Share

Ibu Susu Bukan Pengganti
Ibu Susu Bukan Pengganti
Penulis: Phine Femelia

Bab 1 Awal Petaka

Penulis: Phine Femelia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-13 09:52:03

Denada merasa tidak menyangka setelah melihat hasil yang ditunjukkan oleh alat tes kehamilan itu sehingga melihat terus.

"Dua garis!" batin Denada histeris.

Denada melihat langit kamar mandi dengan memejamkan sebentar kedua matanya dan memikirkan bayak hal termasuk reaksi pacarnya, Tristan kalau mengetahui hal itu. Akankah menerima atau justru mengabaikan? Tapi mengingat tentang dia yang sangat baik bahkan peduli terhadap dirinya membuat Denada berpikir, seharusnya sang pacar bisa menerima. Ya. Denada harus yakin.

Meski begitu Denada masih tidak menyangka bahwa kejadian siang bolong di kamarnya bersama sang pacar membuat benih itu hadir. Denada jadi kembali teringat kejadian itu, dimana jam istirahat kerja ... Tristan datang ke rumahnya.

***

Denada membuka pintu dan melihat Tristan yang ternyata datang. Satu sisi merasa heran dan di sisi lain merasa senang. "Sayang?"

"Iya. Aku meluangkan waktu buat istirahat di sini," kata Tristan dengan tersenyum. Denada tersenyum senang.

"Ayo masuk dulu," kata Denada dengan bergeser sebentar untuk menyuruh sang pacar masuk. Tristan berjalan masuk dan Denada menutup pintu, lalu mereka berjalan beriringan menuju kursi dan duduk bersebelahan.

"Jadi kamu gak makan siang?"

Tristan memegang tangan Denada yang ada di pangkuan pemiliknya dan menjawab, "Aku masih kenyang."

"Memangnya tadi kamu sarapan banyak?" tanya gadis itu dengan merasa ingin tahu.

Tristan mengangguk dan bertanya, "Kamu sudah makan siang?"

"Tuh, aku chat kamu kalau sedang makan siang," kata Denada dengan tersenyum.

"Aku memang belum sempat membaca karena segera datang ke sini," kata Tristan dengan tersenyum dan mempererat genggaman tangannya.

"Gimana kerjaan kamu? Lancar, bukan?" tanya Denada dengan merasa ingin tahu. Kadang gadis itu memang tanya tentang pekerjaan sang pacar.

"Lancar. Gak ada kendala apa pun. Berjalan seperti biasanya," kata Tristan dengan tersenyum.

"Baguslah," kata Denada dengan mengangguk dan tersenyum.

"Aku masih ganggu kamu makan siang, nih?" tanya Tristan dengan lembut.

"Sudah selesai kok. Beberapa menit sebelum kamu datang," kata gadis itu dengan merasa senang, karena mendengar nada lembut dari pertanyaan sang pacar.

Tristan berpikir sebentar dan berkata dengan tersenyum, "Aku datang ke sini sekadar mau melepas penat dari kesibukanku di kantor, hari ini."

Denada mengangguk dengan merasa senang dan lanjut berkata dengan ceria, "Kapan pun kamu datang aku gak masalah, justru senang, Sayang."

Denada melihat tangannya yang digenggam Tristan dan tersenyum senang dan mengelus sebentar pipi kiri sang pacar. Tristan yang merasakan hal itu sangat bahagia, lalu mengambil tangan pacarnya dan menggenggam lagi. Mereka saling melihat dengan mimik yang sumringah, lalu kemesraan mereka berlanjut dengan berdekatan sehingga sedikit menyisakan jarak. Seperti yang selama ini sering dilakukan, mereka berciuman dengan saling menautkan dan lihai di dalamnya. Semakin lama mulai menciptakan suasana di sekitar yang intens.

Merasa cuma berdua, mereka leluasa untuk melakukan hal lain dengan Tristan yang berani memegang area terlarang di bagian atas tubuh sedangkan Denada mulai mengelus pupu sang pacar. Denada begitu menikmati sentuhan Tristan yang lembut namun tepat sasaran.

Akhirnya mereka berhenti menjamah dan tautan terlepas dengan pelan lalu saling melihat dengan hasrat yang mulai ada meskipun sesekali Denada tampak ragu. Meski dalam diam, tatapan mereka saling menunjukkan bahwa suasana yang mendukung dan hasrat yang mulai tinggi mampu membuat mereka melupakan janji yang pernah terucap. Janji bahwa hal yang dilakukan cuma sebatas ciuman.

Tanpa berpikir panjang lagi, mereka melepaskan pegangan tangan dan tubuh Denada melayang karena Tristan menggendongnya bak pengantin baru lalu melangkahkan kaki menuju kamar sang kekasih yang sebelumnya pernah ditunjukkan dan Denada tampak berpikir keras. Apa tidak masalah begitu? Di dalam kamar, Tristan membaringkan tubuh Denada dengan selembut mungkin dan melepaskan gendongannya lalu Tristan duduk di sebelahnya. Meski hasratnya sudah berbicara sehingga membuat logika kalah, Tristan masih ingin mendengar dari bibir sang kekasih.

"Kamu gimana?" tanya Tristan pelan.

Denada menggigit sebentar bibir bawahnya karena ragu tapi satu sisi jujur dirinya memang sangat menginginkan, sama seperti kekasihnya itu. Denada merasa dirinya memang sudah gila. Dengan keputusan bersama, dia memilih untuk hanyut akan peristiwa di siang itu. Tristan mengelus lembut pipi kiri sang kekasih dengan lembut. Sentuhan itu semakin membuat Denada merasa melayang hingga membuat keputusan ....

"Jangan ragu lagi," bisik Denada di depan wajahnya sang kekasih.

Sontak mereka berciuman sehingga bibir saling bertautan. Tangan kiri Tristan beralih mengelus pupu kekasihnya itu. Semakin lama intens dan Tristan beralih ke anggota tubuh sensitif yang lain hingga kedua dada secara bergantian lalu beralih ke bibir lagi dengan sesekali memilin. Hasrat mulai melambung tinggi dan setelah berbagai hal yang dilakukan sebagai pemanasan awal, mereka ada di tahap dimana saling menanggalkan pakaian masing-masing dengan gerakan cepat hingga tubuh polos mereka terpampang nyata.

Mereka berbaring dan Tristan beralih mencium perut Denada sehingga sesekali pacarnya itu memejamkan kedua mata karena merasakan nikmat, apalagi merupakan hal baru untuknya. Tristan berhenti mengelus dan mengarahkan intinya lalu Denada menahan sebentar sehingga pemuda itu melihat sang kekasih dengan tatapan bertanya.

"Kamu harus pelan ya? Katanya ... sakit," kata Denada sedikit berbisik.

"Ya. Aku akan pelan dan katanya itu cuma awal. Selanjutnya kamu akan merasa enak dan kita bisa menikmatinya," kata Tristan membelai rambut Denada dengan lembut.

Denada jadi tersipu malu dan mereka kembali menautkan bibir hingga akhirnya terjadi penyatuan inti dengan suasana yang semakin panas. Berbagai hal dilakukan mereka untuk mencapai klimaks dan kepuasan. Keringat pun saling menyatu dengan balutan napsu duniawi, tapi mereka masih tidak menyadari, justru semakin gencar memasukkan inti itu dan sesekali terdengar erangan saling bersahutan.

***

Denada berhenti mengingat kejadian terlarang itu, dia kembali sadar dari lamunan dan membatin, "Aku harus segera memberi tahu Tristan."

Denada keluar dari kamar mandi dan menuju nakas tempat ponselnya diletakkan, lalu mengambil benda itu dan mencari nomor kekasihnya. Dia mengirim sebuah pesan.

Denada : Sayang, malam ini kamu ada waktu?

Gadis itu menunggu balasan pesan dari Tristan. Rasanya tidak sabar ingin memberitahu agar sang kekasih segera bertanggungjawab dengan menikahinya.

"Sepertinya dia masih sibuk. Gimana kalau aku datang ke kantornya saja?" batin Denada. Dia berpikir keras, untuk mempertimbangkan hal itu dan akhirnya mengangguk yakin lalu segera bergegas menuju ke tempat dimana Tristan kerja.

Pukul 18.30.

Denada sampai di kantor sang kekasih dan berhenti mengendarai sepeda motor lalu turun dan berjalan menuju pos satpam. Seorang satpam yang tidak terlalu tua datang menghampiri dan tersenyum sopan. Dia sudah mengenal Denada sebagai pacar dari anak pimpinannya.

"Pak, saya masuk ya?" kata Denada dengan tersenyum.

"Ya. Silakan. Kebetulan Pak Tristan belum pulang," kata dia dengan ramah.

Denada mengangguk dengan sikap sopan dan berjalan masuk hingga ke ruang kerjanya. Selama ini, setiap datang pada jam di luar operasional kantor Denada memang dipersilahkan untuk langsung masuk saja oleh Tristan. Entah kenapa jantung Denada berdetak kencang memikirkan rasa gelisahnya. Berita yang akan disampaikan bukan hal yang dinilai menggembirakan karena kandungannya ada sebelum pernikahan. Kalau pun Tristan mau menikahinya, orang tua dari dia gimana?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ibu Susu Bukan Pengganti   Epilog

    Satu tahun kemudian ....Taman belakang kediaman Budiman yang asri disulap menjadi studio foto dadakan. Banyaknya bunga mawar dan lili bermekaran, menjadi latar sempurna di bawah naungan pohon flamboyan yang rindang. Seorang fotografer profesional sibuk mengarahkan gayanya."Baik, posisinya sudah bagus, Ibu Denada. Sekarang, Kakak Abram, bisa tolong berdiri di samping Mama? Sebentar saja, ya?" kata sang fotografer ramah.Abram, yang sudah hampir berusia dua tahun dan di puncak fase eksplorasinya, menggeleng dengan cepat. Kedua matanya yang bulat justru terpaku pada seekor kupu-kupu kuning yang hinggap di semak mawar."Nda mau! Upu-upu! Upu-upu cantiiik!" kata Abram berseru, lafal yang belum sempurna. Dia pun berlari kecil dengan langkah goyah, berusaha menangkap serangga bersayap itu."Abram! Sayang, sini sebentar saja sama mama. Nanti kita kejar kupu-kupunya bareng, ya? Janji," kata Denada lembut, coba menahan tawa."Nda! Mau se

  • Ibu Susu Bukan Pengganti   Bab 172 Ini Berbeda

    Sembilan bulan berlalu seperti sebuah mimpi indah yang menjadi kenyataan, setiap harinya terasa bagai lembaran novel romantis yang ditulis khusus untuk mereka. Tidak ada lagi musim hujan yang membuat Denada gelisah menatap langit kelabu, cemas menghitung sisa beras ketika warung sepi pengunjung.Kenangan akan aroma tanah basah yang dulu identik dengan kecemasan, sekarang sudah berganti dengan hangatnya minyak esensial lavender yang selalu disiapkan Emas. Setiap malam, tanpa pernah absen, Emas akan duduk di tepi ranjang lalu mengangkat kaki Denada yang bengkak ke pangkuannya, dan memijat dengan jari yang hangat serta kuat."Sudah jadi tugas papa buat mama dan jagoan kita nyaman," bisik Emas, seolah hal itu adalah ritual paling sakral di dunia.Tidak ada lagi kekhawatiran yang menyesakkan dada ketika memikirkan biaya persalinan. Ingatan samar tentang menyisihkan uang receh di kaleng biskuit bekas terasa begitu jauh, seperti cerita dari kehidupan orang lain.

  • Ibu Susu Bukan Pengganti   Bab 171 Hadiah Terindah

    Satu bulan kemudian .... Kehidupan berjalan normal seperti biasanya tapi dengan kehangatan yang berbeda. Rumah besar itu tidak lagi terasa seperti istana yang dingin, melainkan sebuah rumah yang penuh tawa Abram, cinta yang tulus antara Emas dan Denada. Pukul 19.30. Malam itu, Emas duduk di tepi ranjang, membaca beberapa dokumen pekerjaan di tabletnya dan Denada keluar dari kamar mandi. Dia baru saja menyusui dan menidurkan Abram. Kini, Abram dijaga oleh Lina. Wanita itu berjalan dan berdiri di dekat jendela, menatap taman bawah yang remang-remang. Biasanya dia berbaring di samping suaminya. "Sayang, pembangunan restoran sudah setengah jalan, besok kita pergi ke toko furniture ya? Kita harus mempersiapkan perabot buat restoranmu," kata Emas yang masih fokus dengan layar tabletnya. "Hmm," kata Denada, singkat. Emas mengernyit, merasakan keanehan cara menjawab sang istri lalu meletakkan tablet. D

  • Ibu Susu Bukan Pengganti   Bab 170 Tanpa Batas Waktu

    "Dulu, aku gak memberikan cincin sekali pun sebagai tanda pernikahan kita," kata Emas yang kembali berdiri di hadapan Denada.Dia membuka kotak itu, memperlihatkan sepasang cincin emas putih polos tebal yang berkilau indah, dengan dua buah permata kecil di tengahnya."Mas!" panggil Denada tercekat."Nada, dulu kita menikah karena keadaan. Sekarang, di sini, di kota cinta ini, aku mau menikahimu lagi. Bukan di atas kertas, tapi dalam hati. Cincin ini aku berikan sebagai tanda pernikahan dan sebuah janji. Janji cinta sejati tanpa batas waktu. Maukah kamu menjadi istriku selamanya dengan segenap cinta dan kejujuran, sampai maut memisahkan?" tanya Emas, suara dan tatapannya sarat akan cinta.Air mata kebahagiaan mengalir deras di pipi Denada. Dia langsung mengangguk, tidak mampu berkata hal lain lagi, "Ya ... iya, aku mau, Emas! Tentu saja aku mau!"Emas mengambil salah satu cincin yang lingkarannya lebih kecil dari satunya dengan tangan yang

  • Ibu Susu Bukan Pengganti   Bab 169 Tidak Minta Melupakannya

    Koper itu juga diberi label priority yang mencolok dan Emas mengambilnya dengan sigap."Lihat, kan? Semua beres," kata Emas dengan senyum kemenangan, seolah efisiensi ini adalah bukti bahwa semua keputusannya benar.Denada hanya membalas dengan tersenyum tipis. Pandangannya menyapu, melihat sepasang kekasih berpelukan erat seolah melepas rindu, seorang pebisnis yang berjalan tergesa-gesa dengan menelepon. Pemandangan itu justru membuat hatinya terasa semakin hampa. Ketika mereka berjalan keluar dari pintu kedatangan otomatis, seorang pria berjas rapi mengangkat papan bertuliskan "Mr. Emas".Pria itu langsung menyambut mereka dengan ramah dalam bahasa Inggris lalu mengambil alih troli mereka dan berkata, "Selamat sore dan selamat datang di Paris, Tuan, Nyonya. Mobil sudah siap."Udara sore Paris yang sesungguhnya menyambut mereka. Angin senja yang lebih dingin dari perkiraan, menerbangkan beberapa helai rambut Denada. Langit di atas mereka bukan la

  • Ibu Susu Bukan Pengganti   Bab 168 Segalanya Terasa Diatur

    Denada sangat terkejut dan mengulang kembali tapi lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan, "Lusa? Mas, kamu gak bercanda, kan?" "Kapan aku pernah bercanda soal hal sepenting ini, Sayang?" kata Emas, masih memasang wajah ceria, sedikit pun tidak menyadari badai kecil yang mulai terbentuk dalam benak istrinya. "Tapi, lusa itu ... besok lusa! Aku belum menyiapkan apa pun!" kata Denada, suaranya meninggi satu oktaf dengan tangan bergerak gelisah di udara. "Koper saja aku gak tahu tempatnya. Baju musim dingin? Paspor? Ya Tuhan, aku bahkan belum menukar uang!" imbuh Denada berseru. Emas terkekeh, seolah kepanikan Denada adalah hal yang paling menggemaskan di dunia lalu berkata, "Tenang, tenang. Kalau menyiapkan isi koper, apa gunanya para asisten rumah tangga di rumah? Kalau paspormu sudah jadi, aku punya kenalan mitra yang khusus menangani hal semacam itu, jadi prosesnya cepet." Dia menunjuk tumpukan belanjaa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status