/ Romansa / Ibu Kost yang menggoda / Menemukan Ritme Baru

공유

Menemukan Ritme Baru

last update 게시일: 2026-07-03 21:47:34

Hari demi hari berlalu tanpa terasa.

Kalender yang tergantung di dapur kos kini menunjukkan pertengahan bulan.

Ravika berdiri beberapa saat di depannya, lalu tersenyum kecil.

Tanpa sadar, ia sudah beberapa kali mencoret tanggal yang berlalu.

Jika dulu setiap coretan terasa menyakitkan karena menandakan hari keberangkatan Arven semakin dekat, kini justru sebaliknya.

Setiap tanggal yang terlewati berarti hari kepulangan Arven semakin dekat.

Tinggal sekitar enam minggu lagi.

Masih cukup lama.

Namu
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Ibu Kost yang menggoda   Awal Dari Selamanya

    Pagi itu, matahari bersinar lebih hangat dari biasanya.Udara yang masuk melalui jendela membawa aroma bunga melati dari halaman kos.Ravika membuka pintu depan lebih awal dari biasanya.Ia menyapu teras seperti yang selalu ia lakukan setiap pagi.Tidak ada yang berbeda.Namun kini, setiap kali ia menoleh ke arah halaman, selalu ada seseorang yang sedang membantunya.Arven."Biar aku saja."katanya sambil mengambil sapu dari tangan Ravika.Ravika tersenyum."Kalau semua kamu yang kerjakan, aku ngapain?""Duduk.""Temenin aku."Ravika tertawa kecil."Kamu ya..."Hari-hari kembali berjalan seperti semula.Arven kembali bekerja di kantor cabang di kota mereka.Ravika kembali mengurus kos dengan semangat.Namun ada satu perbedaan besar.Kini mereka tidak lagi dipisahkan oleh jarak.Tidak ada lagi panggilan video hingga larut malam.Tidak ada lagi hitungan mundur menuju kepulangan.Setiap pagi mereka bisa menikmati sarapan bersama.Setiap sore mereka duduk di teras sambil berbincang.Dan s

  • Ibu Kost yang menggoda   Langkah Baru Bersama

    Pagi pertama setelah Arven kembali terasa begitu berbeda.Tidak ada lagi suara alarm yang terburu-buru.Tidak ada lagi jadwal panggilan video sebelum berangkat kerja.Yang terdengar hanyalah kicauan burung dari halaman kos dan aroma teh hangat yang dibuat Ravika di dapur.Arven membuka jendela kamarnya.Sinar matahari pagi masuk perlahan, menerangi ruangan yang sudah sangat ia rindukan.Ia menarik napas panjang.Untuk pertama kalinya setelah tiga bulan, ia benar-benar bangun di tempat yang ia anggap sebagai rumah.Di dapur, Ravika sedang menyiapkan sarapan."Nasi gorengnya jangan gosong, ya."godanya ketika melihat Arven masuk.Arven tertawa."Tenang.""Aku kan sudah belajar masak selama di luar kota.""Oh ya?""Iya.""Lihat nanti hasilnya."Tak lama kemudian Bima muncul sambil menguap lebar."Wah...""Hari pertama Mas Arven pulang udah langsung pamer.""Aku cuma bantu masak.""Boleh."kata Bima."Asal jangan lupa jatah tester."Suasana dapur kembali dipenuhi tawa.Setelah sarapan ber

  • Ibu Kost yang menggoda   Surat Untuk Masadepan

    Malam mulai turun perlahan.Suasana kos yang sejak pagi dipenuhi tawa akhirnya kembali tenang.Lampu-lampu hias yang dipasang para penghuni masih menyala, memberikan cahaya hangat di sepanjang teras. Bekas acara penyambutan mulai dirapikan bersama-sama. Piring-piring kotor dibawa ke dapur, kursi dikembalikan ke tempat semula, sementara balon-balon yang masih utuh dibiarkan menghiasi ruang tengah.Arven ikut membantu membereskan semuanya."Udah, istirahat aja."kata Bima."Baru sampai juga.""Nggak apa-apa."jawab Arven sambil mengangkat kardus bekas."Kalau semuanya kerja, aku masa cuma nonton.""Masih aja nggak enakan."celetuk Bima."Tiga bulan di luar kota ternyata nggak ngubah sifatmu."Semua orang tertawa.Setelah semuanya selesai, para penghuni satu per satu berpamitan kembali ke kamar masing-masing."Mas Arven, besok ngobrol lagi ya.""Siap.""Jangan kabur lagi.""Insyaallah nggak."Tak lama kemudian halaman kembali lengang.Hanya tersisa Arven, Ravika, Bima, Pak Hendra, dan Bu

  • Ibu Kost yang menggoda   Akhir dari Penantian

    Mobil yang dikendarai Pak Hendra melambat ketika memasuki jalan kecil menuju kos.Jalan itu tidak berubah sedikit pun.Warung kopi di sudut gang masih buka sejak pagi.Penjual gorengan yang dulu sering didatangi Arven masih sibuk melayani pembeli.Bahkan pohon mangga di depan rumah warga masih berdiri kokoh, hanya saja kini daunnya tampak lebih rimbun.Arven memandangi semuanya tanpa berkedip.Rasa rindu yang selama ini hanya menjadi bayangan kini benar-benar berubah menjadi kenyataan."Masih ingat semua?"tanya Pak Hendra sambil tersenyum."Masih, Pak.""Jangankan lupa.""Sampai lubang di jalan depan warung itu juga masih hafal."Pak Hendra dan Bu Sari tertawa."Berarti memang sudah seperti rumah sendiri."Arven mengangguk pelan."Iya.""Karena memang rumah."Beberapa meter sebelum gerbang kos, Pak Hendra sengaja menghentikan mobil."Kenapa berhenti, Pak?"Pak Hendra mematikan mesin mobil."Kita jalan kaki saja.""Biar lebih terasa."Arven tersenyum.Ia mengambil koper dari bagasi, s

  • Ibu Kost yang menggoda   Pertemuan di Terminal

    Langit masih diselimuti warna kebiruan ketika bus yang ditumpangi Arven mulai memasuki kota.Ia membuka tirai jendela perlahan.Jalan-jalan yang selama ini hanya bisa ia lihat melalui layar ponsel kini kembali berada tepat di depan matanya.Deretan toko yang sudah dikenalnya.Jembatan kecil yang selalu dilewati menuju kos.Warung nasi yang dulu sering menjadi tempat makan siang.Semuanya masih sama.Namun entah mengapa, semuanya terasa jauh lebih indah.Mungkin karena kali ini...ia pulang."Sepuluh menit lagi sampai terminal."Suara kondektur membuat beberapa penumpang mulai bersiap.Arven mengambil tas ranselnya, memastikan dompet, ponsel, dan amplop dari kantor pusat masih tersimpan rapi di dalamnya.Ia kemudian menarik napas panjang.Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.Tiga bulan.Penantian selama tiga bulan akhirnya benar-benar berakhir.Bus berhenti perlahan di terminal.Pintu terbuka.Satu per satu penumpang turun.Arven ikut melangkah keluar sambil menarik kopernya.Udara p

  • Ibu Kost yang menggoda   Selamat Datang Kembali

    Fajar baru saja menyingsing ketika alarm di kamar Arven berbunyi.Ia langsung terbangun.Hari ini bukan lagi hari kerja.Hari ini adalah hari kepulangan.Beberapa detik ia hanya duduk di tepi tempat tidur, memandangi kamar apartemen yang kini nyaris kosong.Dinding yang dulu terasa asing kini menyimpan banyak kenangan.Di sinilah ia belajar hidup sendiri.Di sinilah ia melewati malam-malam ketika rasa rindu begitu berat.Di sinilah ia belajar bahwa sebuah hubungan tidak hanya membutuhkan cinta, tetapi juga kepercayaan dan komunikasi.Arven berdiri, menarik napas panjang, lalu tersenyum."Sudah waktunya pulang."Setelah mandi dan berpakaian rapi, ia memeriksa kamar untuk terakhir kalinya.Lemari sudah kosong.Laci meja tidak lagi berisi apa pun.Dapur kecil juga sudah dibersihkan.Ia tidak ingin meninggalkan pekerjaan tambahan bagi penghuni berikutnya.Sebelum keluar, Arven menoleh sekali lagi."Terima kasih."ucapnya pelan.Lalu ia menutup pintu apartemen.Bunyi klik dari kunci itu se

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status