LOGINMata Dion berbinar, kemudian dia menganggukkan kepalanya.“Sepertinya itu bagus,” kata Dion terdengar bersemangat. “Kalau seperti ini, aku mungkin bisa melakukannya dengan tenang.”Sarah tersenyum, “Ibu tahu kau seorang pekerja keras. Ibu juga berpikir, masuk melalui keluarga Wilson juga terlalu berlebihan.”Dion mengangguk setuju dengan penilaian ibunya. Apalagi keluarga besar termasuk sensitif dengan pergaulan mereka. Pasti dia akan dipertimbangkan jika ada di sana sebagai anak yang didaftarkan langsung oleh keluarga Wilson.“Kalau begitu kau bisa kembali sekarang,” ujar Sarah setelah melihat jam di dinding. “Pergilah makan atau langsung tidur saja. Ibu akan menyampaikannya langsung pada Tuan Haris.”Dion berkedip sejenak, lalu berkata. “Makan malam sudah lewat, Bu. Dan untuk memberitahu Tuan Haris, aku bisa melakukannya sendiri.”Sarah membeku di tempatnya. Dia memang melihat jam sudah malam, tapi lupa kalau itu juga berarti lewat dari jam makan malam biasanya.“Ibu pasti lupa lagi
"Apakah benar-benar sudah siap membicarakannya saat ini?" Pertanyaan Sarah membuat Dian mendongakkan kepalanya. Namun, itu tidak cukup untuk membuat Dion berani kembali membuka mulutnya. "Apa kau mau membicarakannya di dalam kamar ibu?" Dian tampak berpikir sejenak, tapi kemudian menyetujuinya dengan menganggukkan kepala. Sarah membuka pintu dengan lebih lebar, membiarkan Dion masuk. Setelah dia masuk dan duduk di kursi tepat di tempat ketika mereka baru saja mendapatkan kamar ini barulah Sarah memulai pembicaraan. "Apa kau sudah memikirkannya?" "Sebenarnya ada banyak yang aku pertimbangkan ibu." Sarah duduk di samping Dion yang hanya dipisahkan oleh meja kecil di tengah mereka. Sarah memandangi jendela kamar yang memancarkan sinar bulan dan juga bintang di langit malam. Sarah tiba-tiba berpikir, 'Apakah aku terlalu dini mengajari Dion tentang tanggung jawab?' Sarah teringat tentang Haris yang tadi siang mencoba menahannya agar mereka bisa berdiskusi tentang pert
Sarah tercengang di tempatnya. Dia bahkan merasa bahwa telinganya tidak menangkap apa yang dikatakan Haris dengan baik. "Kau belum pernah menikah?" tanya Sarah dengan raut wajah yang tidak percaya. Haris tertawa kecil, "Apa aku terlihat seperti seseorang yang memiliki keluarga?" Sarah tersenyum malu, "Aku hanya melihatmu bagus ketika berhadapan dengan putraku Jadi aku pikir kau sudah berkeluarga." "Aku juga berpikir kau memiliki putra yang sama dengan anakku sehingga kau bisa memberi arahan dengan baik." Haris mengambil cemilan tak jauh dari tempatnya. Dia tidak menyangkal dengan apa yang dikatakan oleh Sarah. "Bukankah semua orang bisa melakukan yang terbaik pada mereka yang lebih muda?" "Yah, itu memang bisa dilakukan semua orang," kata Sarah tampak berpikir sejenak. "Apa kau merasa canggung tinggal di sini karena mengira aku memiliki istri dan anak?" Sarah terlihat tenang dengan menyesap tehnya dengan santai. Namun, matanya tampak mencari-cari alasan untuk menja
“Aku akan menggantinya nanti,” kata Sarah mencoba menepis pembicaraan tentang barang lama. “Sebelum itu, bisakah aku bertanya beberapa hal?” Senyum tipis Haris terbentuk. Dia masih sangat tertarik berbicara dengan Sarah. “Silakan tanya apa saja.” “Pertanyaanku sebenarnya hanya tentang pertumbuhan anak-anak saja,” ujar Sarah agak canggung. “Kau terlihat seperti sudah berpengalaman dalam mengasuh anak. Jadi, aku–” Sarah bingung bagaimana cara menjelaskannya. Apalagi meminta nasehat seperti ini. Sampai di titik ini, Sarah tiba-tiba tersadar bahwa dia lancang saat ini. Jika dia berpikir bahwa Haris memiliki nasehat seputar anak, bukankah dia sudah memiliki keluarga? Beraninya dia meminta nasehat pada suami orang seperti ini! Haris mengangkat alisnya saat melihat Sarah yang mendadak diam menghentikan ucapannya sendiri. Namun, setelah menunggu beberapa saat, Sarah justru terlihat terkejut dan mengerutkan kening. Harris akhirnya tidak tahan dan bertanya, “Sarah, apa kau baik-baik sa
“Apakah benar yang diucapkan Tuan Haris, Dion?” Dion menggelengkan kepalanya pelan, “Aku hanya sedikit ragu.” Sarah menghela napas. Dia kemudian ikut duduk di gazebo di samping Dion. Sebelum mengatakan apapun pada putranya itu, Sarah lebih dulu berbicara dengan Harris. “Bukankah kau mengatakan hanya ada dua sekolah yang akan menjadi pilihan anakku?” Harris meminum kopinya dengan santai lalu menjawab, “Dion sudah berusia sepuluh tahun, kan? Aku rasa dia sudah waktunya belajar untuk menentukan sekolah seperti yang dia inginkan.” “Dion belum sedewasa itu untuk menentukan pilihan,” ujar Sarah sambil melirik ke arah Dion yang memainkan jari-jarinya. “Kalau kau memberinya begitu banyak pilihan, dia hanya akan menjadi bingung.” “Sepertinya kau tidak terlalu mengerti putramu, ya.” Sarah membeku, “Apa maksudmu?” “Kau sepertinya masih mengira bahwa putramu ini masih kecil. Namun, mungkin kau tidak sadar bahwa pengalamannya saat bersamamu yang hanya seorang ibu tungga, justru sudah memb
“Atau apakah Nona pemilik sebenarnya tempat ini?!” Sarah tersenyum canggung dengan pertanyaan antusias yang dilontarkan oleh sang sopir. Namun, belum sempat dia mengatakan apapun, sopir itu justru melanjutkan apa yang ingin dia utarakan. “Ya ampun … saya sungguh tidak menyangka akan bertemu pemilik rumah yang misterius setelah bertahun-tahun melewati jalan ini sambil mendengarkan rumornya.” “Apakah Anda tahu, mereka mungkin akan terkejut setengah mati jika tahu bahwa pemilik sebenarnya adalah seorang wanita!” Sarah menelan ludah mendengarnya. Ceritanya lebih dalam dari yang dia kira. Ketika dia akan meluruskan kesalahpahaman itu, sang sopir kembali berbicara. “Oh iya, sampai saat ini dirumorkan pemilik rumah belum memiliki pasangan. Sepertinya itu benar.” Sopir itu tersenyum lebar ke arah Sarah sambil berkata, “Kalau kau belum punya pasangan, apakah kau mau mempertimbangkan putraku? Putraku lulusan universitas nasional terbaik. Meskipun dia duda, pasti dia bisa menjadi pasangan







