Mag-log inDua jam yang diminta Dewa terasa seperti dua abad bagi para penghuni lantai tiga puluh. Ketika pintu ruang komisaris kembali terbuka, suasana tidak lagi dipenuhi teriakan. Heningnya mencekam, seperti udara sesaat sebelum badai besar menghantam pesisir.Chika melangkah masuk lebih dulu. Ia tidak lagi membawa tumpukan map kertas. Ia hanya membawa sebuah tablet tipis. Di belakangnya, Dewa berjalan dengan langkah tegap, matanya lurus menatap Martha yang duduk di ujung meja dengan tangan bersedekap angkuh."Waktumu habis, Dewa," ujar Martha dingin. "Mana bukti bahwa asistenmu ini tidak merampok perusahaan?"Chika tidak menunggu Dewa menjawab. Ia meletakkan tablet-nya di tengah meja dan mengaktifkan proyeksi layar. "Saya tidak akan membela diri soal IP address atau jejak digital yang bisa dimanipulasi, Nona Sherly," Chika melirik Sherly yang mulai tampak gelisah. "Saya akan bicara soal aliran dana yang sebenarnya."Layar proyektor menampilkan skema rumit. Titik merah menunjukkan dana lima p
Pagi itu, Jakarta menyambut Chika dengan tajuk berita yang lebih panas dari terik matahari Sudirman. Foto dirinya yang mengenakan jaket hoodie lusuh dengan tangan terborgol di depan sebuah gedung di London tersebar luas.Narasi yang dibangun Martha dan Sherly sangat rapi dan mematikan. Chika digambarkan sebagai sosiopat pemberontak yang memiliki catatan kriminal, yang menyusup ke Dewangga Corp untuk melakukan sabotase dari dalam.Dampak instannya nyata. Saham Dewangga Corp terjun bebas sebesar 4,8% dalam pembukaan pasar pagi ini.Di ruang rapat dewan komisaris, suasananya jauh lebih dingin daripada pendingin ruangan yang disetel ke suhu minimal. Nyonya Martha duduk di kursi utama, mengelilingi meja bersama para pemegang saham kawakan yang wajahnya tampak sangat tidak puas.Dewa berdiri di ujung meja, sementara Chika—yang menolak untuk bersembunyi—berdiri tegak di sampingnya."Dewa, ini sudah keterlaluan!" salah satu komisaris senior menggebrak meja. "Reputasi perusahaan ini dibangun s
Kehancuran di Grand Ballroom semalam menyisakan puing-puing reputasi yang berserakan. Berita tentang kegagalan pertunangan Dewa dan pengkhianatan Sherly menjadi santapan liar media sosial. Namun, di kediaman mewah keluarga Dewangga yang bergaya kolonial, suasana justru terasa seperti markas militer yang tengah merancang serangan balik.Nyonya Martha duduk di kursi goyangnya, menatap perapian yang padam dengan mata merah karena amarah. Di depannya, Sherly terisak—entah tulus atau sekadar akting—sembari memegang kompres es di pipinya yang memerah akibat tamparan Martha semalam."Berhenti menangis, Sherly! Air matamu tidak akan mengembalikan saham yang anjlok pagi ini," bentak Martha, suaranya parau namun tajam."Tante... Chika itu iblis. Dia meretas ponselku! Dia mempermalukanku di depan semua orang!" Sherly merengek, mencoba mencari pembelaan. "Kita harus menghancurkannya. Kita tidak bisa membiarkan putri Adiwangsa itu menguasai Dewa."Martha berdiri, berjalan menuju jendela yang mengh
Lampu kristal di Grand Ballroom Hotel Mulia berpijar dengan kemewahan yang menyakitkan mata. Malam ini adalah "Gala Dinner Tahunan Dewangga Corp", namun semua orang tahu ini hanyalah panggung sandiwara untuk sebuah pengumuman besar. Karpet merah telah digelar, para petinggi bisnis bersulang dengan sampanye mahal, dan puluhan wartawan ekonomi berkerumun di barisan depan.Di balik layar monitor di salah satu kamar suite di lantai atas hotel, Chika duduk dengan tenang. Ia tidak lagi memakai kacamata besarnya. Rambutnya disanggul modern yang elegan, dan ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam pekat yang jatuh sempurna di tubuhnya—pemberian Dewa yang dikirim melalui Rahmat pagi tadi."Pak Dewa dan Nona Sherly baru saja turun dari mobil, Nona Chika," suara Rahmat terdengar dari earpiece yang tersembunyi di balik telinga Chika.Chika menatap layar monitor. Dewa tampak luar biasa tampan dengan tuksedo hitam custom-made. Namun, wajahnya sedingin es utara. Di sampingnya, Sherly menggelayut manj
Ketegangan di lantai tiga puluh Dewangga Corp kini tidak lagi terasa seperti persaingan bisnis biasa, melainkan seperti perang dingin yang siap meledak menjadi konfrontasi nuklir. Setelah kepergian Martha dan Dewa ke ruang komisaris, Chika berdiri mematung di tengah ruangan yang terasa semakin sempit.Sherly masih berdiri di depannya dengan senyum kemenangan yang memuakkan. Foto di layar ponselnya—momen intim Chika dan Dewa di ruang arsip—menjadi kartu as yang siap ia jatuhkan kapan saja."Kenapa diam, Chika? Takut namamu jadi trending topic sebagai pelakor korporat?" ejek Sherly. "Bayangkan wajah Papa-mu saat melihat putri kesayangannya yang 'mandiri' ini ternyata cuma main kucing-kucingan di ruang gelap sama musuh bisnisnya sendiri."Chika menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya. Ia tidak boleh terpancing emosi. "Kamu pikir foto itu cukup untuk menghancurkanku, Sherly? Kamu lupa siapa yang baru saja memenangkan kontrak Baskoro. Dewa butuh otakku, bukan sekadar pajanga
Kemenangan atas Dion Adiwangsa di ruang kerja itu menyisakan keheningan yang janggal. Dewa berlutut di samping kursi Chika, tangannya menggenggam jemari gadis itu yang perlahan mulai menghangat. Mata mereka terkunci, sebuah pengakuan tanpa kata bahwa hubungan ini telah melampaui batas profesionalisme yang paling ketat sekalipun. "Chika," bisik Dewa, suaranya parau. "Kamu tahu risiko yang kamu ambil tadi, kan? Kamu baru saja menantang matahari." "Saya lebih baik terbakar matahari daripada harus hidup dalam bayangan selamanya, Pak," jawab Chika dengan senyum tipis yang memukau. Dewa baru saja hendak membalas saat pintu ruangan yang tadi didobrak Darius kini terbuka lagi dengan cara yang jauh lebih elegan, namun tak kalah mengintimidasi. Seorang wanita paruh baya dengan setelan tweed Chanel berwarna biru tua masuk ke ruangan. Rambutnya disanggul rapi tanpa cela, dan wajahnya memancarkan otoritas yang dingin dan kaku. Itu adalah Nyonya Martha Dewangga, ibu kandung Dewa. Dewa lang







