Share

Bab. 4

Author: Kalista Aruna
last update Last Updated: 2025-10-07 17:35:10

Mutiara menatap kosong ke jendela mobil. Setiap detik membuat dadanya makin berat. Ia tahu, begitu mobil itu berhenti, ia akan kembali menghadapi masa lalu yang ingin ia kubur selamanya. Tapi demi Lila—anaknya yang terbaring di rumah sakit—ia rela menelan apa pun.

“Sudah sampai, Bu. Silakan lewat pintu samping,” ucap Darman sopan.

Mutiara turun. Udara di kawasan elit itu terasa dingin dan berat. Di halaman rumah, tenda duka berdiri megah, dipenuhi karangan bunga bertuliskan nama pejabat dan kolega. Di dalam, suara isak dan doa bergema pelan.

“Ibu Mutiara, ya? Saya Wanti, ART di sini. Ayo cepat, Brigitta sudah kelaparan,” ujar seorang wanita muda tergesa.

Langkah Mutiara terhenti di ambang pintu. Aroma bunga melati bercampur wangi dupa menusuk hidungnya. Rumah yang dulu hanya bisa ia lihat dari foto kini berdiri megah di hadapannya—rumah pria yang dulu mencintainya, lalu membencinya setengah mati.

Tangisan bayi terdengar dari kamar dalam, menembus kegugupan yang membelitnya. Naluri keibuannya lebih kuat dari rasa takut. Ia bergegas masuk.

Kamar Brigitta luas, rapi, dindingnya berwarna lembut. Mutiara mencuci tangan, lalu duduk di tepi ranjang.

“Boleh saya gendong?” suaranya nyaris tak terdengar.

Wanti menyerahkan Brigitta. Bayi itu menangis keras, wajahnya memerah. Mutiara mencoba menyusui, tapi Brigitta menolak. Ia sabar menenangkan, menepuk pelan, berusaha lagi—hingga akhirnya, mulut mungil itu menempel dan menyesap kuat.

Air mata Mutiara jatuh tanpa bisa ditahan. “Terima kasih, Nak…” bisiknya.

Untuk sesaat, dunia terasa hening. Brigitta tenang, dan Lila—bayi yang menunggunya di rumah sakit—seolah hadir dalam pelukannya.

Namun ketenangan itu pecah ketika pintu kamar terbuka keras.

“Kamu… apa yang kamu lakukan di sini?” suara itu menohok jantungnya.

Alvin berdiri di ambang pintu, masih dengan pakaian hitam berkabung. Tatapan matanya tajam, seolah luka masa lalu belum cukup dalam.

“Aku…” Mutiara mencoba menjelaskan, tapi suaranya tercekat.

“Keluar.”

“Alvin, aku cuma—”

“Aku bilang keluar!”

Nada tinggi Alvin membuat Brigitta terkejut dan menangis keras. Refleks, Mutiara hendak menggendongnya lagi, tapi Alvin lebih dulu melangkah cepat.

Ia merebut bayi itu dari pelukannya, wajahnya memerah menahan emosi. “Jangan sentuh anakku!”

“Brigitta—!” Mutiara menahan tangis, tapi suaranya kalah oleh isak bayi itu.

Suara langkah lain terdengar. Sulastri masuk tergesa. “Alvin, apa yang kamu lakukan?!”

“Ibu, perempuan ini—”

“Dia ibu susu Brigitta,” potong Sulastri tegas.

Alvin mematung. “Apa?”

“Kalau bukan dia, cucumu takkan menyusu,” timpal Sulastri ke arah Bandrio dan Melinda yang baru muncul di pintu. “Lihat sendiri kalau tak percaya.”

Ruangan mendadak sunyi. Hanya tangisan bayi yang terdengar. Sulastri menyerahkan Brigitta kembali ke Mutiara. Mutiara ragu, tapi ketika bayi itu langsung menempel di dadanya dan tenang, semua orang terdiam.

Bandrio menarik napas panjang, suaranya berat tapi lembut. “Alvin, sepertinya Brigitta sudah menemukan ibu susu yang tepat.”

Alvin menggertakkan rahang. “Tapi Pa—”

“Cukup.” Sulastri memberi isyarat agar ia diam. “Sekarang saatnya ke makam.”

Para tamu mulai bergerak ke ruang tamu, di mana peti jenazah Monica telah disemayamkan. Alvin tetap di tempat, menatap bayinya yang tertidur di pelukan Mutiara. Wajahnya tegang, matanya merah.

Perlahan ia menghampiri, mengambil Brigitta dari pelukan itu. “Aku akan urus anakku sendiri,” ucapnya datar. Tapi sebelum pergi, ia sempat menatap Mutiara dengan getir. “Dan jangan pernah berpikir bisa mengambil uangku lagi.”

Kata-kata itu menusuk lebih tajam dari pisau.

Begitu Alvin pergi, Sulastri mendekat dan menggenggam tangan Mutiara. “Jangan diambil hati, Nak. Setelah prosesi nanti, kamu boleh pulang. Uangnya sudah Ibu transfer. Tapi kalau Brigitta menangis lagi, tolong bantu, ya.”

Mutiara hanya mengangguk. Suaranya tak sanggup keluar.

Dari kejauhan, ia melihat Alvin di ruang tamu. Lelaki itu berdiri di depan peti jenazah, menatap wajah istrinya yang terbujur kaku. Ia mencium keningnya berulang kali, lalu mendekatkan Brigitta ke dada almarhumah. Isak tangis tamu-tamu pecah seketika.

Mutiara memandangi pemandangan itu dari balik pintu. Wajah Alvin yang dulu begitu hangat kini hanya menyisakan kesedihan dan luka.

Air matanya mengalir tanpa ia sadari.

Mungkin, pikirnya lirih, ini hukuman atas dosa masa lalu—mencintai lelaki yang kini bahkan tak mau menatapnya.

Namun tangisan Brigitta kembali terdengar, keras dan panjang, seolah menembus seluruh dinding rumah.

Sulastri panik dan menyerahkan bayi itu pada Mutiara lagi. Tapi Alvin berteriak dari depan, suaranya menggelegar:

“Jangan berikan Brigitta pada perempuan itu!”

Semua kepala menoleh.

Dan Mutiara, dengan mata berkaca-kaca, hanya bisa memeluk bayi itu lebih erat—tak tahu harus pergi atau bertahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 116

    “Sial! Melinda telah mengganggu urusan kita. Ternyata kemampuannya diatas prasangkaku,” terang Nando dengan kesal.“Memangnya ada apa? aku gak tahu apa yang kamu ucapkan,” selidik Stevani.Nando yang sedari tadi modar madir di hadapan Stevani, ia segera duduk di sampingnya dengan menghentakkan badaanya ke sofa. Ia segera menyalakan cerutu mahalnya, hisapan asapnya begitu dalam, memenuhi rongga pernafasannya. Dengan pelan ia menghembuskannya. Kepulan asap bergulung gulung saling berkekjaran di udara yang makin lama makin pudar dan menghilang begitulah seterusnya.Setelah dirasa cukup memberikan ketenangan padanya, Nando menghentikan aktifitasnya sementara. “Keabsahan surat kepemilikan lahan itu mulai diulik oleh pemerintah, bahkan sedang dibuat undang-undang baru untuk mengambil alih lahan-lahan yang dulu dimiliki oleh suatu wilayah pemerintahan.”“Bagaimana Melinda bisa melakukan semua itu?” tanya Stevani keheranan, ia pun melanjutkan kaliamatnya. “bukankah selama ini semua pengusaha

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   115

    Dua hari pun berlalu, Alvin sudah mulai siuman. Mutiara merasa lega, begitu pun dengan Danang. Alvin mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, lalu pandangannya mengamati seluruh ruangan rumah sakit.Mutiara tersenyum, “Sayang, kamu segera pulih. Jangan pikirkan hal-hal berat dulu.”Alvin hanya mengangguk. Ia pun menatap lekat ke arah Mutiara cukup lama. Lalu ia mengarahkan pada Danang. Sebagai sahabatnya yang selalu menemani di saat-saat genting dalam hidup Alvin, terbersit rasa gembira.“Bos, ada yang bisa saya bantu? Katakana lah.”“Tolong panggilkan dokter.”“Baik Bos.”Mutiara merasa cemas seketika. Raut wajah Alvin tampak kebingungan. Apakah ada hal serius yang dirasakan oleh suaminya? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalanya.“Sayang, kamu kenapa?”“Gak, papa ….”Air mata menetes di sudut mata Alvin, dengan lembut Mutiara mengelap air mata suaminya yang hendak menyebrang ke telinganya. Alvin menghalaunya, lalu ia menggenggam tangan istrinya dengan kencang.“Sayang maafin aku ya …

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 114

    Tiga set alat make up dengan merek ternama keluaran brand dari negara-negara Eropa berjajar di atas meja rias. Mutiara terus memoles wajahnya dengan trampil. Ia mencampurkan beberapa palet blash on untuk diaplikasikan ke pipinya yang sudah terbentuk indah. Kini ia semakin cantik. Alvin tersenyum puas dengan kecantikan istrinya.“Sayang kamu cantik sekali, apalagi dengan make up itu.”“Iya dong ….”Alvin mencubit pipi Mutiara seraya berkata, “Ih, gak bilang terimakasih kalau di puji, malah lebih narsis.” Alvin dan Mutiara pun terkekeh.Keduanya memasuki sebuah mobil mewah keluaran pabrik Eropa. Beberapa mobil pengawalan pun turut menyertai mereka. Sepanjang perjalanan Mutiara merasakan hal yang aneh, ada beberapa mobil yang mengikutinya, bahkan ia sempat melihat Melinda ada di dalamnya. Namun ia tidak ingin Alvin menjadi khawatir mengingat pengawalan yang mereka cukup mumpuni.Mobil mulai memasuki area parkiran. Mutiara masih merasakan kejanggalan, karena mobil yang ditumpangi Melinda

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 113

    Wajah Bandrio tampak gusar. Ia merasa Nando sudah berani main-main dengan dirinya, bahkan Alvin pun turut serta. Dengan kasar ia berdiri dari tempat duduknya.Melinda segera, menggengam tangan Bandrio. Ia mencoba untuk menenangkannya. Seakan tak perduli dengan permintaan Melinda ia bergegas meninggalkan mereka.“Papah ….” Melinda beranjak dari duduknya hendak mengejar Bandrio, tapi ia pun berpesan pada Raka, “Raka tolong tunggu sebentar, ada yang ingin kubicarakan.”“Ok, saya tunggu ya, Nona Melinda.” Anggukan Raka, membuat Melinda tak ragu-ragu meninggalkannya.Melinda yang masih muda, mampu menyusul Bandrio yang sedang berjalan dengan beberapa ajudannya. Ia berupaya dalam kondisi sejajar untuk membersamainya. Melinda sempat melirik ke wajah Bandrio, di sana tampak wajah memerah dengan rahang mengeras.“Pah, aku bisa menyelesaikan masalah ini. Berikan kepercayaan itu padaku.”Bandrio menghentikan langkahnya. Ia menatap putrinya dengan tatapan kasih sayang seorang ayah pada anaknya. I

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 112

    Di sebuah Mal, Melinda yang beberapa hari suasana batinnya sedang tidak baik, karena telah memutuskan persahabatan dengan Stevani dan Nando. Ia mencoba menyenangkan dengan membeli barang barang mewah dari butik ternama. Sudah beberapa paper bag yang dibawa asisten pribadinya hingga ia merasa kepayahan.Langkah kakinya masih terayun menuju sebuah toko perhiasan dengan produk-produk import dari negara-negara yang terkenal dengan kualitas perhiasan terbaik di dunia. Tanpa memperdulikan harga perhiasan itu, Melinda membeli lima set berlian sekaligus dengan harga fantastis. Tampaknya ia belum merasa senang, hingga Bandrio Hartanto yang diam-diam mengikuti pergerakan Melinda pun mendatanginya.“Linda ….”Suara yang tidak asing membuat perhatiaanya teralihkan dari beberapa perhiasan dihadapannya ke arah sumber suara. “Papah ….”Melinda mendekat ke arah Bandrio, ia pun mencium tangan bapaknya. Walaupun merasa heran dengan keberadaannya yang tiba-tiba, Melinda enggan menanyakannya. Bandrio han

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 111

    Di tanah lapang mereka masih berisi tegang. Stevani yang mempunyai rencana untuk mendekati Andrew, meminta semua orang yang tak berkepentingan untuk menjauh dari posisinya. Dengan mengibas tangannya pengawal Nando dan Farel pun menjauh.“Tuan Alvin apakah anda tidak menyuruh mereka untuk menjauh dari sini, seperti yang kami lakukan?”Alvin mengangguk. Lalu memberi isarat pada orang-orang suruhannya untuk menjauh namun tetap menjaga sikap waspada. Di pihak Stevani berdiri Nando dan dirinya sementara di Alvin ditemani Andrew, atas inisiatif Stevani. Sementara Mutiara tetap berada di pusara Lila.“Apa yang sebenarnya hendak kalian lakukan di pusara Lila?” bentak Alvin.“Ya, terus terang Farel Arfando berniat memindahkan makam putrinya di dekat istana barunya, tapi jangan risau kami akan mengurusnya, sehingga Lila bisa istirahat dengan tenang,” ungkap Stevani dengan sopan dan nada yang lembut.Seketika ketegangan pun memudar. Entah karena kelembutan Stevani atau karena ada jaminan kalau p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status