Share

3. Pertemuan Pertama

Author: Yadika Putri
last update Last Updated: 2025-07-03 15:02:47

“Saira, ayo kita nikah saja.”

Siapapun akan terkejut dengan penawaran mendadak tersebut. Terlebih, yang menawarkan tidak Saira kenal. Ini pertemuan mereka yang pertama yang baru berlangsung beberapa menit lalu.

“Cuma itu satu-satunya cara agar Anwar mau menikahi Dea. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, bukan?” Alvaro masih belum berhenti membujuk.

Saira menatap sang Ayah untuk meminta jawaban. Tetapi Bimo hanya menggeleng kecil, tidak mau ikut campur dan akan mendukung apapun keputusan Putrinya.

Alvaro turut beralih, mendekat pada Bimo. “Begini Om. Bukannya saya tidak sopan. Tetapi pernikahan Saira itu sangat diperlukan untuk—“

“Jangan mau Pak,” Anwar memotong.

Alvaro tidak terkecoh. Ia tetap melanjutkan. “Kalau Om tidak mengizinkan, itu berarti Om membiarkan Anwar lepas dari tanggung jawabnya. Saya yakin, Om bukan Ayah yang akan tega seperti itu. Melihat seorang Lelaki menghamili perempuan seenaknya, kemudian Lelaki tersebut bebas melanjutkan hidupnya begitu saja.”

“Begini Nak….” Bimo terlihat kebingungan. “Kalau itu gimana Sairanya saja. Saya tidak bisa memutuskan apa-apa.”

“Saya janji, akan memerlakukan Saira dengan baik. Dia juga masih bisa melanjutkan hidup sebagaimana mestinya. Selama menjadi Istri, tugasnya hanya membantu saya menjaga Cecilia. Tidak lebih. Kami juga tidak akan tidur bersama ataupun melakukan aktivitas suami istri yang lainnya. Pernikahan ini untuk formalitas, supaya Anwar berhenti mengganggunya saja.” Alvaro berhenti sejenak. Kemudian tersenyum miring, seakan mengejek Anwar yang menggerutu di belakangnya.

“Jika suatu saat Saira menemukan pasangan yang tepat, saya akan menceraikannya dan mengembalikannya dalam keadaan … utuh.”

“Baguslah. Kalau gitu, begitu anak Dea lahir, aku akan langsung menceraikannya juga biar bisa sama Saira lagi,” timpal Anwar yang sejak tadi tidak sabar ingin bersuara.

Alvaro memicing. “Kamu akan menjadikan anak itu sebagai Cecilia kedua, begitu?”

“Membesarkan anak dalam keadaan orangtua yang tidak lengkap itu susah, An. Kasian ke anaknya nanti. Mama gak mau ya, kamu mempermainkan masa depannya begitu. Kalau kamu sudah berani berbuat, harus siap dengan konsekuensinya juga dong.” Yang ini suara Susi.

“Jadilah Ayah dan Suami yang baik.” Alvaro menepuk pundak Anwar sekilas.

“Lah, paman saja tadi mau mempermainkan pernikahan. Masa aku gak bisa.”

“Beda Anwar—beda!” Lagi-lagu Susi menjewer telinga anaknya. “Pamanmu menikah untuk keperluan, sementara kamu untuk penebusan.”

“Penebusan apa?” tanya Anwar tidak mengerti.

“Penebusan dosa!” Alvaro dan Susi menjawab kompak.

Saira terkekeh pelan. Ia juga tadinya anak turut menjawab penebusan dosa. Untung saja tidak jadi. Kalau jadi, ia yang akan merasa malu sendiri. Siapa dirinya, hingga harus kompak dengan Kakak beradik dihadapannya ini.

“Seneng kan kamu, ngeliat aku di bully kayak gini? Seneng?”

“Eh?” Saira tergagap, menyadari Anwar yang sedang menggerutu ke arahnya.

“Sial banget coba hidupku. Udah diputusin sama kamu, eh nanti harus ngeliat kamu nikah sama Lelaki tua juga.”

Saira tahu pasti Anwar hanya berpura-pura kesal. Baiklah, mari kita imbangi.

“Sama-sama sial dong. Bukannya dapetin pengganti yang lebih muda, eh ini malah dapetin yang lebih tua,” desahnya kemudian.

Setidaknya dengan begini Saira jadi tahu, pembatalan pernikahannya tidak akan berdampak pada hubungannya dengan keluarga Anwar. Buktinya mereka masih bisa memperlakukan Saira dengan baik dan berkomunikasi dengan baik juga.

“Itu artinya … Kamu setuju menikah denganku?”

“Hah!” Saira terkejut.

Alvaro tiba-tiba berdiri dihadapannya begitu saja. Sampai-sampai jantung Saira berdetak cepat dibuatnya.

“Gak usah takut, pernikahannya cuma buat formalitas saja kok.” Lelaki itu kini memegangi bahu Saira dengan wajah yang mendekat untuk membisikkan..., “Hanya itu satu-satunya cara, supaya mantanmu mau menikahi selingkuhannya.”

Untuk kesekian kalinya sudut bibir Saira terangkat. Kemudian berdehem untuk menetralkan perasaan yang mulai tidak karuan. “I—Iya—iya. Aku setuju. Tapi nanti ya, tunggu sampai Ibuku sadar. Aku perlu minta restu darinya juga.”

“Oke.”

“Yeay!” Susi bertepuk tangan pelan, yang diikuti juga oleh Bimo. Sementara Anwar….

Tentu saja menendang asal udara disekitarnya dengan geraman tertahan. Ia sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi, Bagai makan buah simalakama.

***

Saira terpaku, sesampainya tiba di kediaman Alvaro.

Kali ini, Susi mengajaknya untuk bertemu langsung dengan calon anak tirinya, Cecilia. Ajakan Susi terdengar begitu menggiurkan, selain itu Saira sudah sangat penasaran akan sosok anak yang akan diasuhnya nanti.

Terlebih, ibunya sangat mendukug pernikahannya dengan Alvaro meskipun semuanya terasa sangat mendadak.

“Baguslah kalau masih ada yang mau menikahimu. Meski pernikahannya hanya untuk formalitas, Ibu tetap akan berdo’a supaya pernikahan kalian langgeng dan dapat berjalan sebagaimana mestinya sebuah pernikahan.” Begitulah kata sang ibu. Saira yang awalnya sedikit ragu pun akhirnya memutuskan untuk mencobanya. Apalagi Susi mengatakan bahwa calon anak tirinya itu sudah tak sabar untuk menemuinya.

Namun, Saira sedikit terkejut saat tiba di sana. Bukan karena nuansa rumahnya yang elegan dan sangat luas, tetapi karena aura sekeliling yang menurutnya kurang cocok untuk jiwa anak-anak.

Ini terlalu didominasi dengan warna gelap. Dari mulai Cat rumah, lantai, bahkan hiasan-hiasan rumah pun rata-rata berwarna hitam, abu tua, coklat dan coklat tua.

"Bagaimana bisa dia membiarkan anaknya tinggal di tempat seperti ini," gumamnya.

Memang sesuai sama karakter Alvaro yang selalu mengenakan setelah serba hitam. Tetapi jika nuansa kamar anak dibentuk dengan karakter seperti itu, rasanya kurang pas.

Kini Saira berhasil dituntun oleh Susi sampai memasuki kamar Cecilia.

“Inikah calon Istri Alvaro?” seorang wanita tua menghampiri dengan sebuah tongkat sebagai alat bantu jalannya.

Langkahnya tertatih, menunjukkan usianya tidak muda lagi. Garis-garis keriput menghiasi wajahnya, meski begitu aura cantiknya masih terpancar. Cukup bersih, untuk seumuran seorang Nenek.

“Iya Oma,” Susi yang menjawab. “Namanya Saira.”

Dengan segera Saira mengulurkan tangan sebagai bentuk salam pertemuan.

“Cantik. Dan sepertinya gadis baik-baik,” puji wanita tua yang dipanggil Oma itu.

“Terimakasih.” Saira tersenyum kikuk.

“Dimana Lia?” Susi celingukan.

“Perasaan tadi disini.” Wanita tua itu menunjuk sekeliling kamar dengan tongkatnya. “Liaaaa!” panggilnya kemudian.

“Iya, Oma?” Anak yang dipanggil muncul dari balik pintu dengan dengan wajah basah kuyup. Sepertinya dari kamar mandi.

“Habis ngapain?” Susi yang pertama menghampiri dengan mengusapkan tissue pada wajah anak kecil itu.

“Main ail. Tante mau ikut?” tanyanya polos sambil menyodorkan sebuah gelas berisi air.

Itu Gelas sungguhan. Gelas keramik berwarna coklat tua yang terdapat ukiran di sekelilingnya. Bukan gelas mainan ataupun gelas anak-anak berbentuk karakter.

“Enggak sayang, enggak.” Susi mengambil apa yang Lia sodorkan. “Udah dulu ya mainnya. Mau ketemu sama Mama kan?”

Anak kecil itu mengangguk antusias. Sampai-sampai rambutnya yang diikat dua turut bergoyang-goyang. “Mau Tante—mau. Tante gak boong kan?

"Enggak, Sayang."

"Mamanya dimana?”

“Itu.” Susi menunjuk ke tempat Saira berdiri.

Saat itulah mata mereka bersitatap dengan binar yang berbeda. Saira menatap Iba, sementara Cecilia menatap penuh rindu yang disertai senyuman lebarnya.

“Mamaaaaaa!” Anak itu berlari dengan merentangkan kedua tangan.

Bergegas, Saira berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya dan menyambut anak itu dalam pelukan.

“Mama kemana saja? Kenapa balu datang sekalang? Aku kangen banget sama Mama."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ibu Sambung Untuk Anak Presdir   66. Sesuatu Yang berubah

    Saira baru diizinkan pulang seminggu setelahnya, itupun atas paksaann dari Alvaro. Jika mengikuti apa kata dokter, setelah dirawat empat hari pun, dirinya sudah boleh pulang. Kondisinya sudah baik-baik saja, dan kehamilannya pun akan baik-baik saja selama tidak banyak pikiran dan tidak melakukan pekerjaan yang berat-berat.Yang perlu Saira ingat. Karena kehamilannya ini kembar, maka jangan heran jika kondisinya lebih melelahkan dari kehamilan yang biasa. Intinya, harus sering-sering kontrol untuk memastikan perkembangannya.“Apa kamu tidak senang akan mendapatkan dua adik sekaligus?” Saira sedikit heran, pasalnya sejak dirinya pulang Cecilia terlihat jadi pemurung.Tidak ada pertemuan dengan berpelukan untuk saling melepas kerinduan. Tidak ada teriakkan antusias juga seperti apa yang Saira bayangkan sebelumnya. Alih-alih bahagia, Cecilia lebih terlihat menghindarinya.“Apa terjadi sesuatu selama Mama tidak bersamamu?” Saira masih berusaha memancing supaya anak itu mau membuka suaranya

  • Ibu Sambung Untuk Anak Presdir   65. Maaf, Maaf dan Maaf

    “Bolehkah Mas menyapa mereka?”Saira cukup geli melihat sikap Suaminya yang seperti ini.“Kalau gak bisa, Mas gak perlu memaksakan diri. Aku akan ngerti kok.” Perempuan itu menyisirkan jemari pada rambut Alvaro yang sudah tidak beraturan.“Enggak sayang—enggak. Anwar bilang Mas harus bertanggung jawab dan jadi ayah yang adil. Setidaknya, Mas harus belajar menyapa mereka juga kan?”Meski pelan tetapi Saira dapat merasakan bahwa di bawah sana Alvaro tengah mengusap-usap permukaan perutnya.“Maaf ya, Papa baru sempat menyapa. Maafin Papa juga yang telah membuat Mama kalian menderita. Papa janji setelah ini Papa akan memperlakukan Mama dengan baik. Dan tolong, kalau ingin sesuatu yang wajar-wajar saja ya anak-anak.”Saira memalingkan wajah, menyusut butiran bening yang berhasil lolos dari ujung matanya. Kemudian berdehem untuk menetralkan perasaan harunya, supaya tidak berlangsung cukup lama.“Selain menyapa, Anwar mengajarkan apalagi, Mas?” suara Perempuanitu bergetar.“Apa lagi ya?” Alv

  • Ibu Sambung Untuk Anak Presdir   64. Menjadi Lebih Baik

    Otomatis pandangan Saira tertuju pada Anwar yang masih mematung di pintu masuk dengan wajah bingungnya.Laki-laki itu menatap orang-orang yang berada di dalam ruangan secara bergantian, lalu dengan polosnya bertanya. “Kenapa kalian memasang wajah sedih seperti ini? Apa Saira benar-benar keguguran?”“Diam kau!” Siapa sangka, Alvaro langsung berbalik menghadap Anwar. “Anakku tidak kenapa-napa, dan akan selalu baik-baik saja.” Kemudian menatap Rossa dengan lembut. “Iya kan Oma? Anakku pasti baik-baik saja.”Rossa tidak menjawab, dan lebih memilih membuang muka ke arah Saira dengan sekuat tenaga menahan senyuman dan memberikan kode tersirat pada Saira.Apa maksudnya itu?“Jawab Oma? Kenapa Oma diam saja? Saira baik-baik saja kan?”“Ketika Anwar memukulimu, apa kamu tidak melawan hah? Kenapa kau biarkan tubuhmu babak belur seperti ini?” Susi memutus rasa penasaran Alvaro dengan mengusapkan kapas yang sudah diberi antiseptic pada luka-luka yang terdapat di wajahnya.“Lain kali, kalau kau me

  • Ibu Sambung Untuk Anak Presdir   63. Kebenaran II

    “Trauma?” Saira bertanya untuk memastikan.Rossa mengangguk kecil. “Alvaro sangat bahagia dengan kehamilanmu ini.” Kemudian ia tersenyum, membayangkan reaksi Alvaro ketika pertama kali mengetahui kehamilan Saira.“Tetapi disisi lain dia ketakutan. Takut apa yang menimpa Cecilia dahulu, terulang kembali pada calon anak kalian.” Di akhir kalimat, Wanita tua itu tersenyum pahit. Berusaha menahan keras air mata yang sudah sangat memburamkan penglihatan agar tidak jatuh begitu saja.Tidak jauh berbeda dengan Saira yang semakin sesak membayangkan tersiksanya Alvaro selama ini. Bibirnya kelu tidak sanggup mengeluarkan kata-kata kembali.“Oma ingat persis, saat itu dia menceritakan kehamilanmu dengan mata berbinar, tetapi tangannya bergetar hebat. Dia sangat ingin menyentuhmu, tetapi tidak bisa. Pada akhirnya dia hanya bisa menangis kebingungan. Katanya dia tidak sanggup lagi jika harus membesarkan anaknya seorang diri. Dia takut kamu menyesali kehamilanmu. Bagaimana kalau pada akhirnya kamu

  • Ibu Sambung Untuk Anak Presdir   62. Kebenaran I

    Susi yang mulai jengah dengan perdebatan yang dilakukan Alvaro dan Anwar, akhirnya memutuskan pergi terlebih dahulu untuk menemui Rossa dan memberitahukan kondisi Saira. Karena bagaimanapun juga Ibunya itu pasti saat ini tengah khawatir dengan Saira yang hilang tiba-tiba.Beberapa saat lalu—tepatnya ketika Alvaro berkeliling mencari Saira, Anwar memberitahukan keadaan yang sebenarnya.Saira mengalami pendarahan dan memerlukan perawatan untuk beberapa waktu. Tidak lupa, Anwar juga menjelaskan kronologi kejadiannya secara singkat. Intinya, semua terjadi karena pikiran Saira yang didominasi oleh ketakutan dan itu cukup berdampak pada kehamilannya ini.Tiba di rumah Rossa, Susi dikejutkan dengan kehadiran Cecilia. Tadinya ia hanya berkeliling untuk mencari Ibunya, dan langkahnya tidak sadar telah membawanya masuk ke dalam kamar anak kecil itu.Untungnya sang Ibu yang ia cari, ada disana juga. Rossa tengah duduk sambil memperhatikan seorang Suster yang sedang membersihkan wajah Cecilia.“B

  • Ibu Sambung Untuk Anak Presdir   61. Mencari Jawaban

    Alvaro keluar Rumah Sakit dengan menggendong Cecilia. Di parkiran sudah ada Pak Mamat yang menyambut dengan bertanya. “Memangnya Non Lia sudah boleh dibawa pulang Pak?” Pandangannya fokus pada kaki Cecilia yang terpasang gips.“Entahlah. Hanya saja saya tidak bisa membiarkannya tetap dirawat di sini,” tutur Alvaro. Diakhiri dengan memberi kode, supaya Pak Mamat membukakan pintu mobil.Sang Sopir langsung menuruti, kemudian turut mendudukkan diri dibalik kemudi. Tidak lama setelahnya, mobil berwarna hitam tersebut pun melaju meninggalkan areal parkir.“Setelah mengantarkan saya, nanti Pak Mamat kembali ke sini ya, untuk mengambil mobil saya. Bisa?”“Baik Pak. Bisa. Sekarang kita akan pergi kemana?”“Rumah saja. Tadinya saya ingin memindahkan anak ini ke Rumah Sakit lain. Tapi setelah dipikir-pikir, lebih baik saya mempekerjakan seorang suster untuk merawatnya di rumah.”Pak Mamat hanya mengangguk-angguk, tanda mengerti.“Oh iya, apa Bapak sempat melihat Istri saya bersama Anwar keluar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status