LOGINBunda Zayna mulai mengatur kembali portofolionya ketika masa liburan keluarga memasuki hari kelima. Selama empat hari sebelumnya, aktivitas pasar saham berhenti karena bertepatan dengan cuti panjang dan libur nasional bursa. Kesempatan itu benar-benar ia manfaatkan untuk fokus menikmati waktu bersama keluarga tanpa terganggu oleh pergerakan pasar.Memasuki hari pertama perdagangan setelah libur panjang, saldo kas (cash balance) di rekening investasinya bertambah. Sempat terlintas di pikirannya untuk kembali aktif melakukan trading di sela-sela liburan. Namun, karena dana yang dikelolanya kini semakin besar, Zayna menyadari bahwa setiap keputusan membutuhkan konsentrasi yang lebih matang. Ia tidak ingin kesalahan kecil terjadi hanya karena perhatiannya terbagi antara keluarga dan pasar. Karena itu, ia memutuskan untuk lebih fokus menambah dana investasi dan melakukan penyesuaian portofolio seperlunya.Pada hari pertama trading tersebut, Zayna menjual separuh kepemilikan salah satu saha
Eksel masih sibuk dengan pikirannya. Pujian dari ayahnya beberapa waktu lalu masih membekas hangat di dalam hati.Ia menutup laptopnya perlahan, lalu bergegas menuju kamar."Aku harus segera tidur. Besok hari yang penting," gumamnya pelan.Eksel merebahkan tubuh di atas ranjang sambil tersenyum. Pikirannya melayang pada pertemuan esok hari. Ia akan bertemu ayahnya, dan tentu saja Soraya.Perasaan itu membuatnya sulit menahan senyum."Ziyan... Ziyan..."Suara Karim terdengar memanggil dengan lantang."Astagfirullah, Ziyan!""Eh, Bos! Maaf..." Ziyan tersentak kaget dari lamunannya. "Sudah waktunya pulang ya?"Karim menatapnya dengan kesal."Laporanmu belum selesai. Kalau memang mau pulang, silakan. Sekalian saja mampir ke HRD.""Jangan begitu dong, Tuan. Cari orang seperti saya susah, lho," jawab Ziyan sambil nyengir lebar.Karim hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak buah kepercayaannya itu."Gimana Bunda Zayna?" tanyanya kemudian."Beliau sudah sampai dengan selamat, Tuan. Se
Ziyan masih memikirkan ucapan Karim tentang Eksel. Rasa penasarannya semakin besar. Ia ingin mengetahui sejauh mana kemampuan pemuda itu. "Tapi bagaimana caranya?" gumamnya pelan. Tidak mungkin seseorang dengan kemampuan seperti itu bisa terus-menerus bersembunyi dari perhatian orang lain. Pertanyaan lain juga muncul di benaknya.Apakah Kelvin mengetahui semua ini? Ziyan menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu tersenyum tipis."Hem... aku akan mencobanya."Ia teringat sistem keamanan berlapis yang pernah dipasang untuk melindungi butik Soraya. Dari situlah sebuah ide muncul. Ia sengaja membuat sebuah celah kecil, bukan agar Kelvin menemukannya, melainkan agar dapat menarik perhatian Eksel.Perlahan ia mencoba mengakses jalur komunikasi yang terhubung dengan ponsel Soraya."Semoga Soraya tidak mematikan ponselnya." Menurut perhitungannya, cepat atau lambat Eksel pasti akan mencoba menghubungi Soraya atau mencari tahu keberadaannya. Karena itu, Ziyan memasang sistem pemantauan jarak jauh
Genap sepuluh hari akhirnya keluarga Zayna kembali ke Parepare."Alhamdulillah, akhirnya sebentar lagi kita sampai di rumah," ujar Zayna dengan wajah sumringah."Iya, Bund," jawab Aim sambil tersenyum dan tetap fokus mengemudikan mobil.Zayna teringat semua kebaikan yang mereka terima selama berada di Jakarta, Bogor dan Daerah sekitar pinggiran kota yang menjadi Perjalanan Dinasnya."Tuan Karim benar-benar baik kepada kita. Bahkan semua pakaian yang kita pakai selama di sana dibolehkan untuk dibawa pulang." Yang tidak diketahui oleh Zayna dan keluarganya, pakaian-pakaian tersebut sebenarnya merupakan pesanan khusus dengan kualitas terbaik. Mereka hanya merasakan betapa nyaman dan enaknya pakaian itu dikenakan tanpa mengetahui nilai sebenarnya."Semoga barang-barang yang kita kirim lewat ekspedisi sudah sampai di rumah," kata Zayna."Insya Allah Bund," jawab Aim.Tak lama kemudian mereka memasuki halaman rumah."Yeay... akhirnya sampai!" seru Ana dan Zayan bersamaan. Kedua anak itu ta
Kelvin tetap awasi setiap gerak-gerik Soraya."Baik, Nyonya," jawabnya singkat."Oh iya, bukankah Eksel yang berhasil mengetahui Soraya bertemu dengan Zahra itu?" tanya Sonia."Benar, Nyonya. Kebetulan saat itu dia memang berada di kafe yang sama," jawab Kelvin.Sonia tersenyum. "Mana dia? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.""Dia ada di depan, Nyonya," kata Kelvin, yang merupakan ayah Eksel."Suruh dia masuk. Sudah saatnya dia menerapkan ilmu yang didapatnya selama ini di perusahaan.""Baik, Nyonya."Kelvin segera keluar dan memanggil putranya.Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka."Tante Sonia!" Eksel langsung masuk dengan wajah ceria. Ia menghampiri Sonia dan mencium punggung tangan wanita itu dengan penuh hormat, kedekatan mereka memang sudah terjalin sejak lama. Sonia menganggap Eksel seperti anaknya sendiri, sementara bagi Eksel, Sonia adalah sosok yang selalu memberinya perhatian layaknya seorang ibu."Gimana, Eksel? Siap bekerja di kantor Tante?" tanya Sonia sa
Kelvin yang merasa tidak ada lagi petunjuk yang bisa digali di Parepare akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta untuk menghadap Sonia.Selama beberapa hari terakhir, ia berhasil mengumpulkan cukup banyak informasi. Sedikit demi sedikit, berbagai fakta yang sebelumnya berdiri sendiri mulai saling terhubung. Satu kesimpulan yang paling kuat adalah bahwa Bunda Zayna dan Azzahra kemungkinan besar adalah orang yang sama.Sayangnya, mereka masih belum berhasil menemukan alamat ataupun identitas lengkap wanita itu. Seolah-olah seseorang dengan sengaja menghapus jejaknya.Yang membuat Kelvin semakin yakin adalah pertemuan antara Azzahra dan Soraya di Cafe Mentari dua hari sebelumnya. Selain itu, pakaian yang dikenakan Azzahra juga menimbulkan tanda tanya besar. Pakaian tersebut berasal dari butik pribadi Soraya, sebuah koleksi eksklusif yang tidak dipublikasikan melalui Sonia Collection. Selain jumlahnya yang sangat terbatas, harga pakaian itu juga tidak mungkin dijangkau oleh sembarang orang.
Wisata hari kedua berjalan lancar. Begitu pula dengan pekerjaan Aim. Ternyata perjalanan dinas kali ini jauh lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan.Saat kembali ke penginapan, setelah anak-anak sudah terlelap. Aim melihat istrinya sedang serius menatap layar laptop. "Bund, ada apa? situasi
Sintia masih penasaran. Ia ingin memastikan apakah ibunya mengetahui bahwa Zayna sedang berada di luar kota. Dengan cepat ia menggulir daftar kontak di ponselnya lalu menekan nomor sang ibu. Tak lama, panggilan tersambung."Assalamu'alaikum, Mak.""Wa'alaikumussalam, Nak. Bagaimana kabarmu?" tanya
Pagi hari di hari kedua mereka di Bogor, Pak Arman kembali mengambil peran sebagai pemandu. Setelah sarapan, ia mengajak keluarga Bunda Zayna mengunjungi Museum Zoologi.Ana terlihat paling bersemangat. Gadis kecil itu berlari kecil ke sana kemari, matanya berbinar melihat berbagai koleksi satwa ya
Zayna tidak ingin berlarut-larut dalam perasaannya, setidaknya suaminya sudah jujur kepadanya. Meskipun masih ada kecanggungan yang tersisa di antara mereka, ia berusaha menerimanya sedikit demi sedikit. Di depan anak-anak dan Pak Arman, ia tetap berusaha bersikap seperti biasa. Esok hari pasar sa







