LOGINTepat pukul 08.00 pagi, keluarga Bunda Zayna akhirnya berangkat meninggalkan rumah mereka di pinggiran kota Parepare menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Perjalanan darat yang biasanya memakan waktu sekitar 3–4 jam itu terasa hangat dan menyenangkan. Aim mengemudikan mobil dengan tenang di kecepatan stabil sekitar 80 hingga 100 kilometer per jam, sementara pemandangan pegunungan dan hamparan sawah sesekali membuat Zayan dan Ana terpukau dari balik jendela mobil.
Di kursi belakang, Ana tampak sibuk membuka ponsel melihat foto-foto Jakarta dan Dek Zayan masih asik dengan dunia gamenya. “Bunda…” Ana mendekat sambil memeluk lengan ibunya, “nanti setelah sampai di Jakarta kita akan pergi ke mana saja? Selain Monas…” Bunda Zayna tersenyum lembut sambil membenarkan hijab putrinya. “Hmm… kalau Kak Ana dan Adek Zayan mau, kita bisa pergi ke beberapa tempat dekat Monas. Ada tempat yang bagus untuk belajar juga.” “Mauuu…” sahut mereka hampir bersamaan. Bunda Zayna mulai menghitung dengan jarinya. “Pertama, kita bisa ke Masjid Istiqlal. Masjidnya sangat besar dan indah. Di sana Ana bisa belajar tentang sejarah Islam di Indonesia.” “Wah…” mata Ana membulat kagum. “Lalu di dekatnya juga ada Gereja Katedral Jakarta. Banyak orang datang melihat bangunannya yang sangat bersejarah. Tempat itu juga menjadi simbol kerukunan karena letaknya berdampingan dengan Masjid Istiqlal.” Zayan mengangguk pelan. “Aku pernah lihat di internet, Bund…” “Nah, setelah itu kita bisa ke Museum Nasional Indonesia. Di sana banyak benda-benda kuno, sejarah kerajaan Nusantara, dan patung-patung bersejarah.” “Kalau yang seru buat foto-foto ada tidak?” Ana kembali bertanya antusias. Aim yang sejak tadi fokus menyetir ikut tersenyum kecil dari kaca depan. “Kalau itu,” lanjut Bunda Zayna sambil tertawa pelan, “kita bisa jalan-jalan sore di kawasan Kota Tua Jakarta. Banyak bangunan zaman dulu, museum, dan suasananya bagus sekali.” “Yeayyy…” Ana bersorak kecil. Sementara itu, mobil mereka terus melaju membelah jalanan Sulawesi Selatan. Jalanan yang sejak tadi cukup lengang membuat perjalanan mereka terasa lebih cepat dari perkiraan. Tepat pukul 11.25 siang, mobil yang dikendarai Aim akhirnya memasuki area Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Zayan langsung menempelkan wajahnya ke kaca jendela melihat pesawat-pesawat besar yang terparkir di kejauhan. “Bunda… besar sekali…” bisiknya kagum. Aim perlahan menghentikan mobil di area keberangkatan domestik. Bunda Zayna, Ana dan Zayan segera turun dan membantu Ayah menurunkan koper-koper mereka. “Alhamdulillah,” ucap Bunda Zayna pelan sambil melihat jam di tangannya. “Keberangkatan kita pukul dua siang. Ayo kita check-in dulu.” Baru beberapa langkah memasuki terminal, seorang pria dengan kemeja rapi segera menghampiri mereka sambil sedikit menundukkan kepala. “Assalamualaikum, Bunda Zayna. Saya Adi, ditugaskan oleh Tuan Karim untuk membantu selama di bandara.” “Waalaikumsalam…” Bunda Zayna tersenyum ramah. “Oh iya, Pak Adi ya…” “Iya, Bu.” Pria itu kemudian menoleh sopan ke arah Aim. “Kenalkan, ini suami saya,” ujar Bunda Zayna lembut. Aim mengangguk pelan. “Halo, Pak Adi… tabe, ini kunci mobil Tuan Karim.” “Siap, Pak.” Pak Adi menerima kunci itu dengan hormat. “Oh iya, ini boarding pass Bunda Zayna dan keluarga. Semuanya sudah diurus, jadi tidak perlu antre lagi untuk check-in.” Ana langsung tersenyum senang mendengar kata “tidak perlu antre.” “Alhamdulillah kalau begitu, Pak,” ucap Bunda Zayna sambil tersenyum kecil. “Saya tadi pikir harus antre panjang.” “Sudah aman semua, Bu. Tinggal masuk pemeriksaan saja nanti.” Bunda Zayna mengangguk pelan lalu menoleh ke arah Suami dan anak-anaknya. “Pak Adi, kalau begitu saya ke musholla dulu bersama keluarga. Kami mau salat dulu.” “Oh iya, baik Bu, silakan,” jawab Pak Adi cepat. “Setelah itu bisa langsung masuk ke ruang keberangkatan supaya lebih nyaman menunggu pesawat.” “Baik, Pak. Terima kasih.” Mereka pun berjalan menyusuri terminal bandara yang ramai namun tertata rapi. Di tengah lalu lalang penumpang dan suara pengumuman penerbangan yang bersahutan, keluarga kecil itu melangkah tenang menuju musholla, membawa hati yang penuh harapan untuk perjalanan baru mereka menuju Jakarta. “Yuk, Nak… kita salat Dzuhur dulu, sekalian kita jamak dengan Ashar,” ucap Bunda Zayna lembut sambil menggandeng tangan Ana. “Siap, Bunda…” jawab Zayan dan Ana kompak penuh semangat. Bunda Zayna tersenyum haru melihat kedua anaknya. “Alhamdulillah… anak shaleh dan shalehahnya Bunda semangat sekali. InsyaAllah perjalanan kita dipermudah ya…” “Aamiiin…” jawab mereka serempak, bahkan Aim ikut mengaminkan sambil tersenyum tipis. Suasana musala terasa tenang dan meneduhkan. Setelah menunaikan sholat, Bunda Zayna sempat memandangi anak-anaknya yang kini mulai lebih mandiri menjaga wudhu dan merapikan sajadah sendiri. Ada rasa syukur yang sulit dijelaskan di dalam dadanya. Tak lama kemudian, mereka berjalan menuju area pemeriksaan keberangkatan. Berkat bantuan Pak Adi, proses masuk berlangsung cepat dan lancar hingga akhirnya mereka tiba di ruang tunggu bandara. Baru saja Bunda Zayna hendak duduk, terdengar seseorang memanggil dari arah ruang tunggu khusus pelanggan. “Bunda Zayna…” Bunda Zayna menoleh. “Eh, Pak Adi… ketemu lagi.” Pak Adi tersenyum ramah sambil sedikit membungkuk. “Iya, Bu. Silakan masuk dulu ke sini untuk makan siang sebentar.” Bunda Zayna tampak sedikit ragu. “Apa tidak masalah, Pak, kalau makan dulu? Waktu keberangkatan tinggal satu jam lagi…” “Masih sempat sekali, Bu,” jawab Pak Adi menenangkan. “Ini memang bagian dari fasilitas tiket keluarga Bunda.” “Oh iya…” Bunda Zayna tersenyum senang, “MasyaAllah… siap, Pak. Kita manfaatkan sebaik-baiknya ya… hehehe…” Pak Adi sampai ikut tersenyum melihat spontanitas Bunda Zayna yang apa adanya. “Mari, Bu…” Lalu ia menoleh ke arah Zayan dan Ana. “Ayo, anak-anak shaleh… ikut Om.” “Siap 86, Om!” jawab Zayan sambil memberi hormat ala tentara yang membuat Ana langsung tertawa. “Hehehe… gitu dong,” balas Pak Adi santai. “Jagoan harus gercep.” Aim yang sejak tadi lebih banyak diam hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis melihat tingkah Zayan yang selalu berhasil mencairkan suasana. Mereka pun masuk ke ruang tunggu khusus yang jauh lebih tenang dibanding area umum. Aroma makanan hangat langsung terasa begitu pintu terbuka. Ana sampai memegang perutnya sendiri. “Bundaaa… Ana lapar…” “Nah, pas sekali,” ujar Bunda Zayna sambil mengusap kepala putrinya. “Kita makan dulu sebelum terbang nanti.” Di luar jendela besar ruang tunggu itu, beberapa pesawat tampak mulai bergerak perlahan di landasan, seakan ikut mengantarkan langkah baru keluarga kecil itu menuju Jakarta. “Alhamdulillah… sepertinya Tuan Karim benar-benar sudah mengatur semuanya dengan sangat baik. InsyaAllah saya akan berusaha tidak mengecewakannya…” gumam Bunda Zayna lirih dalam hati. Pandangan matanya kemudian tertuju pada Ana dan Zayan yang sedang makan dengan lahap di meja kecil dekat jendela ruang tunggu. Sesekali Ana bercerita antusias tentang pesawat yang nanti akan mereka naiki, sementara Zayan yang duduk di samping kakaknya sibuk membantu mengambilkan minum. Melihat keduanya tetap ceria setelah perjalanan panjang dari Parepare membuat hati Bunda Zayna terasa jauh lebih tenang. Ia sempat khawatir anak-anak akan merasa mual atau kelelahan selama di perjalanan darat tadi. “Alhamdulillah… tidak ada yang enek,” batinnya penuh syukur. Ia teringat multivitamin yang sengaja diminumkan sebelum berangkat pagi tadi. Semoga itu cukup membantu menjaga daya tahan tubuh mereka selama perjalanan menuju Jakarta. Aim yang duduk di sampingnya seolah memahami isi pikirannya. “Anak-anak kuat ternyata,” ucapnya pelan sambil tersenyum kecil. Bunda Zayna mengangguk pelan. “Iya… Bunda juga lega lihat mereka masih semangat begini.” Di sisi lain, Pak Adi memperhatikan keluarga kecil itu dengan samar-samar tersenyum. Dalam hati ia mulai mengerti mengapa Tuan Karim memberi perhatian khusus pada perjalanan mereka, ada kehangatan sederhana yang terasa begitu tulus di antara keluarga itu. Catatan: Maaf Para Reader Bab 85 kelewat Yah... tapi pada dasarnya Ceritanya tidak lompat...Mohon dimaafkan atas kekhilafan saya🙏Dalam perjalanan pulang setelah berolahraga, Kelvin kembali mengingat dua pertemuannya dengan Bunda Zayna.Pertama di warung Bu Siti, lalu pagi ini di kompleks perumahan. Ia mencoba menyusun kesimpulan sementara."Perempuan itu...jujur.""Sederhana.""Dan sepertinya tidak pandai menyembunyikan sesuatu."Kelvin mengembuskan napas pelan, menurut pengalamannya selama bertahun-tahun membaca karakter orang, Bunda Zayna bukan tipe yang manipulatif. Justru sebaliknya. Ia terlihat apa adanya. "Kalau aku bertanya langsung tentang Karim...mungkin dia akan menjawab dengan jujur?" Kelvin sempat mempertimbangkan kemungkinan itu, namun beberapa detik kemudian ia menggeleng. "Terlalu berisiko, kalau Bunda Zayna menceritakan percakapan itu kepada Karim atau Ziyan, mereka pasti mulai waspada."Ia kembali berpikir. "Mungkin lebih baik... membuatnya sedikit sadar bahwa selama ini ada orang yang diam-diam menjaganya.""Kalau benih rasa penasaran itu tumbuh, mungkin dia sendiri yang akan mulai mencari ja
Malam itu, setelah beristirahat sejenak, Kelvin mengajak Eksel keluar dari rumah sewa."Ayo, kita jalan-jalan sebentar."Eksel mengangguk. Ia tahu, ajakan "jalan-jalan" dari ayahnya tidak pernah sekadar berjalan santai.Mereka menyusuri jalan-jalan di dalam kompleks perumahan dengan santai. Dari luar, keduanya tampak seperti ayah dan anak yang sedang menikmati suasana malam. Namun sesekali, Kelvin memberi isyarat kecil.Sebuah anggukan, lirik mata ke arah tertentu. Atau memperlambat langkah beberapa detik.Tanpa perlu bertanya, Eksel langsung memahami maksud ayahnya. Ia tidak menoleh terlalu lama. Cukup menangkap arah pandangan Kelvin, lalu menyimpannya di dalam ingatan.Kelvin memang selalu mengajarkannya satu hal. "Seorang pengamat yang baik tidak pernah membuat orang lain sadar bahwa dirinya sedang mengamati."Setelah berkeliling beberapa saat, mereka memesan kendaraan melalui aplikasi untuk menuju ke sebuah kafe di tepi pantai. Debur ombak yang pelan berpadu dengan semilir angin
Kereta mulai meninggalkan Kota Makassar dengan kecepatan yang perlahan meningkat. Eksel memilih duduk di dekat jendela. Sejak tadi matanya nyaris tak pernah lepas dari pemandangan di luar. Sesekali ia mengambil ponselnya untuk mengabadikan beberapa momen, lalu kembali menempelkan wajahnya ke kaca."Amazing..."gumamnya pelan, begitu memasuki wilayah Maros, hamparan tambak mulai terlihat membentang di sisi rel. Di kejauhan, garis biru Selat Makassar tampak menyatu dengan langit pagi yang cerah.Beberapa perahu nelayan terlihat berayun pelan di bibir pantai, sementara burung-burung laut sesekali melintas rendah di atas permukaan air. Tak lama kemudian, kereta memasuki kawasan Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), pemandangan kembali berubah. Hamparan sawah hijau membentang sejauh mata memandang, diselingi petak-petak tambak yang memantulkan cahaya matahari pagi.Di sisi lain, gugusan Pegunungan Karst Maros-Pangkep berdiri kokoh dengan bentuk tebing-tebing batu kapur yang menjulang tinggi.
Setelah seluruh laporan trading selesai dirapikan, Bunda Zayna kembali membuka daftar saham yang berada di dalam portofolio Tuan Karim.Ia memperhatikan grafik satu per satu. "Hm...dua saham ini sepertinya masih berada dalam tren naik."Ia memberi tanda pada kedua saham tersebut sebagai rencana transaksi keesokan pagi.Untuk portofolio pribadinya, Bunda Zayna juga mulai menyusun strategi baru.Besok ia berencana kembali menerapkan metode BSJP (Beli Sore Jual Pagi) pada sebagian dananya, sementara sebagian dana lainnya akan dipindahkan ke akun investasi jangka panjang."Kalau empat puluh persen dipindahkan ke akun investasi..." gumamnya sambil menghitung."...dana tradingku jadi terlalu kecil untuk mengejar target transaksi."Ia kembali menggeleng pelan. "Jangan terburu-buru, dua puluh persen saja dulu.""Sedikit demi sedikit menambah kepemilikan saham investasi juga sudah cukup." Baginya, konsistensi jauh lebih penting daripada memaksakan hasil besar dalam waktu singkat.Setelah menutu
Malam semakin larut, setelah memastikan seluruh laporan trading dan analisis portofolio milik Tuan Karim selesai disusun, Bunda Zayna tidak langsung menutup laptopnya.Ia masih membuka satu berkas lagi. Kali ini bukan laporan milik Karim, melainkan catatan transaksi portofolio pribadinya.Selama ini, Bunda Zayna terbiasa hanya melihat hasil akhirnya. Hari itu untung atau rugi, berapa nilai profit yang diperoleh, atau berapa besar kerugian yang harus diterima. Ia jarang benar-benar merekap perputaran dana, nilai transaksi harian, maupun akumulasi pembelian dan penjualan saham secara terperinci.Namun kali ini berbeda, beberapa hari sebelumnya, ia berhasil mendaftarkan diri pada program edukasi khusus yang diselenggarakan oleh sekuritas tempat ia bermitra. Program tersebut ditujukan bagi nasabah yang ingin memperdalam ilmu investasi dan manajemen portofolio. Salah satu syaratnya adalah memiliki akumulasi nilai transaksi tertentu selama masa pemantauan tiga bulan, minimal lima puluh juta
Bunda Zayna tiba di rumah dengan membawa sebungkus gado-gado yang baru saja dibelinya di warung langganan. Malam itu, gado-gado sederhana itu menjadi pelengkap makan malam keluarga mereka.Seperti biasa, suasana meja makan dipenuhi obrolan ringan. Ana bercerita tentang kegiatan hari itu, sementara Zayan sesekali menyela dengan cerita versinya sendiri yang membuat semua tertawa.Setelah makan malam selesai dan dapur kembali rapi, Bunda Zayna membuka laptopnya. Ia mulai merekap hasil trading hari itu sekaligus menyusun rencana transaksi untuk keesokan harinya.Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Oh iya, Yah..." Bunda Zayna menoleh kepada suaminya. "Ada satu hal penting yang belum sempat Bunda ceritakan. Maaf, ya."Aim yang sedang merapikan beberapa mainan Zayan langsung menoleh."Apa itu, Bunda?"Sebelum menjawab, Bunda Zayna melirik ke arah kedua anak mereka.Ana yang memahami isyarat ibunya segera berdiri. "Ayah... Bunda... Ana sama Dek Zayan tidur dulu ya."Ia menggandeng tangan adiknya.
Pagi di dapur yang hangat, Bunda Zayna sudah lebih dulu terjaga. Hari libur baginya bukan alasan untuk bermalas-malasan, justru menjadi momen kecil yang ia nikmati sepenuh hati.Aroma mentega yang meleleh berpadu dengan wangi gula yang karamellisasi perlahan memenuhi ruangan, adonan cake yang tadi
Bunda Zayna menatap pesan balasan Soraya beberapa saat sebelum akhirnya mematikan layar ponselnya. Jemarinya sempat ragu, menggantung di udara, seolah masih ada yang ingin ia ketik—sebuah penjelasan, atau mungkin sekadar basa-basi yang menenangkan. Namun urung. Ia memilih diam.Seharusnya ia memint
Bunda Zayna membaca pesan dari Soraya, jemarinya sempat terhenti di atas layar ponsel. Pikirannya mulai berkelana.Dia ingin bertemu… berarti kemungkinan besar sekarang sedang berada di Parepare. Bukankah ini justru sebuah kesempatan? Tapi untuk apa?Seorang desainer ternama ingin bertemu dengan di
Soraya menarik napas panjang sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Jari-jarinya sempat bergetar, antara ragu dan berharap."Maaf, saya Soraya. Saya menemukan nomor Bunda di channel MTube. Silakan cek profil saya," tulisnya, disusul tautan website perusahaannya. "Saya sangat tertarik dengan profil







