MasukZiyan, buatkan jadwal pertemuan untuk pelaporan Bunda Zayna. Hari Rabu, pukul 16.00 sore, via meeting Virtual di Room Privat internal.”Ziyan yang semula tenang, tiba-tiba tersadar. Ia baru mengingat sesuatu. “Bos… itu berarti tepat saat Bos berada di rumah Babanne. Apa tidak masalah?”Karim tetap terlihat tenang. “Aku akan ke rumah beliau setelah meeting dengan Mr. Clark. Masih ada waktu untuk bersama keluarga sebelum rapat dimulai.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih dalam, “Aku tidak bisa menunda rapat dengan Bunda Zayna. Ini yang pertama baginya… dia akan menerima hasil kerjanya.”Ziyan mengangguk paham, namun sesaat kemudian, ia menunduk, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Temanku ini… ingatannya kuat sekali. Apa dia mencatat semua ini? Aku saja sampai lupa… Tanpa sadar, ia menggeleng pelan.Gerakan kecil itu tak luput dari perhatian Karim..“Ziyan,” panggilnya.Ziyan langsung mengangkat wajah. “Ya, Bos?”“Kamu kenapa menunduk? Sedang mengumpatku?”Ziyan spon
Soraya akhirnya kembali ke Jakarta, membawa serta tekad yang semakin matang. Setibanya di sana, ia segera menyelesaikan kontrak kerja sama yang sebelumnya telah disepakati. Semua proses dijalaninya dengan penuh hati-hati seolah setiap keputusan telah ia timbang berkali-kali. Ia sengaja tidak ingin melibatkan Bunda Zayna dalam urusan ini. Bukan karena tidak percaya melainkan karena ia ingin melindungi dan menjaga agar langkahnya kali ini tetap berada dalam kendali sendiri, tanpa menyeret siapa pun ke dalam kemungkinan risiko yang belum pasti.Kontrak butik itu pun dibuat dengan durasi yang terbatas, hanya satu tahun. Sebuah keputusan yang sudah dipertimbangkannya, memberi ruang bagi Soraya untuk mengevaluasi arah langkahnya ke depan. Dalam klausul perjanjian, posisi brand ambassador ditetapkan berasal dari model tetap yang sudah berada di bawah naungan Sonia Collection. Hal itu menjadi bagian dari strategi agar identitas brand tetap terjaga dan selaras dengan citra yang telah dibangu
Asisten Sonia menyampaikan laporan dengan hati-hati…“Nyonya, Nona Soraya sepertinya menyadari bahwa saya mengamatinya. Saya terpaksa menampakkan diri dan sempat mencoba membuat janji temu. Namun saat ini beliau sedang meeting dengan klien, sehingga pertemuan akan dijadwalkan ulang.” Sejenak jeda. “Apakah ada hal tertentu yang perlu saya verifikasi kembali terkait kerja samanya, Nyonya?”Sonia membaca pesan itu. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras. Amarahnya langsung naik. “Sejak kapan… seorang asisten berani memverifikasi kerja sama seorang CEO?” gumamnya dingin. Ia segera membalas, nada pesannya tajam dan tak memberi ruang bantahan. “Jangan kelewatan.”...“Kamu hanya saya minta mengamati, bukan mencampuri urusannya.”...“Silakan cari alasan lain jika ingin bertemu dengannya. Jangan libatkan saya.” Ada jeda singkat… lalu satu kalimat penutup yang tegas: “Kamu segera kembali. Batalkan pertemuan itu.”Pesan itu terkirim.Asisten Sonia menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Jemarinya te
Soraya masih terpaku. Matanya menelusuri setiap detail busana formal yang kini dikenakan Bunda Zayna, karya yang ia rancang sendiri dengan penuh perasaan. Gaun itu memang direncanakan menjadi edisi khusus, hanya akan diproduksi dalam jumlah terbatas. Namun yang dikenakan Zayna saat ini berbeda. Ada sentuhan personal di sana. Rancangan yang lahir langsung dari tangan Soraya, dengan garis desain yang samar mengingatkan pada koleksi yang pernah dilihat Karim di sebuah peragaan busana di Bandung. Hanya saja, versi ini jauh lebih sederhana tanpa kehilangan kelasnya justru di situlah letak keindahannya. Anggun, tenang, dan bersahaja… sangat selaras dengan karakter Bunda Zayna.Yang membuat Soraya semakin terdiam adalah satu hal, ia tidak perlu melakukan penyesuaian apa pun. Seolah-olah gaun itu memang diciptakan khusus untuk tubuh dan jiwa wanita di hadapannya.“Kak Zahra…” suara Soraya akhirnya memecah keheningan, lembut namun menyimpan kesungguhan. “Apakah… boleh, jika nama koleksi ini "
Setelah tawa itu mereda, Bunda Zayna perlahan kembali tenang. Sisa hangat suasana tadi masih terasa, namun kini berganti dengan kesungguhan yang lebih dalam. Ia meraih proposal yang sebelumnya diberikan oleh Soraya, lalu menyerahkannya kembali dengan kedua tangan yang mantap.“Nona Soraya,” ucapnya lembut namun jelas, “saya dan suami sudah mempertimbangkan keputusan ini dengan sangat matang. Kami juga sudah berikhtiar… saya sendiri melakukan sholat istikharah… dan saya sampai pada satu keputusan.”Kalimat itu menggantung sejenak. Bunda Zayna terdiam, memberi ruang pada kata-kata yang belum terucap. Di hadapannya, Soraya pun ikut terdiam. Senyum hangat yang tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi tenang yang tegas kembali pada sosok seorang CEO yang berkarakter kuat. Tatapannya fokus dan penuh kendali, menunggu kelanjutan dengan wibawa yang tak terbantahkan.Zayna menangkap perubahan itu. Ia terdiam sesaat, mengamati. Ada sesuatu yang sangat berbeda. Soso
Bunda Zayna yang masih diliputi kebingungan mulai menghitung waktu mundur. Jika ia memperkirakan pertemuan sekitar pukul 15.30, maka sejak pukul 14.30 ia sudah siaga penuh. Ponselnya tak pernah lepas dari genggaman, bahkan nyaris menempel di telapak tangannya. Ia khawatir, kalau-kalau ada pesan penting yang harus segera ia balas begitu masuk.“Bund… pinjam ponselnya dong, lagi bosan nih…” suara Zayan tiba-tiba muncul dari arah kamar.Bunda Zayna langsung menoleh, sedikit panik. “Nak, mama lagi nunggu kabar dari Tante Soraya. Siapa tahu beliau nelpon atau chat. Nanti kalau Zayan pegang, terus asyik main game, chat-nya nggak kebaca gimana?”Zayan mengerucutkan bibirnya. “Yah… Bunda nggak asyik…”Bunda Zayna tersenyum lembut, sambil mengusap kepala anaknya. “Maaf ya, Nak. Pinjam ponsel Ayah dulu, ya.”Mata Zayan langsung berbinar. “Ayah mana mau minjemin…”“Bilang saja Bunda yang pinjam.”Seketika wajahnya berubah cerah. “Horeee! Ayah… pinjam HP-nya dong!”“Zayan…” Bunda Zayna menegur p
"Ehm… Karim, jadi kamu berangkat hari ini, nak?” tanya Ismet memecah keheningan setelah sekian lama semua orang terdiam di meja makan. “Jadi, Yah!” jawab Karim cepat, seakan ingin memutus kecanggungan yang baru saja terjadi.Rima yang mengamati wajah sang anak merasa sedikit bersalah. Tanpa sadar
“Senang bertemu denganmu, Nak,” ucap Sonia dengan senyum ramah, berusaha menghilangkan kecanggungan yang sempat menggantung di antara mereka.Namun di sisi lain, Tuan Ismet terlihat sedikit terkejut. Ia sempat memperhatikan bagaimana Karim menahan diri ketika Sonia mengulurkan tangan untuk berjabat
“Hei, Zi… Assalamualaikum.”Soraya tersenyum menyambut sahabatnya yang kini duduk tepat di depannya.“Waalaikumsalam, Soraya.” Ziyan membalas dengan senyum hangat saat melihat sahabatnya yang sekian lama baru kembali ia temui. Kurang lebih lima atau enam tahun mereka tidak pernah bertemu. Waktu ter
Langit pagi masih menyisakan semburat keemasan ketika Bunda Zayna dan keluarga akhirnya check-out dari hotel tempat mereka menginap. Udara terasa lebih ringan hari itu—mungkin karena hati mereka sedang penuh rasa syukur.Setelah mengembalikan kunci kamar, mereka berjalan beriringan menuju area park







