LOGINKehancuran di Grand Ballroom semalam menyisakan puing-puing reputasi yang berserakan. Berita tentang kegagalan pertunangan Dewa dan pengkhianatan Sherly menjadi santapan liar media sosial. Namun, di kediaman mewah keluarga Dewangga yang bergaya kolonial, suasana justru terasa seperti markas militer yang tengah merancang serangan balik.Nyonya Martha duduk di kursi goyangnya, menatap perapian yang padam dengan mata merah karena amarah. Di depannya, Sherly terisak—entah tulus atau sekadar akting—sembari memegang kompres es di pipinya yang memerah akibat tamparan Martha semalam."Berhenti menangis, Sherly! Air matamu tidak akan mengembalikan saham yang anjlok pagi ini," bentak Martha, suaranya parau namun tajam."Tante... Chika itu iblis. Dia meretas ponselku! Dia mempermalukanku di depan semua orang!" Sherly merengek, mencoba mencari pembelaan. "Kita harus menghancurkannya. Kita tidak bisa membiarkan putri Adiwangsa itu menguasai Dewa."Martha berdiri, berjalan menuju jendela yang mengh
Lampu kristal di Grand Ballroom Hotel Mulia berpijar dengan kemewahan yang menyakitkan mata. Malam ini adalah "Gala Dinner Tahunan Dewangga Corp", namun semua orang tahu ini hanyalah panggung sandiwara untuk sebuah pengumuman besar. Karpet merah telah digelar, para petinggi bisnis bersulang dengan sampanye mahal, dan puluhan wartawan ekonomi berkerumun di barisan depan.Di balik layar monitor di salah satu kamar suite di lantai atas hotel, Chika duduk dengan tenang. Ia tidak lagi memakai kacamata besarnya. Rambutnya disanggul modern yang elegan, dan ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam pekat yang jatuh sempurna di tubuhnya—pemberian Dewa yang dikirim melalui Rahmat pagi tadi."Pak Dewa dan Nona Sherly baru saja turun dari mobil, Nona Chika," suara Rahmat terdengar dari earpiece yang tersembunyi di balik telinga Chika.Chika menatap layar monitor. Dewa tampak luar biasa tampan dengan tuksedo hitam custom-made. Namun, wajahnya sedingin es utara. Di sampingnya, Sherly menggelayut manj
Ketegangan di lantai tiga puluh Dewangga Corp kini tidak lagi terasa seperti persaingan bisnis biasa, melainkan seperti perang dingin yang siap meledak menjadi konfrontasi nuklir. Setelah kepergian Martha dan Dewa ke ruang komisaris, Chika berdiri mematung di tengah ruangan yang terasa semakin sempit.Sherly masih berdiri di depannya dengan senyum kemenangan yang memuakkan. Foto di layar ponselnya—momen intim Chika dan Dewa di ruang arsip—menjadi kartu as yang siap ia jatuhkan kapan saja."Kenapa diam, Chika? Takut namamu jadi trending topic sebagai pelakor korporat?" ejek Sherly. "Bayangkan wajah Papa-mu saat melihat putri kesayangannya yang 'mandiri' ini ternyata cuma main kucing-kucingan di ruang gelap sama musuh bisnisnya sendiri."Chika menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya. Ia tidak boleh terpancing emosi. "Kamu pikir foto itu cukup untuk menghancurkanku, Sherly? Kamu lupa siapa yang baru saja memenangkan kontrak Baskoro. Dewa butuh otakku, bukan sekadar pajanga
Kemenangan atas Dion Adiwangsa di ruang kerja itu menyisakan keheningan yang janggal. Dewa berlutut di samping kursi Chika, tangannya menggenggam jemari gadis itu yang perlahan mulai menghangat. Mata mereka terkunci, sebuah pengakuan tanpa kata bahwa hubungan ini telah melampaui batas profesionalisme yang paling ketat sekalipun. "Chika," bisik Dewa, suaranya parau. "Kamu tahu risiko yang kamu ambil tadi, kan? Kamu baru saja menantang matahari." "Saya lebih baik terbakar matahari daripada harus hidup dalam bayangan selamanya, Pak," jawab Chika dengan senyum tipis yang memukau. Dewa baru saja hendak membalas saat pintu ruangan yang tadi didobrak Darius kini terbuka lagi dengan cara yang jauh lebih elegan, namun tak kalah mengintimidasi. Seorang wanita paruh baya dengan setelan tweed Chanel berwarna biru tua masuk ke ruangan. Rambutnya disanggul rapi tanpa cela, dan wajahnya memancarkan otoritas yang dingin dan kaku. Itu adalah Nyonya Martha Dewangga, ibu kandung Dewa. Dewa lang
Suasana di lobi lantai tiga puluh berubah mencekam dalam hitungan detik. Suara langkah sepatu pantofel yang teratur dan berat bergema di koridor, menandakan kedatangan tim penjemput yang tidak akan menerima penolakan. Rahmat masuk ke ruangan Dewa dengan wajah sepucat kertas, tangannya gemetar memegang tablet yang menampilkan rekaman CCTV lobi."Pak Dewa... Dominic sudah di depan pintu. Dia membawa tim keamanan khusus Pak Dion," bisik Rahmat panik.Dewa berdiri, rahangnya mengeras. Ia melirik Chika yang masih duduk di depan laptopnya. "Chika, masuk ke ruang arsip sekarang. Saya akan hadapi mereka."Namun, Chika tidak bergerak. Ia justru melepas kacamata besarnya, menyekanya perlahan dengan ujung kemejanya, lalu memakainya kembali. Matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan, melainkan ketenangan yang mematikan—ketenangan yang ia warisi dari pria yang sedang mencoba menyeretnya pulang."Jangan, Dewa," ucap Chika, suaranya rendah namun stabil. "Kalau aku sembunyi, aku membenarkan angga
Ruang rapat privat di lantai tiga puluh itu beraroma cerutu mahal yang menyesakkan. Dewa duduk di kursi kebesarannya dengan rahang mengeras, sementara di seberang meja, Tuan Baskoro—seorang taipan minyak yang dikenal sebagai "predator" di bursa saham—menyandarkan punggungnya dengan angkuh.Dewa butuh suntikan modal dari konsorsium Baskoro untuk membentengi Dewangga Corp dari serangan susulan Barata. Namun, Baskoro bukan sedang bernegosiasi bisnis; ia sedang menikmati posisi tawarnya yang di atas angin."Dewa, Dewa... kamu ini masih muda, terlalu idealis," Baskoro tertawa, suaranya parau dan merendahkan. "Kamu butuh uang saya, tapi kamu bicara soal etika lingkungan? Di dunia ini, yang hijau itu cuma dollar, bukan pohon."Chika masuk dengan kepala menunduk, membawa baki berisi dokumen audit tambahan dan segelas wiski pesanan tamu tersebut. Kacamata besarnya sengaja ia turunkan sedikit agar menutupi sebagian besar wajahnya."Lama sekali, Cantik," celetuk Baskoro saat Chika meletakkan gel







