Share

Bab 4

Author: Ranti
"Siapa yang menyuruhmu nggak pakai masker?"

Rissa berteriak dengan marah. Dia membenci Amelia. Dia merasa benci karena seorang pembantu rendahan justru memiliki wajah yang begitu mirip dengan dirinya. Rissa begitu ingin mencabik-cabik wajah Amelia hingga hancur lebur.

Amelia menggigit bibirnya kuat-kuat. Tangannya yang terkepal sedikit gemetar, sebelum akhirnya mengendur.

Untungnya belum ketahuan. Jika tidak, dia dan ibunya pasti akan diusir dari Keluarga Amarta dan penyakit ibunya benar-benar tidak akan bisa disembuhkan.

"Kalau aku melihatmu lagi, percaya atau nggak, aku akan mengiris wajahmu dengan pisau!" kata Rissa dengan penuh kebencian. Seorang pembantu rendahan, yang hampir tidak merawat diri, malah memiliki wajah yang lebih halus dibanding wajahnya sendiri, yang setiap hari dirawat dengan produk perawatan kulit yang mahal.

Terlebih lagi, wanita yang bersama Jody malam itu juga Amelia.

Membiarkan wanita jalang ini tetap hidup, hanya akan mendatangkan masalah.

Rissa menatap wajah Amelia. Kebencian di matanya bagaikan ular berbisa yang ingin menelan Amelia hidup-hidup.

Tiba-tiba, ponsel Rissa berdering. Rissa melirik nama si penelepon dan raut wajahnya langsung melembut. Sambil menjawab telepon, Rissa berbalik dan naik ke lantai atas. Suaranya terdengar begitu manis dan lembut, "Jody, hmm. Aku belum tidur…"

Amelia pun akhirnya menghela napas lega. Hampir seperti melarikan diri, dia kembali ke rumahnya dengan panik.

Telepon dari Jody tadi, secara tidak langsung sudah menyelamatkannya, bukan? Jika tidak, Amelia yakin jika Rissa pasti akan bertindak kejam kepada dirinya.

Saat Amelia masih syok, ponselnya yang sudah tua itu tiba-tiba berdering.

Ternyata itu telepon dari sahabat baiknya, Monika Pambudi.

"Amelia, kenapa kamu baru mengangkat teleponnya? Aku sudah meneleponmu berkali-kali."

Amelia menarik napas dalam-dalam dan menjawab dengan lembut, "Maaf, aku tadi nggak dengar. Malam-malam begini, ada apa mencariku?"

"Lusa itu ulang tahunmu. Ayo kita bolos dan pergi jalan-jalan. Cuma sekali setahun. Kamu harus merayakan ulang tahunmu dengan gembira."

Amelia tersenyum kecil. Belakangan ini, karena sibuk merawat ibunya, dia benar-benar sampai lupa ulang tahunnya sendiri. Tak disangka, Monika masih mengingatnya.

"Terima kasih, Monika."

"Ngapain berterima kasih? Aku sudah siapkan hadiah untukmu. Jangan terlalu terharu."

Hadiah?

Hati Amelia terasa hangat. Di dunia ini, selain ibunya, hanya Monika yang menganggap serius hari ulang tahunnya.

Setelah berbasa-basi sebentar dengan Monika, Amelia menutup teleponnya. Dia membuka tasnya dan menggeledah isinya. Amelia tertegun saat melihat ada liontin batu alam putih di dalam tasnya.

Liontin batu alam itu begitu halus, tembus pandang dan tanpa cela. Pada permukaan liontin itu terdapat ukiran pola awan, yang terlihat sederhana tetapi mewah.

Kapan Monika memasukkan liontin ini? Amelia sama sekali tidak menyadarinya.

Amelia merasa ragu untuk sesaat, sebelum akhirnya mengirimkan pesan kepada Monika: [Aku sudah lihat hadiahnya. Aku sangat menyukainya. Terima kasih, Monika.]

Setelah meletakkan ponselnya, Amelia mengenakan liontin itu di lehernya. Meskipun Amelia tidak banyak tahu tentang perhiasan dan batu alam, liontin batu alam ini warna dan kilaunya jelas terlihat bersih, bulat sempurna dan begitu murni.

Pasti harganya sangat mahal, 'kan?

Setelah berpikir sejenak, Amelia menyelipkan liontin itu ke dalam pakaiannya dan merasa jauh lebih tenang.

Liontin batu alam itu terasa sejuk, halus, licin dan nyaman saat disentuh.

Amelia sangat menyukainya…

Keesokan harinya, setelah kelas paginya di Universitas Anira selesai, Amelia bergegas berlari keluar dari kampus.

Keluarga Bramantya akan datang siang ini. Semalam, Pak Irsan sudah memperingatkan Amelia dengan nada sinis, jika Amelia sama sekali tidak boleh terlambat. Jika tidak, dia dan ibunya akan diusir dari Keluarga Amarta.

Tepat di saat Amelia berlari keluar dari gerbang kampus, sebuah supercar merah tiba-tiba mengerem mendadak dan berhenti di samping Amelia.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 50

    "Apa yang perlu ditakutkan? Ambar juga nggak ada di sini. Lihat saja tingkahnya hari ini yang begitu sombong, merasa di atas angin cuma karena putrinya menikah dengan Keluarga Bramantya. Lihat, betapa angkuh dirinya."Ambar menarik Amelia ke sudut yang agak sepi. Belum sempat Ambar menginterogasinya, Amelia sudah bertanya dengan nada yang tajam, "Apa kamu yang membawa ibuku pergi? Bukankah kamu sudah janji padaku, selama aku menggugurkan kandungan ini, kamu akan mencarikan donor ginjal untuk ibuku?"Ambar memasang wajah tanpa dosa. "Donornya sudah ditemukan, operasinya bisa segera dilakukan. Memindahkannya ke rumah sakit lain juga demi pengobatan yang lebih baik untuknya ke depan. Apa yang kamu cemaskan?""Di mana ibuku sekarang?" Amelia sama sekali tidak memercayai omong kosong wanita ini.Ambar mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video.Di dalam video tersebut, Wulan tampak berbaring di tempat tidur rumah sakit dengan berbagai selang terpasang di tubuhnya, tetapi kondisinya ter

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 49

    Memikirkan hal tersebut, Amelia segera menelepon Ambar. Namun, Ambar sama sekali tidak mengangkatnya.Amelia lalu mencegat taksi dan melaju kencang menuju kediaman Keluarga Amarta. Dengan perasaan kalut, Amelia berlari masuk ke vila. Begitu melihat Pak Irsan, Amelia langsung bergegas maju dan bertanya, "Mana Ambar? Mana dia?"Pak Irsan mengerutkan kening dan membentak Amelia, "Lancang sekali kamu, beraninya menyebut nama Bu Ambar secara langsung!"Amelia berbalik. Sepasang matanya yang biasanya terlihat rendah hati dan polos, kini hanya menyisakan kemarahan yang dingin. "Cepat katakan!"Tatapan Amelia yang begitu dingin itu seketika membuat Pak Irsan tertegun dan gentar."Di, di Hotel Zaira," jawab Pak Irsan terbata-bata. Pak Irsan sendiri tidak tahu mengapa, tetapi saat menatap mata dingin Amelia, tiba-tiba muncul rasa takut di lubuk hatinya. "Hari ini Pak Jody menyiapkan pesta ulang tahun untuk Bu Rissa. Pak Malik, Bu Ambar dan Bu Rissa, semuanya ada di sana…"Belum sempat kata-kata

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 48

    "Aaah…"Peralatan medis yang dingin mulai masuk merobek. Rasa sakit yang luar biasa datang menghujam.Wajah Amelia pucat pasi bagaikan kertas. Pupil matanya bergetar hebat.Anak…Anaknya…Amelia baru saja mengetahui kehadiran anak itu, tetapi sekarang dia harus kehilangan anak itu.Rasa sakit yang menusuk tulang berpadu dengan kepedihan di dalam hati Amelia.Amelia pun memejamkan mata, lalu jatuh pingsan…Amelia bermimpi. Dalam mimpinya, dia mendekap seorang bayi yang berlumuran darah. Suara tangis bayi itu seolah menembus langsung ke ulu hatinya.Dalam sekejap mata, bayi itu menghilang. Kini yang berdiri di hadapannya adalah Jody dengan wajah sedingin es. Amelia berlari terhuyung-huyung ke arahnya. Suaranya parau terisak, "Aku mohon... aku mohon, selamatkan anak kita."Namun, pria itu tidak bergeming. Pada akhirnya, Jody bahkan mendorong Amelia dengan kasar dan mencengkeram lehernya. "Memangnya kamu itu siapa sampai merasa layak melahirkan anakku?"Amelia tertegun. Dia diliputi kepani

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 47

    Mobil Ambar melaju kencang, membuntuti sebuah taksi di depannya. Pengawalnya berkata, "Bu Ambar, dia menuju ke arah Vila Adara."Hati Ambar langsung mencelos, gawat!Jika Jody sampai mengetahui tentang skandal Keluarga Amarta yang menukar pengantin saat pernikahan…Serta fakta jika Amelia sedang hamil…Tamatlah riwayat Keluarga Amarta.Lalu, putri kandungnya yang sudah bersusah payah menjadi istri Jody, akan direbut posisinya oleh wanita murahan itu.Di kalangan elite, latar belakang keluarga yang bersih adalah satu hal. Namun, begitu ada anak yang terlibat, itu urusan lain lagi.Bola mata Ambar berputar dengan cepat. Tiba-tiba, Ambar tersenyum tipis. Dia segera menelepon Amelia, tetapi tidak diangkat. Ambar tidak marah. Dia langsung mengetikkan sebuah pesan singkat kepada Amelia.[Aku tahu, kamu selama ini mencari donor ginjal yang cocok untuk ibumu. Aku bisa membantumu, asalkan kamu setuju untuk menggugurkan kandungan itu dan menjaga rahasia ini. Ibumu bisa menjalani operasi transpla

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 46

    Menyadari adanya kemungkinan lain, Ambar segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Rissa. "Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Ibu?""Nggak ada, Ibu.""Masih berani membohongiku? Amelia hamil. Usia kandungannya sudah delapan minggu. Rissa, apa yang sebenarnya terjadi?""Apa?" Rissa terkejut di dalam hati.Langsung hamil hanya dalam satu malam? Keberuntungan macam apa yang dimiliki Amelia ini?"Rissa, apa kamu berniat menyembunyikannya dari Ibu?" Ambar menyadari ada yang tidak beres dari nada suara putrinya. Dia pun melunakkan bicaranya.Rissa tidak berani memberi tahu Ambar jika dialah yang memberikan obat dan fakta jika dirinya sudah tidak perawan lagi. Rissa pun berkata dengan mencampurkan antara fakta dan kebohongan, "Orang yang bersama Jody di hotel malam itu adalah Amelia. Kebetulan aku memergokinya. Jadi, aku menyuruh Amelia merahasiakannya agar aku bisa berpura-pura menjadi dirinya.""Kamu… Kenapa masalah ini nggak kamu beritahukan pada Ibu sejak dulu?""Ibu, aku, aku

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 45

    Rissa akhirnya keluar dari rumah sakit tepat sebelum Jody kembali ke tanah air.Alergi Rissa sudah pulih sepenuhnya. Tidak ada bekas luka yang tertinggal di tubuh maupun wajahnya.Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan kediaman Keluarga Amarta. Begitu Rissa turun dari mobil, Ambar langsung memeluk putrinya itu. "Biarkan Ibu melihatmu. Syukurlah kalau kamu sudah nggak apa-apa. Kamu benar-benar membuat Ibu khawatir.""Ibu, aku janji nggak akan bertindak sembarangan lagi ke depannya."Di samping mereka, Malik dengan wajah serius memanggil Rissa ke ruang kerja dan berkata dengan nada yang tegas, "Masalah ini cukup sampai di sini. Nanti, setelah kamu masuk ke Keluarga Bramantya, sebaiknya kamu simpan baik-baik sifat manjamu itu. Juga… kali ini Amelia sudah membantumu. Pergilah dan ucapkan terima kasih padanya dengan baik.""Aku mengerti, Ayah," jawab Rissa. Namun, dia sama sekali tidak memasukkannya ke dalam hati.Menyuruhnya berterima kasih pada Amelia?Jangan mimpi.Malik menggelengka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status