Share

007 || Kau Gila?!

Penulis: Daralist
last update Tanggal publikasi: 2026-03-17 12:50:26

Dion mengerutkan kening mendengar jawaban ibunya, “Ibu yakin aku bisa bersekolah seperti biasa?”

Sarah bisa merasakan ketidaknyamanan dari nada suara Dion. Memiliki anak yang bisa berbagi perasaan khawatir seperti ini sungguh melegakan, tapi juga mengkhawatirkan. Tidak seharusnya anak sekecil itu berbicara penuh kekhawatiran seperti orang dewasa.

Sarah duduk di sofa ruang tamu untuk melepas, lalu berkata, “Ibu sudah mengatakannya sebelumnya, kan?”

“Pekerjaan ibu memang beresiko tinggi. Jadi, permintaan ibu pada klien sebelumnya itu bisa diterima. Keluarga mereka juga terkenal memegang kata-katanya, jadi kamu tidak perlu khawatir.”

“Bukan itu yang kumaksud.”

Dion menundukkan kepala, “Justru karena pekerjaan ibu beresiko, apakah nantinya kita akan mengalami hal seperti sebelumnya?”

Sarah memandangi Dion yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. Entah pahala apa yang dia miliki sebelumnya sampai bisa mendapatkan anak yang berbakti seperti ini. Dion sangat pengertian.

Sarah menjadi merasa bersalah telah menyeret anak kecil ini ke dalam resiko kehidupannya sendiri.

Apakah dia salah telah mempertahankan anak ini alih-alih membuangnya sejak dulu?

Sarah mengernyit sejenak. Pikirannya mulai kacau sekarang.

“Seberapa ragu dirimu dengan keputusan yang ibu ambil sekarang Dion?” tanya Sarah membuat Dion tersentak. “Kamu tahu kita sudah menjalani hidup seperti ini sepuluh tahun. Justru itulah ibu mengambil resiko ini agar kita bisa menetap sepenuhnya.”

“Jika kita memilih keputusan yang lain dari ini. Ibu tidak akan yakin bagaimana bersikap ke depannya.”

Mata Sarah sedikit satu saat dia berkata, “Karena hanya inilah yang bisa ibu lakukan untuk keadaan kita saat ini.”

Setelah percakapan yang entah bagaimana berakhir dengan keheningan, Sarah kembali fokus dengan apa yang harus dia kerjakan.

Meskipun Sarah menganggap Dion masih kecil, tapi pendapat anak itu sendiri juga bisa dia pertimbangkan. Jika Dion merasa tidak nyaman di masa depan, dia bisa mengatur semuanya kembali ke awal bagaimana anak itu menjalani hidupnya.

“Kau berhasil menandatangani kontrak itu? Jadi kau serius melakukan pekerjaan ini?!”

Sarah berdecak tidak senang dengan keributan yang diciptakan oleh Devan sekarang.

Saat ini Sarah sedang berada di apartemen tempat tinggal Devan. Dia masih baru menginjakkan kaki setelah sepuluh tahun tidak bergerak di bidang ini. Jadi sudah pasti ada perubahan yang tidak dia mengerti.

Maka dari itu, Sarah menceritakan semuanya kepada Devan tentang pertemuannya dengan pengacara dari keluarga Wilson sebelumnya, untuk meminta pendapat Devan.

“Aku tidak terkejut kalau kau bisa mendapatkannya, tapi permintaan mereka memang agak besar, ya,” kata Devan setelah melihat salinan kontrak yang diberikan Sarah.

Devan menghela napas lelah, “Terserah kau sajalah. Kalau aku jadi kau, keputusan ini terlalu besar aku tanggung meski royaltinya juga besar.”

“Tapi itu memang sepadan dengan kemampuanmu.”

“Aku juga berencana mengambil pekerjaan lain selain dari mereka,” kata Sarah mendadak.

Devan pun ikut mendadak kaku.

“Apa maksudmu?”

“Keluarga mereka menyuruhku untuk diam sementara mereka menyiapkan apa yang perlu disiapkan sebelum aku bergerak. Jadi, aku akan mengambil pekerjaan lain selama masa diam itu.”

Sarah kemudian mengangkat kedua bahunya dengan santai. “Ini juga agar aku terlihat sibuk dan mendapat dukungan dari beberapa kalangan pihak atas sana.”

“Kau gila?” pekik Devan. “Menerima satu saja dari keluarga Wilson sudah merepotkan, kau malah mau menambah pekerjaan lainnya?!”

“Mau bagaimana lagi?” ujar Sarah dengan santai. “Kalau tidak begitu, orang-orang yang menargetkanku justru leluasa mengejarku.”

“Aku harus mencegah itu sebelum mereka bisa melakukan sesuatu padaku, terutama Dion. Menerima banyak pekerjaan juga cara agar aku bisa terlindungi tanpa ketergantungan dengan satu perlindungan saja.”

Devan memijat keningnya dengan lelah. Dia begitu frustasi dengan wanita yang baru ditemuinya setelah sepuluh tahun berpisah ini. Keras kepala itu masih saja sama seperti sebelumnya.

“Terserah kau saja lah,” kata Devan sambil menghela napas.

Setelah berkata demikian, Devan merasa merinding tanpa sebab dan tanpa sadar menoleh ke arah Sarah. Saat itulah dia menyadari senyum Sarah yang terlampau manis.

Devan bertanya dengan gemetar, “Ke-kenapa kau menatapku seperti itu? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu, kan?”

Senyum Sarah semakin melebar, membuat Devan langsung mengerti dalam sekejap.

“Kau mau aku yang mencarikan pekerjaan lainnya?!”

“Bagaimana mungkin aku merepotkanmu seperti itu,” balas Sarah dengan manis, yang sayangnya justru membuat Devan semakin gemetar.

“Bukankah sebelumnya banyak tawaran yang kau berikan bersamaan dengan tawaran milik keluarga Wilson sebelumnya? Itu sudah cukup kok.”

Meski Sarah berkata manis begitu, Devan tetap tidak tenang dan tergagap, “La-lalu kenapa kau masih menatapku seperti itu?”

Sarah tersenyum sangat cantik, “Aku ingin mengambil tawaran dari keluarga Durant. Jadi, aku mengharapkan bantuanmu.”

“Keluarga Durant?! Kau gila?! Bukankah mereka itu–”

Sarah meletakkan jari telunjuk di bibirnya sebagai isyarat diam dengan senyum dan mata yang dingin.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   043. || Sepupu Direktur

    Senyum Sarah membeku sejenak. Namun, sebagai rekan kerja yang baik sebelumnya, Sarah mencoba untuk mempertahankan senyum dengan bijak.“Jika saya mempunyai kemampuan, saya akan mencoba untuk membantu.”Clara memperhatikan Sarah dalam diam lalu berkata, “Bisakah kita bekerja sama kembali?”Sarah hendak menjawab, tetapi Clara sudah lebih dulu mengungkapkan apa yang ingin dia katakan.“Sepupu Direktur Utama kami sedang mencari seseorang yang bisa membaca saham. Dia berniat berinvestasi pada kenalannya, tetapi ingin mengetahui dengan cepat apakah dia bisa mendapatkan keuntungan?”“Saya akan berterima kasih jika Anda mau mempertimbangkannya dulu,” lanjut Clara dengan memainkan simpati diakhir pembicaraannya.Sarah bahkan terdiam karena lupa tentang apa yang ingin dia sampaikan sebelumnya. Namun, jelas mereka tidak mungkin meminta tanpa ada rencana lebih dulu.Sarah membatin, ‘Apakah mereka memakai sepupu Direktur untuk membalas dendam padaku?’Wajar jika Sarah berpikir demikian. Sebab sebe

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   042. || Tawaran

    “Aku ingin wanita di samping Haris itu ada di sisiku.”Mira mematung sejenak, tapi kemudian menatap Rogan dengan wajah tidak percaya.“Apa kau sedang bicara omong kosong sekarang denganku?” tanya Mira dengan wajah bingung dan tidak percaya. “Apa kau berniat merebut wanita itu dari Haris Wilson?”Rogan mengerutkan kening dan berbicara dingin, “Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak sebodoh itu.”Mira akhirnya bernapas lega dan menyandarkan punggungnya dengan santai ke sofa. Dia bahkan sempat tertawa kecil.“Aku pikir kau mengejarnya untuk dijadikan istri. Apalagi mengingat kau memiliki beberapa anak haram.”Setelah mengatakan itu, Mira entah sengaja atau tidak melirik sekilas ke arah Clara yang berdiri diam tanpa menyela sejak tadi.“Orang-orang itu tidak ada yang berguna sama sekali,” hina Rogan tanpa menahan diri.Mira hanya tersenyum sinis tanpa simpati. Rogan tetaplah Rogan. Dia manusia yang menganggap semua orang adalah barang. Termasuk darah dagingnya sendiri.Mira tahu itu sifat

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   041. || Meminta Bantuan

    Pintu terbuka dan masuklah dua orang wanita ke dalamnya. “Saya datang sesuai dengan apa yang Anda perintahkan.”Jelas yang berbicara adalah Clara, sang sekretaris pribadi Rogan yang penurut. Setelah berkata demikian, dia hanya menundukkan kepalanya dan menunggu Tigan berbicara.Sayangnya, sebelum Rogan sempat mengeluarkan kata-katanya, wanita kedua yang berpakaian glamor dengan riasan wajah yang hidup itu malah cemberut dan protes lebih dulu.“Apa ini Rogan?” kesal wanita itu tanpa ditahan. “Padahal kau bisa bicara melalui panggilan jika ada keperluan. Apakah sampai harus mengundangku kemari juga?”Rogan menyandarkan punggungnya dengan santai ke sandaran kursi. Matanya menatap dingin pada wanita yang merupakan anggota keluarga Durant, sepupu dekatnya–Mira Durant.“Apa kau masih tidak belajar sopan santun setelah bercerai dengan mantan suamimu?”Mira mengerutkan kening saat dia sudah duduk dengan nyaman di kursi tamu, “Jangan membicarakan sesuatu yang buruk padaku Rogan.”“Kalau kau t

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   040. || Melewati Batas

    Sarah merapikan rambutnya sedikit sambil menjawab, “Itu sudah aku pertimbangkan sebelumnya. Jadi kau tenang saja.”“Apakah sekarang kau akan membiarkannya?” tanya Haris. “Aku kira kau akan menjelaskan kepergianmu padanya.”“Kau yang bilang jika Dion sudah dewasa sebelumnya, kan? Dia juga sudah bisa memilih apa yang dia inginkan. Ini lah caraku untuk mengakui kemandiriannya yang terlalu dini.”Senyum Sarah yang anggun terbentuk di bibirnya. Pandangannya tidak goyah saat Haris mencari setitik keraguan ketika wanita itu mengatakan kalimat itu dengan biasa.“JIka tidak ada yang dibicarakan lagi, saya akan–”“Dion sempat mengamuk di rumah.”Perkataan Haris sukses membuat senyum Sarah membeku dan keningnya tanpa sadar berkerut.“Itu tidak mungkin, kan?” ujar Sarah tidak percaya. “Dion tidak akan bereaksi keras begitu.”“Dia tidak mengamuk seperti yang kau bayangkan. DIa hanya mogok makan dan mengurung diri di kamar untuk belajar tanpa kenal waktu.’Sarah mencoba menekan kekhawatirannya, “Bu

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   039. || Kapan Aku Mendapat Gaji?

    Rogan yang kini menjadi fokus utama hanya meminum anggurnya dengan tenang dan berkata, “Ini merupakan kehormatanku bertemu dengan sosok terkenal di masa lalu.”Maja mungkin aku tidak merasa antusias. Aku pasti akan berbagi bahagia dengan yang lain. Ya, kan Nyonya Chana?”“Tentu saja!” balas Nyonya Chana penuh semangat. “Nona Sarah sangat berdedikasi untuk mencari dana untuk yayasan yang baru saja didirikan. Bagaimana mungkin kami tidak saling berbagi kebahagiaan pada hal seperti itu.”“Wah, disanjung orang terkenal seperti kalian membuatku sangat terharu,” ujar Sarah sambil mengusap ujung matanya yang tidak basah.Meski Sarah tampak akrab dan menerima segala perlakuan Rogan dan juga Chana, Sarah tetap lah waspada. Dia tidak akan mempercayai siapapun disaat seperti ini.Memangnya siapa yang suka membuang uang untuk yayasan palsu? Terutama Nyonya Chana, Sarah tidak akan menjadikannya teman meski dia seceria itu. Sebab wanita adalah orang yang ditunjuk langsung oleh Rogan.Haris meminum

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   038. || Satu Meja

    Haris mengikuti pemandu acara untuk memasuki ruang acara. Saat dia masuk ke dalam ruangan yang sudah ditentukan, hampir semua orang melihat ke arahnya. Sangat jelas dari raut wajah mereka, mereka tidak mengira adanya anggota keluarga Wilson yag menghadiri acara seperti ini. “Hei, bukankah itu anak kedua dari Tuan Sadam Wilson?” “Tentu saja itu dia!” balas seseorang. “Siapa lagi orang tinggi yang cocok dan senang memakai mantel hitam panjang itu? Dia adalah anak kedua sekaligus pengacara keluarga Wilson–Haris Wilson!” Haris tidak tahu betapa heboh orang-orang berbisik tentang dirinya di belakangnya. Meskipun dia tahu, dia tidak akan menghentikan mereka. Toh, semua ini karena pengaruh keluarganya di dunia politik. Keluarga Wilson sangat aktif di dunia politik dan jarang tampil di muka umum. Kehadirannya pada acara yang memiliki banyak kamera di berbagai sudut membuat orang-orang di acara ini terkejut. Sebab mereka hanya akan muncul jika benar-benar diperlukan. Haris mengangguk p

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   030. || Tidak Berpendidikan

    ‘Seharusha aku tidak mempercayainya sejak awal!’ Sarah murka setengah mati. Dia seharusnya tidak mempercayai siapapun kecuali Devan ketika dia bekerja kembali seperti ini. Mengingat kebodohannya ini, Sarah menyalahkan dirinya sendiri karena kewaspadaannya menurun drastis. Sarah mempertahankan ket

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   036. || Selamat Malam

    “Kenapa kau bersikap terkejut begitu? Seharusnya kau sudah tahu konsekuensinya jika menampung kami di sini, kan?” Sarah memiringkan kepalanya sedikit, “Padahal aku sudah berbaik hati untuk meminta tempat tinggal tanpa syarat apapun. Seharusnya kau memberiku tempat tinggal terpisah dan meletakkan k

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   035. || Antara Cerdik atau Licik

    “Tuan Haris?”Haris kembali mengerjap dan menjawab singkat, “Tentu kalau begitu. Aku akan ke atas dulu.”Sarah memperhatikan Haris yang memegang pegangan tangga setiap kali dia melangkah dengan hati-hati. ‘Dia termasuk sosok yang tahan banting,’ puji Sarah di dalam hatinya.Selama Sarah tinggal di

  • Ibu Muda Jenius: Siapa yang Berani Mengusik Keluargaku?   034. || Bau Alkohol

    Sarah membalas pesan Devan dengan singkat. Betapa senang dia dengan kabar baik itu. [“Ini lah kenapa aku suka bekerja sama denganmu.] Sepanjang malam itu, Sarah meninjau kembali semua hal yang akan dia kerjakan nantinya. Hal yang dia terima dari Devan adalah kabar bahwa investor dari aktris terna

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status