MasukSarah duduk diam tanpa melirik sedikit pun ruang tamu yang akan menjadi saksi untuk mendapatkan kontraknya nanti. Dia lebih memilih untuk berpikir bagaimana cara untuk bisa mendapatkan kontrak dengan syarat tambahan yang nantinya akan dia ajukan.
Melihat ibunya sebagai contoh, Dion juga diam di sampingnya. Hanya sesekali meminum minuman dan makanan yang tersaji di meja di depannya. Walaupun dia ingin sekali melihat sekeliling ruangan yang berada di lantai atas gedung tinggi. Ketika waktu terus mengalir tanpa tahu berapa lama, barulah Sarah mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dua orang memakai jas datang ke arahnya. Ketika Sarah mendongak, matanya yang hitam langsung bertemu pandang dengan mata biru terang yang memikat. Untuk sesaat, Sarah nyaris kehilangan ketenangannya. “Halo, apakah ini Nona Sarah?” tanya Harris sambil mengulurkan tangan sebagai sambutan. Sarah berdiri dan meraih tangan yang terasa dingin itu, “Ya, ini saya. Senang bertemu dengan Anda.” “Senang bertemu dengan Anda juga,” balas Harris dengan senyumnya. “Saya adalah pengacara sekaligus perwakilan dari keluarga Wilson untuk membahas kontrak lebih lanjut.” Harris kemudian mempersilakan Sarah untuk duduk setelah dia mengambil posisinya. “Bagaimana kalau kita langsung ke intinya saja. Sepertinya Anda adalah orang yang sibuk,” kata Sarah memulai percakapan lebih dulu. Harris mengangkat alisnya sedikit. Justru Sarah yang terasa seperti orang sibuk di matanya. Padahal dia sudah berniat menahan diri untuk menghadapinya karena dia seorang wanita. Harris terbiasa menghadapi wanita yang terpesona dengannya. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang terburu-buru seperti ini. “Jika kau berkata demikian, aku akan langsung ke intinya saja,” kata Harris sambil tersenyum. Menghadapi wanita ini lebih menarik baginya. Harris kemudian mengambil dokumen yang dipegang oleh asistennya dan meletakkan di atas meja. “Saya sudah meninjaunya berulang kali. Saya harap itu dapat memuaskan kedua belah pihak.” Sarah mengabaikan ucapan ramah yang diberikan oleh Harris kepadanya. Dia hanya fokus melihat dokumen kontrak yang akan dia tangani segera. Harris semakin tertarik dengan sosok Sarah ini. Jarang ada yang memiliki ketenangan seperti itu saat berhadapan dengannya. Harris memiringkan kepalanya sedikit, menebak-nebak perilaku Sarah dengan tertarik. Saat itulah Harris merasa ada yang memperhatikannya. Ketika dia menoleh, sepasang mata abu-abu menatapnya tanpa mengalihkan pandangan sama sekali. Baru saat itulah Harris menyadari ada seorang anak yang duduk di samping Sarah dalam diam sejak tadi. Belum sempat Harris berbicara, Sarah terbatuk untuk mengembalikan fokusnya. “Saya sudah membaca semuanya,” ujar Sarah sambil meletakkan kembali dokumen itu. Matanya tertuju langsung pada Harris. “Saya tidak akan melebihkan kemampuan saya, tapi saya yakin keluarga Anda pasti tahu seberapa mampu saya untuk menangani hal ini,” lanjut Sarah. “Jadi, saya hanya meminta syarat tambahan sedikit.” Harris menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan tenang, “Kami memang mendengar kemampuan hebat Anda, tapi bukan berarti permintaan bisa diberikan ketika Anda bahkan belum melaksanakan permintaan kami.” Sarah mengerutkan kening mendengarnya. Dia kira mereka menawarkan royalti besar karena mengetahui kemampuannya. Namun sekarang, rasanya orang yang ada di hadapannya ini justru sedang menilainya. Bahkan sang asisten yang memantau perkembangan mereka pun melotot ke arah Harris. Keluarga Wilson butuh jasa Sarah secepat mungkin. Seberapa besar tambahan biaya pun tidaklah sulit untuk ditangani. Kenapa anak kedua dari tiga bersaudara keluarga Wilson ini malah membuat semuanya rumit? “Jika Anda keberatan, saya juga tidak bisa mengatakannya lebih lanjut,” ucap Sarah tanpa kehilangan ketenangan sama sekali. Seolah dia tidak membutuhkan pekerjaan ini. Harris juga tidak menyangka Sarah akan bertindak tegas tanpa negosiasi lebih dulu. “Saya hanya mempertimbangkannya jika alasan Anda masuk akal. Apakah Anda akan bersikap seperti ini sangat awal?” Sarah tersenyum dan menjawab, “Jika klien dari awal sudah memiliki keraguan, tidak ada alasan bagi saya untuk melanjutkan pembicaraan.” Sarah kemudian bangkit tanpa aba-aba. Dia juga menggenggam tangan Dion secara refleks. “Kalau begitu saya bisa pamit undur diri,” ujar Sarah bersiap pergi sambil tersenyum. Harris yang selama ini tidak pernah mendapat penolakan tegas seperti itu akhirnya tertegun. Belum pernah ada yang pergi dari hadapannya lebih dulu seperti ini. Sarah adalah orang pertama yang berani melakukan hal ini di depannya. Bahkan asisten di belakang Harris pun mulai bereaksi. “Nona Sarah, tolong tunggu–” “Kalau begitu mari kita dengarkan kondisimu lebih dulu,” kata Harris memotong panggilan sang asisten yang putus asa. Sarah menoleh sedikit lalu berkata, “Tidak perlu merepotkan Anda. Saya takut permintaan saya terlalu berlebihan.” Sebelum Sarah mengambil keputusan tegas berikutnya untuk meninggalkan tempat ini, Harris lebih dulu berdiri dan menghampiri Sarah.Senyum Sarah membeku sejenak. Namun, sebagai rekan kerja yang baik sebelumnya, Sarah mencoba untuk mempertahankan senyum dengan bijak.“Jika saya mempunyai kemampuan, saya akan mencoba untuk membantu.”Clara memperhatikan Sarah dalam diam lalu berkata, “Bisakah kita bekerja sama kembali?”Sarah hendak menjawab, tetapi Clara sudah lebih dulu mengungkapkan apa yang ingin dia katakan.“Sepupu Direktur Utama kami sedang mencari seseorang yang bisa membaca saham. Dia berniat berinvestasi pada kenalannya, tetapi ingin mengetahui dengan cepat apakah dia bisa mendapatkan keuntungan?”“Saya akan berterima kasih jika Anda mau mempertimbangkannya dulu,” lanjut Clara dengan memainkan simpati diakhir pembicaraannya.Sarah bahkan terdiam karena lupa tentang apa yang ingin dia sampaikan sebelumnya. Namun, jelas mereka tidak mungkin meminta tanpa ada rencana lebih dulu.Sarah membatin, ‘Apakah mereka memakai sepupu Direktur untuk membalas dendam padaku?’Wajar jika Sarah berpikir demikian. Sebab sebe
“Aku ingin wanita di samping Haris itu ada di sisiku.”Mira mematung sejenak, tapi kemudian menatap Rogan dengan wajah tidak percaya.“Apa kau sedang bicara omong kosong sekarang denganku?” tanya Mira dengan wajah bingung dan tidak percaya. “Apa kau berniat merebut wanita itu dari Haris Wilson?”Rogan mengerutkan kening dan berbicara dingin, “Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak sebodoh itu.”Mira akhirnya bernapas lega dan menyandarkan punggungnya dengan santai ke sofa. Dia bahkan sempat tertawa kecil.“Aku pikir kau mengejarnya untuk dijadikan istri. Apalagi mengingat kau memiliki beberapa anak haram.”Setelah mengatakan itu, Mira entah sengaja atau tidak melirik sekilas ke arah Clara yang berdiri diam tanpa menyela sejak tadi.“Orang-orang itu tidak ada yang berguna sama sekali,” hina Rogan tanpa menahan diri.Mira hanya tersenyum sinis tanpa simpati. Rogan tetaplah Rogan. Dia manusia yang menganggap semua orang adalah barang. Termasuk darah dagingnya sendiri.Mira tahu itu sifat
Pintu terbuka dan masuklah dua orang wanita ke dalamnya. “Saya datang sesuai dengan apa yang Anda perintahkan.”Jelas yang berbicara adalah Clara, sang sekretaris pribadi Rogan yang penurut. Setelah berkata demikian, dia hanya menundukkan kepalanya dan menunggu Tigan berbicara.Sayangnya, sebelum Rogan sempat mengeluarkan kata-katanya, wanita kedua yang berpakaian glamor dengan riasan wajah yang hidup itu malah cemberut dan protes lebih dulu.“Apa ini Rogan?” kesal wanita itu tanpa ditahan. “Padahal kau bisa bicara melalui panggilan jika ada keperluan. Apakah sampai harus mengundangku kemari juga?”Rogan menyandarkan punggungnya dengan santai ke sandaran kursi. Matanya menatap dingin pada wanita yang merupakan anggota keluarga Durant, sepupu dekatnya–Mira Durant.“Apa kau masih tidak belajar sopan santun setelah bercerai dengan mantan suamimu?”Mira mengerutkan kening saat dia sudah duduk dengan nyaman di kursi tamu, “Jangan membicarakan sesuatu yang buruk padaku Rogan.”“Kalau kau t
Sarah merapikan rambutnya sedikit sambil menjawab, “Itu sudah aku pertimbangkan sebelumnya. Jadi kau tenang saja.”“Apakah sekarang kau akan membiarkannya?” tanya Haris. “Aku kira kau akan menjelaskan kepergianmu padanya.”“Kau yang bilang jika Dion sudah dewasa sebelumnya, kan? Dia juga sudah bisa memilih apa yang dia inginkan. Ini lah caraku untuk mengakui kemandiriannya yang terlalu dini.”Senyum Sarah yang anggun terbentuk di bibirnya. Pandangannya tidak goyah saat Haris mencari setitik keraguan ketika wanita itu mengatakan kalimat itu dengan biasa.“JIka tidak ada yang dibicarakan lagi, saya akan–”“Dion sempat mengamuk di rumah.”Perkataan Haris sukses membuat senyum Sarah membeku dan keningnya tanpa sadar berkerut.“Itu tidak mungkin, kan?” ujar Sarah tidak percaya. “Dion tidak akan bereaksi keras begitu.”“Dia tidak mengamuk seperti yang kau bayangkan. DIa hanya mogok makan dan mengurung diri di kamar untuk belajar tanpa kenal waktu.’Sarah mencoba menekan kekhawatirannya, “Bu
Rogan yang kini menjadi fokus utama hanya meminum anggurnya dengan tenang dan berkata, “Ini merupakan kehormatanku bertemu dengan sosok terkenal di masa lalu.”Maja mungkin aku tidak merasa antusias. Aku pasti akan berbagi bahagia dengan yang lain. Ya, kan Nyonya Chana?”“Tentu saja!” balas Nyonya Chana penuh semangat. “Nona Sarah sangat berdedikasi untuk mencari dana untuk yayasan yang baru saja didirikan. Bagaimana mungkin kami tidak saling berbagi kebahagiaan pada hal seperti itu.”“Wah, disanjung orang terkenal seperti kalian membuatku sangat terharu,” ujar Sarah sambil mengusap ujung matanya yang tidak basah.Meski Sarah tampak akrab dan menerima segala perlakuan Rogan dan juga Chana, Sarah tetap lah waspada. Dia tidak akan mempercayai siapapun disaat seperti ini.Memangnya siapa yang suka membuang uang untuk yayasan palsu? Terutama Nyonya Chana, Sarah tidak akan menjadikannya teman meski dia seceria itu. Sebab wanita adalah orang yang ditunjuk langsung oleh Rogan.Haris meminum
Haris mengikuti pemandu acara untuk memasuki ruang acara. Saat dia masuk ke dalam ruangan yang sudah ditentukan, hampir semua orang melihat ke arahnya. Sangat jelas dari raut wajah mereka, mereka tidak mengira adanya anggota keluarga Wilson yag menghadiri acara seperti ini. “Hei, bukankah itu anak kedua dari Tuan Sadam Wilson?” “Tentu saja itu dia!” balas seseorang. “Siapa lagi orang tinggi yang cocok dan senang memakai mantel hitam panjang itu? Dia adalah anak kedua sekaligus pengacara keluarga Wilson–Haris Wilson!” Haris tidak tahu betapa heboh orang-orang berbisik tentang dirinya di belakangnya. Meskipun dia tahu, dia tidak akan menghentikan mereka. Toh, semua ini karena pengaruh keluarganya di dunia politik. Keluarga Wilson sangat aktif di dunia politik dan jarang tampil di muka umum. Kehadirannya pada acara yang memiliki banyak kamera di berbagai sudut membuat orang-orang di acara ini terkejut. Sebab mereka hanya akan muncul jika benar-benar diperlukan. Haris mengangguk p
“Kau tidak tahu tentang ini sama sekali?”Pertanyaan dengan nada rendah dan dingin itu membuat pria berjenggot tipis yang harus menjawab itu berkeringat dingin. Dia sebenarnya bisa saja menjawab, tapi sudah pasti jawabannya tidak akan diterima oleh yang bersangkutan.“Kau tidak mau menjawab?”Rogan
“Kenapa kau bersikap terkejut begitu? Seharusnya kau sudah tahu konsekuensinya jika menampung kami di sini, kan?” Sarah memiringkan kepalanya sedikit, “Padahal aku sudah berbaik hati untuk meminta tempat tinggal tanpa syarat apapun. Seharusnya kau memberiku tempat tinggal terpisah dan meletakkan k
“Ayo lari Dion!”Sarah menarik Dion yang mematung ketakutan saat melihat para preman itu berteriak ke arah mereka.Kejar-kejaran pun tidak bisa terelakkan. Tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang penasaran, mereka menerobos kerumunan dengan panik. Bahkan beberapa kali mereka nyaris tertabrak mo
“Apa yang kau lakukan di sana?”Pertanyaan itu membuat seorang anak laki-laki dengan perawakan sekitar 10 tahun itu tersentak. Dengan sedikit ragu, dia berbalik.Anak itu kemudian berbisik lirih dengan kepala tertunduk, “Ibu ….”Sarah mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Dion bertingkah seperti it







