共有

BAB 50

作者: Fredy_
last update 最終更新日: 2025-08-09 13:23:50
Di dalam kamar, di lantai bawah, lampu redup menyinari wajah Desti - sang baby sitter yang tampak sedang menempelkan ponsel ke telinga. Suaranya diredam, tapi nadanya penuh semangat, seolah tengah melaporkan misi penting.

"Aduh, Bu Arlene... saya berhasil! Saya nggak dipecat sama Pak Leo. Sumpah ya, saya tuh sampai bilang saya nyesel, terus nangis dikit-dikit gitu kayak yang diajarin Bu Arlene. Saya bilang kasih saya kesempatan... saya bisa masak, bisa ngelakuin pekerjaan lain, asal jangan pecat saya."

"Bagus!" sahut Arlene di ujung sana. "Sekarang Leo ada di mana? Pengasuh bayi itu juga ikut ke rumah?"

"Betul, Bu. Nayla ikut ke rumah, gayanya tuh ... udah kayak nyonya rumah banget. Huh!" Desti mendesis sambil mencibir ke arah pintu yang tertutup rapat.

"Terus ya, bu ... tadi saya liat ada bapak-bapak datang, nungguin Pak Leo di depan pintu rumah. Saya ngintip dari sela tirai, mereka kayak bawa map tebel gitu, Bu."

Arlene mengernyit. "Map apa? Urusan bisnis atau apa?"

"Saya nggak
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (5)
goodnovel comment avatar
eonnira
oh jadi bapak si bayinya Nayla itu Jax gt ya..tuh kan bener ada mata²
goodnovel comment avatar
Evi Erviani
makin seruuuuu
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Ternyata yg melecehkan nah itu Jax kakak Zoya
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 240

    Nayla kembali membuka resleting tas besar berwarna krem itu, memastikan isinya sekali lagi. Popok bayi berbagai ukuran—cek. Selimut tipis—cek. Baju bayi yang sudah disetrika dan dilipat rapi—cek. Semua tersusun persis seperti daftar yang Matilda buatkan dengan tulisan tangan tegas, lengkap dengan tanda centang merah di pinggir kertas.Dua tas besar itu disusun di dekat lemari. Satu tas khusus perlengkapan persalinan, satu lagi berisi kebutuhan bayi, dan tas terpisah berisi pompa ASI, botol susu, dan kantong pendingin siap angkut. Nayla menghela napas panjang, lalu menutup tas terakhir dengan perasaan campur aduk—tegang, berdebar, sekaligus pegal yang ia tahan.Dari arah meja, Leo masih duduk di depan laptopnya. Layar menyala menampilkan jadwal penerbangan dan dokumen persiapan grand opening apartemen pertamanya di Switzerland. Namun sejak sepuluh menit lalu, tak satu pun baris benar-benar ia baca. Pandangannya berkali-kali melirik ke arah Nayla.“Nay…” Leo akhirnya menutup laptop itu

  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 239

    Tamu-tamu mulai berdatangan dari segala penjuru kompleks perumahan itu. Selesai dengan dekorasi, Pak Dirman langsung sigap berdiri di dekat pintu gerbang yang sengaja dibuka lebar, menyambut setiap tamu dengan senyum ramah dan arahan singkat. Derai tawa anak-anak kecil yang datang bersama orang tua mereka memenuhi halaman rumah.Nayla memang sengaja mengundang semua anak di kompleks itu. Ia ingin ulang tahun pertama Matteo dipenuhi riuh suara dan langkah-langkah kecil yang berlarian, seolah ingin mengusir keheningan yang sudah terlalu lama bertamu di rumah mereka.Di ruang keluarga, Nayla berdiri menyambut para tamu dengan senyum terbaiknya. Gaun bertema Mesir itu sungguh tak bisa menyembunyikan perut buncitnya yang ikut menjadi pusat perhatian ibu-ibu. Bahkan sesekali, bayi di rahimnya bergerak aktif, seolah ikut merasakan keramaian, apalagi ketika ada ibu-ibu tetangga dengan gemas mengusap perut Nayla.“Ya Tuhan, bumilnya cantik banget,” ujar salah satu ibu sambil menyalami Nayla. “S

  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 238

    Balon-balon warna emas, biru tua, dan hijau zamrud memenuhi ruang keluarga sejak pagi. Sebagian menggantung di langit-langit, berayun pelan mengikuti hembusan AC, sementara sisanya bergerombol di sudut ruangan, terikat pita-pita panjang yang menjuntai. Di atas karpet, mainan-mainan baru tersusun rapi—boneka unta, piramida kecil dari plastik, dan replika sphinx yang ukurannya nyaris sebesar Matteo sendiri.Ya. Setelah berbulan-bulan dilewati dengan ketegangan, kecemasan, dan malam-malam tanpa tidur nyenyak, akhirnya mereka akan merayakan ulang tahun pertama Matteo.Matilda telah keluar dari rumah sakit. Tubuhnya sudah jauh lebih sehat, meski dokter masih mewajibkannya menggunakan kursi roda agar tidak terlalu lelah. Namun jangan salah—dari kursi roda itulah seluruh komando pesta diserukan, lantang dan tidak ada yang bisa membantah.Dengan selimut tipis menutup kakinya dan rambut yang disanggul rapi, Matilda sibuk mengatur segala sesuatu dengan sangat teliti.“Pak Dirman, balonnya jangan

  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 237

    Di ruang kerja,Suara bentakan Budiman Surya memantul keras di dinding-dinding putih itu. Bingkai lukisan mahal di belakangnya bergetar halus ketika sebuah map tebal melayang dan menghantam lantai marmer.“Tidak becus!” raungnya. “Semuanya tidak becus!”Dua orang asistennya berdiri kaku di hadapan meja kerja, kepala menunduk dalam. Mereka tak berani mengangkat pandangan sedikit pun. Kertas-kertas laporan beterbangan, disusul pulpen, tempat kartu nama, bahkan sebuah cap kayu yang nyaris mengenai kaki salah satu dari mereka.“Kalian tahu berapa miliar yang saya gelontorkan buat nutup mulut pejabat desa dan kota itu, hah?!” Budiman menghantam meja dengan telapak tangannya. “Dan sekarang—semuanya bocor! Sertifikat palsu, proyek fiktif, semuanya naik ke berita nasional!”Salah satu asisten menelan ludah kasar. Dengan suara gemetar, ia memberanikan diri bicara.“Maaf, Pak… tapi, kami juga sudah melakukan semua yang bapak perintahkan. Tidak ada pejabat yang terlewat. Kami... kami juga tidak

  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 236

    Lampu bandara memantul dingin di lantai marmer saat Adrian melangkah keluar dari area kedatangan. Ia menarik topi lebih rendah, lalu menaikkan resleting jaketnya hingga menutup leher, tak ingin memberi celah untuk dikenali orang lain. Ia sudah berada di luar negeri.Baru beberapa menit lalu ia menyalakan ponsel setelah mengambil ranselnya dari area bagasi. Tiba-tiba sekali, ponsel itu bergetar panjang di saku jaketnya.Satu nama muncul di layar—Arlene Surya.Alis Adrian berkerut. Jarinya menggantung sepersekian detik di atas layar sebelum akhirnya menyentuhnya. Ia tak sempat mengikuti berita apa pun lagi sejak kabar penangkapan Jax meramaikan berita. Ia segera memesan tiket, berkemas seadanya, dan pergi dari apartemen. Secepat mungkin.“Hallo? Mau apa?” suara Adrian rendah, setengah berbisik, ketus.Di ujung sana, terdengar suara drama Arlene yang nyaris menangis. “Dri… kamu di mana? Aku butuh kamu.”Adrian berdecak. Pandangannya menyapu sekeliling, memastikan tak ada orang yang terla

  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 235

    Setelah berhari-hari Leo dan Nayla nyaris tak punya waktu berduaan—Leo tenggelam dalam urusan kerja, Nayla sibuk bolak-balik rumah sakit—akhirnya hari itu memberi mereka jeda. Karena, Surti dengan rela hati akan seharian menjaga Matilda di rumah sakit, ditemani Putra.Nayla duduk di sofa ruang keluarga, Matteo di pelukannya. Bayi itu menyusu tenang, jemarinya yang mungil menggenggam kain piyama Nayla yang tersingkap di bahu. Rambut Nayla masih sedikit berantakan—namun di mata Leo, istrinya itu tetap terlihat memikat dengan cara yang tak bisa dijelaskan.Di dekat jendela, Leo berdiri bersandar pada bingkai kaca. Ponsel menempel di telinga, tubuhnya tampak sudah lebih rileks dibanding hari-hari sebelumnya. Nada suaranya ringan, bahkan sempat diwarnai tawa kecil.“Hebat, Pak Kades,” ujarnya sambil terkekeh. “Wah, kayaknya tahun depan naik jabatan nih.”Dari ujung sambungan terdengar sahutan yang membuat Leo tertawa lebih lepas. Ia mengangguk-angguk kecil, seolah lawan bicaranya bisa meli

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status