Share

Bab. 5

Penulis: Kalista Aruna
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-07 17:36:04

Teriakan Alvin membuat ruangan duka mendadak riuh.

Para tamu menatap ke arah Mutiara yang berdiri gemetar di depan Sulastri. Brigitta menggeliat dalam pelukan, menangis keras, seolah merasakan ketegangan di udara.

“Vin!” Arman segera menepuk bahu anaknya. Ia membisikkan sesuatu ke telinganya hingga Alvin terdiam. Wajahnya masih tegang, tapi tatapannya perlahan meredup.

Melinda sigap menghampiri Sulastri, menenangkan bayi itu. Suara tangisan mulai reda, berganti dengan bisik-bisik pelan dari para tamu yang tak mengerti situasinya.

Arman maju selangkah dan berbicara dengan tenang, “Mohon maaf, Bapak-Ibu semua. Putra saya baru saja kehilangan istrinya dan belum stabil secara emosi. Ucapannya tadi hanya bentuk proteksi terhadap anaknya.” Ia tersenyum tipis. “Mari kita lanjutkan ke pemakaman.”

Suasana pun mulai mencair. Iring-iringan jenazah bergerak menuju mobil, meninggalkan rumah besar yang kini terasa kosong. Alvin yang sudah pucat dan kehilangan tenaga harus dibopong masuk ke mobil oleh beberapa pria.

Begitu rombongan pergi, Sulastri menatap Mutiara. “Susui dia sebentar lagi, Nak. Nanti sore datang lagi sesuai jadwal, ya.”

“Baik, Bu,” jawab Mutiara pelan.

Setelah Brigitta tertidur tenang, Mutiara berpamitan dan bergegas ke rumah sakit tempat Lila dirawat. Ia nyaris berlari ke bagian administrasi, membawa harapan dari uang yang sudah diterimanya. Handoko, ayahnya, sudah menunggu di sana.

Mereka menyerahkan berkas dan tanda tangan, tapi wajah petugas mendadak berubah. “Maaf, Bu. Ada tambahan biaya operasi. Dokter minta Ibu langsung ke ruangannya.”

Degupan Mutiara meningkat. “Tambahan biaya?” suaranya gemetar.

Dokter menjelaskan dengan nada hati-hati, “Kondisi Lila memburuk. Kami butuh tindakan khusus. Biaya tambahan sekitar... lima puluh juta.”

“Lima puluh juta?” Handoko nyaris berteriak. “Dari mana kami dapat uang sebanyak itu?”

“Kalau bisa, dilunasi sebelum jam enam sore,” jawab petugas datar.

Mutiara merasa dunia runtuh di atas kepalanya. Ia menatap ayahnya yang hanya bisa menggenggam tangan, menahan air mata.

“Sudah, Nak,” bisik Handoko pelan. “Bapak cari pinjaman lagi. Jangan khawatir.”

Namun bahkan kata-kata itu tak mampu menghapus sesak di dadanya. Semua terasa buntu — sampai suara ponselnya berdering.

“Halo, Bu Lastri...” suaranya bergetar.

“Tiara, jam lima kamu ke rumah Alvin, ya. Brigitta rewel lagi,” suara Sulastri terdengar lembut tapi tegas.

“Baik, Bu. Tapi…,” suara Mutiara parau, “ada sedikit masalah, Bu. Operasi Lila... butuh biaya tambahan...”

Ada jeda hening di seberang. Lalu terdengar suara pria, berat dan berwibawa.

“Saya Bandrio. Ada masalah apa, Nona Mutiara?”

Mutiara langsung terdiam. Ia tak menyangka orang sekaya itu akan bicara langsung dengannya. Dengan ragu ia menjelaskan situasinya. Hanya beberapa menit, dan Bandrio menjawab singkat, “Kirimkan nomor rekeningmu.”

Klik. Sambungan terputus.

Tak sampai sepuluh menit, notifikasi ponselnya berbunyi berturut-turut.

Transfer masuk: Rp200.000.000,-

Mutiara terpaku. “Pak… ini beneran dua ratus juta?”

Handoko menatap layar ponsel itu lama, lalu tersenyum getir. “Malaikat bisa datang dari mana saja, Nak.”

Air mata haru mengalir di pipi Mutiara. Ia segera melunasi biaya operasi dan menitipkan Lila pada perawat. Tapi ketika hendak kembali ke rumah Alvin, Handoko tiba-tiba memberi isyarat dari kejauhan.

“Tiara, jangan ke sana dulu!” bisiknya panik.

Mutiara bingung. Ia melangkah mendekat, tapi ayahnya makin cemas, memberi kode agar ia segera berbalik. Baru beberapa langkah, bahunya ditarik keras dari belakang.

“Ja—!” pekiknya tertahan.

Sosok di belakangnya tersenyum dingin, matanya menyipit tajam.

Suara itu begitu familiar, menembus sampai ke sumsum tulangnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 116

    “Sial! Melinda telah mengganggu urusan kita. Ternyata kemampuannya diatas prasangkaku,” terang Nando dengan kesal.“Memangnya ada apa? aku gak tahu apa yang kamu ucapkan,” selidik Stevani.Nando yang sedari tadi modar madir di hadapan Stevani, ia segera duduk di sampingnya dengan menghentakkan badaanya ke sofa. Ia segera menyalakan cerutu mahalnya, hisapan asapnya begitu dalam, memenuhi rongga pernafasannya. Dengan pelan ia menghembuskannya. Kepulan asap bergulung gulung saling berkekjaran di udara yang makin lama makin pudar dan menghilang begitulah seterusnya.Setelah dirasa cukup memberikan ketenangan padanya, Nando menghentikan aktifitasnya sementara. “Keabsahan surat kepemilikan lahan itu mulai diulik oleh pemerintah, bahkan sedang dibuat undang-undang baru untuk mengambil alih lahan-lahan yang dulu dimiliki oleh suatu wilayah pemerintahan.”“Bagaimana Melinda bisa melakukan semua itu?” tanya Stevani keheranan, ia pun melanjutkan kaliamatnya. “bukankah selama ini semua pengusaha

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   115

    Dua hari pun berlalu, Alvin sudah mulai siuman. Mutiara merasa lega, begitu pun dengan Danang. Alvin mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, lalu pandangannya mengamati seluruh ruangan rumah sakit.Mutiara tersenyum, “Sayang, kamu segera pulih. Jangan pikirkan hal-hal berat dulu.”Alvin hanya mengangguk. Ia pun menatap lekat ke arah Mutiara cukup lama. Lalu ia mengarahkan pada Danang. Sebagai sahabatnya yang selalu menemani di saat-saat genting dalam hidup Alvin, terbersit rasa gembira.“Bos, ada yang bisa saya bantu? Katakana lah.”“Tolong panggilkan dokter.”“Baik Bos.”Mutiara merasa cemas seketika. Raut wajah Alvin tampak kebingungan. Apakah ada hal serius yang dirasakan oleh suaminya? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalanya.“Sayang, kamu kenapa?”“Gak, papa ….”Air mata menetes di sudut mata Alvin, dengan lembut Mutiara mengelap air mata suaminya yang hendak menyebrang ke telinganya. Alvin menghalaunya, lalu ia menggenggam tangan istrinya dengan kencang.“Sayang maafin aku ya …

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 114

    Tiga set alat make up dengan merek ternama keluaran brand dari negara-negara Eropa berjajar di atas meja rias. Mutiara terus memoles wajahnya dengan trampil. Ia mencampurkan beberapa palet blash on untuk diaplikasikan ke pipinya yang sudah terbentuk indah. Kini ia semakin cantik. Alvin tersenyum puas dengan kecantikan istrinya.“Sayang kamu cantik sekali, apalagi dengan make up itu.”“Iya dong ….”Alvin mencubit pipi Mutiara seraya berkata, “Ih, gak bilang terimakasih kalau di puji, malah lebih narsis.” Alvin dan Mutiara pun terkekeh.Keduanya memasuki sebuah mobil mewah keluaran pabrik Eropa. Beberapa mobil pengawalan pun turut menyertai mereka. Sepanjang perjalanan Mutiara merasakan hal yang aneh, ada beberapa mobil yang mengikutinya, bahkan ia sempat melihat Melinda ada di dalamnya. Namun ia tidak ingin Alvin menjadi khawatir mengingat pengawalan yang mereka cukup mumpuni.Mobil mulai memasuki area parkiran. Mutiara masih merasakan kejanggalan, karena mobil yang ditumpangi Melinda

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 113

    Wajah Bandrio tampak gusar. Ia merasa Nando sudah berani main-main dengan dirinya, bahkan Alvin pun turut serta. Dengan kasar ia berdiri dari tempat duduknya.Melinda segera, menggengam tangan Bandrio. Ia mencoba untuk menenangkannya. Seakan tak perduli dengan permintaan Melinda ia bergegas meninggalkan mereka.“Papah ….” Melinda beranjak dari duduknya hendak mengejar Bandrio, tapi ia pun berpesan pada Raka, “Raka tolong tunggu sebentar, ada yang ingin kubicarakan.”“Ok, saya tunggu ya, Nona Melinda.” Anggukan Raka, membuat Melinda tak ragu-ragu meninggalkannya.Melinda yang masih muda, mampu menyusul Bandrio yang sedang berjalan dengan beberapa ajudannya. Ia berupaya dalam kondisi sejajar untuk membersamainya. Melinda sempat melirik ke wajah Bandrio, di sana tampak wajah memerah dengan rahang mengeras.“Pah, aku bisa menyelesaikan masalah ini. Berikan kepercayaan itu padaku.”Bandrio menghentikan langkahnya. Ia menatap putrinya dengan tatapan kasih sayang seorang ayah pada anaknya. I

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 112

    Di sebuah Mal, Melinda yang beberapa hari suasana batinnya sedang tidak baik, karena telah memutuskan persahabatan dengan Stevani dan Nando. Ia mencoba menyenangkan dengan membeli barang barang mewah dari butik ternama. Sudah beberapa paper bag yang dibawa asisten pribadinya hingga ia merasa kepayahan.Langkah kakinya masih terayun menuju sebuah toko perhiasan dengan produk-produk import dari negara-negara yang terkenal dengan kualitas perhiasan terbaik di dunia. Tanpa memperdulikan harga perhiasan itu, Melinda membeli lima set berlian sekaligus dengan harga fantastis. Tampaknya ia belum merasa senang, hingga Bandrio Hartanto yang diam-diam mengikuti pergerakan Melinda pun mendatanginya.“Linda ….”Suara yang tidak asing membuat perhatiaanya teralihkan dari beberapa perhiasan dihadapannya ke arah sumber suara. “Papah ….”Melinda mendekat ke arah Bandrio, ia pun mencium tangan bapaknya. Walaupun merasa heran dengan keberadaannya yang tiba-tiba, Melinda enggan menanyakannya. Bandrio han

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 111

    Di tanah lapang mereka masih berisi tegang. Stevani yang mempunyai rencana untuk mendekati Andrew, meminta semua orang yang tak berkepentingan untuk menjauh dari posisinya. Dengan mengibas tangannya pengawal Nando dan Farel pun menjauh.“Tuan Alvin apakah anda tidak menyuruh mereka untuk menjauh dari sini, seperti yang kami lakukan?”Alvin mengangguk. Lalu memberi isarat pada orang-orang suruhannya untuk menjauh namun tetap menjaga sikap waspada. Di pihak Stevani berdiri Nando dan dirinya sementara di Alvin ditemani Andrew, atas inisiatif Stevani. Sementara Mutiara tetap berada di pusara Lila.“Apa yang sebenarnya hendak kalian lakukan di pusara Lila?” bentak Alvin.“Ya, terus terang Farel Arfando berniat memindahkan makam putrinya di dekat istana barunya, tapi jangan risau kami akan mengurusnya, sehingga Lila bisa istirahat dengan tenang,” ungkap Stevani dengan sopan dan nada yang lembut.Seketika ketegangan pun memudar. Entah karena kelembutan Stevani atau karena ada jaminan kalau p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status