MasukHari ke-11 trading yang dijalani Bunda Zayna akhirnya ditutup dengan hasil yang membuatnya tersenyum lega. Profit yang berhasil ia kumpulkan mencapai sekitar 6,880 juta, membuat alokasi portofolio trading yang ia kelola meningkat hingga 78,2% khusus alokasi fast trading dan swing dan hanya mengambil 10% - 40 % dari alokasi ia tentukan. Angka itu bukan hanya sekadar keuntungan, tetapi juga bukti bahwa seluruh waktu, fokus, dan kehati-hatiannya selama ini tidak sia-sia.Besok akan menjadi hari terakhir trading sebelum laporan pertamanya diberikan secara langsung kepada sang pemilik portofolio. Entah sejak kapan, dalam hati kecilnya, Zayna mulai menganggap Karim sebagai “bos”-nya sendiri.Pikiran itu membuatnya terkekeh pelan sambil menggeleng geli. Terlebih lagi, besok ia akan menerima gaji pertamanya. Ada rasa bangga yang sederhana, namun hangat memenuhi dadanya.Hari itu market terlihat mulai melemah dan tidak seaktif beberapa hari sebelumnya. Karena itulah, Zayna memilih untuk tidak
Setelah anak-anak masuk ke kamar masing-masing, disusul suaminya yang akan menemani si bungsu, Zayan, suasana rumah pun perlahan menjadi lebih hening. Di tengah ketenangan itu, Bunda Zayna kembali pada dunianya sebuah rutinitas yang telah menjadi bagian dari dirinya. Tepat pukul 21.00 malam, ia mulai menyusun laporan trading seperti biasa, duduk dengan fokus di hadapan layar, ditemani secangkir minuman hangat yang perlahan mendingin tanpa ia sadari. Satu per satu data ia telusuri dengan teliti, mulai dari jenis saham hingga evaluasi teknikal yang menjadi pijakan utamanya. Namun, baginya itu belum cukup. Ia selalu mengaitkan setiap pergerakan dengan kondisi makro dan mikro, mencoba memahami cerita besar di balik angka-angka yang tersaji. Kebiasaan itu telah terasah seiring waktu, menjadikannya peka terhadap pola-pola yang berulang, sekaligus waspada pada hal-hal yang terasa asing. Setiap pergerakan yang tidak biasa, selalu ia beri tanda khusus.Dalam diam, pikirannya bekerja, merangka
Ziyan, buatkan jadwal pertemuan untuk pelaporan Bunda Zayna. Hari Rabu, pukul 16.00 sore, via meeting Virtual di Room Privat internal.”Ziyan yang semula tenang, tiba-tiba tersadar. Ia baru mengingat sesuatu. “Bos… itu berarti tepat saat Bos berada di rumah Babanne. Apa tidak masalah?”Karim tetap terlihat tenang. “Aku akan ke rumah beliau setelah meeting dengan Mr. Clark. Masih ada waktu untuk bersama keluarga sebelum rapat dimulai.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih dalam, “Aku tidak bisa menunda rapat dengan Bunda Zayna. Ini yang pertama baginya… dia akan menerima hasil kerjanya.”Ziyan mengangguk paham, namun sesaat kemudian, ia menunduk, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Temanku ini… ingatannya kuat sekali. Apa dia mencatat semua ini? Aku saja sampai lupa… Tanpa sadar, ia menggeleng pelan.Gerakan kecil itu tak luput dari perhatian Karim..“Ziyan,” panggilnya.Ziyan langsung mengangkat wajah. “Ya, Bos?”“Kamu kenapa menunduk? Sedang mengumpatku?”Ziyan spon
Soraya akhirnya kembali ke Jakarta, membawa serta tekad yang semakin matang. Setibanya di sana, ia segera menyelesaikan kontrak kerja sama yang sebelumnya telah disepakati. Semua proses dijalaninya dengan penuh hati-hati seolah setiap keputusan telah ia timbang berkali-kali. Ia sengaja tidak ingin melibatkan Bunda Zayna dalam urusan ini. Bukan karena tidak percaya melainkan karena ia ingin melindungi dan menjaga agar langkahnya kali ini tetap berada dalam kendali sendiri, tanpa menyeret siapa pun ke dalam kemungkinan risiko yang belum pasti.Kontrak butik itu pun dibuat dengan durasi yang terbatas, hanya satu tahun. Sebuah keputusan yang sudah dipertimbangkannya, memberi ruang bagi Soraya untuk mengevaluasi arah langkahnya ke depan. Dalam klausul perjanjian, posisi brand ambassador ditetapkan berasal dari model tetap yang sudah berada di bawah naungan Sonia Collection. Hal itu menjadi bagian dari strategi agar identitas brand tetap terjaga dan selaras dengan citra yang telah dibangu
Asisten Sonia menyampaikan laporan dengan hati-hati…“Nyonya, Nona Soraya sepertinya menyadari bahwa saya mengamatinya. Saya terpaksa menampakkan diri dan sempat mencoba membuat janji temu. Namun saat ini beliau sedang meeting dengan klien, sehingga pertemuan akan dijadwalkan ulang.” Sejenak jeda. “Apakah ada hal tertentu yang perlu saya verifikasi kembali terkait kerja samanya, Nyonya?”Sonia membaca pesan itu. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras. Amarahnya langsung naik. “Sejak kapan… seorang asisten berani memverifikasi kerja sama seorang CEO?” gumamnya dingin. Ia segera membalas, nada pesannya tajam dan tak memberi ruang bantahan. “Jangan kelewatan.”...“Kamu hanya saya minta mengamati, bukan mencampuri urusannya.”...“Silakan cari alasan lain jika ingin bertemu dengannya. Jangan libatkan saya.” Ada jeda singkat… lalu satu kalimat penutup yang tegas: “Kamu segera kembali. Batalkan pertemuan itu.”Pesan itu terkirim.Asisten Sonia menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Jemarinya te
Soraya masih terpaku. Matanya menelusuri setiap detail busana formal yang kini dikenakan Bunda Zayna, karya yang ia rancang sendiri dengan penuh perasaan. Gaun itu memang direncanakan menjadi edisi khusus, hanya akan diproduksi dalam jumlah terbatas. Namun yang dikenakan Zayna saat ini berbeda. Ada sentuhan personal di sana. Rancangan yang lahir langsung dari tangan Soraya, dengan garis desain yang samar mengingatkan pada koleksi yang pernah dilihat Karim di sebuah peragaan busana di Bandung. Hanya saja, versi ini jauh lebih sederhana tanpa kehilangan kelasnya justru di situlah letak keindahannya. Anggun, tenang, dan bersahaja… sangat selaras dengan karakter Bunda Zayna.Yang membuat Soraya semakin terdiam adalah satu hal, ia tidak perlu melakukan penyesuaian apa pun. Seolah-olah gaun itu memang diciptakan khusus untuk tubuh dan jiwa wanita di hadapannya.“Kak Zahra…” suara Soraya akhirnya memecah keheningan, lembut namun menyimpan kesungguhan. “Apakah… boleh, jika nama koleksi ini "
"Ehm… Karim, jadi kamu berangkat hari ini, nak?” tanya Ismet memecah keheningan setelah sekian lama semua orang terdiam di meja makan. “Jadi, Yah!” jawab Karim cepat, seakan ingin memutus kecanggungan yang baru saja terjadi.Rima yang mengamati wajah sang anak merasa sedikit bersalah. Tanpa sadar
“Senang bertemu denganmu, Nak,” ucap Sonia dengan senyum ramah, berusaha menghilangkan kecanggungan yang sempat menggantung di antara mereka.Namun di sisi lain, Tuan Ismet terlihat sedikit terkejut. Ia sempat memperhatikan bagaimana Karim menahan diri ketika Sonia mengulurkan tangan untuk berjabat
“Hei, Zi… Assalamualaikum.”Soraya tersenyum menyambut sahabatnya yang kini duduk tepat di depannya.“Waalaikumsalam, Soraya.” Ziyan membalas dengan senyum hangat saat melihat sahabatnya yang sekian lama baru kembali ia temui. Kurang lebih lima atau enam tahun mereka tidak pernah bertemu. Waktu ter
Cahaya matahari lembut khas daerah puncak menembus jendela kamar Ziyan yang berada di Mansion orang tua Karim, Namun pagi itu terasa berbeda. Ziyan berdiri cukup lama di depan pintu kamar Karim. Ia mengetuk pelan, menunggu seperti biasanya. Tetapi tak ada jawaban. Ia mencoba lagi. Tetap sunyi.Keni







