Share

004 || Menarik

Author: Daralist
last update publish date: 2026-03-17 12:46:51

“Jadi … mereka memburuku hanya karena itu?”

“Kenapa kau terlihat tidak percaya begitu?” tanya Devan saat melihat ekspresi Sarah yang berlebihan.

“Bukankah wajar jika mereka mencarimu saat tahu kau hidup dan hanya bersembunyi?”

“Ya … tapi tetap saja,” kata Sarah masih belum sepenuhnya menerima fakta itu.

Setelah mendapatkan tempat tinggal sendiri, Sarah bisa beraktivitas seperti biasanya. Dia juga mendapat informasi terkait alasan dia dicari oleh para preman itu.

Alasan pertama jelas karena ingin membunuhnya agar kemampuannya tidak bisa lagi digunakan, apalagi dipelajari orang lain. Namun, dia juga bisa selamat karena ada beberapa orang masih membutuhkan kemampuannya. 

Sebab itulah pelariannya waktu itu tidak terlalu ekstrim.

“Lalu bagaimana setelah kau tahu jika semuanya seperti ini?” tanya Devan sambil melirik Dion yang membaca buku usang di dekat Sarah.

Devan masih belum menerima Dion di sisi temannya itu. Apalagi hidup Sarah sudah sulit untuk sendiri, malah melibatkan anak kecil lagi. Bukannya dia kejam dan tidak mau mengakui Dion, tapi dia hanya merasa kasihan pada anak sekecil itu yang sudah mengikuti jejak ibunya yang keras.

Dari sekedar tatapan saja, Sarah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Devan. Namun, dia juga tidak mungkin meninggalkan anak yang pengertian seperti Dion.

“Hal ini sudah terlanjur terjadi, mau bagaimana lagi,” kata Sarah seraya menghela napas. “Mereka juga tahu aku sudah terpojok. Sepuluh tahun berdiam diri pun bukan berarti aku menikmati kenyamanan yang berarti.”

Devan mengangguk setuju, “Kalau begitu … kau pasti kembali bekerja, kan?”

Sarah menggumam setuju. Dia kemudian mengambil salah satu tawaran dari tumpukan kertas tak jauh darinya.

Tumpukan kertas itu adalah tawaran yang dicetak oleh Devan belum lama ini. Saat tahu Sarah kembali, banyak orang yang menghubungi Devan karena dia masih aktif berhubungan dengan Sarah. Devan juga satu-satunya orang yang bisa bicara langsung dengan Sarah.

Apalagi setelah Sarah berniat muncul setelah lama menghilang, Devan menyiapkan semua ini untuk Sarah.

“Aku akan mengambil yang ini dulu,” ujar Sarah sambil memberikan kertas itu pada Devan.

Kertas itu berisi tentang pekerjaan Sarah yang harus menyelidiki perusahaan besar agar penyuntikan saham tidak 

Devan membaca sebentar sebelum kemudian mengerutkan kening, “Bukankah ini terlalu besar untuk sebuah permulaan?”

“Tapi isi kontrak dan royaltinya sesuai dengan pekerjaan itu,” kata Sarah dengan tenang.

“Lagipula aku bisa meminta lebih pada mereka karena tingkat kesulitan yang mereka berikan.”

Devan berpikir keras, lalu kemudian mengerti apa yang diinginkan oleh Sarah. 

“Ini juga bagus. Aku akan segera mengabari mereka.

Sarah mengangguk setuju dan membiarkan Devan membawa kertas itu pergi.

Sarah menghela napas dengan lelah. Jika dia sudah muncul seperti ini dan mengambil proyek besar, dia juga harus mengambil pekerjaan kecil lainnya. Meski royalti mereka memuaskan, tapi dia juga harus bisa bertahan setelahnya.

Sarah tidak mau kejadian sepuluh tahun lalu kembali terulang. Terhubung dengan keluarga besar dengan dirinya yang sendirian ini, tidak aman sama sekali.

“Ibu akan bekerja?”

Sarah menoleh ke arah Dion yang kini juga menatapnya.

“Ya, tapi pekerjaan ini membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya,” kata Sarah. “Setelah ibu menandatangani kontraknya, kau bisa bersekolah seperti biasa.”

Dion mengernyit, “Memangnya apa pekerjaan ibu? Menjual sayur seperti sebelumnya?”

Sarah tersenyum canggung dengan tebakan Dion. Namun, dia juga salah karena tidak memberitahu Dion lebih dulu.

“Ini pekerjaan ibu sebelum kau lahir. Nanti kau juga tahu sendiri. Yang jelas, pekerjaan ini cukup menjanjikan meskipun beresiko.”

Dion berkedip, tapi kemudian menganggukkan kepalanya seolah mengerti. Padahal, Dion memperhatikan kalimat terakhir Sarah dengan serius. 

Tekad yang tidak diketahui muncul di hari Dion untuk terus memperhatikan ibunya.

Malam harinya, Sarah mendapat kabar baik bahwa pembicaraan tentang pekerjaan itu akan langsung ditangani oleh anak dari keluarga itu langsung. 

Keesokan harinya, Sarah tidak lagi menunda pekerjaannya terlalu lama. Karena Devan sedang sibuk dengan pekerjaannya, Sarah terpaksa membawa Dion bersamanya.

Di sisi lain, sebuah ruangan kerja yang cukup luas terlihat sunyi sampai seseorang mengetuk pintu dari luar.

Pria yang duduk di meja kerja sambil menulis sesuatu di kertas itu akhirnya berhenti sejenak.

“Masuklah.”

“Permisi Tuan Harris.”

Pria yang dipanggil Tuan Harris itu mengangkat kepalanya saat namanya dipanggil. Mata biru terang miliknya yang menawan justru membuat asisten yang baru masuk itu menundukkan kepalanya dengan refleks.

“Saya menerima kabar bahwa Nona Sarah menerima permintaan kita,” jelas sang asisten.

“Oh, aku kira akan memakan waktu lama sampai dia menyetujuinya,” kata Harris sambil tersenyum kecil.

Sang asisten melirik senyum itu sejenak, sebelum kemudian kembali tertunduk.

“Kapan kita akan bertemu?”

“Setelah menyesuaikan jadwal Anda, pertemuannya dilaksanakan hari ini,” jawab sang asisten.

Senyum Harris semakin lebar. Matanya pun pun ikut berbinar, “Hmm, menarik.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   043. || Sepupu Direktur

    Senyum Sarah membeku sejenak. Namun, sebagai rekan kerja yang baik sebelumnya, Sarah mencoba untuk mempertahankan senyum dengan bijak.“Jika saya mempunyai kemampuan, saya akan mencoba untuk membantu.”Clara memperhatikan Sarah dalam diam lalu berkata, “Bisakah kita bekerja sama kembali?”Sarah hendak menjawab, tetapi Clara sudah lebih dulu mengungkapkan apa yang ingin dia katakan.“Sepupu Direktur Utama kami sedang mencari seseorang yang bisa membaca saham. Dia berniat berinvestasi pada kenalannya, tetapi ingin mengetahui dengan cepat apakah dia bisa mendapatkan keuntungan?”“Saya akan berterima kasih jika Anda mau mempertimbangkannya dulu,” lanjut Clara dengan memainkan simpati diakhir pembicaraannya.Sarah bahkan terdiam karena lupa tentang apa yang ingin dia sampaikan sebelumnya. Namun, jelas mereka tidak mungkin meminta tanpa ada rencana lebih dulu.Sarah membatin, ‘Apakah mereka memakai sepupu Direktur untuk membalas dendam padaku?’Wajar jika Sarah berpikir demikian. Sebab sebe

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   042. || Tawaran

    “Aku ingin wanita di samping Haris itu ada di sisiku.”Mira mematung sejenak, tapi kemudian menatap Rogan dengan wajah tidak percaya.“Apa kau sedang bicara omong kosong sekarang denganku?” tanya Mira dengan wajah bingung dan tidak percaya. “Apa kau berniat merebut wanita itu dari Haris Wilson?”Rogan mengerutkan kening dan berbicara dingin, “Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak sebodoh itu.”Mira akhirnya bernapas lega dan menyandarkan punggungnya dengan santai ke sofa. Dia bahkan sempat tertawa kecil.“Aku pikir kau mengejarnya untuk dijadikan istri. Apalagi mengingat kau memiliki beberapa anak haram.”Setelah mengatakan itu, Mira entah sengaja atau tidak melirik sekilas ke arah Clara yang berdiri diam tanpa menyela sejak tadi.“Orang-orang itu tidak ada yang berguna sama sekali,” hina Rogan tanpa menahan diri.Mira hanya tersenyum sinis tanpa simpati. Rogan tetaplah Rogan. Dia manusia yang menganggap semua orang adalah barang. Termasuk darah dagingnya sendiri.Mira tahu itu sifat

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   041. || Meminta Bantuan

    Pintu terbuka dan masuklah dua orang wanita ke dalamnya. “Saya datang sesuai dengan apa yang Anda perintahkan.”Jelas yang berbicara adalah Clara, sang sekretaris pribadi Rogan yang penurut. Setelah berkata demikian, dia hanya menundukkan kepalanya dan menunggu Tigan berbicara.Sayangnya, sebelum Rogan sempat mengeluarkan kata-katanya, wanita kedua yang berpakaian glamor dengan riasan wajah yang hidup itu malah cemberut dan protes lebih dulu.“Apa ini Rogan?” kesal wanita itu tanpa ditahan. “Padahal kau bisa bicara melalui panggilan jika ada keperluan. Apakah sampai harus mengundangku kemari juga?”Rogan menyandarkan punggungnya dengan santai ke sandaran kursi. Matanya menatap dingin pada wanita yang merupakan anggota keluarga Durant, sepupu dekatnya–Mira Durant.“Apa kau masih tidak belajar sopan santun setelah bercerai dengan mantan suamimu?”Mira mengerutkan kening saat dia sudah duduk dengan nyaman di kursi tamu, “Jangan membicarakan sesuatu yang buruk padaku Rogan.”“Kalau kau t

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   040. || Melewati Batas

    Sarah merapikan rambutnya sedikit sambil menjawab, “Itu sudah aku pertimbangkan sebelumnya. Jadi kau tenang saja.”“Apakah sekarang kau akan membiarkannya?” tanya Haris. “Aku kira kau akan menjelaskan kepergianmu padanya.”“Kau yang bilang jika Dion sudah dewasa sebelumnya, kan? Dia juga sudah bisa memilih apa yang dia inginkan. Ini lah caraku untuk mengakui kemandiriannya yang terlalu dini.”Senyum Sarah yang anggun terbentuk di bibirnya. Pandangannya tidak goyah saat Haris mencari setitik keraguan ketika wanita itu mengatakan kalimat itu dengan biasa.“JIka tidak ada yang dibicarakan lagi, saya akan–”“Dion sempat mengamuk di rumah.”Perkataan Haris sukses membuat senyum Sarah membeku dan keningnya tanpa sadar berkerut.“Itu tidak mungkin, kan?” ujar Sarah tidak percaya. “Dion tidak akan bereaksi keras begitu.”“Dia tidak mengamuk seperti yang kau bayangkan. DIa hanya mogok makan dan mengurung diri di kamar untuk belajar tanpa kenal waktu.’Sarah mencoba menekan kekhawatirannya, “Bu

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   039. || Kapan Aku Mendapat Gaji?

    Rogan yang kini menjadi fokus utama hanya meminum anggurnya dengan tenang dan berkata, “Ini merupakan kehormatanku bertemu dengan sosok terkenal di masa lalu.”Maja mungkin aku tidak merasa antusias. Aku pasti akan berbagi bahagia dengan yang lain. Ya, kan Nyonya Chana?”“Tentu saja!” balas Nyonya Chana penuh semangat. “Nona Sarah sangat berdedikasi untuk mencari dana untuk yayasan yang baru saja didirikan. Bagaimana mungkin kami tidak saling berbagi kebahagiaan pada hal seperti itu.”“Wah, disanjung orang terkenal seperti kalian membuatku sangat terharu,” ujar Sarah sambil mengusap ujung matanya yang tidak basah.Meski Sarah tampak akrab dan menerima segala perlakuan Rogan dan juga Chana, Sarah tetap lah waspada. Dia tidak akan mempercayai siapapun disaat seperti ini.Memangnya siapa yang suka membuang uang untuk yayasan palsu? Terutama Nyonya Chana, Sarah tidak akan menjadikannya teman meski dia seceria itu. Sebab wanita adalah orang yang ditunjuk langsung oleh Rogan.Haris meminum

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   038. || Satu Meja

    Haris mengikuti pemandu acara untuk memasuki ruang acara. Saat dia masuk ke dalam ruangan yang sudah ditentukan, hampir semua orang melihat ke arahnya. Sangat jelas dari raut wajah mereka, mereka tidak mengira adanya anggota keluarga Wilson yag menghadiri acara seperti ini. “Hei, bukankah itu anak kedua dari Tuan Sadam Wilson?” “Tentu saja itu dia!” balas seseorang. “Siapa lagi orang tinggi yang cocok dan senang memakai mantel hitam panjang itu? Dia adalah anak kedua sekaligus pengacara keluarga Wilson–Haris Wilson!” Haris tidak tahu betapa heboh orang-orang berbisik tentang dirinya di belakangnya. Meskipun dia tahu, dia tidak akan menghentikan mereka. Toh, semua ini karena pengaruh keluarganya di dunia politik. Keluarga Wilson sangat aktif di dunia politik dan jarang tampil di muka umum. Kehadirannya pada acara yang memiliki banyak kamera di berbagai sudut membuat orang-orang di acara ini terkejut. Sebab mereka hanya akan muncul jika benar-benar diperlukan. Haris mengangguk p

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   036. || Selamat Malam

    “Kenapa kau bersikap terkejut begitu? Seharusnya kau sudah tahu konsekuensinya jika menampung kami di sini, kan?” Sarah memiringkan kepalanya sedikit, “Padahal aku sudah berbaik hati untuk meminta tempat tinggal tanpa syarat apapun. Seharusnya kau memberiku tempat tinggal terpisah dan meletakkan k

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   035. || Antara Cerdik atau Licik

    “Tuan Haris?”Haris kembali mengerjap dan menjawab singkat, “Tentu kalau begitu. Aku akan ke atas dulu.”Sarah memperhatikan Haris yang memegang pegangan tangga setiap kali dia melangkah dengan hati-hati. ‘Dia termasuk sosok yang tahan banting,’ puji Sarah di dalam hatinya.Selama Sarah tinggal di

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   028 || Persetujuan

    Bukannya Sarah tidak mendengar apa yang dikatakan. Namun, dia takut pendengarannya salah. Si pria dengan jenggot tipis itu tidak marah. Dia hanya tersenyum dan menjawab tenang, “Saya bilang, di mana saya harus tanda tangan untuk rencana yang kau susun itu?” Baru pada saat itulah Sarah tersadar bu

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   020 || Pulang Lebih Cepat

    “Atau apakah Nona pemilik sebenarnya tempat ini?!” Sarah tersenyum canggung dengan pertanyaan antusias yang dilontarkan oleh sang sopir. Namun, belum sempat dia mengatakan apapun, sopir itu justru melanjutkan apa yang ingin dia utarakan. “Ya ampun … saya sungguh tidak menyangka akan bertemu pemil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status