Maaf tersendat-sendat jadi gabisa update 500 bab sehari haha :'( Maaf ya minggu ini aku ada kesibukan, tapi aku usahakan tetap update yaa :)
Di ruang tamu VVIP, semua interiornya terlihat lebih elegan dan mewah dengan sentuhan budaya yang tidak begitu Sydney pahami.Hanya ada beberapa orang di sana, dan semuanya menoleh ketika Sydney masuk ke area itu.Mereka melihat ke arah Sydney dan Morgan sambil tersenyum sopan.Sydney membalas senyum itu sambil sedikit mengangguk.“Tuan Morgan, Nyonya Sydney,” sapa seorang wanita paruh baya yang melangkah mendekat bersama suaminya.Mereka adalah Simon dan Abigail.Abigail memeluk Sydney dan mencium kedua pipi wanita itu.Sementara Simon menjabat tangan Morgan.“Terima kasih sudah mengundang kami ke area VVIP,” ucap Morgan.“Tidak perlu berterima kasih. Nyonya Sydney adalah kakak sepupu mempelai pengantin pria, seharusnya menantuku itu sejak awal memasukkan nama kalian ke dalam daftar tamu VVIP,” sahut Abigail yang terus tersenyum.Mereka duduk bersama di satu meja bundar yang sama.Meja paling depan yang dekat dengan akses ke pelaminan utama.Orang kalangan atas sering terlihat hidup
Malam harinya, Morgan meminta Ken untuk memeriksa kondisi Sydney sebelum mereka berangkat ke pesta pernikahan. “Beberapa jam lalu aku baru diperiksa. Itu pun atas permintaanmu, Honey,” ucap Sydney sambil membiarkan Ken mengecek tekanan darahnya. “Kondisimu bisa saja berubah sewaktu-waktu,” sahut Morgan yang berdiri di sisi sofa. Sydney duduk di sofa itu, sementara Ken duduk di sebelahnya. “Kalau bisa, dia pasti ingin aku memeriksamu setiap detik, Sydney,” desis Ken penuh sarkasme. “Atau bahkan, dia akan masuk jurusan kedokteran supaya bisa memeriksamu sendiri,” lanjut Ken. “Lalu, dia akan mengambil alih Rumah Sakit Terasehat.” Morgan mengangkat salah satu alisnya. “Ide bagus.” Ken hanya memutar bola mata, tidak menjawab lagi. Sydney tertawa renyah. “Apa kau juga menyediakan seorang dokter di tempat pengungsianku?” tanya Sydney pada Morgan. Niat awalnya, Sydney hanya ingin mencairkan suasana. Namun ucapannya berhasil membuat Morgan terdiam. “Belum,” jawab Morgan penuh penye
Acara pemberkatan pernikahan Timothy dan Nirina dilaksanakan pagi hari. Karena belum sempat ke hotel, Sydney dan Morgan langsung menghadiri pemberkatan itu di gereja. Dengan gaun sederhana dan riasan tipis, Sydney tetap memancarkan aura kecantikan yang kuat. “Kau datang!” seru Nirina sambil memeluk Sydney. Wanita dengan gaun pengantin itu bahkan meloncat kegirangan di depan Sydney. “Terima kasih, Kak Sydney dan Kak Morgan!” Timothy tersenyum lebar di sebelah Nirina. “Adik sepupu dan sahabatku jatuh cinta, lalu menikah. Bagaimana bisa aku tidak datang?” Sydney tertawa pelan. “Selamat atas pernikahan kalian,” ucap Morgan sambil tersenyum tipis. “Ya, selamat atas pernikahan kalian. Siapa sangka ternyata kalian berjodoh?” Sydney menambahkan. Pipi Timothy dan Nirina memerah malu. “Kalian berdua saja?” tanya Nirina, mata pengantin wanita itu terus berbinar. Ken muncul dari balik punggung Morgan sambil melambaikan tangan. “Perkenalkan, aku anak pertama Morgan dan Sydney,” sahut K
Jet pribadi yang disiapkan Morgan untuk penerbangan mereka ke Sevhastone, dilengkapi dengan beberapa peralatan kesehatan. Bahkan, Ken sengaja diminta untuk ikut sebagai dokter pribadi Sydney. “Zya tidak bisa ikut, anak kami masih terlalu kecil untuk ikut perjalanan singkat yang jauh ini,” ujar Ken begitu datang ke bandara. Morgan mengangguk. Tanpa menunggu dipersilakan, Ken masuk lebih dulu ke jet pribadi Morgan. Ken harus memasang beberapa alat untuk berjaga-jaga jika kondisi Sydney mendadak memburuk. Setelah Ken pergi, Morgan menoleh ke sisi yang satu lagi. Sydney berdiri di sisinya dengan rambut berterbangan terkena angin dan gaun sederhana berwarna putih. Wanita itu bersikap lebih dingin dari biasanya. “Ayo, kita masuk, Darling,” ajak Morgan sambil mengulurkan salah satu tangannya pada Sydney. Sydney tidak langsung menyambut tangan Morgan. Wanita itu hanya menatap tangan itu, lalu beralih pada mata Morgan. “Jika aku setuju dengan ide gilamu untuk mengungsikan kami ke l
Morgan bangkit dari duduknya. Pria itu segera melangkah menjauh dan menelepon seseorang. “Mereka semakin agresif. Hari ini mereka mengirim seseorang ke sekolah anakku. Istriku punya fotonya. Selidiki dia dan pastikan dia tidak mendekati anak-anakku,” perintah Morgan tegas pada seseorang di ujung ponsel. Saat Morgan menutup panggilannya, Sydney mendekat. “Apa tidak sebaiknya kita bawa anak-anak ke Sevhastone saja?” saran Sydney seraya mengangkat kedua alisnya. “Kita semua sedang diincar,” sahut Morgan sambil menatap lekat mata Sydney. “Sebaiknya kita semua tidak berada di satu tempat yang sama di depan publik.” Sydney terdiam, tidak membantah. Namun wanita itu tanpa sadar meremas kedua tangannya. Dia juga menggigit bibir merah mudanya. Morgan melangkah mendekat hingga tidak ada jarak di antara mereka. Pria itu menarik dagu Sydney dengan lembut hingga gigitan bibir wanita itu terlepas. “Jangan cemas, kau baru saja pulih,” pinta Morgan. “Anak-anak akan aman.” Sydney menghela n
Jantung Sydney berdebar lebih cepat dari sebelumnya.Di kelas anak-anaknya, hanya Jade dan Jane yang merupakan anak kembar. Dan toilet ini jauh dari ruang kelas lain.‘Siapa dia?’ batin Sydney sambil menggigit bibirnya.Dahi Sydney berkerut. Dia tengah memeras otaknya untuk menemukan apa yang harus dirinya lakukan untuk melindungi anak-anak.“Aku pulang saja!” Wanita itu berteriak kesal.Tidak lama kemudian wanita itu keluar dari toilet.Sydney tengah berpura-pura mencuci tangan. Dia menyembunyikan wajah dengan rambutnya yang jatuh.“Astaga!” Wanita itu memekik. “Aku tidak tahu kalau ada orang di sini.”“Apa aku mengganggumu?” tanya Sydney mencoba terdengar biasa tanpa menoleh.“Tidak juga,” sahut wanita berambut pendek yang mulai mencuci tangan di wastafel sebelah Sydney.Dari cermin, Sydney dapat melihat wanita itu memakai seragam pengasuh dari yayasan ternama di Highvale.“Kau menunggu siapa?” tanya Sydney membuka obrolan.Sydney akhirnya menegakkan punggung dan menoleh. Dia tidak