LOGIN“Berani-beraninya dia giniian aku dan anakku! Kejadian ini ndak bakal aku lupain, awalnya aku masih menyimpan harapan besar untuk mereka berdua bisa berubah!”“Kenapa? Ada apa ini Nduk?”“Buk, Mas Malikh sudah keterlaluan sekali! Dia hari ini berani ngancem aku pakek Aira, aku khawatir Buk sedangkan aku ndak bisa apa-apa saat itu ... Mas Malikh sudah sangat keterlaluan dia tahu kelemahanku di anak-anak, aku ndak bisa maafin dia kali ini pokoknya aku ndak akan pernah kasi lagi anak-anak kembali ke rumah itu!”“Tenang Nduk tenang, kasihan anak-anak dia bingung lihat kamu begini! Intinya sekarang Aira ndak papa to? Ibuk tahu kamu khawatir tapi anak-anak juga masih kecil mereka belum paham dengan masalah sebesar ini. Ayo duduk dulu, Ibuk ambilin minum yo!” Angel benar-benar syok, karena ia mengira hari ini adalah hari terakhirnya berjumpa dengan anaknya-Aira. Malikh sudah kelewat batas, menggunakan kelemahan Angel untuk memeras uangnya kali ini, tanpa sepengetahuan Angel Tasya
“Jangan macem-macem kamu Tasya! Ini kalau salah bertindak aku yang jadi taruhannya, ini kamu sudah pikirin mateng-mateng belum?”“Sudah ikutin saja Mas! Main rapi makanya, kalau memang Mas ragu mau ngelakuin yang ini ya sudah kalau begitu Mas pergi kerja sekarang! Jadi Mas mau pilih yang mana?” tawarnya.“Hah, iya-iya!”***“Ini kok ndak ada yang ngangkat telpon sih!”“Bagaimana Nduk? Sudah ada yang ngangkat?”“Belum ada Buk, biar Angel saja lah kalau begitu yang ke sana langsung dari pada nungguin mereka nelpon yang ada aku makin khawatir di rumah!”“Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati di jalan.”“Iya Buk, Rafa aku ajak yo Buk biar Aira mau pulang.”“Iya, kamu ajak anak hati-hati yo jangan terlalu banyak pikiran di jalan bahaya!”*“Buk, kenapa Tante Tasya bisa nikah dengan Ayah?” tanya Rafa tiba-tiba.“Rafa, maaf Ibuk ndak bisa jelasin lebih banyak ke kamu ... nanti kalau kamu sudah cukup umur Ibuk pasti bakalan cerita semuanya ke kamu, yang pasti intinya sekarang kamu sudah tahu t
“Mas bangun Mas!”“Ekhhh, masih ngantuk!!!”“Mas memangnya sudah ndak mau uang lagi yo?”“Hah uang?” Malikh sontak terbangun dari tidur lelapnya. “Di mana ada uang?”“Makanya bangun dulu, nanti aku jelaskan!”“Iya-iya!” Malikh pun bangun tanpa keterpaksaan perkara uang.“Nah, jadi gini Mas! Aira sudah menawarkan janji ke Angel untuk menginap di sini jadi waktu Aira menginap aku pengen Mas ngelakuin sesuatu!”“Maksudmu? Apa hubungannya uang dengan Aira, makin hari makin aneh saja kamu yo!”“Nah itu yang kamu ndak ngerti Mas! Kalau kita bisa menguasai Aira itu artinya Angel juga bisa kita kuasai dan dia bisa berada di bawah kendali kita!”“Oh, jadi maksudmu ini to yang kemarin! Mas kan sudah bilang ke kamu to kalau Mas ndak mau ikut-ikutan lagi! Kalau misalnya kita kalah lagi tamat riwayat kita dan berakhir jadi gelandangan luntang-lantung di jalan tahu ndak!”“Iya tapi Mas tenang dulu, kali ini beda! Kita punya umpan yang bagus, kita buat Aira makin betah tinggal di sini jadi dari kond
“Kapan Tante Tasya bilang begitu?”“Waktu di rumah Bapak tadi Buk,” jawabnya polos. “Apa maksud Tasya menjelaskan hal itu pada Aira?” Angel pun bertanya-tanya dan merasa curiga ada maksud dibaliknya.“Bagaimana Nduk, Malikh ada di rumah?”“Ada Buk, ya dia seperti biasalah di rumah saja memangnya dia mau ke mana lagi!”“Kamu bener juga, ya yang penting sekarang Aira keinginannya sudah keturutan.”“Iya sih Buk, tapi aku kok khawatir yo habis pulang dari sana? Aku ndak tahu kenapa seperti merasa ada hal buruk yang bakal mereka lakukan lagi!”“Sudah, kamu ndak usah gelisah begitu! Kasihan anak-anak, Ibuk ndak mau Rafa dan Aira jadi kepikiran ... tapi kalau kamu ada merasa cemas lagi cerita saja ke Ibuk yo jangan dipendam-pendam.”“Iyo Buk, makasi ya.”***“Nyari siapa buk?”“Ini buk, saya mau nyari anak saya namanya Aira Zulaikha.”“Ow, kelas berapa ya buk?”“Kelas tiga buk, sudah pulang ya? Soalnya, biasanya anak saya pasti nunggu di pos satpam sini sekarang kok tumben jam segini belum
“Mas Rafa, Ira kangen sama Bapak ... Bapak ke mana yo?”“Bapak kan tinggal sama Tante Tasya di rumah kita yang dulu, Ira kangen sekali yo sama Bapak?”“Hek’e Mas.” Sungguh malang nasib kedua bocah itu, di usia mereka yang sangat belia harus merasakan pahitnya perpisahan kedua orang tua mereka akibatnya mereka sendiri pun bingung dengan keadaan yang sedang terjadi.“Loh, kalian kok masih di sini? Ibuk panggil dari tadi buat makan kok ndak ada yang ke luar to ini?”“Anu, ini Buk, Ira kangen katanya sama Bapak! Kira-kira Bapak masih ndak yo tinggal di rumah kita Buk?” tanyanya sedikit ragu.Angel terdiam, ia bingung harus bereaksi seperti apa.“Sudah-sudah, kalian jangan buat Ibuk kalian pusing! Mending sekarang kalian makan, kasian Ibukmu sudah capek-capek masak ndak ada yang mau makan!” sela Surti memecah ketegangan. Semuanya makan di ruang makan, tetapi dengan ekspresi canggung.“Kenapa to kalian ini murung dari tadi? Ndak enak yo makanan Ibuk?”“Enak kok Buk,
“Pak Kades saya mohon jangan pak! Tolong hentikan mereka!” Tasya dan Malikh sudah terpojok.“Malikh! Saya sudah katakan bahwa saya ndak bisa membendung kemarahan mereka, saya pun kecewa berat dengan kelakuanmu selama ini!”Malikh menelan udara kosong, ia mencoba mencari akal. Malikh lantas melirik ke arah Tasya, sepertinya ia menemukan ide untuk menghalau masa yang sedang mengamuk itu.“Oke, saya minta maaf ... tapi kali ini saya mohon dengan kalian semua tolong kasihani saya! Lihat, lihat Tasya perutnya sudah besar sekali sebentar lagi dia bakalan melahirkan, kalau kalian mengusir kami dari sini kami mau tinggal di mana dengan kondisi begini? Kalian tega lihat seorang ibu hamil terlantar?”“Pak Kades jangan dengarkan mereka, perbuatan mereka sudah lebih keji dari ini!”“Iya betul itu pak Kades, kami sudah benar-benar muak dengan kelakuan mereka dan jujur kami juga merasa terganggu mereka setiap hari ribut terus sampai terdengar satu desa! Apa pak Kades mau mempertahankan







