LOGINAldi perlahan membuka mata. Ia akhirnya memahami mengapa tekniknya tiba-tiba berkembang sendiri. Ternyata, Teknik Prinsip Jiwa ini bukanlah seratus persen ciptaannya, melainkan gabungan dari berbagai kekuatan. Saat mendapat tambahan energi lain, teknik itu akan berkembang secara alami dan memberikan wawasan baru bagi penggunanya. Artinya, semakin banyak ras yang menggunakan Teknik Prinsip Jiwa, semakin mendalam pula pemahaman mereka tentang kultivasi.Pandangannya langsung mengarah ke sosok penyihir yang terbang di langit. Di saat yang sama, ia juga bisa merasakan keberadaan kubah tak kasat mata yang melindungi semua orang. Kedua alis Aldi berkerut saat melihat Justin yang tampak kebingungan.Justin adalah penyihir jenius, anak dari seorang Viscount yang berkelana demi mencari pengalaman bertarung. Namun, langkahnya sedikit terhambat karena Aldi berhasil mengalahkannya dengan cukup mudah—bahkan setelah laga itu, Aldi masih harus menghadapi Visco.Bagi seorang penyihir, terbang adalah
Kabut panik sempat menyergap benak Aldi saat melihat tubuh Rini perlahan melenyap. Namun, ia memaksakan Prana tetap mengunci pandangannya untuk membedah fenomena yang sedang terjadi. Begitu pendaran cahaya hijau memudar, Aldi melesat mendekat.Tunas pohon kecil di hadapannya mulai bermanifestasi dan tumbuh secara abnormal. Dari yang awalnya hanya setinggi sejengkal tangan, tanaman itu meroket cepat hingga menjadi pohon dewasa setinggi dua meter.DEG!Dentuman misterius itu kembali menggetarkan udara. Aldi menoleh ke segala penjuru, nihil. Penasaran, ia memberanikan diri menempelkan telinganya ke kulit pohon yang masih bergetar hebat tersebut."Tidak mungkin... suaranya berasal dari dalam batang ini?"Sebelum rasa terkejutnya reda, tubuh Aldi mendadak memancarkan pendaran hijau pekat. Kemampuan pasif Regenerasi Super miliknya tiba-tiba meraung liar, menciptakan resonansi paksa yang menyedot sekaligus mengalirkan balik seluruh energi alam di sekitarnya."Cih, fenomena apa lagi ini?!" er
Setelah mengerahkan seluruh perlawanan, Visco akhirnya tumbang dan jatuh pingsan di tanah yang hancur. Di tengah gemuruh stadion, Aldi justru mendongak, menatap lurus ke langit tempat dua sosok pria tua mengawasinya sedari tadi. Sadar keberadaan mereka telah terkunci, kedua sosok misterius yang enggan menampakkan wajah itu langsung melesat pergi.Bersamaan dengan itu, suara komentator membahana mendefinisikan kemenangan mutlak nomor 178. Pihak penyelenggara Arena Mojor kembali menelan pil pahit; mereka merugi hingga sebelas ribu koin emas karena meremehkan Aldi. Di sisi lain, kelompok Bluewings pulang dengan kantong yang dipenuhi ribuan koin emas hasil taruhan.Setelah menerima hadiah utama berupa Inti Monster tingkat tinggi, Aldi menyadari benda itu tidak lagi berguna untuk menembus batas tubuhnya sendiri. Tanpa ragu, ia menyerahkannya kepada Frank. Setelah Frank berhasil menyerap dan menyaring seluruh energi keruh di dalam inti tersebut, sebuah ledakan energi murni tercipta—pria par
Melihat energi hijau yang menyelimuti tubuh Aldi, Visco segera meningkatkan kewaspadaannya dan langsung menerjang maju. Satu hantaman keras ia layangkan murni untuk meremukkan dada musuhnya, namun serangan bertenaga itu mendadak terhenti oleh satu telapak tangan Aldi.Energi hijau di tangan Aldi tidak hanya menahan benturan, tetapi juga meredam seluruh gelombang kejutnya, membuat pukulan telak Visco seketika kehilangan daya ancam.Aldi memutuskan bahwa waktu bermain-mainnya sudah habis. Menolak untuk terus membuang waktu dengan bertahan, ia mengambil alih kendali pertempuran. Tinju kanannya melesat secepat kilat, menghantam dada Visco yang sempat lengah akibat kehilangan momentum.Melihat pertahanan musuhnya terbuka, insting bertarung Aldi bergejolak. Tanpa memberi jeda satu napas pun, ia menghujani Visco dengan kombinasi pukulan beruntun yang brutal.BAM! BLAAM! BAM!Udara di sekeliling mereka menjerit hebat, terdistraksi oleh gelombang kejut mematikan yang tercipta dari setiap bentu
Wujud asli dari mode bertarung Justin kini terekspos sepenuhnya. Jubah penyihirnya yang terkoyak menampilkan bentuk tubuh yang bertolak belakang dengan penyihir rapuh pada umumnya. Otot-ototnya mengeras padat, berpadu dengan kulit biru tua yang membuatnya tampak seperti entitas iblis yang siap meratakan seisi kota.Sebelum Aldi sempat menganalisis perubahan struktur energi tersebut, tubuh Justin lenyap secara mutlak. Tanpa ada riak udara ataupun peringatan, sosok biru tua itu sudah muncul tepat di depan garis pandang Aldi, melayangkan satu pukulan keras ke arah dada.BLAAM!Hantaman berkekuatan destruktif itu melempar tubuh Aldi melesat lurus hingga menabrak dinding pembatas arena hingga retak parah. Asap tebal dan puing batu berjatuhan. Namun, alih-alih meringis kesakitan akibat patah tulang, dari balik kepulan debu, Aldi justru bangkit berdiri perlahan dengan seringai lebar di wajahnya. Rasa sakit dan tekanan hebat ini... adalah apa yang ia cari selama ini untuk menembus batas kemam
Sembari menahan perih di perutnya, Justin buru-buru membangkitkan Mana Shield baru dan melompat mundur demi menciptakan jarak aman sembari merapalkan mantra panjang. “Matilah kau!” teriaknya berang, meluncurkan sebuah sihir api.Aldi yang melihat kedatangan mantra api itu justru mengernyit kecewa. Serangan yang melesat ke arahnya ternyata hanya berukuran sebesar bola basket. Begitu objek itu mendekat, pedang Aldi bersinar terang; dalam satu tebasan horizontal, ia membelah bola api tersebut hingga padam menjadi percikan udara.“Apa hanya ini batas kemampuan seorang jenius?” tanya Aldi, sengaja mengeraskan suaranya.Gemuruh di tribun mendadak sirna. Seluruh penonton melongo menyaksikan seorang Ksatria mampu memotong serangan sihir murni de
Prinsip Jiwa adalah teknik kultivasi yang masih bisa berkembang, Aldi akan terus memperbaikinya seiring berjalannya waktu. Teknik kultivasi kuno dipadukan dengan pengetahuan modern menciptakan aliran baru.Pemuda yang paling tua berdiri dan bertanya dengan ekspresi serius. “Tuan Muda, bagaimana den
Aldi duduk bersila menghadap matahari pagi yang begitu indah. “Bumi dulu pasti seindah ini.” Kenangan lama mulai muncul di pikirannya. Namun Aldi tidak mau ambil pusing dan fokus memperbaiki tubuhnya.
Gerard yang sudah tak sadarkan diri menyerang membabi buta. Ronald menangkis serangan dengan senyum lebar di bibirnya, meski beberapa serangan kecil menembus penjagaannya itu dapat diabaikan berkat Keterampilan Regenerasi.Grace melihat pertarungan gila itu, ia sudah sebulan berlatih den
Ronald seorang pemuda yang penuh gairah bertarung setelah memutuskan mengabdi pada Tuannya. Setiap ada waktu ia terus berlatih, bahkan saat bekerja ia menggerakkan setiap ototnya. Hasilnya tubuh yang kekar dengan tinggi badan yang cukup membuatnya cocok memegang perisai dan pedang.Melihat Ronald y







