เข้าสู่ระบบDia menyandarkan tubuhnya yang gemetar pada sandaran kursi, kepalanya terasa ringan, tapi matanya membara dengan kombinasi ngeri dan kejengkelan yang mendidih. "Kau sudah mengambil tidurku. Kau sudah mengambil ketenanganku. Apa lagi? Apa lagi yang harus kau ambil sampai kau puas?"
The Grey Gentleman berbalik sepenuhnya kini. Senyum tipisnya tidak berubah, tetapi matanya yang abu-abu itu seakan menyipit sedikit, seperti seorang ilmuwan yang mengamati reaksi menarik dari subjek eksperimennya. Dingin dan penuh perhitungan."Menghantui?" ujarnya perlahan, seolah mengeja kata itu dengan rasa penasaran. "Kau menyebutnya 'menghantui', Felicity? Itu adalah istilah yang... dramatis." Dia mengambil satu langkah mendekat, dan aroma besi tua serta debu perpustakaan seolah tergantikan oleh hawa dingin yang dibawanya."Aku hadir dalam mimpimu karena itu adalah bahasa yang paling mudah untuk jiwa yang sedang kebingungan seperti dirimu. Tapi kau, dengan keras kepalamu yanSementara Felicity terbangun di dunia yang sederhana dan asing, di pusat kota yang ramai, Theron Blackwood membakar hidupnya dengan satu tujuan: menghancurkan Rourke dan Lord Septimus. Kehilangan Felicity telah mengubah ambisinya yang dahulu berwarna emas dan peluang, menjadi sebuah ambisi yang gelap, tajam, dan penuh dendam. Ia tidak lagi sekadar melihat potensi; ia melihat kehancuran yang harus dibayar.Kantor pusat Blackwood Industries, yang biasanya menjadi tempat transaksi dan inovasi, kini berubah menjadi pusat komando penyelidikan pribadi. Di ruang kerjanya yang megah bertingkat kaca, Theron tidak duduk di belakang meja. Ia berdiri di depan papan besar yang dipenuhi potret, diagram, dan benang merah yang menghubungkan satu nama ke nama lain.Target Utama: Lord Septimus vance. Seorang bangsawan tinggi yang dikenal luas sebagai filantropis dan kolektor seni, dengan pengaruh yang dalam di istana. Wajahnya yang tampan dan ramah tersenyum dari potret koran, tetap
Sore hari itu, kesadaran Felicity telah pulih sepenuhnya. Meski tubuhnya masih terasa berat dan lemah seperti kapas basah, pikirannya sudah jernih, mampu menyerap sekelilingnya: ruangan sederhana dengan perapian batu, furnitur kayu kasar namun kokoh, dan aroma hangat masakan serta kayu bakar. Sinar jingga senja menyusup masuk, memberikan cahaya keemasan yang menenangkan.Sang Nenek yang memperkenalkan diri bernama Martha,dengan sabar duduk di sisi dipan. Menyuapi Felicity sesuap demi sesuap bubur gandum sederhana yang hangat. Setiap sendok terasa seperti berkah bagi tubuh Felicity yang kelaparan dan kelelahan. Sebelumnya, Martha juga membantunya meneguk air bening dari cangkir kayu, rasanya seperti embun bagi tenggorokannya yang kering.Tepat saat mangkuk bubur hampir habis, pintu kayu berderak terbuka. Masuklah sang Kakek dengan jaket tebal berlapis salju, membawa seikat kayu bakar. Wajahnya yang keriput dan berjanggut memutih itu terlihat lelah, namun begitu mata
Seminggu telah berlalu sejak malam yang mengerikan di tebing Three-Fork Crossing. Di dalam rumah petani sederhana itu, waktu mengalir pelan, diukur dari pergantian perban, suara api unggun yang berderak, dan desahan napas gadis tak dikenal yang terbaring tak sadarkan diri.Pagi yang dingin, tetapi udara di dalam ruangan terasa hangat oleh bara api yang masih membara di perapian. Cahaya abu-abu pucat menyusup dari celah-celah jendela kayu, menyinari debu yang menari pelan.Di atas dipan yang ditumpuk selimut wol tebal, sebuah perubahan halus mulai terjadi. Jari-jemari Felicity yang terbaring di atas selimut, tiba-tiba berkedut. Gerakannya ringan, seperti kejang kecil, lalu diikuti oleh jari tangan yang lain. Otot-otot di lengannya mengencang sesaat, sebelum kembali lemas.Di antara samudra kegelapan dan serpihan ingatan yang tercerai-berai, pikiran Felicity terdampar di suatu tempat yang seharusnya sudah tidak lagi bisa ia jangkau: kehidupan lamanya di duni
Lysander berdiri membelakangi pintu kamar tidurnya yang megah, menatap tanpa berkedip ke luar jendela yang berbingkai marmer. Dunia di bawah, taman istana yang biasanya dipenuhi warna, kini tertutup selimut salju pertama yang sunyi dan putih murni. Setiap serpihan salju yang jatuh bagaikan menambah lapisan dingin baru di atas kuburan hatinya yang telah beku. Dia tidak melihat keindahan di sana; yang ia lihat hanyalah hamparan kekosongan yang luas, cermin dari kehilangan yang ia rasakan. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, kukunya menancap dalam di telapak tangan. Pikiran penuh dengan kutukan bagi dirinya sendiri: Seandainya aku lebih kuat. Seandainya aku lebih waspada. Seandainya aku tidak jatuh pingsan. Felicity... Tok. Tok. Tok. Suara ketukan yang berwibawa dan terukur memotong lamunannya yang gelap. Sebelum dia bisa menyahut, pintu kamarnya terbuka perlahan. Di ambang pintu berdiri Raja Edmund, ayahnya. Sosoknya tinggi dan tegap, wajahnya yang biasa
Bea menatapnya, matanya yang bengkak dan kering kini terbuka lebar. Air matanya telah berhenti. Ada sesuatu yang sakral dalam kedatangan salju pertama ini, seolah alam sendiri turut berkabung dan sekaligus menawarkan penutup: sebuah permulaan baru yang dingin dan bersih setelah kehancuran.Dia melihat butiran salju yang menempel di kaca jendela, lalu meleleh perlahan, meninggalkan jejak air seperti air mata terakhir yang diizinkan untuk jatuh malam ini."Selamat ulang tahun, Flick," bisiknya ke kaca jendela yang berembun, suaranya serak namun sudah lebih tenang. "Di mana pun kau berada… semoga kau hangat."Bea tidak kembali ke tempat tidurnya. Dia tetap duduk di lantai, bersandar pada dinding di bawah jendela, menyaksikan salju yang terus turun, menutupi segala sesuatu di luar, termasuk jejak-jejak kesedihan yang baru saja ia tuangkan ke dalam udara malam. Salju pertama itu menjadi titik akhir dari luapan duka yang tak terbendung, sebuah tanda bahwa hidup,
Kamar itu terasa lebih besar, lebih sunyi, dan lebih dingin daripada biasanya. Bea duduk meringkuk di lantai dekat kaki ranjang kosong Felicity, memeluk erat lututnya hingga sendi-sendinya terasa sakit. Kepalanya tertunduk, dahi menyentuh kain seragamnya yang sudah basah oleh genangan air mata. Tangisan yang telah membeku sepanjang hari di depan orang lain kini meluap tanpa henti di ruang privat ini, terdengar hanya sebagai isakan tersedak yang memilukan di keheningan malam yang mencekam.Sorotan bulan pucat menyelinap dari balik tirai jendela, mendarat tepat di atas tempat tidur yang selalu ditempati Felicity. Ranjang itu masih rapi, bantalnya masih menyimpan lekukan kepala yang samar. Selimut berwarna biru lembut, warna langit senja yang disukai Felicity, terlipat rapi di bagian bawah, seolah menunggu dengan sia-sia pemiliknya yang takkan pernah kembali untuk menariknya dan bersembunyi di baliknya saat membaca buku hingga larut.Bea mengangkat wajahnya yang basah







