Home / Fantasi / Iblis Level Nol / 01 - Iblis Level Nol

Share

Iblis Level Nol
Iblis Level Nol
Author: Jenang gula

01 - Iblis Level Nol

Author: Jenang gula
last update publish date: 2026-08-11 13:49:34

"Dia sudah lahir!"

Seorang pelayan keluar dari kamar persalinan dengan wajah tegang.

Para bangsawan iblis yang sejak tadi menunggu langsung berdiri.

"Putra Yang Mulia?"

"Benar."

Bagaimana hasil pemeriksaannya?"

Pelayan itu terdiam. Wajahnya semakin pucat. "Level ...." Menelan ludah, "Level nol."

Ruangan langsung sunyi. Namun, hanya sejenak dan mulai terdengar bisikan di antara para bangsawan iblis.

"Mustahil."

"Putra Raja Iblis?"

"Level nol?"

"Bagaimana? Siapa yang akan meneruskan tahta?"

Tak ada yang berani mengatakan terlalu keras. Semua orang memikirkan, bagaimana bisa putra raja iblis ternyata adalah yang terlemah? Budak saja tertinggi level sepuluh, para bangsawan terhormat berlomba-lomba menjadi level tiga puluh, raja-raja muda level lima puluh, dan ada satu level yang tidak pernah dianggap keberadaannya, yaitu level nol. Tidak memiliki mana dan bakat sihir. Semua bangsawan jadi panik, apakah ini awal kehancuran Kerajaan Iblis yang paling ditakuti di seantero jagad ini?

Di kamar, seorang pria bertanduk hitam, berdiri di samping ranjang, namanya Azreal. Raja Iblis yang selama puluhan tahun ditakuti seluruh benua. Tatapannya tajam saat melihat bayi kecil sedang berada dalam pelukan istrinya. "Periksa lagi."

Pelayan segera mengeluarkan kristal sihir, cahaya biru memenuhi ruangan, semua orang tak bersuara seolah udara pun ikut berhenti bergerak.

[Pemeriksaan status dimulai]

Beberapa detik kemudian, tulisan muncul.

Nama : Tidak diketahui

Ras : Iblis

Level : 0

Mana : 0

Kekuatan : 0

Bakat Sihir : Tidak terdeteksi

Azreal mengepalkan tangannya. "Gunakan kristal tingkat tinggi."

"Su-sudah, Yang Mulia."

"Hasilnya?"

Pelayan itu menunduk, "Te-tetap level nol."

Hening. Hanya detik jam yang berani bersuara.

Seraphina, istri Azreal memandang suaminya, "Apakah kau kecewa?"

Azreal tidak langsung menjawab, dia mendekati bayi itu, anehnya bukannya menangis, bayi itu malah membalas tatapannya dengan mata merah kecil yang berbinar, lalu tersenyum padanya. Dia menyentuh dahi bayi itu, "Dia anakku." Berdiam cukup lama, lalu menatap seluruh pelayan, "Siapa pun yang berani menghina putraku," Aura dingin langsung memenuhi ruangan, "akan berhadapan denganku."

"Baik, Yang Mulia." jawab pelayan serentak.

Namun, tak seorang pun mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam pikiran bayi tersebut.

'Di mana aku?' Mengingat-ingat kehidupan sebelumnya. Sebuah kecelakaan, kemudian gelap, dan sekarang ... dia terbangun sebagai bayi? 'Jadi aku reingkarnasi? Apa aku sedang demam? Apa kebanyakan nonton film? Main game? Ah! Kepalaku sakit sekali. Apa aku kebanyakan minum?'

Tiba-tiba terdengar suara aneh di kepalanya.

[Sinkronisasi selesai.]

[Selamat datang, Host.]

Bayi itu terdiam. 'Host?'

Sebuah layar transparan muncul dalam pikirannya.

[Nama : Belum ditentukan]

[Ras : Iblis]

[Level : 0]

[Kekuatan : 0]

[Mana : 0]

[Bakat : Tidak terdeteksi]

Dia terdiam cukup lama. 'Aku level nol? Apa ini? Aku bayi yang tidak bisa melakukan apa-apa disebut level nol? Aku bayi iblis? Apa artinya aku seorang iblis sekarang?'

Lalu muncul tulisan lain lagi.

[Kemampuan khusus ditemukan.]

Mata bayi itu seolah membesar. 'Kemampuan khusus?'

[Nama : Kael]

[Kemampuan menyerap dan menganalisis kekuatan makhluk lain (Devour).]

'Heh?!' Kael tergelak dengan apa yang baru saja dibacanya. 'Kalau begitu, level nol bukan berarti aku akan tetap lemah. Ada nol, lalu satu, lalu dua, lalu tiga.' Kael malah terbahak-bahak.

Tiba-tiba kristal sihir di dekat ranjang bergertar. Retakan kecil muncul.

'Krak!'

Azreal langsung menoleh, "Apa itu?"

Retakan semakin melebar. 'Prang!' Kristal tersebut pecah. Semua orang terkejut. Azreal menatap bayinya, bayi kecil itu hanya tersenyum polos. Tidak seorang pun tahu, bayi baru lahir dengan level nol itu, suatu hari nanti akan membuat semua orang menyesal telah menganggapnya lemah.

***

Sepuluh tahun berlalu. Di Kerajaan Iblis, nama Kael dikenal hampir semua orang, bukan karena kekuatannya, dia dikenal sebagai Putra Raja Iblis Level Nol. "Hei, lihat! Itu Kael!"

"Putra Yang Mulia?"

"Benar."

"Katanya dia tidak bisa menggunakan sihir." Bisikan-bisikan terdengar setiap kali Kael melewati lorong istana.

Kael sudah terbiasa. Dia berjalan santai tanpa memedulikan mereka, rambut hitam yang sedikit berantakan, sepasang tanduk kecil mulai tumbuh di kepalanya, dan mata merahnya semakin terang jika terlihat di kegelapan. Sepuluh tahun dan statusnya masih sama.

[Nama : Kael]

[Ras : Iblis]

[Level : 0]

[Kekuatan : 0]

[Mana : 0]

Kael menghela napas, "Sepuluh tahun dan masih saja nol." Menyimpan kembali kristal sihir miliknya. Azreal memberinya kristal sihir khusus untuk mendeteksi level, dia juga giat berlatih apa pun agar levelnya naik, dan hasilnya tetap saja sama. Kael duduk di bawah pohon besar di taman istana, melihat makhluk kecil mendekat, menyentuh untuk menggunakan kemampuan Devour-nya diam-diam. Bukan hanya makhluk kecil, monster lemah, tanaman memiliki mana, dia akan menyentuh untuk menyerap mana mereka. Itu adalah satu-satu hal yang disembunyikan karena sebanyak apa dia menggunakan Devour, levelnya tak pernah naik sedikit pun.

[Devour berhasil.]

[Mana diserap : 1]

Kael tersenyum. "Sedikit demi sedikit. Kapan kau akan menjadi bukit?" Tertawa dan mencari makhluk kecil lain di sekitarnya.

"Kael!"

Teriakan itu cukup kencang sampai membuat Kael menoleh. Gadis kecil berambut merah tengah berlari ke arahnya. Usianya sekitar sembilan tahun, putri salah satu bangsawan iblis yang sering berkunjung ke istana, Lyria.

"Kau bersembunyi lagi?"

"Siapa yang bersembunyi? Tidak."

"Kalau begitu kenapa duduk sendirian?"

Kael mengangkat bahu bersamaan. membiarkan Lyria duduk di sampingnya, dan dia kembali menyibukkan diri.

"Kael."

"Hm?"

"Apa benar kamu tidak bisa sihir?"

Kael diam. Dia bosan karena terlalu banyak orang menanyakan hal seperti itu padanya. Namun, tak menjawab Lyria juga tidak mungkin, "Benar."

Lyria mengerutkan kening, "Lalu kenapa kamu tidak sedih?"

Kael tersenyum tipis, "Karena aku masih hidup."

Lyria terdiam sejenak, lalu tersenyum, "Jawabanmu aneh."

Kael malah tertawa karenanya.

Seorang pria muda datang dari arah istana, "Kael!" Langkah kakinya yang berisik dan suara lantang itu, membuat Kael dan Lyria menoleh. Itu adalah Ravian, putra salah satu jenderal kerajaan, usianya tiga belas tahun, dan levelnya dua belas. Jauh di atas Kael. Dia berkacak pinggah menghadap Kael dan Lyria, "Aku dengar kau masih level nol."

Kael tak menjawab. Dia kembali melanjutkan kesibukannya.

"Ayo bertarung denganku!"

Lyria berdiri, "Jangan! Kata ibuku bertarung itu tidak baik."

Ravian malah tertawa, "Aku hanya ingin melihat seberapa lemah putra Raja Iblis."

Kael menatap Ravian, tidak marah, tidak juga takut, dia malah tersenyum, "Kalau aku menolak?"

Ravian mengangkat tangannya, sebuah bola api muncul di telapak tangannya, "Kalau begitu aku akan membuatmu menerimanya."

Lyria yang ketakutan mundur menjauh, meninggalkan Kael yang tetap duduk di posisi tadi, dan bola api itu melesat ke arah Kael, "Kael!"

BOOM!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Iblis Level Nol   81 - Saat Tiga Otak Mabuk Berkumpul

    Evelyn menatapnya dengan serius. "Waktu kami melawan Veyron, kenapa kau tidak datang membantu?"Abraham terdiam sejenak. "Kontrak kerja sama klan kita sudah berakhir saat itu," jawabnya datar."Itu saja?""Menurutmu apa lagi?""Kami sedang menghadapi musuh yang sangat berbahaya. Kau tahu itu, kan?""Aku tahu.""Tapi kau tetap tidak membantu."Abraham menghela napas. "Evelyn, kontrak kerja sama itu memiliki batas waktu. Ketika Veyron muncul, masa kerja sama tersebut sudah berakhir. Aku tidak punya kewajiban untuk mengerahkan pasukan klanku."Evelyn mengerutkan kening. "Kau benar-benar tidak punya sedikit pun rasa tanggung jawab?""Aku punya tanggung jawab. Tapi saat itu, ada urusan yang jauh lebih penting bagiku.""Urusan apa?""Leon."Nama itu membuat Evelyn terdiam.Abraham melanjutkan, "Dia pengkhianat klan petir. Dia memberikan pecahan kristal hitam kekosongan kepada Veyron dan mengkhianati orang-orangnya sendiri. Aku tidak bisa membiarkan dia lolos begitu saja.""Tapi Veyron juga

  • Iblis Level Nol   80 - Kekecewaan Lyria

    Kael berpikir sebentar. “Taman air mancur di tengah labirin?”Lyria mengangguk. "Kau pernah berjanji akan membawaku ke sana lagi."Kael tersenyum. "Aku ingat. Tetapi kau harus menunggu sampai tubuhmu benar-benar pulih."Lyria menatapnya lekat-lekat. "Kau selalu punya alasan untuk menyuruhku menunggu.""Karena aku tidak ingin kau sakit lagi."Lyria tersenyum kecil. "Kalau begitu, kapan kau akan berhenti memperlakukanku seperti seseorang yang terbuat dari kaca?"Kael tertawa. "Kalau kau sudah benar-benar sehat."Lyria tidak menjawab, memperhatikan wajah Kael, laki-laki itu masih memiliki senyum yang sama, sorot mata yang dahulu selalu membuatnya merasa aman, dan juga kebiasaan Kael ketika mengusap rambutnya yang berantakan masih sama seperti dulu.Lyria menunduk sebentar, banyak hal telah berubah, tetapi dia belum siap melepaskan semua yang pernah mereka miliki.***Ketika malam di hari yang lain... Kael baru saja menyelesaikan tugasnya bersama Azreal. Saat berjalan menuju kamarnya keti

  • Iblis Level Nol   79 - Kerinduan yang Mencekik

    Lyria menoleh, wajahnya tenang, tetapi sorot matanya berubah dingin. “Ryan memberikan gelang ajaib yang seharusnya melindunginya kepada Leon."Kael mengerutkan kening. “Leon?" Kael menatap Ryan, "Apakah kau tahu di mana Leon sekarang?"Ryan menggeleng. "Tidak."Kael terdiam. Leon seharusnya sudah kehilangan hampir seluruh kemampuannya setelah Abraham menghancurkan inti kekuatannya, tubuhnya pun berada dalam kondisi yang sangat lemah. Namun, jika gelang itu benar-benar melindunginya, berarti masih ada kemungkinan Leon bertahan hidup.Azreal yang mendengar percakapan mereka segera meletakkan gelasnya. "Jangan mengambil kesimpulan sebelum kita mengetahui keadaan sebenarnya," katanya tegas. "Kita akan mengirim pengintai untuk mencari informasi tentang Leon." Menoleh ke Kael, "Untuk malam ini, nikmatilah kepulanganmu. Kita akan membicarakan persoalan ini besok."Kael mengangguk, meskipun pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan.Lyria kembali menatap Ryan, tidak lagi mengatakan apa-a

  • Iblis Level Nol   78 - Ikutlah Denganku

    "Ya?""Aku akan berangkat besok pagi."Tara mengangguk. "Semoga perjalananmu lancar."Hanya itu. Tidak ada pertanyaan tentang kapan mereka akan bertemu lagi. Tidak ada permintaan agar Kael menunggunya. Bahkan, Tara tidak menunjukkan kesedihan sedikit pun. Kael ingin mengatakan sesuatu, tetapi Enla sudah kembali berbicara mengenai persiapan perjalanan. Pertemuan pun berlanjut, dan selama itu pula, Tara tetap tersenyum seolah tidak ada sesuatu pun yang sedang ditahan di dalam hatinya.Setelah pertemuan selesai, para pejabat mulai meninggalkan ruangan. Lyria sedang berbicara dengan salah seorang tabib mengenai obat yang harus dibawanya selama perjalanan ketika Kael melihat Tara berjalan menuju pintu samping. “Tara, tunggu."Tara menghentikan langkah.Kael segera menghampirinya. "Aku mau bicara sebentar."Tara melirik ke arah Lyria, kemudian mengangguk. “Baik."Kael mengajaknya menuju taman kecil di sisi timur istana. Tempat itu cukup sepi, dikelilingi pohon-pohon cemara bersalju. Di keja

  • Iblis Level Nol   77 - Tidak Mungkin Tetap di Sini

    Lyria tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana. Tatapannya tertuju kepada Kael, seolah sedang berusaha memahami sesuatu yang sebenarnya telah dia ketahui sejak awal, tetapi tidak pernah benar-benar siap untuk melihatnya.Kael masih mencium Tara. Lalu membuka mata, tatapan mereka bertemu, dan waktu seolah berhenti. Kael membeku, dia mengenali wajah itu, mengenali mata yang dahulu selalu menatapnya dengan penuh kepercayaan, mata yang pernah membuatnya merasa bahwa apa pun yang terjadi, selalu ada seseorang yang akan menunggunya pulang.Perempuan yang pernah menjadi seluruh dunianya, yang sudab kehilangan begitu banyak hal, yang baru saja dijanjikan tidak akan kehilangan dirinya begitu saja.Kael perlahan melepaskan ciumannya dari Tara.Namun, Lyria tidak menunggu penjelasan. Air mata mengalir di pipinya, tidak menangis keras-keras, bahkan tidak mengeluarkan suara, hanya menutup mulutnya dengan tangan, seolah takut isakannya akan terdengar. Lalu Lyria menggeleng pelan, bukan sebagai ben

  • Iblis Level Nol   76 - Aku Sungguh Mencintaimu

    "Memastikan obatmu berikutnya sudah disiapkan.""Tara." Perempuan itu berhenti."Apa lagi?"Kael hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya menggeleng. “Tidak jadi."Tara mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya.Kael memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik pintu. Ada yang berubah. Tara masih tersenyum kepadanya, mengurus kebutuhannya, memastikan dirinya baik-baik saja, tetapi perempuan itu tidak lagi berlama-lama di sisinya.Tara tidak duduk menemaninya setelah semua urusannya selesai, tidak menatapnya dengan cara yang sama seperti ketika mereka berada di Gerbang Kekosongan. Kael tahu perubahan itu karena dia menghabiskan waktu yang cukup lama bersama Tara untuk memahami perasaannya. Perempuan itu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.Malam tiba.. langit Bintang Utara dipenuhi cahaya aurora yang bergerak perlahan di antara gugusan bintang. Setelah menjalani pemeriksaan terakhir, Lyria akhirnya diminta beristirahat di kamar yang disediakan khusus untuknya. K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status