Home / Fantasi / Ibu yang Cerdik / 006 || Terasa Familiar

Share

006 || Terasa Familiar

Author: Daralist
last update publish date: 2026-03-17 12:48:47

“Tolong maafkan kekasaran saya sebelumnya,” ujar Harris sambil membungkukkan badannya sedikit. Sikapnya itu bahkan mengejutkan sang asisten yang sudah lama bersamanya.

“Saya seharusnya tidak bersikap picik seperti itu,” lanjutnya sambil menatap Sarah. “Jika berkenan, bolehkan saya mengetahui permintaan Anda lebih lanjut?”

“Saya akan menyesuaikan isi kontraknya setelah ini sesuai kemampuan kami.”

Sarah terdiam di tempatnya, agak terkejut karena Harris mau menurunkan egonya hanya untuk mempertahankannya. Padahal Sarah mengira Harris adalah orang yang sombong dan tidak mau mengalah. Namun, Sarah juga menyukai pendekatan yang seperti ini.

Sarah bertingkah seolah mempertimbangkan tawaran itu, lalu menoleh ke arah Harris dengan senyum yang memperlihatkan kemenangannya tanpa terselebung.

“Kalau begitu, kita bisa melanjutkannya.”

Harris mengangguk dan mereka kembali duduk di tempat semula. Dalam hati Harris mengakui, Sarah memang pemenangnya di sini. Dia terlalu sibuk menikah Sarah sampai lupa tujuan dan profesionalisme pekerjaannya.

“Berdasarkan kemampuan saya, saya bisa mengerjakannya sesuai keinginan klien berapa lama waktu yang dibutuhkan,” kata Sarah kembali menguasai percakapan.

“Jadi … saya bisa menyesuaikan dengan apa yang kalian minta,” lanjutnya percaya diri.

Pada awalnya Sarah membuat Harris berpikir bahwa bukan dia yang meminta pekerjaan ini. Namun, dia juga harus dengan jelas memberitahukan seberapa besar kemampuannya di bidang ini. Ini akan membuat Harris semakin sulit untuk melepaskannya.

Benar saja, Harris memang berpikir demikian. Kemampuan Sarah dan juga kondisi yang dia jabarkan sangat menguntungkan pihaknya. Jika mereka masih tidak mau menerima syaratnya, ini justru menunjukkan ketidakmampuan mereka sendiri.

“Kalau begitu, Anda bisa mengajukan syarat dan kami akan mengupayakan hal itu sesuai kemampuan kami,” kata Harris menjelaskan.

Sarah melirik Dion sejenak, lalu berkata dengan tegas, “Syarat saya tidak banyak dan tidak sulit. Saya hanya ingin tempat tinggal dan juga anak di samping saya ini bersekolah di tempat terbaik.”

Harris terdiam sejenak. Dia juga melirik sebentar pada anak bermata abu-abu di samping Sarah yang sebelumnya sempat berkontak mata dengannya juga.

“Apakah dia putramu?”

“Sejak kapan pertanyaan pribadi boleh diajukan?”

Harris tersenyum pengertian, “Ini juga agar kamu bisa menentukan identitas yang tepat untuk anak yang Anda bawa ini.”

Barulah Sarah mengingat bahwa dia selama ini bersembunyi dengan banyak identitas. Jika dia mau memakai identitas baru, prosedur tetaplah dilakukan seperti sebelumnya.

Sarah merasa bersalah karena terlalu kasar pada Harris soal ini.

“Saya akan mengirim data diri pada kalian nanti karena perlu penyesuaian lebih dulu,” ujar Sarah pada akhirnya.

Harris mengangguk, “Kalau begitu, syarat yang Anda ajukan hanya sekolah dan rumah tempat tinggal?”

“Benar,” jawab Sarah. “Rumah juga termasuk keamanan untuk anak ini.”

“Baik, kami akan menyiapkannya setelah ini sesuai permintaan Anda,” lanjut Harris.

Mereka kemudian saling menandatangani kontrak yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Setelah semuanya selesai, Sarah langsung berdiri kembali, kali ini diikuti langsung oleh Harris.

“Terima kasih atas kerja sama Anda,” kata Harris kembali mengulurkan tangan.

Sarah mengambil tangan itu sekali lagi dan berkata, “Senang bekerja sama dengan Anda.”

“Ayo pergi,” ajak Sarah pada Dion.

Mereka akhirnya pergi sambil diantar resepsionis atas permintaan sang asisten.

Setelah kepergian mereka, Harris kembali duduk di tempatnya semula, sambil kembali membaca isi kontrak itu.

Tidak ada yang berubah dari kontrak yang ada, dia bahkan hapal setiap titik di dalamnya. Namun, entah kenapa dia merasa sangat tertarik dengan hal yang berkaitan tentang Sarah.

Apakah karena Sarah berbeda dengan orang yang sering dia temui?

“Apakah kita langsung memenuhi permintaan Nona Sarah, Tuan Harris?”

Harris tersentak sedikit, tapi kemudian tersenyum dengan tenang. “Ya, itu hanya permintaan kecil. Kau boleh langsung mengerjakannya sekarang.”

“Baik, saya akan melaksanakannya,” kata sang asisten. “Kalau begitu saya permisi.”

Ruangan itu kembali hening. Harris hanya kembali memperhatikan setiap kata kontrak di di kertas itu dalam diam.

Mendadak, Harris kembali teringat dengan mata abu-abu dan tatapan menilai dari anak yang dibawa oleh Sarah sebelumnya.

Kenapa rasanya anak itu terasa familiar dengannya?

Harris malah dibuat bingung. Ini pertama kalinya dia merasa seperti ini. Dia bahkan mulai menebak liat bahwa anak itu memiliki hubungan kerabat jauh dengan keluarga Wilson karena pandangannya suka menilai itu.

Tapi itu hanya sesaat. Harris mengenal banyak sepupu dan juga keponakannya, tidak ada dalam ngatannya anak itu di antara mereka.

Di sisi lain, Sarah kembali ke apartemen Devan, tempat tinggalnya sementara.

“Ibu, apakah aku akan kembali bersekolah?”

Pertanyaan Dion membuat Sarah berhenti dari aktivitasnya sementara.

“Selagi ibu bekerja, ibu harap kau masih belajar seperti biasa,” kata Sarah menatap mata Dion sejenak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ibu yang Cerdik   025 || Anak yang Mandiri

    Mata Dion berbinar, kemudian dia menganggukkan kepalanya.“Sepertinya itu bagus,” kata Dion terdengar bersemangat. “Kalau seperti ini, aku mungkin bisa melakukannya dengan tenang.”Sarah tersenyum, “Ibu tahu kau seorang pekerja keras. Ibu juga berpikir, masuk melalui keluarga Wilson juga terlalu berlebihan.”Dion mengangguk setuju dengan penilaian ibunya. Apalagi keluarga besar termasuk sensitif dengan pergaulan mereka. Pasti dia akan dipertimbangkan jika ada di sana sebagai anak yang didaftarkan langsung oleh keluarga Wilson.“Kalau begitu kau bisa kembali sekarang,” ujar Sarah setelah melihat jam di dinding. “Pergilah makan atau langsung tidur saja. Ibu akan menyampaikannya langsung pada Tuan Haris.”Dion berkedip sejenak, lalu berkata. “Makan malam sudah lewat, Bu. Dan untuk memberitahu Tuan Haris, aku bisa melakukannya sendiri.”Sarah membeku di tempatnya. Dia memang melihat jam sudah malam, tapi lupa kalau itu juga berarti lewat dari jam makan malam biasanya.“Ibu pasti lupa lagi

  • Ibu yang Cerdik   024 || Diskusi Sekolah

    "Apakah benar-benar sudah siap membicarakannya saat ini?" Pertanyaan Sarah membuat Dian mendongakkan kepalanya. Namun, itu tidak cukup untuk membuat Dion berani kembali membuka mulutnya. "Apa kau mau membicarakannya di dalam kamar ibu?" Dian tampak berpikir sejenak, tapi kemudian menyetujuinya dengan menganggukkan kepala. Sarah membuka pintu dengan lebih lebar, membiarkan Dion masuk. Setelah dia masuk dan duduk di kursi tepat di tempat ketika mereka baru saja mendapatkan kamar ini barulah Sarah memulai pembicaraan. "Apa kau sudah memikirkannya?" "Sebenarnya ada banyak yang aku pertimbangkan ibu." Sarah duduk di samping Dion yang hanya dipisahkan oleh meja kecil di tengah mereka. Sarah memandangi jendela kamar yang memancarkan sinar bulan dan juga bintang di langit malam. Sarah tiba-tiba berpikir, 'Apakah aku terlalu dini mengajari Dion tentang tanggung jawab?' Sarah teringat tentang Haris yang tadi siang mencoba menahannya agar mereka bisa berdiskusi tentang pert

  • Ibu yang Cerdik   023 || Canggung

    Sarah tercengang di tempatnya. Dia bahkan merasa bahwa telinganya tidak menangkap apa yang dikatakan Haris dengan baik. "Kau belum pernah menikah?" tanya Sarah dengan raut wajah yang tidak percaya. Haris tertawa kecil, "Apa aku terlihat seperti seseorang yang memiliki keluarga?" Sarah tersenyum malu, "Aku hanya melihatmu bagus ketika berhadapan dengan putraku Jadi aku pikir kau sudah berkeluarga." "Aku juga berpikir kau memiliki putra yang sama dengan anakku sehingga kau bisa memberi arahan dengan baik." Haris mengambil cemilan tak jauh dari tempatnya. Dia tidak menyangkal dengan apa yang dikatakan oleh Sarah. "Bukankah semua orang bisa melakukan yang terbaik pada mereka yang lebih muda?" "Yah, itu memang bisa dilakukan semua orang," kata Sarah tampak berpikir sejenak. "Apa kau merasa canggung tinggal di sini karena mengira aku memiliki istri dan anak?" Sarah terlihat tenang dengan menyesap tehnya dengan santai. Namun, matanya tampak mencari-cari alasan untuk menja

  • Ibu yang Cerdik   022 || Kesalahpahaman

    “Aku akan menggantinya nanti,” kata Sarah mencoba menepis pembicaraan tentang barang lama. “Sebelum itu, bisakah aku bertanya beberapa hal?” Senyum tipis Haris terbentuk. Dia masih sangat tertarik berbicara dengan Sarah. “Silakan tanya apa saja.” “Pertanyaanku sebenarnya hanya tentang pertumbuhan anak-anak saja,” ujar Sarah agak canggung. “Kau terlihat seperti sudah berpengalaman dalam mengasuh anak. Jadi, aku–” Sarah bingung bagaimana cara menjelaskannya. Apalagi meminta nasehat seperti ini. Sampai di titik ini, Sarah tiba-tiba tersadar bahwa dia lancang saat ini. Jika dia berpikir bahwa Haris memiliki nasehat seputar anak, bukankah dia sudah memiliki keluarga? Beraninya dia meminta nasehat pada suami orang seperti ini! Haris mengangkat alisnya saat melihat Sarah yang mendadak diam menghentikan ucapannya sendiri. Namun, setelah menunggu beberapa saat, Sarah justru terlihat terkejut dan mengerutkan kening. Harris akhirnya tidak tahan dan bertanya, “Sarah, apa kau baik-baik sa

  • Ibu yang Cerdik   021 || Keraguan

    “Apakah benar yang diucapkan Tuan Haris, Dion?” Dion menggelengkan kepalanya pelan, “Aku hanya sedikit ragu.” Sarah menghela napas. Dia kemudian ikut duduk di gazebo di samping Dion. Sebelum mengatakan apapun pada putranya itu, Sarah lebih dulu berbicara dengan Harris. “Bukankah kau mengatakan hanya ada dua sekolah yang akan menjadi pilihan anakku?” Harris meminum kopinya dengan santai lalu menjawab, “Dion sudah berusia sepuluh tahun, kan? Aku rasa dia sudah waktunya belajar untuk menentukan sekolah seperti yang dia inginkan.” “Dion belum sedewasa itu untuk menentukan pilihan,” ujar Sarah sambil melirik ke arah Dion yang memainkan jari-jarinya. “Kalau kau memberinya begitu banyak pilihan, dia hanya akan menjadi bingung.” “Sepertinya kau tidak terlalu mengerti putramu, ya.” Sarah membeku, “Apa maksudmu?” “Kau sepertinya masih mengira bahwa putramu ini masih kecil. Namun, mungkin kau tidak sadar bahwa pengalamannya saat bersamamu yang hanya seorang ibu tungga, justru sudah memb

  • Ibu yang Cerdik   020 || Pulang Lebih Cepat

    “Atau apakah Nona pemilik sebenarnya tempat ini?!” Sarah tersenyum canggung dengan pertanyaan antusias yang dilontarkan oleh sang sopir. Namun, belum sempat dia mengatakan apapun, sopir itu justru melanjutkan apa yang ingin dia utarakan. “Ya ampun … saya sungguh tidak menyangka akan bertemu pemilik rumah yang misterius setelah bertahun-tahun melewati jalan ini sambil mendengarkan rumornya.” “Apakah Anda tahu, mereka mungkin akan terkejut setengah mati jika tahu bahwa pemilik sebenarnya adalah seorang wanita!” Sarah menelan ludah mendengarnya. Ceritanya lebih dalam dari yang dia kira. Ketika dia akan meluruskan kesalahpahaman itu, sang sopir kembali berbicara. “Oh iya, sampai saat ini dirumorkan pemilik rumah belum memiliki pasangan. Sepertinya itu benar.” Sopir itu tersenyum lebar ke arah Sarah sambil berkata, “Kalau kau belum punya pasangan, apakah kau mau mempertimbangkan putraku? Putraku lulusan universitas nasional terbaik. Meskipun dia duda, pasti dia bisa menjadi pasangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status