Home / Fantasi / Ikatan Darah dan Giok Anora / Bagian 2, The Mark of Anora

Share

Bagian 2, The Mark of Anora

Author: qworamora
last update Huling Na-update: 2025-09-08 16:22:15

“Kau siap mengubah takdirmu?” Suara itu terdengar bahkan sebelum Anora membuka matanya.

Anora membuka matanya, menatap langit-langit apartemen yang berwarna abu-abu pucat. Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis, menyorot debu-debu kecil yang menari di udara. Dia melihat ke sekeliling yang tidak asing lagi baginya — apartemennya, tidak ada yang berubah.

“Kau siap, mengubah takdirmu?” ucap suara itu sekali lagi setelah Anora membuka matanya.

Anora menatap kucing itu, dia bertolak pinggang. Wajahnya menegang, kedua alisnya bertaut seolah tengah menantang musuh. Namun, ada gurat penasaran di matanya yang tak bisa dia sembunyikan.

“Mengapa aku tanpa sadar menurut denganmu! Seharusnya aku yang memimpin!” ujar Anora.

“Kau harus mendengarkanku agar tidak salah! Aku yang seharusnya marah kepadamu...”

“Mengapa?”

“Karena kau satu-satunya vampir yang menyebalkan, bodoh, tidak jelas!” ucap kucing itu yang berjalan untuk membaringkan tubuhnya di sofa.

“Sial, aku tidak sebodoh itu!” sentak Anora, dia berjalan untuk mendekati kucing hitam dan duduk di single sofa.

“Kalau tidak seharusnya kau tahu akan dikhianati.”

“Mana aku tahu, semuanya juga pasti pernah melakukan kecerobohan itu. Lagian ini pertama kalinya aku hidup,” ucap Anora menatap kucing hitam itu yang meregangkan badannya, sudah nyaman sepertinya.

“Aku ingatkan, kau sudah berumur 170 tahun...”

Anora berdecak kesal, “untuk golongan vampir, umur 170 itu masih dianggap muda!”

“Kau yang bodoh, tidak tahu seperti itu... Huh!” lanjut Anora menatap sinis ke arah kucing hitam.

Kucing hitam itu memutar bola matanya malas, “baiklah, anak kecil. Kau harus tahu beberapa hal untuk mengubah takdirmu. Aku akan beri tahu...”

“Anak kecil? Aku sudah dewasa,” ujar Anora tak terima, dia memotong ucapan kucing itu.

“Huh, ternyata begini merawat vampir yang belum matang...” gumam kucing hitam dengan menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Bisa-bisa dia akan darah tinggi setelah selesai dengan tugasnya.

“Baiklah, pertama-tama... Dengarkan ini, oke?”

Anora dengan malas mengangguk, “cepat!”

“Kau adalah seorang vampir, namamu Anora Draven dan kau harus memisahkan tokoh utama perempuan dengan tokoh utama prianya, lalu–“

“Tunggu, jadi aku bukan tokoh utamanya?” potong Anora dengan menunjuk dirinya sendiri, Anora menatap kucing hitam itu dengan wajah tidak setuju.

“Bukan,” balas kucing hitam itu malas, dia bahkan sudah malas menatap wajah Anora.

“Why?”

“Kau diam dahulu bisa tidak!” ucap kucing hitam itu yang sudah sangat kesal dengan Anora.

Dengan malas Anora mempersilahkan kucing hitam itu untuk melanjutkan perkataannya yang terpotong oleh dirinya.

“Lalu, kau harus mencari ‘tabung darah’ untuk mengisi energimu, ingat kau dikhianati oleh tabung darahmu dahulu. Jadi, cari orang yang berbeda...” ucap kucing hitam melanjutkan.

“Untuk orang-orang yang tadi aku jelaskan, aku akan memberi tahunya ketika nanti kita bertemu mereka,” lanjutnya.

“Sekarang poin penting yang harus kau tahu, kau baca sendiri saja di buku itu. Aku sudah meringkasnya, aku malas bicara....” ujar kucing hitam itu dengan menunjuk sebuah buku yang ada di atas meja menggunakan dagunya.

Anora berdecak kesal hingga akhirnya mengambil buku itu dan membacanya.

“Katanya sudah diringkas, tetapi bukunya sangat tebal...” gumam Anora, dengan membolak-balik buku untuk menelitinya.

“Baca saja, tidak usah ribet!”

A. Awal

Vampir lahir dari orang mati yang tidak dimakamkan dengan benar, atau orang yang dikutuk.

Untuk Vampir bangsawan: mereka sering digambarkan punya kode etik seperti tidak sembarang membunuh manusia, menjaga keseimbangan dunia, atau punya hukum kuno.

3 Keluarga Vampir yang masuk jajaran bangsawan:

• Valemont

• Draven

• Graveson

Poin-Poin Penting yang Harus Diketahui (Vampir)

1. Darah bukan Cuma nutrisi, tetapi sarana menyerap jiwa, ingatan, bahkan emosi.

2. Tidak takut salib, bawang putih, atau matahari.

3. Dia tidak punya bayangan atau pantulan karena roh mereka tidak utuh, tetapi bisa berpura-pura seakan punya dengan trik ilusi, (hanya beberapa yang bisa.)

4. Hanya bisa mati kalau dikhianati oleh orang yang dia percaya sepenuh hati.

5. ...

Anora menutup buku itu setelah membaca bab awal, dia tersenyum miring. “Jadi aku termasuk bangsawan? Hahaha,” ucapnya dengan tawa angkuh.

Kucing hitam itu berekspresi lelah saat melihat tingkah Anora, “karena kau bangsawan maka jaga tingkah lakumu jangan sembarangan. Kau akan mencoreng nama baik moyangmu karena tingkah lakumu itu!”

“Aku tahu, aku hanya bercanda,” ujarnya, dia melempar buku itu ke atas meja. “Aku akan membacanya lagi nanti,” lanjutnya.

“Kau harus baca sampai selesai, karena ada hal penting lainnya. Apalagi masih banyak hal untuk vampir sepertimu,” ucap kucing itu memberi tahu.

“Besok kau harus kembali berbaur dengan manusia. Itu bagian dari takdirmu, nona Draven,” lanjut kucing hitam itu.

“Baiklah, aku mengerti. Jadi, hari ini aku akan mengurus perpindahan sekolah?” tanya Anora, membaringkan tubuhnya di sofa.

“Hmmm, bersiaplah...”

“Besok, kau akan kembali ke sekolah,” ucap kucing itu pelan.

“Di sana, takdirmu dimulai lagi.”

Anora mengangkat alis. Sekolah?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ikatan Darah dan Giok Anora   Bagian 109, A Thread Bound by Eternity

    Anora berdiri di balkon, menikmati angin malam yang berembus pelan. Rambutnya berkibar tertiup angin, menyentuh pipinya lalu terlepas kembali, sementara tatapannya terarah ke langit gelap yang dipenuhi kilau bintang, membawa keheningan yang menenangkan."Kau terbangun?" tanya Alaric di belakang Anora. Dia menghampiri Anora, lalu memeluknya dari belakang."Vampir memang makhluk malam, bukan?" Anora menyenderkan kepalanya pada tubuh Alaric.Alaric tertawa pelan. "Hampir lupa kalau kita vampir."Hening.Mereka berdua sama-sama terdiam, menikmati hembusan angin malam yang menyejukkan.Tidak lama, Anora mendengar lolongan serigala yang berasal dari hutan–tidak jauh dari tempat hutan Ashlyn."Kau mendengarnya?" tanya Anora.Alaric diam mencoba mendengar apa yang Anora bilang. "Tidak, sepertinya pendengaranmu semakin tajam...""Sungguh? Aku mendengar lolongan Serigala," jawab Anora. Anora terdiam, melihat lurus ke arah hutan. "Kau tahu, mate Selvara?""Suara yang aku dengar tadi, itu dia.

  • Ikatan Darah dan Giok Anora   Bagian 108, A Gentle Beginning

    Malam turun dengan lembut.Anora bersandar di bahu Alaric, menatap bintang-bintang yang berkilau tenang. Kepalanya tidak lagi sakit. Yang tersisa hanya rasa lelah yang manis."Alaric?" bisiknya."Hm?""Kalau suatu hari aku lupa… atau berubah…""Aku akan mengingatmu," jawab Alaric tanpa ragu. "Dalam bentuk apa pun."Anora tersenyum, memejamkan mata.Di kejauhan, Sebastian berdiri sendiri di bawah langit yang sama. Angin malam menyapu mantel putihnya. Dia menatap bintang paling terang, Senyumnya tipis, hampir tak terlihat—namun tulus."Jika ini sudah takdirku di kehidupan ini…" gumamnya nyaris tak terdengar, "…maka biarlah aku bahagia melihatmu bahagia."Langit tetap diam. Tapi bintang-bintang bersinar lebih terang dari biasanya.Dan untuk malam itu, dunia membiarkan mereka semua berbahagia.---Malam semakin dalam. Udara dingin mengalir pelan, tapi kehangatan di antara mereka tak berkurang sedikit pun.Alaric menyesuaikan posisinya, satu lengannya melingkari Anora dengan hati-hati, seo

  • Ikatan Darah dan Giok Anora   Bagian 107, A Quiet After the Storm

    Rasa sakit itu tidak berlangsung lama.Anora terhuyung, jemarinya masih mencengkeram sisi kepalanya ketika denyutan tajam itu perlahan mereda, menyisakan rasa lelah yang dalam. Napasnya terengah sejenak sebelum akhirnya kembali stabil. Ruangan kerja itu sunyi, hanya cahaya lampu kecil yang temaram menemani.Udara terasa dingin di kulitnya. Detik-detik berlalu dengan lambat, seolah dunia sengaja memberinya waktu untuk kembali berpijak pada kenyataan. Detak jantungnya masih sedikit lebih cepat dari biasanya, namun tidak lagi kacau."Aneh…" gumamnya pelan.Suara itu hampir tenggelam dalam keheningan. Tidak ada jawaban. Tidak ada gema sihir yang biasanya menyusul setiap gangguan seperti ini.Dia berdiri lebih tegak, mengusap pelipisnya perlahan. Tidak ada darah. Tidak ada sisa sihir liar yang terasa. Hanya sensasi seperti ingatan yang nyaris muncul—lalu menguap begitu saja.Perasaan itu membuat dadanya sesak sesaat, seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia genggam. Tapi Anor

  • Ikatan Darah dan Giok Anora   Bagian 106, False Calm

    Setelah kesadaran Kael benar-benar pulih, Anora akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega.Dia sempat kembali ke ruang perawatan, sekadar memastikan Kael stabil. Sebastian sudah menangani lukanya dengan tenang dan teliti, sihir penyembuhnya bekerja perlahan namun pasti. Tidak ada lagi kepanikan. Tidak ada lagi napas yang tersendat atau detak jantung yang nyaris menghilang.Dan untuk pertama kalinya sejak kekacauan itu berakhir, Anora mengizinkan dirinya sendiri untuk beristirahat.Malam telah turun sepenuhnya ketika ia berdiri di depan jendela kamarnya. Kota membentang luas di bawah sana, berkilauan dalam cahaya lampu-lampu yang menyala seperti bintang jatuh yang tak pernah padam. Dari ketinggian itu, semuanya tampak tenang—terlalu tenang, bahkan."Banyak sekali yang berubah," gumam Anora lirih.Kata-kata itu meluncur begitu saja, seolah keluar bersama embusan napas yang dia lepaskan perlahan. Bahunya turun sedikit, tubuhnya terasa lebih ringan namun pikirannya justru semakin penuh."

  • Ikatan Darah dan Giok Anora   Bagian 105, The One Who Stayed

    Hari-hari berlalu tanpa benar-benar meninggalkan jejak.Apartemen Anora tetap berada dalam keadaan yang sama—perlindungan sihir berdenyut stabil, cahaya tipis mengalir di dinding seperti nadi yang tidak pernah tidur. Di dalamnya, waktu bukan lagi garis lurus, melainkan lingkaran kecil yang terus berputar di sekitar satu hal: napas Kael.Anora menjadi pusat lingkaran itu.Dia jarang benar-benar tidur. Jika pun matanya terpejam, itu hanya beberapa menit—cukup untuk membuat tubuhnya tidak roboh. Begitu napas Kael berubah, sekecil apa pun, Anora selalu terjaga. Seolah ada benang tak terlihat yang menghubungkan kesadarannya dengan ritme di ranjang itu.Pada hari ketiga, Sebastian mencatat sesuatu."Napasnya," katanya pelan, sambil mengamati simbol sihir yang bergetar halus di udara. "Mulai menyesuaikan."Ink menoleh. "Menyesuaikan bagaimana?""Sinkron," jawab Sebastian. "Saat Anora tenang, napas Kael ikut stabil. Saat dia lelah—irama Kael ikut goyah."Anora mendengarnya. Dia tidak menoleh.

  • Ikatan Darah dan Giok Anora   Bagian 104, Between Breaths

    Apartemen Anora tidak pernah terasa setenang ini. Perlindungan sihir aktif di setiap sudut—lapisan cahaya tipis berdenyut lembut di dinding, jendela, dan lantai. Dunia di luar boleh saja runtuh, tapi di dalam sini, segalanya terkunci. Aman. Sangat aman. Kael dibaringkan di tengah lingkaran perlindungan utama—di atas ranjang Ink. Dadanya naik turun teratur. Napasnya ada—kembali, sebelum tadi sempat menghilang. Kulitnya tidak sedingin sebelumnya. Secara teknis, semua tanda kehidupan masih melekat pada tubuh itu. Namun tidak ada satu pun yang terasa benar. Anora duduk di sampingnya sejak mereka tiba. Jaketnya masih berlumur debu dan sisa sihir, rambutnya acak-acakan, tapi dia tidak peduli. Tangannya bertumpu di sisi Kael, jari-jarinya sesekali bergerak kecil—merapikan kerah baju, meluruskan lipatan kain. "Kau selalu keras kepala," gumamnya pelan, seperti mengomel biasa. "Tidak pernah mengeluhkan apa pun, ke siapa pun..." Kael tidak menjawab. Sunyi itu merayap pelan, bukan menghant

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status