LOGIN“Tolong maafkan kekasaran saya sebelumnya,” ujar Harris sambil membungkukkan badannya sedikit. Sikapnya itu bahkan mengejutkan sang asisten yang sudah lama bersamanya.
“Saya seharusnya tidak bersikap picik seperti itu,” lanjutnya sambil menatap Sarah. “Jika berkenan, bolehkan saya mengetahui permintaan Anda lebih lanjut?” “Saya akan menyesuaikan isi kontraknya setelah ini sesuai kemampuan kami.” Sarah terdiam di tempatnya, agak terkejut karena Harris mau menurunkan egonya hanya untuk mempertahankannya. Padahal Sarah mengira Harris adalah orang yang sombong dan tidak mau mengalah. Namun, Sarah juga menyukai pendekatan yang seperti ini. Sarah bertingkah seolah mempertimbangkan tawaran itu, lalu menoleh ke arah Harris dengan senyum yang memperlihatkan kemenangannya tanpa terselebung. “Kalau begitu, kita bisa melanjutkannya.” Harris mengangguk dan mereka kembali duduk di tempat semula. Dalam hati Harris mengakui, Sarah memang pemenangnya di sini. Dia terlalu sibuk menikah Sarah sampai lupa tujuan dan profesionalisme pekerjaannya. “Berdasarkan kemampuan saya, saya bisa mengerjakannya sesuai keinginan klien berapa lama waktu yang dibutuhkan,” kata Sarah kembali menguasai percakapan. “Jadi … saya bisa menyesuaikan dengan apa yang kalian minta,” lanjutnya percaya diri. Pada awalnya Sarah membuat Harris berpikir bahwa bukan dia yang meminta pekerjaan ini. Namun, dia juga harus dengan jelas memberitahukan seberapa besar kemampuannya di bidang ini. Ini akan membuat Harris semakin sulit untuk melepaskannya. Benar saja, Harris memang berpikir demikian. Kemampuan Sarah dan juga kondisi yang dia jabarkan sangat menguntungkan pihaknya. Jika mereka masih tidak mau menerima syaratnya, ini justru menunjukkan ketidakmampuan mereka sendiri. “Kalau begitu, Anda bisa mengajukan syarat dan kami akan mengupayakan hal itu sesuai kemampuan kami,” kata Harris menjelaskan. Sarah melirik Dion sejenak, lalu berkata dengan tegas, “Syarat saya tidak banyak dan tidak sulit. Saya hanya ingin tempat tinggal dan juga anak di samping saya ini bersekolah di tempat terbaik.” Harris terdiam sejenak. Dia juga melirik sebentar pada anak bermata abu-abu di samping Sarah yang sebelumnya sempat berkontak mata dengannya juga. “Apakah dia putramu?” “Sejak kapan pertanyaan pribadi boleh diajukan?” Harris tersenyum pengertian, “Ini juga agar kamu bisa menentukan identitas yang tepat untuk anak yang Anda bawa ini.” Barulah Sarah mengingat bahwa dia selama ini bersembunyi dengan banyak identitas. Jika dia mau memakai identitas baru, prosedur tetaplah dilakukan seperti sebelumnya. Sarah merasa bersalah karena terlalu kasar pada Harris soal ini. “Saya akan mengirim data diri pada kalian nanti karena perlu penyesuaian lebih dulu,” ujar Sarah pada akhirnya. Harris mengangguk, “Kalau begitu, syarat yang Anda ajukan hanya sekolah dan rumah tempat tinggal?” “Benar,” jawab Sarah. “Rumah juga termasuk keamanan untuk anak ini.” “Baik, kami akan menyiapkannya setelah ini sesuai permintaan Anda,” lanjut Harris. Mereka kemudian saling menandatangani kontrak yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Setelah semuanya selesai, Sarah langsung berdiri kembali, kali ini diikuti langsung oleh Harris. “Terima kasih atas kerja sama Anda,” kata Harris kembali mengulurkan tangan. Sarah mengambil tangan itu sekali lagi dan berkata, “Senang bekerja sama dengan Anda.” “Ayo pergi,” ajak Sarah pada Dion. Mereka akhirnya pergi sambil diantar resepsionis atas permintaan sang asisten. Setelah kepergian mereka, Harris kembali duduk di tempatnya semula, sambil kembali membaca isi kontrak itu. Tidak ada yang berubah dari kontrak yang ada, dia bahkan hapal setiap titik di dalamnya. Namun, entah kenapa dia merasa sangat tertarik dengan hal yang berkaitan tentang Sarah. Apakah karena Sarah berbeda dengan orang yang sering dia temui? “Apakah kita langsung memenuhi permintaan Nona Sarah, Tuan Harris?” Harris tersentak sedikit, tapi kemudian tersenyum dengan tenang. “Ya, itu hanya permintaan kecil. Kau boleh langsung mengerjakannya sekarang.” “Baik, saya akan melaksanakannya,” kata sang asisten. “Kalau begitu saya permisi.” Ruangan itu kembali hening. Harris hanya kembali memperhatikan setiap kata kontrak di di kertas itu dalam diam. Mendadak, Harris kembali teringat dengan mata abu-abu dan tatapan menilai dari anak yang dibawa oleh Sarah sebelumnya. Kenapa rasanya anak itu terasa familiar dengannya? Harris malah dibuat bingung. Ini pertama kalinya dia merasa seperti ini. Dia bahkan mulai menebak liat bahwa anak itu memiliki hubungan kerabat jauh dengan keluarga Wilson karena pandangannya suka menilai itu. Tapi itu hanya sesaat. Harris mengenal banyak sepupu dan juga keponakannya, tidak ada dalam ngatannya anak itu di antara mereka. Di sisi lain, Sarah kembali ke apartemen Devan, tempat tinggalnya sementara. “Ibu, apakah aku akan kembali bersekolah?” Pertanyaan Dion membuat Sarah berhenti dari aktivitasnya sementara. “Selagi ibu bekerja, ibu harap kau masih belajar seperti biasa,” kata Sarah menatap mata Dion sejenak.Dion mengerutkan kening mendengar jawaban ibunya, “Ibu yakin aku bisa bersekolah seperti biasa?”Sarah bisa merasakan ketidaknyamanan dari nada suara Dion. Memiliki anak yang bisa berbagi perasaan khawatir seperti ini sungguh melegakan, tapi juga mengkhawatirkan. Tidak seharusnya anak sekecil itu berbicara penuh kekhawatiran seperti orang dewasa.Sarah duduk di sofa ruang tamu untuk melepas, lalu berkata, “Ibu sudah mengatakannya sebelumnya, kan?”“Pekerjaan ibu memang beresiko tinggi. Jadi, permintaan ibu pada klien sebelumnya itu bisa diterima. Keluarga mereka juga terkenal memegang kata-katanya, jadi kamu tidak perlu khawatir.”“Bukan itu yang kumaksud.”Dion menundukkan kepala, “Justru karena pekerjaan ibu beresiko, apakah nantinya kita akan mengalami hal seperti sebelumnya?”Sarah memandangi Dion yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. Entah pahala apa yang dia miliki sebelumnya sampai bisa mendapatkan anak yang berbakti seperti ini. Dion sangat pengertian.Sarah menjadi me
“Tolong maafkan kekasaran saya sebelumnya,” ujar Harris sambil membungkukkan badannya sedikit. Sikapnya itu bahkan mengejutkan sang asisten yang sudah lama bersamanya.“Saya seharusnya tidak bersikap picik seperti itu,” lanjutnya sambil menatap Sarah. “Jika berkenan, bolehkan saya mengetahui permintaan Anda lebih lanjut?”“Saya akan menyesuaikan isi kontraknya setelah ini sesuai kemampuan kami.”Sarah terdiam di tempatnya, agak terkejut karena Harris mau menurunkan egonya hanya untuk mempertahankannya. Padahal Sarah mengira Harris adalah orang yang sombong dan tidak mau mengalah. Namun, Sarah juga menyukai pendekatan yang seperti ini.Sarah bertingkah seolah mempertimbangkan tawaran itu, lalu menoleh ke arah Harris dengan senyum yang memperlihatkan kemenangannya tanpa terselebung. “Kalau begitu, kita bisa melanjutkannya.”Harris mengangguk dan mereka kembali duduk di tempat semula. Dalam hati Harris mengakui, Sarah memang pemenangnya di sini. Dia terlalu sibuk menikah Sarah sampai lu
Sarah duduk diam tanpa melirik sedikit pun ruang tamu yang akan menjadi saksi untuk mendapatkan kontraknya nanti. Dia lebih memilih untuk berpikir bagaimana cara untuk bisa mendapatkan kontrak dengan syarat tambahan yang nantinya akan dia ajukan.Melihat ibunya sebagai contoh, Dion juga diam di sampingnya. Hanya sesekali meminum minuman dan makanan yang tersaji di meja di depannya. Walaupun dia ingin sekali melihat sekeliling ruangan yang berada di lantai atas gedung tinggi.Ketika waktu terus mengalir tanpa tahu berapa lama, barulah Sarah mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dua orang memakai jas datang ke arahnya.Ketika Sarah mendongak, matanya yang hitam langsung bertemu pandang dengan mata biru terang yang memikat. Untuk sesaat, Sarah nyaris kehilangan ketenangannya.“Halo, apakah ini Nona Sarah?” tanya Harris sambil mengulurkan tangan sebagai sambutan.Sarah berdiri dan meraih tangan yang terasa dingin itu, “Ya, ini saya. Senang bertemu dengan Anda.”“Senang bertemu deng
“Jadi … mereka memburuku hanya karena itu?”“Kenapa kau terlihat tidak percaya begitu?” tanya Devan saat melihat ekspresi Sarah yang berlebihan.“Bukankah wajar jika mereka mencarimu saat tahu kau hidup dan hanya bersembunyi?”“Ya … tapi tetap saja,” kata Sarah masih belum sepenuhnya menerima fakta itu.Setelah mendapatkan tempat tinggal sendiri, Sarah bisa beraktivitas seperti biasanya. Dia juga mendapat informasi terkait alasan dia dicari oleh para preman itu.Alasan pertama jelas karena ingin membunuhnya agar kemampuannya tidak bisa lagi digunakan, apalagi dipelajari orang lain. Namun, dia juga bisa selamat karena ada beberapa orang masih membutuhkan kemampuannya. Sebab itulah pelariannya waktu itu tidak terlalu ekstrim.“Lalu bagaimana setelah kau tahu jika semuanya seperti ini?” tanya Devan sambil melirik Dion yang membaca buku usang di dekat Sarah.Devan masih belum menerima Dion di sisi temannya itu. Apalagi hidup Sarah sudah sulit untuk sendiri, malah melibatkan anak kecil la
Sarah mendekati Devan yang tersenyum lebar ke arahnya. Saat jarak di antara mereka menipis, Sarah mulai mengerutkan kening saat menatap wajah Devan yang menampakkan mata panda yang parah.“Apa yang terjadi denganmu?”Pertanyaan Sarah itu membuat Devan sedikit tersedak. “Memangnya aku kenapa?”Saat dia bertanya, tangannya juga meraba wajah serta mencium bau badannya sendiri. “Aku tidak bau, kok,” katanya dengan bangga, mengira Sarah tidak nyaman dengan bau badannya.Dia bahkan menyodorkan ketiaknya ke arah Sarah. “Nih, coba cium! Aku sudah mandi tadi. Kau pasti tidak–”“Sudahlah, terserah kau saja,” potong Sarah dengan kesal.Berbicara dengan Devan memang harus mendetail, tapi dia terlalu malas untuk melakukannya.Devan mencebik tidak senang, “Kita sudah lama tidak bertemu, tapi kelakuanmu masih sama menyebalkan seperti dulu.”Masih dengan wajah cemberut, matanya tanpa sadar melirik seorang anak kecil di samping Sarah yang menatapnya dalam diam. Mata Devan berkedip penasaran dan curi
“Ayo lari Dion!”Sarah menarik Dion yang mematung ketakutan saat melihat para preman itu berteriak ke arah mereka.Kejar-kejaran pun tidak bisa terelakkan. Tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang penasaran, mereka menerobos kerumunan dengan panik. Bahkan beberapa kali mereka nyaris tertabrak mobil, baik Sarah maupun kelompok preman itu tidak berniat berhenti.Kekesalan yang disertai makian para penduduk pun juga ikut mengiringi kekacauan mereka.“Sialan! Apa sih yang dilakukan janda itu sampai bisa berbuat seenaknya begitu? Apa dia ingin mati?!”“Padahal diam saja mengganggu, sekarang malah bertingkah di jalanan begitu!”“Hei, apakah kalian tidak lihat dia dikejar beberapa orang yang terlihat seperti preman? Wajar saja dia menabrak kita karena lari-lari.”“Oh, jadi kau mau membelanya?! Aku yakin para preman itu adalah rentenir. Sudah kubilang, wanita tanpa suami tapi memiliki anak itu bukanlah orang baik!”Berbagai macam tuduhan dan makian dilontarkan oleh orang-orang yang berteta







