LOGINMalam harinya, pukul delapan malam. Tisa duduk di dalam ruangan kerjanya di ruko baru yang ia sewa sementara. Sintia sedang merapikan lembaran nota kerja sama dengan tim Mr. Robert yang baru saja mengirimkan dana transfer pertama sebesar tiga miliar rupiah. Ponsel Tisa di atas meja bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor rumah sakit. Tisa mengangkatnya. "Halo?" "Mbak Tisa..." suara perawat di seberang telepon terdengar ragu-ragu. "Ini dari ruang perawatan VIP Rumah Sakit Medika. Ibu Yuliani memaksa ingin bicara dengan Mbak Tisa." Tisa mengernyit. "Saya tidak ada urusan lagi dengan beliau." "Tolong, Mbak..." suara Ibu Yuliani mendadak mengambil alih telepon, suaranya terdengar serak dan menangis sesenggukan. "Tisa... Ibu mohon ke sini sebentar... Damian... Damian hilang, Tisa!" Tisa tertegun. "Maksud Ibu apa?" "Setelah dari acara kamu tadi siang, Damian datang ke rumah sakit... dia ngamuk sama Ibu, dia kembalikan semua uang yang pernah Ibu kasih ke dia, lalu dia mundur dari
"Tunggu!" Suara bentakan Damian memecah kerumunan. Pria itu menerobos barisan wartawan, langsung berdiri tepat di antara Tisa dan para penyidik. Wajahnya tegang, napasnya memburu kencang. "Damian? Ngapain kamu bela dia lagi?" tegur Septiana, keningnya berkerut heran. "Papa aku sudah siapkan semua berkas pencabutan penonaktifan kamu di kantor. Kamu tinggal berdiri di samping aku sekarang!” Damian tidak menoleh sedikit pun ke arah Septiana. Pria itu menatap lurus ke dua penyidik Polda. "Pak Polisi, surat penangkapan itu cacat hukum," ujar Damian dengan suara berat dan mantap. "Saya manajer keuangan perusahaan yang dituduh rugi, dan saya punya bukti kalau seluruh tuduhan pencurian rahasia dagang ini rekayasa." Septiana melotot kaget. "Damian! Kamu gila ya?!" Damian merogoh tas kerjanya, mengeluarkan sebuah flashdisk dan tumpukan dokumen audit IT yang baru saja ia dapatkan. "Di dalam flashdisk ini ada rekaman percakapan dan jejak digital laptop Septiana yang mengakses berkas pribad
Tepat saat itu, pintu ruang konsultasi terbuka. Dokter spesialis jantung keluar dari ruang perawatan. "Pak Damian?" panggil dokter tersebut.Damian langsung menghampiri dokter. "Gimana keadaan Ibu saya, Dok?!"Dokter menghela napas panjang sambil melepas maskernya. "Tekanan darah Ibu Yuliani memang sempat melonjak tinggi akibat stres berat, yang memicu sesak napas. Tapi hasilnya menunjukkan tidak ada kerusakan permanen pada otot jantungnya. Beliau sudah sadar penuh dan kondisinya stabil."Damian tertegun. "Maksud Dokter... Ibu saya tidak kritis?"Dokter menggeleng pelan. "Tidak kritis, Pak. Tapi pasien menolak makan dan terus berteriak meminta dipertemukan dengan media di luar."Damian membeku. Pria itu menoleh perlahan ke arah Septiana yang tersenyum puas di balik punggung dokter. Ibu Yuliani ternyata tidak sedang di ambang kematian. Ibunya dan Septiana sengaja membesar-besarkan kondisi medis ini untuk membuat drama demi menekan Tisa!***Pukul satu siang, di Ballroom Hotel. Ruangan
"Tisa... tolong. Ibu kritis!"Damian memegang kedua tangan Tisa dengan cengkeraman yang sangat kencang. Matanya berkaca-kaca, raut wajahnya panik luar biasa. "Ikut aku ke rumah sakit sekarang! Cabut laporan kamu sebentar aja, Tisa... Cuma sampai keadaan Ibu stabil!""Mas Damian, dengar baik-baik," suara Tisa dingin dan menekan. "Ibu kamu kena serangan jantung karena kaget perbuatannya sendiri ada hukumannya. Bukan karena aku! Jangan coba-coba pakai kondisi kesehatan ibu kamu buat memeras rasa bersalah dari aku!""Kamu tega, Tisa?!" bentak Damian. "Ibu itu orang tua aku! Kalau sampai terjadi apa-apa sama Ibu di ICU hari ini, kamu akan bawa rasa bersalah itu seumur hidup.”"Dia bukan ibu mertuaku lagi sejak kamu cuma diam melihat dia mengacak-acak ruko dan memfitnah aku!" balas Tisa keras, dadanya naik turun menahan amarah. "Pergi kamu ke rumah sakit! Jangan pernah injakkan kaki kamu di depan aku lagi!"Damian menatap Tisa dengan pandangan tidak percaya. Namun dering telepon di sakunya
Di sebuah ballroom hotel bintang lima di pusat kota, Tisa Anggraeni berdiri anggun mengenakan setelan blazer. Rambut panjangnya disanggul rapi, memancarkan aura pengusaha wanita yang tegas dan profesional.Di depannya, dua perwakilan investor dari perusahaan ritel internasional tersenyum puas setelah menandatangani berkas nota kesepahaman investasi senilai sepuluh miliar rupiah."Selamat, Miss Tisa," ujar Mr. Robert, perwakilan investor utama, sambil menjabat tangan Tisa dengan hangat. "Kami sangat mengagumi ketahanan dan kualitas desain produk Anda. Dana investasi tahap pertama sebesar tiga miliar rupiah akan langsung masuk ke rekening bisnis Anda sore ini untuk memulai pembangunan pabrik baru.""Terima kasih atas kepercayaannya, Mr. Robert. Saya pastikan brand kami tidak akan mengecewakan," jawab Tisa mantap dengan senyuman profesional.Sintia, pelayan toko Tisa yang ikut mendampingi di sebelah Tisa, tampak berkaca-kaca menahan haru. Siapa yang menyangka, hanya dalam hitungan dua pu
"Kamu benar-benar membiarkan ibu membusuk di sel cuma gara-gara mempertahankan gengsi kamu, Damian?!" Suara Septiana terdengar di pelataran parkir kantor polisi yang mulai sepi. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Damian, menahan langkah pria itu yang hendak masuk ke dalam mobil. Damian menghentikan langkahnya. Pria itu memutar badan perlahan dengan tatapan yang penuh amarah. "Lepaskan tangan kamu, Septiana." "Aku nggak akan lepaskan sebelum kamu sadar!" bentak Septiana tanpa rasa takut. "Tisa itu sudah buang kamu! Dia sudah daftarkan gugatan cerai online, dia laporkan Tante Yuliani ke polisi, dan dia sama sekali nggak peduli karier kamu hancur! Kenapa kamu masih ngarep wanita kayak gitu?!" "Yang bikin karirku hancur dan Ibuku masuk penjara itu kelakuan kamu dan Ibu sendiri!" teriak Damian keras. "Kalau kamu dan Ibu nggak mengacak-acak toko Tisa tadi siang, hal kayak gini nggak akan pernah terjadi!" Pengacara berjas yang berdiri di dekat mobil Septiana berdehem pelan, mencoba me







