LOGIN"Jangan buru-buru, Sayang,” ucap Farel Arfando, giginya menyeringai mempermainkan kepanikan Mutiara dan matanya memerah penuh amarah.
Cengkramannya semakin menguat lalu menarik tubuhnya. Mutiara hanya bisa mengikuti arahan mantan suaminya__yang bajingan. Untunglah Handoko berlari ke arah mereka dengan dua orang sekuriti. Mutiara mulai berontak berusah melepaskannya, namun sia-sia.
“Lepaskan ….”
“Lepaskan Dia!” serta merta Handoko melayangkan bogem pada wajah Farel.
Mendapat pukulan mendadak dan masih dalam pengaruh alcohol tubuh Farel pun ambruk ke lantai. Sekuriti segera membekuknya. Namun Farel dapat meloloskan diri dari cengkraman sekuriti. Kejar-kejaran pun tak terelakan.
“Jangan lari!” perintah seorang sekuriti.
Para pengunjung pun menjadi gaduh. Beberapa orang ikut berlari mengejar. Sementara yang lainya hanya saling menatap penuh tanya.
Mutiara masih syok, ingatan KDRT yang dilakukan Farel membuatnya ngilu. Ketakutan nya semakin menjadi kalau-kalau Lila akan diambilnya. Ia menggigit bibir untuk menahan air mata berderai.
“Bagaimana dengan Lila?”
“Bapak pastikan dia aman.”
Peristiwa-peristiwa menegangkan yang pernah dialaminya membuat mental dan fisiknya Mutiara melemah, langkahnya gontai dan wajah memucat. Menyadari hal itu Handoko mengapit ketat badan Mutiara untuk membantunya berjalan. Mereka berdua pun segera menuju ke pintu keluar di mana Darman memarkir mobil.
Handoko menyapukan pandanganya untuk memastikan keamanan mereka. Sementara Mutiara terus berjalan sambil menundukkan kepalanya. Dari kejauhan Darman di tempat parkir clingak-clinguk, dan merasa Lega ketika melihat kedatangan Mutiara. Ia mengangguk sopan pada Handoko.
“Kita langsung ke rumah ya Bu, ibu Sulastri bolak- balik menelphon,” ajak Darman sopan.
Mereka bergegas memasuki mobil dan pergi lalu Handoko kembali masuk loby. Tanpa mereka sadari dari kejauhan Farel Arfando mengawasi pergerkan mereka. Ia segera menaiki ojol yang baru menurunkan penumpang dan mengikuti mobil mereka.
Rasa kantuk menyergap Mutiara tak berselang lama ia pun tertidur. Sementara Darman yang sedang menyentir menyadari sebuah ojol dengan seorang penumpang sedang mengikutinya. Ia mulai menghawatirkan keselamatan Mutiara dan memutuskan mempercepat lajunya hingga membuat ojol kehilangan jejaknya. Tak berselang lama mereka pun sampai.
“Ibu Mutiara, kita sudah sampai.” Mutiara pun terbangun dan turun dari mobil.
“Trimakasih Pak Darman.”
“Sama-sama Bu.”
Di Rumah Alvin, tampak tamu masih berlalu lalang. Mutiara masuk melalui pintu samping melewati taman yang asri. Langkahnya terhenti menyadari Alvin sudah kembali dari makam sedang menyendiri. Mutiara yang enggan mengusiknya sekaligus
takut diketahui kedatangannya, berhenti melangkah dibalik pohon perdu yang lebat.Dari sisi lain Sulastri melihat Mutiara bersembunyi, lalu mengajak Alvin masuk rumah. Dengan tangganya Sulastri memberi aba-aba pada Mutiara untuk segera masuk. Mutiara pun menemui Brigitta yang menangis kencang dan menyusuinya. Dengan sabar Mutiara megelap peluh di wajah Brigita.
“Nah, gitu donk jangan nangis lagi ya, Brigitta cantik, yang keyang ya sayang, biar cepet besar….” Mutiara tersenyum lega sembari menatap bayi tak berdosa sedang menyusu padanya.
Brigitta terhanyut dalam gendongan Mutiara. Diamnya bayi itu merubah Atmosfer menjadi keheningan. Seakan menampakkan kesedihan bagi penghuninya. Isak tangis sesekali terdengar dari keluarga besar mendiang Monica maupun Alvin.
“Mutiara kamu sudah datang ?” tanya Melinda dari balik pintu kamar Brigitta.
“Iya Nona Melinda,” jawab Mutiara.
“Pantas, Brigitta berhenti menangis.” Ia pun pergi untuk bergabung dengan para tamu.
Brigitta tampak sudah kenyang namun ia tetap terjaga. Mutiara segera menggendongnya keluar kamar untuk menyerahkan Brigitta pada Sulastri. Namun Bandrio mendatanginya dan segera mengambil cucunya.
“Sini ikut kakek …Tiara, kamu sudah makan?” tanya Bandrio.
“Nanti saja, Pak, saya belum lapar.”
“Kamu harus makan, mumpung Brigitta anteng.”
Mutiara yang merasa sungkan hanya mengikuti apa kata Bandrio. Ia berjalan di belakang Bandrio dengan ragu menuju meja makan. Di sana Alvin sedang duduk, makanan yang ada di depannya sama sekali tak tersentuh. Wanti masih sibuk menuangkan makanan yang di pesan dari resto ternama.
“Wanti tolong ambilkan makan untuk Mutiara,” perintah Bandrio.
“Oh, gak perlu saya bisa sendiri,” ucapnya. Wanti pun ijin pergi berpindah ke ruangan lainnya.
“Ok, kalau begitu aku bawa cucuku ke taman, kalau sudah selesai tolong ambil Brigitta.” Mutiara mengangguk, Alvin hanya melirik ke arahnya dengan ekspresi keberatan.
“Alvin kamu harus makan, dari semalam Papah tidak lihat kamu makan,” bujuk Bandrio.
“Iya Pah.” Alvin mengangguk tanpa ada gerakan tangan mengambil makanan. Bandrio pun pergi meninggalkan Mutiara dan Alvin di meja makan.
Mutiara hanya mengisi piringnya dengan sedikit nasi dan sesendok tumis brokoli, Alvin yang melihatnya merasa kesal lalu menarik piring Mutiara membuat Mutiara kaget. Alvin langsung menambahkan nasi serta lauk pauk yang berjajar dan berbagai sayuran.
“Habiskan!” bentak Alvin. Mutiara mengangguk dengan gugup meskipun nafsu makanya hilang ia tidak berani menolaknya, tapi ia pusing bagaimana cara menghabiskannya.
Suap demi suap Mutiara memakanya
dengan buru-buru karena berada di dekat Alvin terasa sangat tersiksa, jantungnya berdebar kencang. Berbeda dengan Alvin yang tak menyentuh makannya. Sesekali ia menarik nafas dalam-dalam.“Besok saya akan mencari penggantimu.” Kalimatnya begitu tegas. Alvin menengok ke arah Mutiara yang sedang memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.
“I … ya, gak pa pa.” Mutiara mengangguk setuju untuk menghindari perselisihan, kemudian buru-buru meninggalkan Alvin serta membawa piring kotor untuk mencucinya.
Alvin tak habis pikir hingga geleng-geleng kepala dengan kecepatan Mutiara menghabiskan makanan sebanyak itu.
Pandangannya ia alihkan pada piringnya yang masih utuh. Alvin pun meninggalkan meja makan untuk menemui para tamu.Tiba-tiba Brigitta menangis kencang. Bandrio dan Melinda kewalahan hingga keluarga besarnya bergantian untuk menenangkan Brigitta namun tanpa hasil. Alvin segera mendatangi Brigitta untuk menenangkanya namun usahanya sia-sia. Keadaan tersebut membuat Alvin sangat terpukul, ia merasakan kesedihan Brigitta tanpa pelukan Monica, rasa dukanya semakin mendalam, air matanya kembali mengalir.
“Sabar Alvin ….” Bujuk Sulastri.
“Tiara cepat sini, Nak … susui dia,”perintah Sulastri. Mutiara pun menggedong Brigitta dan membawanya ke kamar.
Brigitta sudah kenyang namun tidak mau lepas dari gendongan Mutiara. Mutiara keluar kamar dan duduk di sofa keluarga sembari menimang-nimang Brigitta. Karena kelelahan dan kekenyangan membuatnya tertidur sambil memeluk Brigitta yang sudah pulas dipangkuannya.
Melihat Brigitta terlelap Alvin berniat mengambilnya hingga jari-jarinya menyentuh tangan Mutiara. Merasa ada tarikan di pangkuannya ia kaget dan terbangun, spontan ia memanggil anaknya.
“Lila ....”
Mutiara membuka matanya dan langsung beradu pandang dengan Alvin saat Alvin mencondongkan badan kearahnya untuk mengambil Brigitta. Jarak merekahanya sejengkal tangan Mutiara. Desiran halus didadanya membuatnya salah tingkah. Sementara Alvin tidak bisa mengendalikan perasaanya segera mengalihkan pandangan dari mantan istrinya. Keduanya merasa serba salah.
Alvin tersungut-sungut,. Hingga sore hari Randi belum juga datang ke kantor. Danang hanya terdiam, ia ragu memberikan pendapat. Sementara Mutiara yang turut menyertainya pun hanya duduk memainkan gawenya.Masih ada harapan kalau tuduhannya terhadap Randi itu tidak lah benar. Alvin tidak bisa membayangkan kalau Randi pelakunya makai a harus bertindak tegas untuk memecatnya. Bagaimana nasib Perusahaan ke depannya.Sejak Randi bergabung di Perusahaan Alvin Karya, ia telah mampu mensejajarkan dengan Perusahaan menengah yang paling kompetitif. Bahkan jika proyek-proyek yang sedang dirancang bisa terwujud maka Perusahaan Alvin Karya bisa disebut salah satu Perusahaan terbesar di negri ini.“Aku harus tegas!”ucapnya ragu.“Tapi Bos, Perusahaan kita sangat bergantung padanya,” keluh Danang.Mutiara tergelitik untuk memberi komentar, “apalah artinya jika sebuah kapal ada penghianat di dalamnya. Cepat atau lambat kapal itu akan karam juga.”“Euhm, Sayang … aku setuju dengan pemikiranmu. Kenapa
“Baik, Nona.”Melinda kembali menaiki mobil, namun kali ini Farel yang membawanya. Mereka mengarah pada sebuah pemukiman mewah di mana Alvin dan Mutiara tinggal. Rumah-rumah mewah nan megah berderet begitu anggun.“Kamu lihat rumah dengan gerbang yang sangat besar dan terdapat beberapa pengawal, di sanalah mereka tinggal.”“Sepertinya saya akan kesulitan untuk menembus pengawalan mereka, Nona.”“Ya ….” Melinda menghempaskan napas dengan kasar.Menyaksikan pemandangan itu membuat emosi Farel terpantik. Hingga seluruh tubuh Farel bergetar tiba-tiba. Mobil yang dikendarai Farel Arfando oleng tepat di hadapan para pengawal. Hingga membuat para pengawal terkesiap.“Farel! Kabur!” perintah Melinda sambil berteriak.Mobil pun langsung melaju kencang. Hingga para pengawal tidak mampu mencegatnya. Farel merasa lega telah lolos dari mereka. Berbeda dengan Melinda yang kesal atas keteledoran Farel.“Gila kamu ya, kita nyaris mati ditangan mereka,” omel Melinda.“Maaf Nona,” ucapnya pelan nyari
“Tuan, anda tidak apa-apa? … Wawan ambilkan salep untuk luka bakar di kotak P3K!” Teriak seorang pelayan yang melihat kejadiaan penyiraman kopi panas.Tanpa merasa bersalah Melinda bergegas pergi dengan menenteng tas yang didalamnya HP merekam sebuah perciakapan keduanya. Ia mempercepat langkahnya, kala mendengar langkah kaki seseorang sedang mengikutinya.“Nona, anda belum bayar.”Melinda menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya. Ia berusaha mencari beberapa lembar uang di dalam tasnya, setelah mendapatkannya, ia melempar beberapa lembar uang.“Itu lebih dari cukup untuk orang miskin seperti kamu.”“Kami memang tidak kaya, tapi kami punya aturan. Ambil uangmu dan bayar ke kasir. Kalau anda tidak melakukannya, rekaman CCTV dari café kami akan diviralkan. Apa lagi saya mengenal anda sebgai pembisnis handal.”“Aah … jangan banyak ngomong.”Melinda segera memungut uang-uang yang berserakan di lantai. Ia terpaksa kembali lagi ke kafe. Tampak Randi sedang membersihkan bajunya yang
Di sebuah café penggiran kota, waktu menunjukan pukul sebelas malam. Randi duduk di pojokan. Ia sengaja memilih tempat itu untuk menghindari perhatian pengunjung lain.Dari pintu masuk tampak Melinda berjalan menuju ke arahnya. Tanpa ragu ia menyunggingkan senyum. Kemudian ia duduk berhadapan dengan Randi yang dipisahkan oleh meja.“Suadah lama Menunggu Pak Randi?” tanya Melinda sembari tersenyum.Randi pun menggeleng. “Oh tidak, aku baru lima belas menit.” Matanya melihat jam sembari mengangkat tanggannya. “ya … kurang lebih.”Senyum getir tampak di bibirnya. Ia tidak menyangka akan mengkhianati Alvin sampai sejauh ini. Rasa sesal tidak mampu ia abaikan.“Tampaknya ada sesuatu yang penting, hingga Nona Melinda memintaku untuk datang ke sini di Tengah-tengah kesibukan anada.”“Ya, begitulah.”Melihat Randi yang tampak tertekan Melinda pun mencari tahu. “Apa Tuan Randi menyesal datang ke tempat ini?”Senyum simpul dari bibir Randi, menyiratkan jawaban yang dibutuhkan oleh Melinda. Ya,
“Kenapa aku harus sejauh ini mengkhianati Pak Alvin. Dia sudah terlalu baik padaku dan keluargaku,” gumamnya dengan lirih.Di dalam ruangannya ia duduk mematung. Ia tampak terpuruk. Tanpa menyalakan AC, keringat bercucuran karena suhu ruagan yang panas bercampur dengan keringat yang mengalir karena berbuat kecurangan.Sebuah dering telpon membuyarkan lamunannya, namun tak sedikitpun ia berniat mengangkat panggilan telpon itu. Ia telah membuat keputusan untuk resigne dari Perusahaan Alvin Karya.Ia bisa saja mengabaikan permintaan Melinda untuk tetap setia pada Alvin, toh semua video dan foto-fotonya yang diambil oleh stevani, telah ia hapus bahkan di HP Melinda pun sudah dipastikan tidak ada. Namun ia menghargai usaha Melinda membantunya menghilangkan jejak digital perselingkuhannya.“Emang aku bodoh.” Tangan Randi megepal dan memukul meja dengan keras. Mulutnya mengatup dengan kuat.Dengan langkah gontai ia meninggalkan kantor. Hawa dingin diparkiran menampar wajahnya. Seakan alam pu
Alvin membawa baran-barang bawaan Mutiara di tangan kirinya dan menggendong tas untuk laptop dan berkas-berkas penting. Tangan kannya merangkul Mutiara sembari berjalan di Lorong kantor. Saat melewati ruangan Randi terasa ada kejanggalan. Pintu yang sedikit ternganga, tapi lampu masih menyala.“Kenapa ruangan Randi tidak ditutup?” gerutu Alvin, dahinya mengerut. Lalu ia melepaskan rangkulan tangganya untuk menutup ruangan Randi.“Mungkin dia lupa sayang. Jangan terlalu dipikirkan,” bujuk Mutiara.Alvin mengangguk. “Ya, mungkin aku sedikit terpengaruh dengan ucapanmu.”Di parkiran, kedua mata Randi melotot, kala melihat kedatangan Alvin dan Mutiara yang tiba-tiba. Dengan senyum yang di paksakan ia menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Ia pun menyapa Alvin dan Mutiara.“Oh … Tuan Alvin dan Nyonya Melinda, sudah mau pulang?”Melihat sikap Alvin yang berbeda dari biasanya membuat Alvin menerka-nerka apa yang sedang ia rencananakan di belakangnya. Saat ini ia tidak bisa menyimpulkan. Un







