Share

003 || Sepuluh Tahun?!

Author: Daralist
last update publish date: 2026-03-17 12:46:24

Sarah mendekati Devan yang tersenyum lebar ke arahnya. Saat jarak di antara mereka menipis, Sarah mulai mengerutkan kening saat menatap wajah Devan yang menampakkan mata panda yang parah.

“Apa yang terjadi denganmu?”

Pertanyaan Sarah itu membuat Devan sedikit tersedak. “Memangnya aku kenapa?”

Saat dia bertanya, tangannya juga meraba wajah serta mencium bau badannya sendiri.

“Aku tidak bau, kok,” katanya dengan bangga, mengira Sarah tidak nyaman dengan bau badannya.

Dia bahkan menyodorkan ketiaknya ke arah Sarah. “Nih, coba cium! Aku sudah mandi tadi. Kau pasti tidak–”

“Sudahlah, terserah kau saja,” potong Sarah dengan kesal.

Berbicara dengan Devan memang harus mendetail, tapi dia terlalu malas untuk melakukannya.

Devan mencebik tidak senang, “Kita sudah lama tidak bertemu, tapi kelakuanmu masih sama menyebalkan seperti dulu.”

Masih dengan wajah cemberut, matanya tanpa sadar melirik seorang anak kecil di samping Sarah yang menatapnya dalam diam.

Mata Devan berkedip penasaran dan curiga, “Anak siapa ini? Bagaimana mungkin kau membawanya ke sini? Kau tidak menculiknya, kan?!”

Sebelum Sarah sempat bereaksi, Devan malah semakin heboh.

“Kau tidak mungkin beralih profesi sebagai penculik–!”

Sarah bergegas maju dan menutup mulut Devan dengan kedua tangannya. Kepala Sarah menoleh kiri-kanan untuk melihat situasi, sebelum kemudian memandang Devan seraya menggertakkan gigi.

“Coba kau berteriak sambil menuduhku seperti yang kau pikirkan, aku akan menyeretmu ke dalam masalah yang kau pikirkan itu,” ancam Sarah.

Devan dengan panik mengangguk cepat sambil mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Baru kemudian Sarah melepaskan Devan.

Untung saja di sekitar mereka orang-orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, meskipun ada beberapa dari mereka sedikit mengintip ke arah mereka.

“Mari kita berbicara di tempat lain,” saran Sarah sambil membetulkan ransel yang miring di pundaknya.

Tangannya yang bebas meraih tangan Dion yang sejak tadi melihat interaksi ibunya dengan orang asing. Dion sedikit penasaran dengan hubungan keduanya. Ibunya tidak pernah menampilkan binar mata yang ceria saat menghadapi orang-orang seperti dia berbicara dengan pria tadi.

‘Apakah mereka memiliki hubungan yang dalam?’ pikir Dion dalam hati.

Jika Sarah mendengar isi hatinya, mungkin dia akan menunjukkan raut wajah kesal karena pemikirannya yang salah.

Devan kemudian menjadi pendiam. Atau lebih tepatnya banyak pertanyaan yang tidak mungkin diajukan saat mata Sarah memelototinya dengan ganas.

Jadi sepanjang perjalanan mereka di dalam mobil milik Devan, tidak ada satu pun yang membuka topik pembicaraan.

Baru setelah Sarah masuk ke apartemen yang sudah lama tidak ditinggali oleh Devan, pria itu mengunci pintu dengan keras dan banyak pertanyaan meluncur bagaikan air terjun dari mulutnya.

“Sarah, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau kembali ke permukaan? Kenapa kau membawa anak kecil? Tidak mungkin hal itu sederhana, kan? Bagaimana kau akan melanjutkan hidup jika mereka tahu kau tidak lagi bersembunyi?!”

Sarah melemparkan tas ransel di sofa, lalu duduk tak jauh dari sana. Dion diam-diam ikut duduk di samping ibunya.

“Orang-orang itu mengejarku lagi seperti sepuluh tahun yang lalu,” ujar Sarah menjelaskan singkat.

Kemudian Sarah menoleh sedikit ke arah Dion, lalu menatap mata penasaran Devan, “Ini Dion Dimitri, putraku.”

Devan terperanjat. Mulutnya terbuka lebar dengan tatapan tidak percaya yang jelas di wajahnya. Dia menunjuk Dion dengan tangan gemetar.

“Ba-bagaimana kau bisa punya anak saat pelarian?! Kau menikah saat masa kabur itu?!”

“Apa kau tidak lihat seberapa besar putraku saat ini?” balas Sarah jengkel. “Jika aku menikah saat dalam masa persembunyian itu, mana mungkin dia sebesar ini.”

Devan merasa itu masuk akal, lalu bertanya pelan ke arah Dion, “Jadi … berapa usiamu?”

“Sepuluh tahun,” jawab Dion singkat.

“Oh … sepuluh tahun ternyata,” kata Devan sambil menganggukkan kepala penuh pengertian.

Tidak sampai dua detik, suara pekikan nyaring dari tenggorokan Devan memenuhi seluruh apartemen.

“Sepuluh tahun?! Kenapa bisa usiamu sepuluh tahun?!”

Dion sebagai objek teriakan itu menutup telinganya. Dia tidak menyangka pria yang seperti teman akrab ibunya itu akan berteriak heboh seperti tukang gosip di lingkungannya.

Sarah pun memejamkan mata karena malu dan merasa jengkel. Namun, Sarah tidak mau ambil pusing. Kejadian hari ini harus diselesaikan secepatnya.

“Bersisik sekali,” kesal Sarah. “Aku ke sini tidak membahas hal itu. Kau harus menyelidiki orang yang menyewa preman itu untuk mengejarku.”

“Aku rasa mereka akan datang lagi dalam waktu dekat.”

Devan masih dalam keterkejutannya, tapi tetap bertanya, “Kau dikejar preman? Kenapa tidak bilang padaku dari tadi?”

Sarah tidak menjawab, tapi berkata, “Preman itu memiliki tato yang sama seperti milik keluarga konglomerat yang dulu aku runtuhkan.”

Saat pelarian sebelumnya, Sarah melihat sekilas tato di lengan para preman itu.

“Tidak mungkin mereka masih mencarimu, kan? Mereka terlalu banyak mengambil perhatian saat itu, tidak mungkin pulih hanya dalam sepuluh tahun dan langsung balas dendam padamu.”

“Itulah yang aku pikirkan,” balas Sarah. “Jadi aku menghubungimu untuk menyelidiki itu.”

Mata Devan berbinar terang, “Apakah kamu akan kembali ke pekerjaanmu?! Aku sudah lama memimpikan ini!”

Sarah menatap Devan dengan risih, “Tidak perlu heboh begitu, lakukan saja tugasmu.”

“Lalu kau juga harus mencarikan ku tempat tinggal untukku dan putraku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   043. || Sepupu Direktur

    Senyum Sarah membeku sejenak. Namun, sebagai rekan kerja yang baik sebelumnya, Sarah mencoba untuk mempertahankan senyum dengan bijak.“Jika saya mempunyai kemampuan, saya akan mencoba untuk membantu.”Clara memperhatikan Sarah dalam diam lalu berkata, “Bisakah kita bekerja sama kembali?”Sarah hendak menjawab, tetapi Clara sudah lebih dulu mengungkapkan apa yang ingin dia katakan.“Sepupu Direktur Utama kami sedang mencari seseorang yang bisa membaca saham. Dia berniat berinvestasi pada kenalannya, tetapi ingin mengetahui dengan cepat apakah dia bisa mendapatkan keuntungan?”“Saya akan berterima kasih jika Anda mau mempertimbangkannya dulu,” lanjut Clara dengan memainkan simpati diakhir pembicaraannya.Sarah bahkan terdiam karena lupa tentang apa yang ingin dia sampaikan sebelumnya. Namun, jelas mereka tidak mungkin meminta tanpa ada rencana lebih dulu.Sarah membatin, ‘Apakah mereka memakai sepupu Direktur untuk membalas dendam padaku?’Wajar jika Sarah berpikir demikian. Sebab sebe

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   042. || Tawaran

    “Aku ingin wanita di samping Haris itu ada di sisiku.”Mira mematung sejenak, tapi kemudian menatap Rogan dengan wajah tidak percaya.“Apa kau sedang bicara omong kosong sekarang denganku?” tanya Mira dengan wajah bingung dan tidak percaya. “Apa kau berniat merebut wanita itu dari Haris Wilson?”Rogan mengerutkan kening dan berbicara dingin, “Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak sebodoh itu.”Mira akhirnya bernapas lega dan menyandarkan punggungnya dengan santai ke sofa. Dia bahkan sempat tertawa kecil.“Aku pikir kau mengejarnya untuk dijadikan istri. Apalagi mengingat kau memiliki beberapa anak haram.”Setelah mengatakan itu, Mira entah sengaja atau tidak melirik sekilas ke arah Clara yang berdiri diam tanpa menyela sejak tadi.“Orang-orang itu tidak ada yang berguna sama sekali,” hina Rogan tanpa menahan diri.Mira hanya tersenyum sinis tanpa simpati. Rogan tetaplah Rogan. Dia manusia yang menganggap semua orang adalah barang. Termasuk darah dagingnya sendiri.Mira tahu itu sifat

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   041. || Meminta Bantuan

    Pintu terbuka dan masuklah dua orang wanita ke dalamnya. “Saya datang sesuai dengan apa yang Anda perintahkan.”Jelas yang berbicara adalah Clara, sang sekretaris pribadi Rogan yang penurut. Setelah berkata demikian, dia hanya menundukkan kepalanya dan menunggu Tigan berbicara.Sayangnya, sebelum Rogan sempat mengeluarkan kata-katanya, wanita kedua yang berpakaian glamor dengan riasan wajah yang hidup itu malah cemberut dan protes lebih dulu.“Apa ini Rogan?” kesal wanita itu tanpa ditahan. “Padahal kau bisa bicara melalui panggilan jika ada keperluan. Apakah sampai harus mengundangku kemari juga?”Rogan menyandarkan punggungnya dengan santai ke sandaran kursi. Matanya menatap dingin pada wanita yang merupakan anggota keluarga Durant, sepupu dekatnya–Mira Durant.“Apa kau masih tidak belajar sopan santun setelah bercerai dengan mantan suamimu?”Mira mengerutkan kening saat dia sudah duduk dengan nyaman di kursi tamu, “Jangan membicarakan sesuatu yang buruk padaku Rogan.”“Kalau kau t

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   040. || Melewati Batas

    Sarah merapikan rambutnya sedikit sambil menjawab, “Itu sudah aku pertimbangkan sebelumnya. Jadi kau tenang saja.”“Apakah sekarang kau akan membiarkannya?” tanya Haris. “Aku kira kau akan menjelaskan kepergianmu padanya.”“Kau yang bilang jika Dion sudah dewasa sebelumnya, kan? Dia juga sudah bisa memilih apa yang dia inginkan. Ini lah caraku untuk mengakui kemandiriannya yang terlalu dini.”Senyum Sarah yang anggun terbentuk di bibirnya. Pandangannya tidak goyah saat Haris mencari setitik keraguan ketika wanita itu mengatakan kalimat itu dengan biasa.“JIka tidak ada yang dibicarakan lagi, saya akan–”“Dion sempat mengamuk di rumah.”Perkataan Haris sukses membuat senyum Sarah membeku dan keningnya tanpa sadar berkerut.“Itu tidak mungkin, kan?” ujar Sarah tidak percaya. “Dion tidak akan bereaksi keras begitu.”“Dia tidak mengamuk seperti yang kau bayangkan. DIa hanya mogok makan dan mengurung diri di kamar untuk belajar tanpa kenal waktu.’Sarah mencoba menekan kekhawatirannya, “Bu

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   039. || Kapan Aku Mendapat Gaji?

    Rogan yang kini menjadi fokus utama hanya meminum anggurnya dengan tenang dan berkata, “Ini merupakan kehormatanku bertemu dengan sosok terkenal di masa lalu.”Maja mungkin aku tidak merasa antusias. Aku pasti akan berbagi bahagia dengan yang lain. Ya, kan Nyonya Chana?”“Tentu saja!” balas Nyonya Chana penuh semangat. “Nona Sarah sangat berdedikasi untuk mencari dana untuk yayasan yang baru saja didirikan. Bagaimana mungkin kami tidak saling berbagi kebahagiaan pada hal seperti itu.”“Wah, disanjung orang terkenal seperti kalian membuatku sangat terharu,” ujar Sarah sambil mengusap ujung matanya yang tidak basah.Meski Sarah tampak akrab dan menerima segala perlakuan Rogan dan juga Chana, Sarah tetap lah waspada. Dia tidak akan mempercayai siapapun disaat seperti ini.Memangnya siapa yang suka membuang uang untuk yayasan palsu? Terutama Nyonya Chana, Sarah tidak akan menjadikannya teman meski dia seceria itu. Sebab wanita adalah orang yang ditunjuk langsung oleh Rogan.Haris meminum

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   038. || Satu Meja

    Haris mengikuti pemandu acara untuk memasuki ruang acara. Saat dia masuk ke dalam ruangan yang sudah ditentukan, hampir semua orang melihat ke arahnya. Sangat jelas dari raut wajah mereka, mereka tidak mengira adanya anggota keluarga Wilson yag menghadiri acara seperti ini. “Hei, bukankah itu anak kedua dari Tuan Sadam Wilson?” “Tentu saja itu dia!” balas seseorang. “Siapa lagi orang tinggi yang cocok dan senang memakai mantel hitam panjang itu? Dia adalah anak kedua sekaligus pengacara keluarga Wilson–Haris Wilson!” Haris tidak tahu betapa heboh orang-orang berbisik tentang dirinya di belakangnya. Meskipun dia tahu, dia tidak akan menghentikan mereka. Toh, semua ini karena pengaruh keluarganya di dunia politik. Keluarga Wilson sangat aktif di dunia politik dan jarang tampil di muka umum. Kehadirannya pada acara yang memiliki banyak kamera di berbagai sudut membuat orang-orang di acara ini terkejut. Sebab mereka hanya akan muncul jika benar-benar diperlukan. Haris mengangguk p

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   028 || Persetujuan

    Bukannya Sarah tidak mendengar apa yang dikatakan. Namun, dia takut pendengarannya salah. Si pria dengan jenggot tipis itu tidak marah. Dia hanya tersenyum dan menjawab tenang, “Saya bilang, di mana saya harus tanda tangan untuk rencana yang kau susun itu?” Baru pada saat itulah Sarah tersadar bu

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   020 || Pulang Lebih Cepat

    “Atau apakah Nona pemilik sebenarnya tempat ini?!” Sarah tersenyum canggung dengan pertanyaan antusias yang dilontarkan oleh sang sopir. Namun, belum sempat dia mengatakan apapun, sopir itu justru melanjutkan apa yang ingin dia utarakan. “Ya ampun … saya sungguh tidak menyangka akan bertemu pemil

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   008 || Rekam Jejak

    "Meskipun mereka hanya melihat dari jauh, keterlibatan mereka dengan keluarga yang aku jatuhkan dulu pasti sempat membuat mereka menderita." "Tapi tetap saja—" Devan seperti kehilangan kata-kata. Sebelum Sarah bersembunyi, dia memang menjatuhkan rahasia sebuah keluarga besar di masa lalu. Apala

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   007 || Kau Gila?!

    Dion mengerutkan kening mendengar jawaban ibunya, “Ibu yakin aku bisa bersekolah seperti biasa?”Sarah bisa merasakan ketidaknyamanan dari nada suara Dion. Memiliki anak yang bisa berbagi perasaan khawatir seperti ini sungguh melegakan, tapi juga mengkhawatirkan. Tidak seharusnya anak sekecil itu b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status