FAZER LOGINTatapannya mantap, tidak goyah sedikit pun. “Dan saya tidak ingin terburu-buru… hanya untuk terlihat siap.” Ia memberi jeda singkat, membiarkan makna itu sampai. “Masalah itu…” ucapnya pelan, “akan kita bahas lebih lanjut.”Soraya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. “Ketika saya sudah benar-benar yakin…” "…bahwa apa yang kita tampilkan nanti bukan hanya selaras dengan market Anda—” “tapi juga mampu membangun kepercayaan mereka.”Tenang saja,” lanjutnya dengan nada menenangkan namun penuh keyakinan. “Saya tidak akan membawa sesuatu yang belum saya yakini sepenuhnya.” Ia bersandar sedikit, namun auranya tetap kuat. “Saya akan berada di sini beberapa hari ke depan.”Wanita itu mengangguk pelan, mulai memahami arah Soraya.“Sambil mendalami karakter brand ini…” lanjut Soraya. “…dan memastikan semuanya selaras.” Ia menatap lurus, kali ini dengan keyakinan yang lebih terasa. " ketika saya kembali ke Anda…" “Saya tidak hanya membawa konsep.” “Tapi juga… kepastian.” Hening......Namun
Soraya menghela napas pelan, lalu duduk kembali dengan posisi lebih tegak. Matanya kembali menatap proposal di meja… tapi kali ini, ada rencana lain yang mulai tersusun di kepalanya.“Hemm…” Setelah cuti minggu ini… aku akan ke Pare-Pare. Ia tersenyum kecil, kali ini sedikit nakal.“Mami tidak mungkin melarang…”Soraya memiringkan kepalanya, mulai memainkan skenario di pikirannya sendiri. “Terpaksa… alasan Karim bisa jadi jalan keluar. Ia tertawa kecil. “Dia punya bisnis resort di sana…” “Dan Mami… pasti sulit menolak itu.”Bukan hanya tidak menolak, bahkan mungkin… akan sangat mendukung. Baginya, itu seperti mendekatkan dua kepentingan sekaligus. Bisnis… dan rencana masa depan yang selama ini ia inginkan.Soraya menutup matanya sejenak, lalu berbisik pelan “Masalah perusahaan di Jakarta…”“Pasti akan Mama handle dengan senang hati…” Senyumnya kembali muncul, kali ini lebih lepas. “Hehehe…” Namun di balik itu, ada sedikit rasa bersalah yang ikut menyelinap.Soraya menatap kosong ke d
Soraya menyandarkan punggungnya perlahan, matanya masih terpaku pada lembar proposal kerja sama yang sejak tadi ia pelajari. Proposal itu bukan sekadar tawaran biasa—datangnya dari salah satu penggemar setianya. Seorang pengusaha butik di Pare-Pare yang dikenal royal, dan hampir tak pernah absen menunggu setiap rilisan desain terbaru dari Sonia Collection.Di sisi lain, bayangan percakapan dengan Ziyan kembali terlintas di benaknya. Rekomendasi model… konsep busana… hingga satu nama yang terus disebut dengan nada penuh keyakinan— Bunda Zayna.Soraya menghela napas pelan. “Hmm… Ziyan terlihat terlalu bersemangat… bukankah ini agak mencurigakan?” Ia memiringkan kepalanya, jemarinya mengetuk ringan meja. “Aku kok merasa… Bunda Zayna ini bukan sosok biasa ya…”Soraya kembali mengingat konten-konten edukasi yang pernah ia lihat—tenang, berkelas, dan penuh kesan. Tanpa wajah, tapi justru terasa kuat. “Gayanya cocok… dengan karakter desain yang Ziyan minta…”Ia terdiam sejenak, lalu tersen
Malam itu, selepas menunaikan salat Isya berjamaah, Karim memilih menghabiskan waktu terakhirnya di mansion sang dede. Ia melangkah pelan menuju tepi laut Bosphorus—sebuah ruang sunyi yang sengaja dibangun, tempat sang dede biasa bermuhasabah.Angin malam berembus lembut, membawa aroma laut yang menenangkan. Namun, ketenangan itu terasa berbeda bagi Karim. Lima tahun terakhir, hidupnya hanya dipenuhi target dan pencapaian. Ia memaksa dirinya untuk selalu melampaui batas—tiga kali lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Tanpa sadar, ia menjelma menjadi sosok yang gila kerja. Waktu, tenaga, bahkan perasaan, semuanya ia korbankan.Keluarga perlahan menjauh, begitu pula dengan cinta… hingga akhirnya ia mengenal Bunda Zayna. Sejak saat itu, ada sesuatu yang berubah. Dalam setiap langkahnya, bayangan tentang keluarga mulai kembali hadir. Tentang kehangatan yang dulu ia abaikan. Tentang rasa memiliki yang sempat ia kubur dalam ambisi.Karim menghela napas panjang. Tanpa sepengetahuan Bunda Zayn
Tidak terasa Karim berada di taman belakang cukup lama. Dede yang pergi sejak pagi kini telah kembali ke mansion. “Sayang, tadi Karim mencarimu dan ingin menyusulmu,” kata Babane.“Karim di mana sekarang?” tanya Dede. “Sejak tadi di taman belakang, mungkin masih di sana.” “Oh...” Dede mengangguk pelan. “Saya bersih-bersih dulu. Tidak lama lagi dzuhur, nanti bertemu saja di musholla.”Babane hanya mengangguk, lalu Dede berlalu ke kamarnya.Tak lama setelah itu, Karim muncul dari taman belakang. Langkahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan sesuatu—seolah masih tertinggal di antara rindang pepohonan dan semilir angin yang tadi menemaninya. Ia berhenti sejenak di ambang pintu, memandang ke dalam rumah yang terasa hangat. Suara aktivitas dari dapur terdengar samar. Namun hatinya belum sepenuhnya kembali dari perenungan.“Karim...” Suara itu membuatnya menoleh. Dede berdiri tidak jauh darinya, baru saja keluar dari kamar.Karim mendekat. “Aku mencari Dede sejak pagi,” ucapnya tenang
Setelah mengantar anak-anak ke taman Qur’an, Bunda Zayna kembali ke ruang kerjanya. Suasana rumah terasa lebih hening, hanya suara lembut kipas angin yang menemani.Ia duduk perlahan, menyalakan kembali laptopnya. Tatapannya langsung tertuju pada pergerakan saham minyak dan gas yang sejak pagi tadi ia lepas. Benar saja… seperti yang ia perkirakan. Harga kembali turun menguji area support.Bunda Zayna mengamati dengan seksama, jemarinya sesekali mengetuk meja, bukan karena gelisah, tetapi sebagai bentuk fokus yang dalam. “Jika ia benar-benar kuat di 1830…” gumamnya pelan, “aku akan masuk kembali.”Waktu berjalan menuju akhir sesi dua. Pergerakan mulai menunjukkan arah. Angka 1830 mulai diperebutkan—bid mulai menebal, sementara offer bertahan di 1835. Ada dorongan halus, namun cukup jelas bagi mata yang terlatih. Senyum tipis terukir di wajahnya. Tanpa ragu, ia langsung mengeksekusi rencananya. Ia masuk kembali dengan 40% dari dana trading hari ini, hasil dari compounding yang ia bangun
Ziyan: "Ya, Raya… coba kamu pertimbangkan lagi dech tawaran itu dengan lebih serius. Kebetulan Karim punya resort yang sedang dikembangkan di sana. Akan sangat menarik jika kamu juga membuka butik di lokasi yang sama…" Jeda beberapa detik. Raya membaca ulang, alisnya perlahan mengernyit. Pesan beri
Selama perjalanan, Ziyan duduk bersandar, namun pikirannya sama sekali tidak tenang. Bukan tentang bisnis semata—melainkan tentang bagaimana caranya bisa sesuai permintaan karim, hemmm mengetahui ukuran tubuh seseorang bukankah itu ranah privasi,malah bisa di anggap kurang ajar... astaga bos..ada..
Karim yang sejak tadi bersiap mengambil jasnya tiba-tiba terdiam, seolah teringat sesuatu.“Zi…”Ziyan yang sedang memeriksa beberapa pesan di ponselnya langsung menoleh.“Iya"Karim berjalan pelan ke arah meja, lalu berkata dengan nada berpikir. “Di acara fashion show semalam… ada satu model pakai
"Ehm… Karim, jadi kamu berangkat hari ini, nak?” tanya Ismet memecah keheningan setelah sekian lama semua orang terdiam di meja makan. “Jadi, Yah!” jawab Karim cepat, seakan ingin memutus kecanggungan yang baru saja terjadi.Rima yang mengamati wajah sang anak merasa sedikit bersalah. Tanpa sadar







