Home / Romansa / Ibu Pengganti Bagi Aruna / Bab 8 : Perselisihan di Restoran Seafood

Share

Bab 8 : Perselisihan di Restoran Seafood

Author: Meilin Liner
last update Last Updated: 2026-01-26 02:02:06

Iring-iringan mobil meluncur membelah jalanan kota Yogyakarta yang mulai padat oleh kendaraan saat jam makan siang. Di barisan paling depan, sedan mewah milik Julian memimpin, diikuti oleh beberapa mobil teman-teman Jihan yang tak henti-hentinya membicarakan keberuntungan mereka hari ini. Di dalam mobil Julian, suasana terasa jauh lebih tenang namun hangat. Aruna duduk di kursi belakang, sibuk menceritakan betapa ia ingin makan "kepiting raksasa" yang bisa capit tangannya.

​Sesampainya di restoran seafood bergaya dermaga yang cukup eksklusif itu, aroma bumbun bakaran ikan dan saus padang yang gurih langsung menyambut indra penciuman mereka. Julian telah memesan meja panjang di area privat yang menghadap langsung ke arah kolam ikan besar, memberikan kesan sejuk dan tenang.

​"Silakan pesan apa saja yang kalian mau. Jangan sungkan," ucap Julian saat mereka semua sudah duduk. Kalimatnya singkat, namun bagi teman-teman Jihan, itu adalah lampu hijau untuk memanjakan lidah mereka.

​Jihan duduk di tengah, diapit oleh Aruna di sisi kanan dan Julian di sisi kiri. Posisi ini sangat strategis, namun juga sangat "berbahaya" bagi jantung Jihan.

Sementara itu, Rendy sengaja mengambil tempat duduk tepat di depan Jihan. Matanya sejak tadi tidak lepas dari interaksi antara Jihan dan pria yang ia anggap sebagai saingan terberatnya itu.

​Pesanan mulai berdatangan. Meja panjang itu seketika penuh dengan piring-piring besar berisi kepiting soka telur asin, udang gala bakar madu, cumi goreng tepung, hingga kerang dara rebus. Aruna langsung bertepuk tangan kegirangan.

​"Wah! Kepitingnya besal banget! Papa, Aluna mau yang itu!" Aruna menunjuk ke arah kepiting saus padang yang berwarna merah membara.

​Julian dengan cekatan mengambilkan satu capit kepiting, memecahkan cangkangnya yang keras dengan alat penjepit, lalu meletakkan dagingnya yang lembut di piring Aruna. Namun, yang membuat Jihan tertegun adalah saat Julian melakukan hal yang sama untuknya.

​"Makan yang banyak, Jihan. Kamu terlihat lebih kurus sejak begadang mengerjakan bab terakhir itu," ucap Julian pelan sembari meletakkan daging udang kupas ke piring Jihan.

​"Terima kasih, Mas," jawab Jihan malu-malu. Ia bisa merasakan tatapan teman-temannya yang mulai saling lirik dan berbisik satu sama lain.

​Rendy yang merasa terabaikan mencoba mengambil alih suasana. Ia mengambil sebuah piring berisi ikan gurame bakar dan menyodorkannya ke arah Jihan. "Han, coba ikan ini. Dulu pas kita praktikum lapangan, kamu kan paling suka ikan bakar yang bumbunya meresap sampai ke dalam. Ingat nggak?"

​Jihan tersenyum canggung. "Ah, iya. Terima kasih, Rendy."

​Julian yang sedang menyesap teh hangatnya melirik Rendy dengan tatapan yang sangat tajam. Ia merasa Rendy sengaja mengungkit masa lalu mereka di kampus untuk menegaskan bahwa Rendy mengenal Jihan lebih lama.

​"Praktikum lapangan ya?" tanya Julian tiba-tiba, suaranya terdengar sangat tenang namun mengintimidasi. "Sepertinya itu sudah cukup lama. Jihan yang sekarang seleranya sudah lebih berkembang, bukan begitu, Jihan?"

​Jihan hampir tersedak daging udangnya. Ia menatap Julian yang tampak kembali ke mode "dingin"-nya. "I-iya Mas, semuanya enak kok."

​Drama kecil mulai memuncak saat Rendy tanpa sengaja (atau mungkin sengaja) mengungkit tentang rencana masa depan Jihan.

​"Han, rencanamu setelah ini gimana? Kamu jadi ambil beasiswa S2 ke luar negeri itu? Aku dengar kamu sudah lolos tahap berkas ya? Kalau kamu ambil, kita bisa barengan lho, aku juga mau ambil di universitas yang sama," ujar Rendy dengan nada penuh harap.

​Meja yang tadinya riuh mendadak sunyi. Julian menghentikan gerakan tangannya. Ia menoleh ke arah Jihan, matanya seolah menuntut jawaban. Selama ini, Jihan tidak pernah bercerita soal rencana kuliah ke luar negeri kepada Julian.

​"S2?" tanya Julian, nadanya rendah.

​Jihan merasa keringat dingin mulai mengucur. "Baru rencana, Mas. Belum tentu diambil. Aku masih memikirkan banyak hal, termasuk... termasuk Aruna."

​"Kenapa harus memikirkan Aruna?" sela Rendy dengan berani. "Aruna kan ada Papanya. Ada suster juga. Kamu harus pikirkan masa depanmu sendiri, Han. Jangan sampai potensimu terhambat karena terus-menerus mengurus anak orang lain."

​Kalimat "anak orang lain" itu seperti percikan api di gudang peluru. Julian meletakkan penjepit kepitingnya dengan dentingan keras ke atas piring porselen. Aruna yang tadinya asyik makan, mendadak berhenti dan menatap Rendy dengan bibir gemetar.

​"Aluna bukan anak owang lain! Aluna anak Papa dan Kak Jihan!" teriak Aruna tiba-tiba, suaranya pecah karena marah. "Kak Lendy jahat! Kak Rendy mau bawa Kak Jihan pelgi jauh ya?"

​Jihan langsung merangkul Aruna, mencoba menenangkannya. "Sstt, Aruna, nggak sayang. Kak Rendy cuma bercanda."

​Julian berdiri dari duduknya, membuat suasana semakin mencekam. Ia menatap Rendy dengan pandangan yang sangat menusuk. "Mas Rendy, terima kasih atas sarannya untuk masa depan Jihan. Tapi perlu diingat, Jihan bukan sekadar 'pengasuh' bagi anak saya. Dia adalah bagian dari hidup kami. Dan soal masa depannya, saya rasa Jihan cukup dewasa untuk memutuskan mana yang terbaik bagi hatinya, bukan hanya bagi kariernya."

​Rendy tampak pucat, ia menyadari bahwa ia telah melewati batas. "Saya tidak bermaksud begitu, Pak Julian."

​"Saya tahu apa maksud Anda," balas Julian dingin. Ia kemudian menatap Jihan. "Jihan, kalau kamu sudah selesai, kita pulang sekarang. Aruna kelihatannya sudah mulai lelah."

​Aruna yang masih kesal langsung memegang tangan Jihan erat-erat. "Ayo Kak Jihan, kita pulang! Aluna nggak mau di sini sama Kak Lendy jahat!"

​Jihan hanya bisa menatap teman-temannya dengan tatapan penuh permohonan maaf. "Teman-teman, maaf ya... aku duluan. Kalian lanjutkan saja makannya, semua sudah dibayar Mas Julian."

​Julian meninggalkan tumpukan uang di meja kasir tanpa menunggu kembalian, lalu menggiring Jihan dan Aruna menuju mobil. Sepanjang jalan menuju parkiran, Julian tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia berjalan dengan langkah lebar, auranya terasa sangat kelam.

​Saat di dalam mobil, keheningan itu terasa mencekam. Aruna sudah tertidur di kursi belakang karena kelelahan setelah menangis singkat tadi. Jihan memberanikan diri untuk bicara.

​"Mas... soal S2 itu..."

​"Kamu benar-benar ingin pergi, Jihan?" potong Julian tanpa menoleh dari jalanan.

​Jihan terdiam. "Aku... aku hanya ingin berkembang, Mas. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Aruna. Aku sudah janji pada Kak Airin."

​Julian menginjak rem saat lampu merah. Ia menoleh ke arah Jihan, wajahnya tampak sangat lelah namun ada gurat kepedihan di sana. "Hanya karena janji pada Airin? Apa tidak ada alasan lain yang membuatmu ingin tetap tinggal?"

​Jihan menatap mata Julian yang biasanya sedingin es itu. Di sana, ia melihat keraguan, ketakutan akan kehilangan, dan... sesuatu yang mirip dengan cinta. Jihan meremas jemarinya sendiri.

​"Ada, Mas," jawab Jihan lirih. "Ada alasan lain. Tapi aku tidak tahu apakah alasan itu punya tempat di hati Mas Julian."

​Julian tidak menjawab, namun ia meraih tangan Jihan dan menggenggamnya erat di atas persneling mobil. Genggaman itu sangat kuat, seolah Julian tidak ingin membiarkan Jihan pergi satu langkah pun darinya. Lampu berubah hijau, dan mobil itu pun melesat menembus senja, membawa sejuta perasaan yang akhirnya mulai menemukan jalannya untuk diungkapkan. Di balik drama siang itu, satu hal menjadi pasti: Julian tidak akan lagi membiarkan siapa pun, termasuk Rendy atau masa depan yang jauh, untuk merebut Jihan dari sisi mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 14 : Pertengkaran

    Satu bulan pertama pernikahan seharusnya menjadi masa bulan madu yang penuh bunga. Namun, bagi Jihan, realitas mulai menunjukkan wajah aslinya. Menikah dengan seorang Julian Pratama Adiwangsa bukan hanya tentang mendapatkan cinta, tetapi juga harus siap berhadapan dengan tembok besar bernama ego dan kebiasaan. Julian adalah pria yang sudah terlalu lama memegang kendali penuh atas hidupnya, perusahaannya, dan rumah tangganya tanpa intervensi siapa pun.Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar, menambah dingin suasana rumah. Jihan sudah menyiapkan makan malam spesial—ayam bakar bumbu rujak kesukaan Julian—dan menunggunya dengan sabar di ruang makan. Namun, ketika pintu depan terbuka sekitar pukul sembilan malam, yang masuk bukanlah Julian yang hangat, melainkan sosok pria dengan kemeja kusut, dasi yang sudah ditarik lepas, dan rahang yang mengeras."Mas, sudah pulang? Mas mau makan dulu atau mandi air hangat?" Jihan menghampiri dengan senyum tulus, berniat mengambil alih tas kerja s

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 13 : Malam Pertama

    Malam itu, lampu-lampu di kediaman Adiwangsa sudah mulai diredupkan. Aroma pengharum ruangan sandalwood dan vanilla menyeruak di kamar utama yang kini telah berubah suasananya. Tidak ada lagi kesan dingin; kamar itu kini terasa lebih hangat dengan sentuhan barang-barang Jihan yang mulai tertata rapi. Julian, yang baru saja selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu. Ia menatap ranjang besar mereka dengan senyum kecil yang tertahan. Hari ini adalah hari paling membahagiakan sekaligus melelahkan baginya. Namun, senyum itu seketika memudar saat ia melihat sesosok kecil sudah meringkuk di tengah ranjang, memeluk guling dengan erat. "Aruna?" gumam Julian. Aruna mendongak, matanya yang bulat tampak berkaca-kaca. "Papa... Aluna mau tidul di sini. Aluna mau tidul baleng Bunda dan Papa." Julian menghela napas panjang, ia mendekati ranjang dan duduk di tepiannya. "Sayang, Aruna kan punya kamar sendiri yang bagus. Malam ini Papa mau berdua dulu sama Bu

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 12 : Hari Pernikahan

    Seminggu sebelum hari besar itu tiba, suasana di kediaman Adiwangsa mendadak terasa sepi bagi Julian. Sesuai dengan adat dan kesepakatan keluarga, kedua calon mempelai harus menjalani masa pingitan, yaitu tidak boleh bertemu selama tujuh hari sebelum akad nikah dilangsungkan. Jihan memutuskan untuk menghabiskan masa-masa terakhirnya sebagai gadis lajang di rumah peninggalan orang tuanya, sebuah rumah sederhana namun penuh kenangan yang telah ia rapikan kembali.Namun, Julian tidak menyangka bahwa ia tidak hanya kehilangan calon istrinya untuk sementara, tetapi juga putri kecilnya. Saat hari pertama pingitan dimulai, Aruna bersikeras ingin ikut bersama Jihan. Julian sudah mencoba membujuk, merayu dengan mainan, hingga menjanjikan es krim, namun Aruna tetap kekeh."Aruna, sini pulang sama Papa dong. Papa kesepian loh di sini sendirian. Aruna nggak kasihan sama Papa?" ucap Julian sore itu melalui sambungan video call. Wajah Julian tampak sedikit kuyu, duduk di ruang tengah yang biasanya

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 11 : Persiapan Pernikahan

    Persiapan pernikahan yang hanya berjarak satu bulan lagi membuat kediaman Adiwangsa berubah menjadi pusat kesibukan yang manis. Kotak-kotak undangan beludru berwarna biru dongker mulai menumpuk di ruang kerja Julian, bahkan aroma bunga melati serta mawar putih sudah mulai tercium meski hari besar itu belum tiba. Namun, di tengah kesibukan memesan katering dan menyusun daftar tamu, ada satu sosok yang paling sibuk: Aruna.Bocah itu seolah menjelma menjadi bayangan Jihan. Ke mana pun Jihan melangkah—ke dapur, ke taman, bahkan saat Jihan ingin ke kamar mandi—Aruna selalu mengekor di belakang sambil memegang ujung baju Jihan."Bunda, nanti pas Bunda pakai baju pengantin, Aluna boleh pegang ekol bajunya nggak?" tanya Aruna sambil duduk di pangkuan Jihan saat mereka sedang memilih desain suvenir.Jihan mengusap rambut Aruna dengan sayang. "Tentu boleh, sayang. Aruna kan putri kecil Bunda.""Bunda nggak boleh pelgi-pelgi lagi ya? Bobonya sama Aluna telus ya?"Julian yang baru saja pulang ker

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 10 : Meminta Izin dan Restu

    Pagi itu, langit Yogyakarta tampak cerah dengan semburat jingga yang lembut. Jihan, Julian, dan Aruna berdiri di depan sebuah pusara yang sangat terawat. Gundukan tanah itu milik Airin Saraswati. Bunga-bunga segar baru saja ditaburkan oleh tangan mungil Aruna, memberikan aroma wangi yang menenangkan di tengah sunyinya area pemakaman.​Jihan berlutut, menyentuh nisan batu marmer yang dingin itu dengan jemari bergetar. "Kak Airin... Jihan datang," bisiknya lirih. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Jihan datang untuk cerita. Mas Julian sudah membuka hatinya. Dan Jihan... Jihan minta izin untuk menempati ruang itu, Kak. Jihan janji akan menjaga Mas Julian dan Aruna seumur hidup Jihan."​Ingatan Jihan melayang pada malam terakhir di rumah sakit, beberapa hari sebelum Airin mengembuskan napas terakhirnya. Saat itu, Airin menggenggam tangan Jihan dengan sisa kekuatannya dan berbisik pelan, "Jihan, kalau suatu saat Julian akhirnya jatuh cinta padamu, berjanjilah untuk bersamanya. Ja

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 9 : Misi Rahasia Aruna

    Pasca kejadian di restoran seafood, suasana di rumah keluarga Adiwangsa berubah secara halus namun signifikan. Julian tidak lagi sedingin es, meski ia masih tetap menjadi pria yang irit bicara. Namun, penggerak utama di rumah itu bukanlah Julian ataupun Jihan, melainkan Aruna. Bocah berusia lima tahun itu seolah memiliki radar tajam; ia tahu bahwa Papanya sudah mulai "kalah" oleh pesona Kak Jihannya, dan ia tidak akan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. ​Hari Minggu pagi yang cerah biasanya diisi dengan kegiatan santai. Jihan sedang membantu Bibi di dapur menyiapkan sarapan, sementara Julian duduk di teras belakang sambil membaca laporan kerja di tabletnya. Aruna, dengan daster kecil motif stroberinya, berlari menghampiri Jihan. ​"Kak Jihan, Papa bilang Papa mau makan roti panggang buatan Kak Jihan, bukan buatan Bibi," dusta Aruna dengan wajah polosnya. ​Jihan mengernyitkan dahi. "Oh ya? Mas Julian bilang begitu?" ​"Iya! Katanya buatan Bibi nggak enak, cuma buatan Kak J

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status