Masuk“Jadi … mereka memburuku hanya karena itu?”
“Kenapa kau terlihat tidak percaya begitu?” tanya Devan saat melihat ekspresi Sarah yang berlebihan. “Bukankah wajar jika mereka mencarimu saat tahu kau hidup dan hanya bersembunyi?” “Ya … tapi tetap saja,” kata Sarah masih belum sepenuhnya menerima fakta itu. Setelah mendapatkan tempat tinggal sendiri, Sarah bisa beraktivitas seperti biasanya. Dia juga mendapat informasi terkait alasan dia dicari oleh para preman itu. Alasan pertama jelas karena ingin membunuhnya agar kemampuannya tidak bisa lagi digunakan, apalagi dipelajari orang lain. Namun, dia juga bisa selamat karena ada beberapa orang masih membutuhkan kemampuannya. Sebab itulah pelariannya waktu itu tidak terlalu ekstrim. “Lalu bagaimana setelah kau tahu jika semuanya seperti ini?” tanya Devan sambil melirik Dion yang membaca buku usang di dekat Sarah. Devan masih belum menerima Dion di sisi temannya itu. Apalagi hidup Sarah sudah sulit untuk sendiri, malah melibatkan anak kecil lagi. Bukannya dia kejam dan tidak mau mengakui Dion, tapi dia hanya merasa kasihan pada anak sekecil itu yang sudah mengikuti jejak ibunya yang keras. Dari sekedar tatapan saja, Sarah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Devan. Namun, dia juga tidak mungkin meninggalkan anak yang pengertian seperti Dion. “Hal ini sudah terlanjur terjadi, mau bagaimana lagi,” kata Sarah seraya menghela napas. “Mereka juga tahu aku sudah terpojok. Sepuluh tahun berdiam diri pun bukan berarti aku menikmati kenyamanan yang berarti.” Devan mengangguk setuju, “Kalau begitu … kau pasti kembali bekerja, kan?” Sarah menggumam setuju. Dia kemudian mengambil salah satu tawaran dari tumpukan kertas tak jauh darinya. Tumpukan kertas itu adalah tawaran yang dicetak oleh Devan belum lama ini. Saat tahu Sarah kembali, banyak orang yang menghubungi Devan karena dia masih aktif berhubungan dengan Sarah. Devan juga satu-satunya orang yang bisa bicara langsung dengan Sarah. Apalagi setelah Sarah berniat muncul setelah lama menghilang, Devan menyiapkan semua ini untuk Sarah. “Aku akan mengambil yang ini dulu,” ujar Sarah sambil memberikan kertas itu pada Devan. Kertas itu berisi tentang pekerjaan Sarah yang harus menyelidiki perusahaan besar agar penyuntikan saham tidak Devan membaca sebentar sebelum kemudian mengerutkan kening, “Bukankah ini terlalu besar untuk sebuah permulaan?” “Tapi isi kontrak dan royaltinya sesuai dengan pekerjaan itu,” kata Sarah dengan tenang. “Lagipula aku bisa meminta lebih pada mereka karena tingkat kesulitan yang mereka berikan.” Devan berpikir keras, lalu kemudian mengerti apa yang diinginkan oleh Sarah. “Ini juga bagus. Aku akan segera mengabari mereka. Sarah mengangguk setuju dan membiarkan Devan membawa kertas itu pergi. Sarah menghela napas dengan lelah. Jika dia sudah muncul seperti ini dan mengambil proyek besar, dia juga harus mengambil pekerjaan kecil lainnya. Meski royalti mereka memuaskan, tapi dia juga harus bisa bertahan setelahnya. Sarah tidak mau kejadian sepuluh tahun lalu kembali terulang. Terhubung dengan keluarga besar dengan dirinya yang sendirian ini, tidak aman sama sekali. “Ibu akan bekerja?” Sarah menoleh ke arah Dion yang kini juga menatapnya. “Ya, tapi pekerjaan ini membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya,” kata Sarah. “Setelah ibu menandatangani kontraknya, kau bisa bersekolah seperti biasa.” Dion mengernyit, “Memangnya apa pekerjaan ibu? Menjual sayur seperti sebelumnya?” Sarah tersenyum canggung dengan tebakan Dion. Namun, dia juga salah karena tidak memberitahu Dion lebih dulu. “Ini pekerjaan ibu sebelum kau lahir. Nanti kau juga tahu sendiri. Yang jelas, pekerjaan ini cukup menjanjikan meskipun beresiko.” Dion berkedip, tapi kemudian menganggukkan kepalanya seolah mengerti. Padahal, Dion memperhatikan kalimat terakhir Sarah dengan serius. Tekad yang tidak diketahui muncul di hari Dion untuk terus memperhatikan ibunya. Malam harinya, Sarah mendapat kabar baik bahwa pembicaraan tentang pekerjaan itu akan langsung ditangani oleh anak dari keluarga itu langsung. Keesokan harinya, Sarah tidak lagi menunda pekerjaannya terlalu lama. Karena Devan sedang sibuk dengan pekerjaannya, Sarah terpaksa membawa Dion bersamanya. Di sisi lain, sebuah ruangan kerja yang cukup luas terlihat sunyi sampai seseorang mengetuk pintu dari luar. Pria yang duduk di meja kerja sambil menulis sesuatu di kertas itu akhirnya berhenti sejenak. “Masuklah.” “Permisi Tuan Harris.” Pria yang dipanggil Tuan Harris itu mengangkat kepalanya saat namanya dipanggil. Mata biru terang miliknya yang menawan justru membuat asisten yang baru masuk itu menundukkan kepalanya dengan refleks. “Saya menerima kabar bahwa Nona Sarah menerima permintaan kita,” jelas sang asisten. “Oh, aku kira akan memakan waktu lama sampai dia menyetujuinya,” kata Harris sambil tersenyum kecil. Sang asisten melirik senyum itu sejenak, sebelum kemudian kembali tertunduk. “Kapan kita akan bertemu?” “Setelah menyesuaikan jadwal Anda, pertemuannya dilaksanakan hari ini,” jawab sang asisten. Senyum Harris semakin lebar. Matanya pun pun ikut berbinar, “Hmm, menarik.”Mata Dion berbinar, kemudian dia menganggukkan kepalanya.“Sepertinya itu bagus,” kata Dion terdengar bersemangat. “Kalau seperti ini, aku mungkin bisa melakukannya dengan tenang.”Sarah tersenyum, “Ibu tahu kau seorang pekerja keras. Ibu juga berpikir, masuk melalui keluarga Wilson juga terlalu berlebihan.”Dion mengangguk setuju dengan penilaian ibunya. Apalagi keluarga besar termasuk sensitif dengan pergaulan mereka. Pasti dia akan dipertimbangkan jika ada di sana sebagai anak yang didaftarkan langsung oleh keluarga Wilson.“Kalau begitu kau bisa kembali sekarang,” ujar Sarah setelah melihat jam di dinding. “Pergilah makan atau langsung tidur saja. Ibu akan menyampaikannya langsung pada Tuan Haris.”Dion berkedip sejenak, lalu berkata. “Makan malam sudah lewat, Bu. Dan untuk memberitahu Tuan Haris, aku bisa melakukannya sendiri.”Sarah membeku di tempatnya. Dia memang melihat jam sudah malam, tapi lupa kalau itu juga berarti lewat dari jam makan malam biasanya.“Ibu pasti lupa lagi
"Apakah benar-benar sudah siap membicarakannya saat ini?" Pertanyaan Sarah membuat Dian mendongakkan kepalanya. Namun, itu tidak cukup untuk membuat Dion berani kembali membuka mulutnya. "Apa kau mau membicarakannya di dalam kamar ibu?" Dian tampak berpikir sejenak, tapi kemudian menyetujuinya dengan menganggukkan kepala. Sarah membuka pintu dengan lebih lebar, membiarkan Dion masuk. Setelah dia masuk dan duduk di kursi tepat di tempat ketika mereka baru saja mendapatkan kamar ini barulah Sarah memulai pembicaraan. "Apa kau sudah memikirkannya?" "Sebenarnya ada banyak yang aku pertimbangkan ibu." Sarah duduk di samping Dion yang hanya dipisahkan oleh meja kecil di tengah mereka. Sarah memandangi jendela kamar yang memancarkan sinar bulan dan juga bintang di langit malam. Sarah tiba-tiba berpikir, 'Apakah aku terlalu dini mengajari Dion tentang tanggung jawab?' Sarah teringat tentang Haris yang tadi siang mencoba menahannya agar mereka bisa berdiskusi tentang pert
Sarah tercengang di tempatnya. Dia bahkan merasa bahwa telinganya tidak menangkap apa yang dikatakan Haris dengan baik. "Kau belum pernah menikah?" tanya Sarah dengan raut wajah yang tidak percaya. Haris tertawa kecil, "Apa aku terlihat seperti seseorang yang memiliki keluarga?" Sarah tersenyum malu, "Aku hanya melihatmu bagus ketika berhadapan dengan putraku Jadi aku pikir kau sudah berkeluarga." "Aku juga berpikir kau memiliki putra yang sama dengan anakku sehingga kau bisa memberi arahan dengan baik." Haris mengambil cemilan tak jauh dari tempatnya. Dia tidak menyangkal dengan apa yang dikatakan oleh Sarah. "Bukankah semua orang bisa melakukan yang terbaik pada mereka yang lebih muda?" "Yah, itu memang bisa dilakukan semua orang," kata Sarah tampak berpikir sejenak. "Apa kau merasa canggung tinggal di sini karena mengira aku memiliki istri dan anak?" Sarah terlihat tenang dengan menyesap tehnya dengan santai. Namun, matanya tampak mencari-cari alasan untuk menja
“Aku akan menggantinya nanti,” kata Sarah mencoba menepis pembicaraan tentang barang lama. “Sebelum itu, bisakah aku bertanya beberapa hal?” Senyum tipis Haris terbentuk. Dia masih sangat tertarik berbicara dengan Sarah. “Silakan tanya apa saja.” “Pertanyaanku sebenarnya hanya tentang pertumbuhan anak-anak saja,” ujar Sarah agak canggung. “Kau terlihat seperti sudah berpengalaman dalam mengasuh anak. Jadi, aku–” Sarah bingung bagaimana cara menjelaskannya. Apalagi meminta nasehat seperti ini. Sampai di titik ini, Sarah tiba-tiba tersadar bahwa dia lancang saat ini. Jika dia berpikir bahwa Haris memiliki nasehat seputar anak, bukankah dia sudah memiliki keluarga? Beraninya dia meminta nasehat pada suami orang seperti ini! Haris mengangkat alisnya saat melihat Sarah yang mendadak diam menghentikan ucapannya sendiri. Namun, setelah menunggu beberapa saat, Sarah justru terlihat terkejut dan mengerutkan kening. Harris akhirnya tidak tahan dan bertanya, “Sarah, apa kau baik-baik sa
“Apakah benar yang diucapkan Tuan Haris, Dion?” Dion menggelengkan kepalanya pelan, “Aku hanya sedikit ragu.” Sarah menghela napas. Dia kemudian ikut duduk di gazebo di samping Dion. Sebelum mengatakan apapun pada putranya itu, Sarah lebih dulu berbicara dengan Harris. “Bukankah kau mengatakan hanya ada dua sekolah yang akan menjadi pilihan anakku?” Harris meminum kopinya dengan santai lalu menjawab, “Dion sudah berusia sepuluh tahun, kan? Aku rasa dia sudah waktunya belajar untuk menentukan sekolah seperti yang dia inginkan.” “Dion belum sedewasa itu untuk menentukan pilihan,” ujar Sarah sambil melirik ke arah Dion yang memainkan jari-jarinya. “Kalau kau memberinya begitu banyak pilihan, dia hanya akan menjadi bingung.” “Sepertinya kau tidak terlalu mengerti putramu, ya.” Sarah membeku, “Apa maksudmu?” “Kau sepertinya masih mengira bahwa putramu ini masih kecil. Namun, mungkin kau tidak sadar bahwa pengalamannya saat bersamamu yang hanya seorang ibu tungga, justru sudah memb
“Atau apakah Nona pemilik sebenarnya tempat ini?!” Sarah tersenyum canggung dengan pertanyaan antusias yang dilontarkan oleh sang sopir. Namun, belum sempat dia mengatakan apapun, sopir itu justru melanjutkan apa yang ingin dia utarakan. “Ya ampun … saya sungguh tidak menyangka akan bertemu pemilik rumah yang misterius setelah bertahun-tahun melewati jalan ini sambil mendengarkan rumornya.” “Apakah Anda tahu, mereka mungkin akan terkejut setengah mati jika tahu bahwa pemilik sebenarnya adalah seorang wanita!” Sarah menelan ludah mendengarnya. Ceritanya lebih dalam dari yang dia kira. Ketika dia akan meluruskan kesalahpahaman itu, sang sopir kembali berbicara. “Oh iya, sampai saat ini dirumorkan pemilik rumah belum memiliki pasangan. Sepertinya itu benar.” Sopir itu tersenyum lebar ke arah Sarah sambil berkata, “Kalau kau belum punya pasangan, apakah kau mau mempertimbangkan putraku? Putraku lulusan universitas nasional terbaik. Meskipun dia duda, pasti dia bisa menjadi pasangan







