LOGINDion mengerutkan kening mendengar jawaban ibunya, “Ibu yakin aku bisa bersekolah seperti biasa?”
Sarah bisa merasakan ketidaknyamanan dari nada suara Dion. Memiliki anak yang bisa berbagi perasaan khawatir seperti ini sungguh melegakan, tapi juga mengkhawatirkan. Tidak seharusnya anak sekecil itu berbicara penuh kekhawatiran seperti orang dewasa. Sarah duduk di sofa ruang tamu untuk melepas, lalu berkata, “Ibu sudah mengatakannya sebelumnya, kan?” “Pekerjaan ibu memang beresiko tinggi. Jadi, permintaan ibu pada klien sebelumnya itu bisa diterima. Keluarga mereka juga terkenal memegang kata-katanya, jadi kamu tidak perlu khawatir.” “Bukan itu yang kumaksud.” Dion menundukkan kepala, “Justru karena pekerjaan ibu beresiko, apakah nantinya kita akan mengalami hal seperti sebelumnya?” Sarah memandangi Dion yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. Entah pahala apa yang dia miliki sebelumnya sampai bisa mendapatkan anak yang berbakti seperti ini. Dion sangat pengertian. Sarah menjadi merasa bersalah telah menyeret anak kecil ini ke dalam resiko kehidupannya sendiri. Apakah dia salah telah mempertahankan anak ini alih-alih membuangnya sejak dulu? Sarah mengernyit sejenak. Pikirannya mulai kacau sekarang. “Seberapa ragu dirimu dengan keputusan yang ibu ambil sekarang Dion?” tanya Sarah membuat Dion tersentak. “Kamu tahu kita sudah menjalani hidup seperti ini sepuluh tahun. Justru itulah ibu mengambil resiko ini agar kita bisa menetap sepenuhnya.” “Jika kita memilih keputusan yang lain dari ini. Ibu tidak akan yakin bagaimana bersikap ke depannya.” Mata Sarah sedikit satu saat dia berkata, “Karena hanya inilah yang bisa ibu lakukan untuk keadaan kita saat ini.” Setelah percakapan yang entah bagaimana berakhir dengan keheningan, Sarah kembali fokus dengan apa yang harus dia kerjakan. Meskipun Sarah menganggap Dion masih kecil, tapi pendapat anak itu sendiri juga bisa dia pertimbangkan. Jika Dion merasa tidak nyaman di masa depan, dia bisa mengatur semuanya kembali ke awal bagaimana anak itu menjalani hidupnya. “Kau berhasil menandatangani kontrak itu? Jadi kau serius melakukan pekerjaan ini?!” Sarah berdecak tidak senang dengan keributan yang diciptakan oleh Devan sekarang. Saat ini Sarah sedang berada di apartemen tempat tinggal Devan. Dia masih baru menginjakkan kaki setelah sepuluh tahun tidak bergerak di bidang ini. Jadi sudah pasti ada perubahan yang tidak dia mengerti. Maka dari itu, Sarah menceritakan semuanya kepada Devan tentang pertemuannya dengan pengacara dari keluarga Wilson sebelumnya, untuk meminta pendapat Devan. “Aku tidak terkejut kalau kau bisa mendapatkannya, tapi permintaan mereka memang agak besar, ya,” kata Devan setelah melihat salinan kontrak yang diberikan Sarah. Devan menghela napas lelah, “Terserah kau sajalah. Kalau aku jadi kau, keputusan ini terlalu besar aku tanggung meski royaltinya juga besar.” “Tapi itu memang sepadan dengan kemampuanmu.” “Aku juga berencana mengambil pekerjaan lain selain dari mereka,” kata Sarah mendadak. Devan pun ikut mendadak kaku. “Apa maksudmu?” “Keluarga mereka menyuruhku untuk diam sementara mereka menyiapkan apa yang perlu disiapkan sebelum aku bergerak. Jadi, aku akan mengambil pekerjaan lain selama masa diam itu.” Sarah kemudian mengangkat kedua bahunya dengan santai. “Ini juga agar aku terlihat sibuk dan mendapat dukungan dari beberapa kalangan pihak atas sana.” “Kau gila?” pekik Devan. “Menerima satu saja dari keluarga Wilson sudah merepotkan, kau malah mau menambah pekerjaan lainnya?!” “Mau bagaimana lagi?” ujar Sarah dengan santai. “Kalau tidak begitu, orang-orang yang menargetkanku justru leluasa mengejarku.” “Aku harus mencegah itu sebelum mereka bisa melakukan sesuatu padaku, terutama Dion. Menerima banyak pekerjaan juga cara agar aku bisa terlindungi tanpa ketergantungan dengan satu perlindungan saja.” Devan memijat keningnya dengan lelah. Dia begitu frustasi dengan wanita yang baru ditemuinya setelah sepuluh tahun berpisah ini. Keras kepala itu masih saja sama seperti sebelumnya. “Terserah kau saja lah,” kata Devan sambil menghela napas. Setelah berkata demikian, Devan merasa merinding tanpa sebab dan tanpa sadar menoleh ke arah Sarah. Saat itulah dia menyadari senyum Sarah yang terlampau manis. Devan bertanya dengan gemetar, “Ke-kenapa kau menatapku seperti itu? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu, kan?” Senyum Sarah semakin melebar, membuat Devan langsung mengerti dalam sekejap. “Kau mau aku yang mencarikan pekerjaan lainnya?!” “Bagaimana mungkin aku merepotkanmu seperti itu,” balas Sarah dengan manis, yang sayangnya justru membuat Devan semakin gemetar. “Bukankah sebelumnya banyak tawaran yang kau berikan bersamaan dengan tawaran milik keluarga Wilson sebelumnya? Itu sudah cukup kok.” Meski Sarah berkata manis begitu, Devan tetap tidak tenang dan tergagap, “La-lalu kenapa kau masih menatapku seperti itu?” Sarah tersenyum sangat cantik, “Aku ingin mengambil tawaran dari keluarga Durant. Jadi, aku mengharapkan bantuanmu.” “Keluarga Durant?! Kau gila?! Bukankah mereka itu–” Sarah meletakkan jari telunjuk di bibirnya sebagai isyarat diam dengan senyum dan mata yang dingin.Dion mengerutkan kening mendengar jawaban ibunya, “Ibu yakin aku bisa bersekolah seperti biasa?”Sarah bisa merasakan ketidaknyamanan dari nada suara Dion. Memiliki anak yang bisa berbagi perasaan khawatir seperti ini sungguh melegakan, tapi juga mengkhawatirkan. Tidak seharusnya anak sekecil itu berbicara penuh kekhawatiran seperti orang dewasa.Sarah duduk di sofa ruang tamu untuk melepas, lalu berkata, “Ibu sudah mengatakannya sebelumnya, kan?”“Pekerjaan ibu memang beresiko tinggi. Jadi, permintaan ibu pada klien sebelumnya itu bisa diterima. Keluarga mereka juga terkenal memegang kata-katanya, jadi kamu tidak perlu khawatir.”“Bukan itu yang kumaksud.”Dion menundukkan kepala, “Justru karena pekerjaan ibu beresiko, apakah nantinya kita akan mengalami hal seperti sebelumnya?”Sarah memandangi Dion yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. Entah pahala apa yang dia miliki sebelumnya sampai bisa mendapatkan anak yang berbakti seperti ini. Dion sangat pengertian.Sarah menjadi me
“Tolong maafkan kekasaran saya sebelumnya,” ujar Harris sambil membungkukkan badannya sedikit. Sikapnya itu bahkan mengejutkan sang asisten yang sudah lama bersamanya.“Saya seharusnya tidak bersikap picik seperti itu,” lanjutnya sambil menatap Sarah. “Jika berkenan, bolehkan saya mengetahui permintaan Anda lebih lanjut?”“Saya akan menyesuaikan isi kontraknya setelah ini sesuai kemampuan kami.”Sarah terdiam di tempatnya, agak terkejut karena Harris mau menurunkan egonya hanya untuk mempertahankannya. Padahal Sarah mengira Harris adalah orang yang sombong dan tidak mau mengalah. Namun, Sarah juga menyukai pendekatan yang seperti ini.Sarah bertingkah seolah mempertimbangkan tawaran itu, lalu menoleh ke arah Harris dengan senyum yang memperlihatkan kemenangannya tanpa terselebung. “Kalau begitu, kita bisa melanjutkannya.”Harris mengangguk dan mereka kembali duduk di tempat semula. Dalam hati Harris mengakui, Sarah memang pemenangnya di sini. Dia terlalu sibuk menikah Sarah sampai lu
Sarah duduk diam tanpa melirik sedikit pun ruang tamu yang akan menjadi saksi untuk mendapatkan kontraknya nanti. Dia lebih memilih untuk berpikir bagaimana cara untuk bisa mendapatkan kontrak dengan syarat tambahan yang nantinya akan dia ajukan.Melihat ibunya sebagai contoh, Dion juga diam di sampingnya. Hanya sesekali meminum minuman dan makanan yang tersaji di meja di depannya. Walaupun dia ingin sekali melihat sekeliling ruangan yang berada di lantai atas gedung tinggi.Ketika waktu terus mengalir tanpa tahu berapa lama, barulah Sarah mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dua orang memakai jas datang ke arahnya.Ketika Sarah mendongak, matanya yang hitam langsung bertemu pandang dengan mata biru terang yang memikat. Untuk sesaat, Sarah nyaris kehilangan ketenangannya.“Halo, apakah ini Nona Sarah?” tanya Harris sambil mengulurkan tangan sebagai sambutan.Sarah berdiri dan meraih tangan yang terasa dingin itu, “Ya, ini saya. Senang bertemu dengan Anda.”“Senang bertemu deng
“Jadi … mereka memburuku hanya karena itu?”“Kenapa kau terlihat tidak percaya begitu?” tanya Devan saat melihat ekspresi Sarah yang berlebihan.“Bukankah wajar jika mereka mencarimu saat tahu kau hidup dan hanya bersembunyi?”“Ya … tapi tetap saja,” kata Sarah masih belum sepenuhnya menerima fakta itu.Setelah mendapatkan tempat tinggal sendiri, Sarah bisa beraktivitas seperti biasanya. Dia juga mendapat informasi terkait alasan dia dicari oleh para preman itu.Alasan pertama jelas karena ingin membunuhnya agar kemampuannya tidak bisa lagi digunakan, apalagi dipelajari orang lain. Namun, dia juga bisa selamat karena ada beberapa orang masih membutuhkan kemampuannya. Sebab itulah pelariannya waktu itu tidak terlalu ekstrim.“Lalu bagaimana setelah kau tahu jika semuanya seperti ini?” tanya Devan sambil melirik Dion yang membaca buku usang di dekat Sarah.Devan masih belum menerima Dion di sisi temannya itu. Apalagi hidup Sarah sudah sulit untuk sendiri, malah melibatkan anak kecil la
Sarah mendekati Devan yang tersenyum lebar ke arahnya. Saat jarak di antara mereka menipis, Sarah mulai mengerutkan kening saat menatap wajah Devan yang menampakkan mata panda yang parah.“Apa yang terjadi denganmu?”Pertanyaan Sarah itu membuat Devan sedikit tersedak. “Memangnya aku kenapa?”Saat dia bertanya, tangannya juga meraba wajah serta mencium bau badannya sendiri. “Aku tidak bau, kok,” katanya dengan bangga, mengira Sarah tidak nyaman dengan bau badannya.Dia bahkan menyodorkan ketiaknya ke arah Sarah. “Nih, coba cium! Aku sudah mandi tadi. Kau pasti tidak–”“Sudahlah, terserah kau saja,” potong Sarah dengan kesal.Berbicara dengan Devan memang harus mendetail, tapi dia terlalu malas untuk melakukannya.Devan mencebik tidak senang, “Kita sudah lama tidak bertemu, tapi kelakuanmu masih sama menyebalkan seperti dulu.”Masih dengan wajah cemberut, matanya tanpa sadar melirik seorang anak kecil di samping Sarah yang menatapnya dalam diam. Mata Devan berkedip penasaran dan curi
“Ayo lari Dion!”Sarah menarik Dion yang mematung ketakutan saat melihat para preman itu berteriak ke arah mereka.Kejar-kejaran pun tidak bisa terelakkan. Tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang penasaran, mereka menerobos kerumunan dengan panik. Bahkan beberapa kali mereka nyaris tertabrak mobil, baik Sarah maupun kelompok preman itu tidak berniat berhenti.Kekesalan yang disertai makian para penduduk pun juga ikut mengiringi kekacauan mereka.“Sialan! Apa sih yang dilakukan janda itu sampai bisa berbuat seenaknya begitu? Apa dia ingin mati?!”“Padahal diam saja mengganggu, sekarang malah bertingkah di jalanan begitu!”“Hei, apakah kalian tidak lihat dia dikejar beberapa orang yang terlihat seperti preman? Wajar saja dia menabrak kita karena lari-lari.”“Oh, jadi kau mau membelanya?! Aku yakin para preman itu adalah rentenir. Sudah kubilang, wanita tanpa suami tapi memiliki anak itu bukanlah orang baik!”Berbagai macam tuduhan dan makian dilontarkan oleh orang-orang yang berteta







