Home / Romansa / Ibu Kost yang menggoda / Bayangan yang Tersisa

Share

Bayangan yang Tersisa

last update Huling Na-update: 2025-10-12 13:10:52

Langit sore memerah di balik jendela kamar sewa itu. Debu dari jalanan kecil masih berputar pelan di udara, dan di dalam ruangan, hanya ada dua orang yang duduk diam berhadapan—Ravika dan Arven.

Sejak kabar itu muncul di layar televisi kecil di pojok ruangan, tak ada satu pun dari mereka yang bicara.

> “Arven Adikara, anak kandung Bayu Adikara?”

Begitu tajuk berita itu dibacakan reporter, suaranya menembus keheningan seperti pisau yang dingin.

Arven menatap layar itu dengan rahang mengeras. “Itu… nggak mungkin.”

Ravika diam. Matanya goyah, bukan karena percaya, tapi karena ketakutan lama yang kembali menghantuinya.

“Bu, tolong bilang kalau ini cuma omong kosong media,” suara Arven akhirnya pecah, penuh amarah dan cemas.

Ravika memejamkan mata. “Itu pasti kerjaan Bara. Hanya dia yang tahu bagaimana memelintir sesuatu jadi racun seperti ini.”

Arven berdiri, menendang kursinya hingga terjatuh. “Dia mau bikin kita saling curiga!”

Ravika menatap anak muda itu, melihat campuran kemarahan da
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ibu Kost yang menggoda   Batas yang Tidak Digaris

    Pagi itu Ravika bangun terlambat.Bukan karena ia begadang semalaman. Bukan juga karena ia mimpi buruk. Tubuhnya hanya lelah karena kesibukannya… ravika memilih diam lebih lama. Seperti ingin memastikan bahwa hari ini memang layak untuk dimulai. Ia bangun dengan gerakan cepat karena ia takut terlambat berangkat kerja, ia mandi singkat, lalu buru-buru ganti baju kerja. Rambut hanya dikeringkan setengah. Saat ia keluar kamar, aroma nasi goreng sudah memenuhi ruang tengah. Arven sedang berdiri di dapur, spatula di tangan. Gerakannya tenang, seperti sudah mahir dalam memasak nasi goreng. “Lo bangun kesiangan yah,” katanya tanpa menoleh. “Iya gue buru-buru nih takut terlambat soalnya,” jawab Ravika sambil meraih tas. “soalnya sekarang ada Meeting jam delapan.” “Nasi goreng udah jadi nih. Makan dikit aja dulu biar ga kosong banget perutnya.” Ravika berhenti. Melihat jam. Lalu melihat piring berisi nasi goreng anget yang sudah disiapkan oleh Arven. “Gue udah telat bnget nih.” “Dua m

  • Ibu Kost yang menggoda   Jam yang Sama, Alasan yang Berbeda

    Jam dinding di ruang tengah menunjuk angka yang sama setiap pagi. Enam lewat sepuluh. Ravika selalu meliriknya tanpa sadar, seperti memastikan dunia masih berjalan dengan ritme yang bisa ia ikuti.Hari ini tidak berbeda. Ia bangun, merapikan tempat tidur, lalu ke dapur. Air mendidih. Kopi diseduh. Bau pahitnya mengisi ruangan kecil itu, bercampur dengan suara sendal yang diseret pelan dari arah teras.Arven muncul dengan rambut masih acak dan kaus tipis. “Pagi,” katanya.“Pagi,” jawab Ravika. “Lo bangun lebih awal.”“Gak bisa tidur lagi,” jawabnya singkat, lalu duduk di kursi dekat meja.Ravika menuang kopi ke dua cangkir tanpa bertanya. Gerakan itu terjadi begitu saja. Setelahnya, ada jeda kecil—cukup lama untuk disadari, tidak cukup lama untuk jadi canggung.Mereka minum dalam diam.“Gue berangkat jam tujuh,” kata Ravika akhirnya. “Ada meeting pagi.”Arven mengangguk. “Gue juga mau keluar. Ada urusan.”Tidak ada penjelasan. Tidak dibutuhkan.Ravika berdiri, mencuci cangkir. Arven me

  • Ibu Kost yang menggoda   pulang kerja

    Pagi Ravika dimulai seperti biasa, tapi ada satu perbedaan kecil yang tidak ia sebutkan ke siapa pun: ia bangun dengan perasaan diperhatikan.Bukan karena ada yang menatap. Lebih ke kesadaran bahwa rumahnya—kos itu—tidak lagi sepenuhnya netral. Ada satu kamar yang kembali terisi oleh orang yang dulu pernah jadi bagian hidupnya. Dan meski mereka sepakat berjalan pelan, tubuh Ravika masih perlu waktu menyesuaikan.Ia berangkat kerja sedikit lebih cepat. Kemeja krem, celana kain gelap, sepatu yang sudah mulai aus di tumit. Rambut diikat rapi. Di cermin, ia memastikan tidak ada yang aneh—lipstik tipis, wajah segar seadanya.Di luar, Arven sedang mengunci pagar.“mau berangkat ke Kantor?” tanyanya, nada biasa.“Iya,” jawab Ravika. “Lo mau ke mana?”“Nyari makan dulu. Nanti beres-beres kamar.”Ravika mengangguk. Tidak ada pelukan. Tidak ada basa-basi panjang. Tapi saat ia melangkah pergi, ia sadar langkah Arven berhenti sejenak, seperti memastikan ia benar-benar sudah lewat. Ravika tidak me

  • Ibu Kost yang menggoda   Pintu yang Terbuka Terlalu Lama

    Pagi di kos selalu punya suara sendiri.Bukan suara penting—lebih ke bunyi gelas beradu, sendal diseret, dan pintu kamar yang dibuka setengah hati. Ravika sudah terbiasa dengan itu. Ia bangun lebih awal dari para penghuni, bukan karena disiplin, tapi karena tubuhnya memang tidak suka bangun kesiangan.Ia mengenakan kaus rumah dan celana panjang tipis. Rambut diikat asal. Wajah masih polos, belum sepenuhnya “siap dilihat orang”, tapi di kosnya sendiri, itu bukan masalah.Ia sedang menjemur handuk di halaman belakang ketika mendengar suara pintu pagar dibuka.Bukan suara asing.Langkahnya sedikit lebih berat dari penghuni lain. Ritmenya tidak tergesa. Seperti orang yang sudah tahu persis ke mana harus melangkah.Ravika berhenti sebentar.Ia tidak langsung menoleh. Ada jeda kecil yang aneh—bukan karena takut, tapi karena tubuhnya mengenali suara itu lebih cepat dari pikirannya.“Pagi, Bu.”Suara itu.Arven.Ravika menoleh.Arven berdiri di dekat motor, mengenakan kemeja lengan panjang ya

  • Ibu Kost yang menggoda   Pekerjaan Kecil yang Tetap Dikerjakan

    Pagi itu Ravika bangun dengan satu pikiran sederhana: hari ini ada yang harus dibereskan.Bukan hal besar. Bukan keputusan hidup. Hanya pekerjaan kecil yang sudah beberapa hari nongkrong di sudut pikirannya—file lama yang perlu dirapikan, satu janji yang harus ditepati, satu barang yang harus dikembalikan.Ia duduk di tepi kasur, menguap pelan, lalu berdiri.Tidak ada percakapan internal yang panjang. Tubuhnya bergerak lebih dulu, seperti tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu disemangati.Manajer hadir, tipis.Agenda hari ini ringan, tapi terfragmentasi.“Kayak hidup kebanyakan orang,” gumam Ravika sambil meraih handuk.Di kamar mandi, air mengalir agak lama. Ia membiarkannya beberapa detik lebih dari biasanya sebelum masuk. Tidak merasa bersalah. Tidak juga mencari pembenaran. Kadang tubuh memang ingin ditunda sebentar sebelum hari dimulai.Sarapan berlangsung cepat. Pisang satu. Roti satu. Kopi yang kali ini rasanya pas. Ravika duduk sebentar setelah makan, menatap meja dapur y

  • Ibu Kost yang menggoda   Tidak ada Garis Akhir

    Tidak ada yang berubah saat angka di kalender bergeser.Ravika menyadarinya pagi itu, ketika ia berdiri di dapur dengan gelas air di tangan, menatap jendela yang sama, cahaya yang sama, dan suara pagi yang sama. Tidak ada sensasi “bab baru.” Tidak ada penanda tak kasatmata yang memberi tahu bahwa sesuatu telah selesai.Dan untuk pertama kalinya, ia tidak mencarinya.Ia minum air sampai habis, meletakkan gelas di wastafel, lalu membilasnya tanpa niat berlebihan. Air mengalir. Tangan bergerak. Pagi berjalan.Manajer hadir, hampir tak terasa.Parameter stabil. Tidak ada kebutuhan intervensi.“Ya,” gumam Ravika. “Gue juga ngerasa.”Ia bersiap seperti biasa. Baju yang bersih. Sepatu yang itu-itu lagi. Tas yang isinya tidak berubah signifikan. Tidak ada keputusan simbolik. Tidak ada “mulai hari ini.”Di luar, jalanan sedikit lebih ramai. Ada sekolah yang baru masuk lagi. Anak-anak berseragam berjalan berkelompok, suara mereka memecah pagi. Ravika melambat sebentar agar tidak memotong jalan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status