“Tidak ada yang serius. Setelah kami pergi dari hadapanmu, Jerry sempat mengajakku makan bersama di luar. Namun aku menolaknya, jadi dia pergi sendiri dan tidak kembali.” Ken mengernyitkan dahi.
“Kalau begitu …” Morgan menyipitkan mata. “Apa yang dia lakukan di mansion Ravenfell sebelum aku sampai?”Morgan harus mencari tahu seberapa banyak yang sudah Jerry berhasil selidiki dari mansionnya.Jika Jerry sampai jauh lebih dulu dari Morgan, maka kemungkinan pria itu sudah tahu segalanya. Morgan harus mengubah segalanya pula supaya Jerry tidak bisa melakukan sesuatu.Seperti jadwal dan jumlah pekerja. Jerry bisa saja menyusup dari situ.Ken tampak berpikir sambil menatap langit-langit rumah sakit sejenak sebelum kembali menatap Morgan.“Tidak lama. Berbeda dengan para anak buah, dia sampai di mansion paling terakhir. Berdekatan dengan jam kedatanganmu,” jawab Ken akhirnya.Morgan mengunci jawaban itu dalam kepalanya. Jerry dMorgan bangkit dari duduknya. Pria itu segera melangkah menjauh dan menelepon seseorang. “Mereka semakin agresif. Hari ini mereka mengirim seseorang ke sekolah anakku. Istriku punya fotonya. Selidiki dia dan pastikan dia tidak mendekati anak-anakku,” perintah Morgan tegas pada seseorang di ujung ponsel. Saat Morgan menutup panggilannya, Sydney mendekat. “Apa tidak sebaiknya kita bawa anak-anak ke Sevhastone saja?” saran Sydney seraya mengangkat kedua alisnya. “Kita semua sedang diincar,” sahut Morgan sambil menatap lekat mata Sydney. “Sebaiknya kita semua tidak berada di satu tempat yang sama di depan publik.” Sydney terdiam, tidak membantah. Namun wanita itu tanpa sadar meremas kedua tangannya. Dia juga menggigit bibir merah mudanya. Morgan melangkah mendekat hingga tidak ada jarak di antara mereka. Pria itu menarik dagu Sydney dengan lembut hingga gigitan bibir wanita itu terlepas. “Jangan cemas, kau baru saja pulih,” pinta Morgan. “Anak-anak akan aman.” Sydney menghela n
Jantung Sydney berdebar lebih cepat dari sebelumnya.Di kelas anak-anaknya, hanya Jade dan Jane yang merupakan anak kembar. Dan toilet ini jauh dari ruang kelas lain.‘Siapa dia?’ batin Sydney sambil menggigit bibirnya.Dahi Sydney berkerut. Dia tengah memeras otaknya untuk menemukan apa yang harus dirinya lakukan untuk melindungi anak-anak.“Aku pulang saja!” Wanita itu berteriak kesal.Tidak lama kemudian wanita itu keluar dari toilet.Sydney tengah berpura-pura mencuci tangan. Dia menyembunyikan wajah dengan rambutnya yang jatuh.“Astaga!” Wanita itu memekik. “Aku tidak tahu kalau ada orang di sini.”“Apa aku mengganggumu?” tanya Sydney mencoba terdengar biasa tanpa menoleh.“Tidak juga,” sahut wanita berambut pendek yang mulai mencuci tangan di wastafel sebelah Sydney.Dari cermin, Sydney dapat melihat wanita itu memakai seragam pengasuh dari yayasan ternama di Highvale.“Kau menunggu siapa?” tanya Sydney membuka obrolan.Sydney akhirnya menegakkan punggung dan menoleh. Dia tidak
Jerry sudah bebas. Sebentar lagi, dia akan merekrut kembali anggota Echelon Vanguard. Bukan tidak mungkin, Jerry akan mengkhianati Morgan. “Hidupmu sekarang saja sudah ada di ambang kehancuran, Morgan. Kau akan kehilangan keluargamu dan mungkin juga jabatanmu, jika kita kalah,” sahut Jerry tajam. Morgan mengepalkan tangan. Jerry tidak sedang mengejek Morgan, tetapi memberikan fakta pada pria itu. Dalam artian, Jerry sudah tidak punya alasan untuk melakukan hal jahat pada Morgan. Karena apa yang selama ini Jerry inginkan dari Morgan–kebahagiaan, perlahan sedang direnggut paksa oleh Onix. “Lalu untuk apa kau menemuinya?” tanya Morgan dengan rahang mengeras. Jerry menghela napas. “Aku ingin minta maaf pada Bibi Debby karena dia jadi bernasib buruk karena berpihak padaku,” jawab Jerry jujur. “Selain itu … aku juga merindukannya.” Morgan terkekeh pelan. “Itu terlalu berisiko. Tempat perawatan Bibi Debby adalah rahasia,” tukas Morgan dengan tegas. Kali ini Jerry yan
Morgan membuka mata, lalu mengangguk.“Dirimu,” jawab Morgan sambil menyugar rambut Sydney yang jatuh ke dahi. “Kau meminta vitamin atau obat ampuh pada Ken, demi datang ke pernikahan Tim dan Nirina, tapi mengabaikan kesehatanmu.”Sydney terdiam. Morgan tampak masih ingin bicara.“Saat kau tidak sadarkan diri, duniaku gelap,” lanjut Morgan. “Aku tidak pernah membayangkan … hidup tanpa ada kau di dunia ini.”Morgan menarik napas, sebelum bicara lagi, “Hari pertama kau masuk ICU, jadi hari yang paling menegangkan. Keempat anak kita tidak berhenti menangis dan mencarimu.”Mata Sydney berkaca-kaca. Dia menunduk, merasa bersalah.Setiap mengingat cerita Morgan bagian itu, hati Sydney ikut merasakan sakit.Seandainya saja Sydney lebih hati-hati, dia tidak akan keracunan di depan anak-anak dan membuat mereka trauma.“Maaf .…” ucap Sydney lirih sambil membalas genggaman tangan Morgan.“Sekarang kau paham kenapa aku tidak mengizinkanmu pergi?” tanya Morgan sambil tersenyum.Perasaan penuh kasi
“Aku … akan segera mengabari kalian. Jangan khawatir,” sahut Sydney akhirnya.Dengan sedikit bujuk rayu, Nirina akhirnya mau menutup telepon tanpa mendapat jawaban pasti dari Sydney.Morgan yang sedang duduk di sofa sambil menggulir tabletnya, ikut memperhatikan percakapan itu.Pria itu sudah mengganti jasnya. Beberapa saat lagi dia akan mengantar si kembar pertama sekolah.“Timothy dan Nirina?” tebak Morgan sambil mengangkat salah satu alisnya.Sydney mengangguk dengan tatapan sendu.“Aku lupa memberitahu mereka tentang kondisimu,” tukas Morgan. “Dan aku tebak, kau juga belum memberitahu mereka?”“Mereka tidak perlu tahu, Honey. Mereka pasti sudah cukup stres dengan persiapan pernikahan,” balas Sydney lembut.Morgan tidak membalas lagi. Dia hanya mengangguk dan kembali ke tabletnya.Tidak lama kemudian Ken datang untuk pemeriksaan pagi.Ken memeriksa detak jantung dan tekanan darah Sydney.Pria itu juga menanyakan beberapa hal dasar seperti apakah Sydney tidur dengan nyenyak dan apak
Pria di ujung telepon itu tertawa terbahak-bahak.Kesempatan itu Morgan gunakan untuk memeriksa pesan dari Nero yang baru masuk ke ponselnya.[Lokasi ponsel di Negara Cordanze. Nomor terdaftar atas nama Onix.]Morgan mengangkat salah satu sudut bibirnya. Dia sangat mengenal nama itu.Saat Morgan kembali menempelkan ponsel di telinga, tawa Onix baru saja berhenti.“Tanda tanganmu, boleh juga,” sahut Onix santai. “Aku memang membutuhkannya, di atas surat pengunduran diri sebagai Pemimpin Keluarga Draxus.”“Jangan buru-buru,” sahut Morgan sambil membuka tablet yang dia simpan di atas meja dekat sofa.Morgan membuka data dari Jerry. Nama Onix memang terdaftar sebagai salah satu orang yang hendak melakukan penyerangan pada Morgan.Namun Morgan tidak mengira bahwa Onix yang akan menghubunginya langsung.Onix adalah anggota termuda Keluarga Draxus. Pria itu junior Morgan saat dilatih oleh Si Tua.Ada banyak orang yang lebih senior daripada Onix, yang lebih pantas menghubungi Morgan.“Kenapa?