LOGINPukul tujuh malam tepat, Kelvin membuka tautan yang dikirim oleh putranya.Dalam sekejap, layar di hadapannya berubah menjadi sebuah ruang virtual yang begitu nyata. Ia tertegun.Yang terbentang di hadapannya bukanlah ruangan kerja futuristis seperti yang ia bayangkan, melainkan sebuah taman yang sangat dikenalnya.Langkah Kelvin seketika terhenti, taman itu adalah tempat yang dulu sering mereka kunjungi bertiga. Saat Kirana masih hidup, ia, Kirana, dan Eksel kerap menghabiskan sore bersama di sana. Tempat itu menjadi saksi tawa kecil putra mereka yang berlari ke sana kemari, sementara Kirana duduk di bangku taman dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.Tanpa sadar, air mata Kelvin menetes. Sesaat ia merasa seolah Kirana benar-benar berada di hadapannya. Wanita itu tampak berlari kecil mengejar Eksel yang masih kecil, disusul gelak tawa yang begitu akrab di telinganya."Terima kasih, Nak..." gumamnya lirih.Di sudut taman virtual itu, Eksel hanya memperhatikan ayahnya dala
Kelvin menyerahkan seluruh hasil temuannya kepada Sonia. Setelah tugas itu selesai, ia memilih menghabiskan lebih banyak waktu di rumah lamanya. Baginya, inilah saat yang tepat menikmati masa transisi sebelum benar-benar menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada putranya.Rumah itu menyimpan begitu banyak kenangan bersama Kirana istrinya, bagaimana mereka membangun keluarga kecilnya. Melewati masa-masa sederhana setelah menikah, hingga akhirnya menyambut kelahiran Eksel yang membawa tawa dan kebahagiaan di setiap sudut ruangan.Kelvin membuka pintu rumah perlahan."Aku pulang, Kirana..."Suaranya lirih, seolah benar-benar menyapa sang istri yang telah lama tiada.Tatatanan interior rumah masih sama seperti dulu. Tak ada satu pun perabot yang dipindahkan. Semuanya tetap berada di tempatnya, persis seperti saat Kirana masih hidup. Sejak memilih tinggal di apartemen yang tak jauh dari kantor Sonia Collection, rumah ini hanya sesekali ia datangi. Namun setiap kali pulang, rasanya waktu se
Malam itu Karim duduk sendiri di apartemennya yang berada tidak jauh dari kantor pusat perusahaan. Secangkir kopi di atas meja sudah mulai dingin, tetapi pikirannya masih terus bekerja.Tak terasa sudah lebih dari enam bulan ia tidak menginjakkan kaki di Indonesia. Selama kurun waktu itu pula, tidak ada pergerakan berarti dari Kelvin maupun Soraya. Tidak ada ancaman ataupun provokasi, bahkan nyaris tidak ada pergerakan yang dapat ditelusuri.Namun, justru itulah yang membuat Karim semakin gelisah. Keheningan yang terlalu lama sering kali lebih berbahaya daripada serangan yang terlihat. Ia khawatir semuanya hanyalah ketenangan semu sebelum badai datang. Jika dibiarkan, situasi itu bisa berubah menjadi bom waktu yang mengancam dirinya maupun Bunda Zayna beserta keluarganya.Tak lama kemudian, sebuah laporan terenkripsi masuk ke tablet miliknya. Pengirimnya adalah Charly, koordinator tim pengamanan lapangan di Parepare.Karim segera membukanya.Laporan Pengamanan Lapangan Pelapor: Charl
Tak terasa, kerja sama Bunda Zayna dengan Karim telah berjalan lebih dari enam bulan. Selama itu pula, kehidupan mereka perlahan berubah ke arah yang lebih baik. Penghasilan yang ia terima dari mengelola portofolio investasi Karim membuatnya tidak lagi dihantui kecemasan soal biaya pendidikan Ana.Sejak lama, Bunda Zayna sebenarnya telah menemukan sebuah pesantren yang menurutnya sangat ideal. Sebuah pesantren berstandar internasional yang tidak hanya mengutamakan pendidikan agama dan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kemandirian, serta kemampuan bertahan hidup. Di sana, para santri diajarkan cara bercocok tanam, beternak, mengelola sumber daya alam, hingga hidup berdampingan dengan lingkungan secara harmonis. Semua itu dipadukan dengan pemanfaatan teknologi modern, sehingga para santri tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang saleh, tetapi juga tangguh, mandiri, dan siap menghadapi tantangan zaman.Dulu, Bunda Zayna bahkan tidak berani membayangkan Ana bisa menempuh pendidikan
Bungalow di Bukit Indah Cappa tampak tenang. Di salah satu kamar, Kelvin kembali menyusun data-data yang berhasil ia kumpulkan. Satu per satu berkas ia rapikan sambil menyelesaikan laporan yang akan diserahkannya kepada Nyonya Sonia setibanya di Jakarta."Ayah..." panggil Eksel pelan.Kelvin menghentikan jemarinya sejenak dari papan ketik dan menoleh."Kalau seandainya dokumen yang Ayah dapatkan itu Ayah berikan kepada Nyonya Sonia, bukankah Bunda Zayna juga akan ikut terseret?" tanya Eksel dengan ragu.Kelvin terdiam beberapa saat, lalu menatap putranya. "Apakah kau menyesal sudah mengorek keterangan dari Ana?" tanyanya datar."Ayah, bukan itu maksud Eksel." Ia menarik napas sebelum melanjutkan. "Bunda Zayna dan keluarganya orang baik. Berkas yang Ayah temukan bisa saja dimanipulasi oleh Nyonya Sonia. Eksel hanya tidak ingin keluarga Bunda Zayna ikut terseret."Kelvin mengembuskan napas panjang. Jauh di lubuk hatinya, ia pun sebenarnya tidak ingin melibatkan Bunda Zayna. Selama ini
"Ziyan..."Suara Karim terdengar pelan melalui earphone dari ruang kerjanya.Ziyan yang memahami kebiasaan tuannya segera memasuki ruangan sambil membawa sebuah tablet. Sejak mengetahui penyusupan Kelvin dan Karim telah menyelidikinya langsung, ia sudah menduga pembicaraan akan berkaitan dengan Bunda Zayna. Seluruh dokumen yang berhubungan dengan beliau ia telah siapkan."Iya, Tuan."Karim tetap memandang layar monitornya. "Pelajari kembali perjanjian kerja sama kita dengan Bunda Zayna. Menurutmu, adakah celah yang bisa dimanfaatkan orang seperti Sonia?"Pertanyaan itu membuat Ziyan berpikir sejenak. Sejauh yang mereka ketahui, Kelvin memang sempat menyusup kerumah Bunda Zayna. Tidak ada yang bisa memastikan apakah ia sempat membaca isi dokumen atau hanya mengetahui keberadaannya. Namun satu hal yang hampir pasti, Kelvin pasti menyadari adanya sebuah perjanjian khusus antara Karim dan Bunda Zayna.Ziyan mulai membuka salinan kontrak di tabletnya. "Kalau dilihat sekilas, perjanjiannya
Ruang VIP hotel itu masih menyimpan kehangatan pertemuan yang baru saja usai. Dokumen kontrak telah ditandatangani. Map hitam eksklusif kini tertutup rapi di atas meja marmer. Lampu kristal memantulkan cahaya lembut di wajah-wajah yang baru saja mengikat kerja sama besar. Karim berdiri lebih dulu.
Aim kembali melangkah ke tempat Daeng Dirman berdiri. Wajahnya terlihat ragu, seolah masih menimbang sesuatu yang berat di kepalanya. “Jadi… bagaimana, Pak Aim?” tanya Dirman dengan nada tenang, meski di balik sorot matanya tersimpan rasa ragu.Aim menghela napas panjang sebelum membuka suara. “Se
Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Karim dan Ziyan bersiap menuju lokasi lahan resort yang akan dibangun. Beberapa berkas sudah tersusun rapi di meja kecil ruang makan hotel. Karim berdiri di dekat jendela, memandang keluar sebentar sebelum akhirnya berbicara.“Ziyan.”“Iya, Tuan.”Ba
Beberapa detik suasana hening menyelimuti meja VIP itu. Bunda Zayna menunduk, kembali melihat map kontrak di tangannya.“Tuan… izinkan saya memastikan dulu dengan suami saya. Meski Tuan sudah menyarankan untuk dibaca di rumah, saya ingin beliau melihat sekilas sebelum saya benar-benar membawanya pu







