LOGINDebu memenuhi taman, Ravian tersenyum puas, tetapi beberapa detik kemudian senyumnya menghilang. Dari balik debu Kael berdiri, tidak terluka, bahkan pakaiannya tidak terbakar. Ravian terbelalak, "Mustahil." lirihnya.
Kael melihat tangannya sendiri, di dalam tubuhnya sesuatu sedang bergerak, hangat, dan terus menjalar ke seluruh tubuh.
[Serangan sihir terdeteksi.]
[Kemampuan Devour aktif.]
[Energi api berhasil diserap.]
Kael tersenyum. 'Jadi begini rasanya menyerap sihir secara langsung.' pikirnya. Dia menoleh ke Ravian, "Giliranmu."
Ravian mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya dia merasa takut kepada seseorang yang tercatat sebagai level nol.
Dari balkon istana ... sepasang mata merah sedang mengawasi mereka, Azreal.
Seraphina yang tengah minum teh, mendekati suaminya, "Sepertinya putra kita mulai tumbuh."
Azreal tidak menjawab, tatapannya semakin fokus dan serius karena dia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aura Kael bukan aura iblis biasa, "Seraphina."
"Ya?"
"Jangan biarkan siapa pun mengetahui apa yang bisa dilakukan akan itu."
Seraphina mengangguk, "Kenapa?"
Azreal yang dari tadi tidak mengalihkan perhatiannya sedikit pun, "Karena kalau aku tidak salah, suatu hari nanti bukan hanya kerajaan yang akan tunduk kepadanya," Menoleh ke istrinya, "tetapi seluruh dunia." Kembali memperhatikan Kael.
Ravian berdiri kaku, "Tidak mungkin." Menggeleng, seharusnya sihir apinya cukup untuk membuat Kael yang level nol terluka parah, bukan malah utuh tanpa goresan sedikit pun begitu.
Kael yang masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, mendengar suara sistem di kepalanya.
[Energi api berhasil disimpan.]
[Energi dapat digunakan kembali.]
Kael tersenyum kecil, 'Menarik.' pikirnya.
"Jangan senang dulu!" Ravian mengumpulkan mana kembali di tangannya, kali ini lebih besar, dan bersiap melemparnya lagi ke Kael.
Lyria langsung berdiri di depan Kael, "Ravian, hentikan!"
"Minggir!" teriak Ravian.
"Dia tidak mau bertarung!"
Ravian tidak peduli, dia malah memperbesar mana-nya, dan ancang-ancang untuk ledakan yang lebih besar.
"Cukup!" Satu suara membuat seluruh taman mendadak sunyi, Azreal berdiri di pintu masuk, dan aura Raja Iblis memenuhi tempat itu.
Ravian langsung pucat, "Yang... Yang Mulia."
Azreal berjalan mendekat, tatapan tajamnya langsung membuat Ravian berlutut, "Siapa yang mengizinkanmu menggunakan sihir di dalam taman istana?"
Ravian menunduk tak berani menatap Sang Raja Iblis secara langsung, "Sa-saya hanya ingin menguji kekuatan Pangeran Kael."
"Dia anakku," Azreal berhenti tepat di depan Ravian, "dan kau menyerangnya?"
Ravian gemetar, "Ma-maafkan saya, Yang Mulia."
Azreal tidak menjawab, dia menoleh ke Kael, "Kael."
"Ya, Ayah?"
"Kau terluka?"
Kael menggeleng, "Tidak."
Azreal mengamati tubuh putranya yang memang utuh tanpa luka atau bahkan bekas bakar sedikit pun. Aneh. Sangat aneh. Azreal yang tahu kekuatan Ravian, serangan yang bahkan tidak bisa diterima oleh anak level nol, nyatanya Kael tetap baik-baik saja. 'Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Kael?' pikirnya.
Malam harinya ... Kael di kamar, duduk di ranjang sambil menatap layar sistem.
[Energi api : 13]
[Kemampuan : Devour]
[Kemampuan pasif : Analisis]
Kael menyentuh dagunya, "Jadi aku bisa menyimpan energi yang diserap." Dia mencoba mengeluarkannya dan api kecil muncul di telapak tangannya. Kael membeku, "Aku bisa menggunakan sihir?"
[Benar.]
"Tapi statusku masih level nol?"
[Benar.]
Kael tertawa kecil, "Bagus!"
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Seraphina masuk, "Kael?"
Api di tangan Kael langsung menghilang, "Ibu."
Seraphina berjalan mendekat, duduk di samping Kael, dan mengusap rambut putranya, "Ibu mendengar apa yang terjadi di taman." Putranya tetap diam dan Seraphina melanjutkan, "Ravian menyerangmu?"
"Dia tidak sengaja."
Seraphina tersenyum, "Kamu membelanya?"
Kael mengangkat bahu, "Aku tidak terluka."
Seraphina menatap mata putranya, ada sesuatu yang berbeda pada tatapan itu, anak ini terlalu tenang untuk anak seusianya, "Kael."
"Hm?"
"Kalau suatu hari semua orang meremehkanmu karena level nol, apa yang akan kamu lakukan?"
Kael diam sejenak, lalu tersenyum, "Aku akan menjadi lebih kuat."
Seraphina tersenyum bangga, "Kalau mereka tetap tidak mengakuimu?"
Kael menatap ibunya, "Kalau begitu aku tidak membutuhkan pengakuan mereka, Bu."
Seraphina memeluk putranya, "Jawaban yang bagus." Meski menyimpan kekhawatiran, tahu kalau dunia tak akan membiarkan Kael hidup tenang, terlebih saat semakin banyak orang mengetahui melemahan Kael, mencoba menginjak putranya, Seraphina tahu putranya ini tengah bertumbuh. Suatu hari nanti level tidak akan ada artinya, Kael akan menemukan jati dirinya sendiri, Seraphina yakin itu.
***
Keesokan paginya ... Kael yang bosan terus di istana, mencoba merayu ayahnya, "Ayah, aku ingin ke Hutan Arken."
Azreal langsung mendelik, "Tidak!"
"Kenapa, Ayah?"
"Karena itu bukan tempat untuk bermain."
Kael menghela napas. Hutan Arken terkenal dipenuhi monster, banyak monster di sana, dia akan lebih cepat mengumpulkan mana karena semakin dalam monsternya pasti semakin kuat. Dia ingin tahu sejauh mana kemampuan Devour-nya berkembang. "Ibu?" Kael menoleh ibunya.
Seraphina yang sedang minum teh, tersenyum, "Jangan lihat ibu seperti itu, Sayang."
"Tapi Ibu pasti mengizinkan."
"Aku tidak bilang begitu."
Kael cemberut.
Seraphina tertawa kecil, "Kalau ayahmu mengizinkan, ibu tidak keberatan."
Azreal memijit pelipisnya, "Dengan syarat kau harus ditemani pengawal."
Mata Kael langsung berbinar, "Terima kasih, Ayah, Ibu." Memeluk ayah dan ibunya bergantian.
***
Hutan Arken ternyata jauh lebih besar dari yang dibayangkan Kael. Pepohonan hitam menjulang tinggi, kabut tipis menyelimuti sampai tanah, dan suara monster terdengar saling bersahutan dari kejauhan. Kael berjalan di antara pepohonan sambil memperhatikan sekeliling.
"Yang Mulia, jangan terlalu jauh." Seorang pengawal dengan level cukup tinggi berjalan di belakang Kael.
Kael hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian,
'Grrrrr!'
Seekor serigala hitam muncul dari balik semak, pengawal langsung menghunuskan pedang, "Monster!"
Kael malah menatap monster itu dengan mata berbinar.
[Makhluk terdeterksi.]
[Nama : Shadow Wolf]
[Level : 7]
"Jangan dibunuh!"
Pengawal terkejut, "Yang Mulia?"
"Aku ingin mencoba sesuatu." Saat Shadow Wolf menerjang, Kael mengangkat tangannya, cakar monster itu hampir mengenai wajah.
Evelyn menatapnya dengan serius. "Waktu kami melawan Veyron, kenapa kau tidak datang membantu?"Abraham terdiam sejenak. "Kontrak kerja sama klan kita sudah berakhir saat itu," jawabnya datar."Itu saja?""Menurutmu apa lagi?""Kami sedang menghadapi musuh yang sangat berbahaya. Kau tahu itu, kan?""Aku tahu.""Tapi kau tetap tidak membantu."Abraham menghela napas. "Evelyn, kontrak kerja sama itu memiliki batas waktu. Ketika Veyron muncul, masa kerja sama tersebut sudah berakhir. Aku tidak punya kewajiban untuk mengerahkan pasukan klanku."Evelyn mengerutkan kening. "Kau benar-benar tidak punya sedikit pun rasa tanggung jawab?""Aku punya tanggung jawab. Tapi saat itu, ada urusan yang jauh lebih penting bagiku.""Urusan apa?""Leon."Nama itu membuat Evelyn terdiam.Abraham melanjutkan, "Dia pengkhianat klan petir. Dia memberikan pecahan kristal hitam kekosongan kepada Veyron dan mengkhianati orang-orangnya sendiri. Aku tidak bisa membiarkan dia lolos begitu saja.""Tapi Veyron juga
Kael berpikir sebentar. “Taman air mancur di tengah labirin?”Lyria mengangguk. "Kau pernah berjanji akan membawaku ke sana lagi."Kael tersenyum. "Aku ingat. Tetapi kau harus menunggu sampai tubuhmu benar-benar pulih."Lyria menatapnya lekat-lekat. "Kau selalu punya alasan untuk menyuruhku menunggu.""Karena aku tidak ingin kau sakit lagi."Lyria tersenyum kecil. "Kalau begitu, kapan kau akan berhenti memperlakukanku seperti seseorang yang terbuat dari kaca?"Kael tertawa. "Kalau kau sudah benar-benar sehat."Lyria tidak menjawab, memperhatikan wajah Kael, laki-laki itu masih memiliki senyum yang sama, sorot mata yang dahulu selalu membuatnya merasa aman, dan juga kebiasaan Kael ketika mengusap rambutnya yang berantakan masih sama seperti dulu.Lyria menunduk sebentar, banyak hal telah berubah, tetapi dia belum siap melepaskan semua yang pernah mereka miliki.***Ketika malam di hari yang lain... Kael baru saja menyelesaikan tugasnya bersama Azreal. Saat berjalan menuju kamarnya keti
Lyria menoleh, wajahnya tenang, tetapi sorot matanya berubah dingin. “Ryan memberikan gelang ajaib yang seharusnya melindunginya kepada Leon."Kael mengerutkan kening. “Leon?" Kael menatap Ryan, "Apakah kau tahu di mana Leon sekarang?"Ryan menggeleng. "Tidak."Kael terdiam. Leon seharusnya sudah kehilangan hampir seluruh kemampuannya setelah Abraham menghancurkan inti kekuatannya, tubuhnya pun berada dalam kondisi yang sangat lemah. Namun, jika gelang itu benar-benar melindunginya, berarti masih ada kemungkinan Leon bertahan hidup.Azreal yang mendengar percakapan mereka segera meletakkan gelasnya. "Jangan mengambil kesimpulan sebelum kita mengetahui keadaan sebenarnya," katanya tegas. "Kita akan mengirim pengintai untuk mencari informasi tentang Leon." Menoleh ke Kael, "Untuk malam ini, nikmatilah kepulanganmu. Kita akan membicarakan persoalan ini besok."Kael mengangguk, meskipun pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan.Lyria kembali menatap Ryan, tidak lagi mengatakan apa-a
"Ya?""Aku akan berangkat besok pagi."Tara mengangguk. "Semoga perjalananmu lancar."Hanya itu. Tidak ada pertanyaan tentang kapan mereka akan bertemu lagi. Tidak ada permintaan agar Kael menunggunya. Bahkan, Tara tidak menunjukkan kesedihan sedikit pun. Kael ingin mengatakan sesuatu, tetapi Enla sudah kembali berbicara mengenai persiapan perjalanan. Pertemuan pun berlanjut, dan selama itu pula, Tara tetap tersenyum seolah tidak ada sesuatu pun yang sedang ditahan di dalam hatinya.Setelah pertemuan selesai, para pejabat mulai meninggalkan ruangan. Lyria sedang berbicara dengan salah seorang tabib mengenai obat yang harus dibawanya selama perjalanan ketika Kael melihat Tara berjalan menuju pintu samping. “Tara, tunggu."Tara menghentikan langkah.Kael segera menghampirinya. "Aku mau bicara sebentar."Tara melirik ke arah Lyria, kemudian mengangguk. “Baik."Kael mengajaknya menuju taman kecil di sisi timur istana. Tempat itu cukup sepi, dikelilingi pohon-pohon cemara bersalju. Di keja
Lyria tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana. Tatapannya tertuju kepada Kael, seolah sedang berusaha memahami sesuatu yang sebenarnya telah dia ketahui sejak awal, tetapi tidak pernah benar-benar siap untuk melihatnya.Kael masih mencium Tara. Lalu membuka mata, tatapan mereka bertemu, dan waktu seolah berhenti. Kael membeku, dia mengenali wajah itu, mengenali mata yang dahulu selalu menatapnya dengan penuh kepercayaan, mata yang pernah membuatnya merasa bahwa apa pun yang terjadi, selalu ada seseorang yang akan menunggunya pulang.Perempuan yang pernah menjadi seluruh dunianya, yang sudab kehilangan begitu banyak hal, yang baru saja dijanjikan tidak akan kehilangan dirinya begitu saja.Kael perlahan melepaskan ciumannya dari Tara.Namun, Lyria tidak menunggu penjelasan. Air mata mengalir di pipinya, tidak menangis keras-keras, bahkan tidak mengeluarkan suara, hanya menutup mulutnya dengan tangan, seolah takut isakannya akan terdengar. Lalu Lyria menggeleng pelan, bukan sebagai ben
"Memastikan obatmu berikutnya sudah disiapkan.""Tara." Perempuan itu berhenti."Apa lagi?"Kael hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya menggeleng. “Tidak jadi."Tara mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya.Kael memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik pintu. Ada yang berubah. Tara masih tersenyum kepadanya, mengurus kebutuhannya, memastikan dirinya baik-baik saja, tetapi perempuan itu tidak lagi berlama-lama di sisinya.Tara tidak duduk menemaninya setelah semua urusannya selesai, tidak menatapnya dengan cara yang sama seperti ketika mereka berada di Gerbang Kekosongan. Kael tahu perubahan itu karena dia menghabiskan waktu yang cukup lama bersama Tara untuk memahami perasaannya. Perempuan itu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.Malam tiba.. langit Bintang Utara dipenuhi cahaya aurora yang bergerak perlahan di antara gugusan bintang. Setelah menjalani pemeriksaan terakhir, Lyria akhirnya diminta beristirahat di kamar yang disediakan khusus untuknya. K







