Compartir

Bab 20

Autor: UmaMe
last update Fecha de publicación: 2026-09-02 16:28:07

Penyelidikan dan Malam yang Terlambat

---

Pagi itu Angga berangkat ke kantor seperti biasa. Sesampainya di ruang kerjanya, Rendra sudah menunggu dan menyambut kedatangannya. Tak lama kemudian Rendra keluar dan kembali lagi membawa selembar demi selembar foto yang memperlihatkan Danindra sedang sibuk bekerja di sebuah restoran.

"Nyonya Danindra ternyata bekerja, Tuan," lapor Rendra hormat.

Angga menatap foto itu lekat-lekat. "Kenapa ia sampai harus bekerja?"

"Sepertinya untuk membayar uang kulia
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 34

    Kemarahan yang MelindungiSaat Danindra pergi bersama Bobby, sosok Angga tiba-tiba muncul di gerbang kampus. Diana yang belum beranjak langsung menegang melihat pintu mobil terbuka dan sosok yang dikenalnya melangkah keluar. Semoga dia tidak melihatku, batinnya berdoa, berusaha menyusup di antara kerumunan mahasiswa yang pulang. Namun seakan ada benang tak kasat mata yang menarik pandangan Angga tepat ke arahnya.“Hei, tunggu!” seru Angga.Diana pura-pura tak mendengar, mempercepat langkah. Suara itu terdengar lagi, lebih tegas, “Hei, kau teman Danindra, kan?”Kaki Diana terhenti. Ia menoleh perlahan, menyunggingkan senyum yang dipaksakan. “Kau memanggilku?”“Iya,” jawab Angga singkat, tanpa basa-basi. “Di mana Danindra?”Diana terdiam. Haruskah jujur atau menutupi? Keraguan menguasainya, namun tatapan tajam Angga tak memberi ruang untuk mengelak. “Dia… sudah pergi.”“Pergi ke mana?” tanya Angga, nada bicaranya semakin mengeras.“Ke acara ulang tahun temannya.”“Kenapa kau tidak ikut

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 33

    Keraguan di Antara Dua HatiSeperti biasa, pagi itu Danindra berangkat ke kampus lebih awal. Saat sarapan tadi, Angga sudah menyampaikan bahwa ia tak bisa mengantar karena ada urusan mendesak di kantor. Dengan nada yang sengaja dibuat santai, Danindra menjawab, “Aku tidak menyuruhmu kok. Tadi pagi sudah bilang sama Pak Narto, dia yang akan mengantar.”Angga hanya menatapnya sekilas, bibirnya terkatup rapat tanpa sepatah kata pun. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan, lalu beranjak meninggalkan meja makan. Danindra menghela napas panjang, lalu segera berdiri dan melangkah ke depan rumah, di mana mobil Pak Narto sudah menunggu.Sesampainya di kawasan kampus, mata Danindra tak sengaja tertuju pada sesosok tubuh yang sedang duduk di atas motor besar berwarna hitam mengkilap. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Motor itu terparkir tepat di jalan yang akan dilewatinya. “Itu… Bobby?” gumamnya pelan.Mobil Pak Narto berhenti di belakang motor tersebut. Danindra terpaku sejenak sebel

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 32

    Langkah Kecil Menuju HatiSesampainya di dalam kamar, Danindra menutup pintu rapat-rapat dan bersandar di sana, menutup matanya sejenak mencoba menenangkan napas yang masih terasa berat. Belum sempat ia meletakkan tas di meja belajar, ponsel di tangannya bergetar nyaring. Nama Bobby terpampang di layar. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Danindra mengangkatnya."Halo..." suaranya pelan."Din? Kamu sudah sampai rumah dengan selamat kan? Kamu baik-baik saja?" suara Bobby terdengar cemas di seberang sana.Danindra menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di cermin lemari — terlihat begitu lelah dan bingung. "Aku baik-baik saja, Bob. Makasih sudah khawatir. Maaf untuk kejadian tadi...""Nggak apa-apa kok, yang penting kamu aman. Istirahatlah, Din. Kalau butuh teman cerita, aku selalu di sini," ucap Bobby lembut sebelum menutup telepon.Danindra meletakkan ponselnya, duduk di tepi ranjang, dan memeluk lututnya. Kejadian sore tadi terus berputar di kepalanya — tatapan tajam Angga,

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 31

    Senja yang Berubah BadaiLangit sore mulai berubah jingga keunguan di balik pepohonan rindang di belakang kampus. Suasana tenang, sejuk angin berhembus pelan, seolah ikut menemani hati Danindra yang perlahan terasa lebih ringan setelah puas meluapkan segala isi hatinya pada Diana. Sudah cukup lama mereka duduk di sana, bercerita, tertawa, sesekali mengeluh — hal-hal kecil yang membuat beban di pundak Danindra terasa tidak seberat biasanya.Diana menatap langit sebentar lalu menepuk pelan lututnya. "Yaudah, Din. Hari sudah mau gelap. Ayo pulang, nanti hari makin gelap dan nggak enak di jalan."Danindra mengangguk setuju, lalu keduanya berdiri dan berjalan berdampingan meninggalkan tempat itu. Langkah mereka santai, menikmati sisa hari yang hangat. Belum sampai gerbang keluar, ponsel di saku tas Danindra berdering nyaring. Ia berhenti, mengeluarkan ponselnya, dan nama Bobby tertera jelas di layar.Diana melirik sekilas sambil terus berjalan pelan. Danindra mengangkat telepon itu, menemp

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 30

    Suami yang Tak Tahu Cara MerayuPagi itu, udara pagi terasa sejuk menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka, namun tidak ada kehangatan yang terasa di antara mereka. Danindra berdiri di teras dengan kedua tangan terlipat di depan dada, menatap lurus ke depan tanpa sedikit pun melirik ke arah pria yang berdiri tak jauh darinya. Angga menatap punggung wanita itu sejenak, lalu menghela napas pelan."Masuk ke mobil. Kita berangkat sekarang," ucap Angga, suaranya terdengar biasa saja namun ada nada yang sedikit memaksa di dalamnya.Danindra tidak menjawab. Tidak menoleh, tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Ia hanya melangkah masuk ke dalam mobil, membuka pintu di kursi penumpang depan, duduk, dan menutup pintu dengan pelan namun tegas. Sepanjang perjalanan menuju kampus, keheningan menyelimuti kabin mobil yang luas itu. Tidak ada percakapan, tidak ada tatapan, bahkan sekadar suara napas pun seakan tertahan di udara. Angga sesekali melirik ke samping, namun Danindra sel

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 29

    Malam yang Penuh KejutanKetukan pintu terdengar berulang kali, lembut namun cukup nyaring untuk menembus keheningan kamar. Danindra terbangun dengan berat kelopak matanya, menguap kecil saat melangkah membukakan pintu. Di sana berdiri Bik Wati dengan senyum hangatnya yang tak pernah berubah."Maaf ya, Nyonya, mengganggu waktu istirahatnya," ucap Bik Wati dengan nada bersalah. "Tadi Tuan Angga menelepon. Beliau sebentar lagi pulang dan akan segera menjemput Nyonya. Beliau berpesan agar Nyonya segera bersiap-siap."Danindra mengerjap, kesadaran perlahan kembali sepenuhnya. "Baik, Bik. Terima kasih sudah memberitahu," jawabnya pelan. Bik Wati pun mengangguk sopan dan berjalan pergi.Begitu pintu tertutup, Danindra segera bergegas. Ia melangkah ke kamar mandi, membasuh wajahnya hingga terasa segar kembali. Dengan cermat, ia mulai merias wajahnya—tak berlebihan, cukup tipis agar terlihat alami namun tetap berseri. Ia menyisir rambutnya, memutar-mutar jari agar terbentuk ikal yang lembut d

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status