kepanasan sendiri. Aurora memegang burung kutilangnya naik turun. Terus gadis itu juga penasaran gimana rasanya kalau digigit. Membuat Darius tidak bisa berpikir lagi. Kalau mau tahu, coba dimakan aja.
"Ra, kamu mau tau rasanya?"
"Iya, Om."
"Oke. Saya kasih tau kamu rasanya sekarang."
Darius sudah tidak sungkan. Rasa panas yang merebas-rebas ingin ia ikuti sampai tuntas. Darius yang berbaring di samping Aurora mulai bergerak ingin menindih tubuh gadis itu untuk memulai semua.
Bug. Tiba-tiba Darius terjatuh dari tempat tidur. Ia membuka mata dan melihat ke sekeliling dengan bingung. Ia lihat di atas tempat tidur. Tidak ada Aurora di sana. Ternyata semuanya cuma mimpi.
Yahh ... Darius. Sok-sokan nolak pancingan Aurora. Nyatanya dia yang ke bawa sampai mimpi juga.
Darius tersenyum malu. Bisa-bisanya dia mimpi seperti itu dengan gadis yang baru saja ia temui selama beberapa jam. Bangkit dari posisi jatuh, Darius langsung bergegas menuju kamar mandi. Hari sudah siang. Mungkin Aurora juga sudah bangun dan mulai menyiapkan sarapan untuk mereka.
Ruang rapat privat di lantai tiga puluh itu beraroma cerutu mahal yang menyesakkan. Dewa duduk di kursi kebesarannya dengan rahang mengeras, sementara di seberang meja, Tuan Baskoro—seorang taipan minyak yang dikenal sebagai "predator" di bursa saham—menyandarkan punggungnya dengan angkuh.Dewa butuh suntikan modal dari konsorsium Baskoro untuk membentengi Dewangga Corp dari serangan susulan Barata. Namun, Baskoro bukan sedang bernegosiasi bisnis; ia sedang menikmati posisi tawarnya yang di atas angin."Dewa, Dewa... kamu ini masih muda, terlalu idealis," Baskoro tertawa, suaranya parau dan merendahkan. "Kamu butuh uang saya, tapi kamu bicara soal etika lingkungan? Di dunia ini, yang hijau itu cuma dollar, bukan pohon."Chika masuk dengan kepala menunduk, membawa baki berisi dokumen audit tambahan dan segelas wiski pesanan tamu tersebut. Kacamata besarnya sengaja ia turunkan sedikit agar menutupi sebagian besar wajahnya."Lama sekali, Cantik," celetuk Baskoro saat Chika meletakkan gel
Dingin. Itulah satu-satunya kata yang bisa menggambarkan atmosfer di apartemen The Penthouse pagi ini. Kehangatan nasi goreng gila dan pengakuan tentang mimpi semalam menguap begitu saja, digantikan oleh tembok es yang lebih tebal dari sebelumnya. Penemuan foto tua itu—foto Dean Adiwangsa dan mendiang ibu Dewa—telah mengubah segalanya.Dewa berangkat ke kantor lebih awal tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Chika yang terpaku menatap sisa-sisa sketsa arsitektur di meja perpustakaan.Pukul sepuluh pagi, Chika terpaksa turun ke lantai tiga puluh lewat lorong rahasia. Ia mengenakan seragam administratifnya, namun kacamata besarnya kembali ia pakai sebagai perisai. Saat ia melangkah keluar dari lift servis, pemandangan di depan meja Rahmat membuatnya berhenti bernapas.Seorang wanita dengan gaun bodycon berwarna krem setinggi lutut sedang berdiri angkuh sambil mengikir kukunya. Rambutnya pirang abu-abu hasil salon kelas atas, dan aroma parfumnya—Baccarat Rouge—menyengat hidung bahkan dari
Apartemen The Penthouse di jam dua pagi terasa seperti akuarium raksasa yang sunyi. Cahaya lampu kota dari balik jendela kaca raksasa memantul di lantai marmer, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari mengikuti gerak awan. Dewa sudah masuk ke kamar utamanya setelah sesi "nasi goreng gila" yang ganjil itu, meninggalkan Chika sendirian di ruang tengah yang luas. Chika tidak bisa tidur. Adrenalin dari ancaman detektif Argo dan sisa kehangatan dari sentuhan tangan Dewa tadi masih menyengat saraf-sarafnya. Ia berjalan menuju perpustakaan pribadi Dewa yang terletak di sayap kiri apartemen. Ruangan itu berdinding kayu jati gelap, penuh dengan buku-buku tebal tentang makroekonomi, biografi tokoh dunia, dan tumpukan majalah bisnis internasional. Di sudut ruangan, sebuah meja kerja kecil tampak berdebu, seolah jarang disentuh. Di atasnya, tersampir sebuah seragam biru OG Dewangga Corp yang masih bersih—seragam cadangan milik Chika yang dibawa Rahmat semalam. Chika mengusap kain p
Gedung apartemen The Penthouse berdiri angkuh tepat di sebelah gedung kantor Dewangga Corp, dihubungkan oleh lorong bawah tanah eksklusif yang hanya bisa diakses oleh pemilik unit tertinggi. Di sinilah Chika sekarang—berdiri di tengah ruang tamu minimalis yang didominasi warna abu-abu dan kaca. Apartemen Dewa sangat mencerminkan pemiliknya: luas, dingin, sangat teratur, dan sedikit angkuh.Di dinding ruang tamu, sebuah layar monitor besar menampilkan live feed dari beberapa kamera tersembunyi yang dipasang Rahmat di area parkir dan lobi kantor. Chika menatap layar itu dengan perasaan tidak menentu.Di layar, ia melihat Dewa keluar dari lobi utama. Pria itu tampak sangat tampan dengan setelan jas hitam tanpa dasi. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala dan tas branded keluaran terbaru sedang menggandeng lengannya dengan mesra."Sherly," gumam Chika lirih.Ia mengenali wanita itu. Sherly adalah putri dari pemilik bank swasta besar, salah satu teman lama Chika di
Cahaya fajar yang merayap masuk dari celah tirai kantor tidak pernah terasa seberat ini bagi Chika. Ia kini tidak lagi mengenakan seragam biru OG-nya. Sebagai gantinya, ia memakai kemeja oversized putih dan celana bahan berwarna krem—pakaian yang dibelikan Rahmat atas perintah Dewa agar ia tampak seperti staf administrasi biasa.Namun, identitas barunya sebagai "asisten bayangan" di ruangan Dewa justru membuatnya merasa lebih terkurung daripada saat ia memegang sapu."Fokus, Chika. Kalau angka ini tidak sinkron, Barata punya celah untuk menggugat balik di pengadilan niaga minggu depan," suara Dewa memecah lamunan Chika.Dewa duduk di kursi kebesarannya, sementara Chika duduk di meja kecil di sudut ruangan yang kini dipenuhi laptop dan berkas-berkas audit. Sejak insiden di ruang arsip kemarin, suasana di antara mereka berubah. Ada profesionalisme yang sangat kaku, namun sesekali, saat mata mereka bertemu, bayangan napas yang beradu di ruang sempit itu kembali menghantui.Tiba-tiba, pon
Dunia seolah berhenti berputar bagi Chika. Suara langkah sepatu pantofel yang tegas terdengar bergema di koridor luar, semakin mendekat ke arah pintu jati ruang kerja Dewa. Itu adalah irama langkah yang sangat ia kenal—langkah kaki Dion Adiwangsa, pria yang tidak pernah menerima kata "tidak" dan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan."Sembunyi," bisik Dewa tajam.Chika panik. Matanya menyapu ruangan. Kolong meja kerja Dewa terlalu terbuka. Lemari buku? Terlalu sempit. Satu-satunya jalan keluar adalah pintu samping yang menghubungkan ruang kerja langsung ke ruang arsip pribadi Dewa yang kedap suara.Tanpa membuang waktu, Chika melesat masuk ke ruang arsip tersebut tepat saat pintu depan ruangan Dewa terbuka dengan dentuman pelan namun mengintimidasi.Klik.Chika menutup pintu ruang arsip dari dalam. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya biru dari indikator mesin penghancur kertas dan barisan rak besi yang penuh dengan map rahasia. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia taku
Aurora mengambil satu helai roti. Ia tambahkan selai lalu berjalan menuju sofa. Mengambil gagang telpon, Aurora menelfon Darius.Darius baru saja berangkat. Belum setengah jalan pria itu pergi menuju tempat kerjanya. Ponselnya berbunyi, Darius langsung mengangkat panggilan telfon itu."Halo. Apa, Ra?"
Satu minggu setelah Aurora menjemput Darius pulang, sebuah pertemuan yang selama ini mustahil terjadi akhirnya terlaksana. Di beranda belakang rumah keluarga Harrison, tempat Marion dulu sering menghabiskan sorenya, dua pria yang pernah saling menghancurkan kini duduk berhadapan. Hening menyelimuti
Saat pulang ke arah rumah Darius berpikir. Mungkin nanti saat sampai rumah ia akan lelah karena harus menyiapkan kebutuhan Aurora.Namun begitu sampai rumah, melihat Aurora justru menyambutnya layaknya seorang istri. Darius justru berpikir bahwa ada Aurora di rumah tidak buruk juga.Apalagi ia melihat
"Loh, Ra. Kamu ngomong apa?" Darius terkejut Aurora tidak mengakuinya."Enggak, Pak. Enggak. Dia berbohong. Saya ini_ saya ini pacar dia," lanjut Darius menjelaskan.Security yang mendengar penjelasan Darius menatap Darius aneh. Tentu saja Security ini tidak percaya, Darius dan Aurora lebih mirip ayah







