LOGIN“Buk aku ke rumah sakit dulu yo! Loh, semua orang pada ke mana kok ndak ada siapa-siapa? Anak-anak juga ndak ada tumben pergi ndak ada bilang-bilang.” Pagi ini Angel tampak kemas namun terburu-buru, ia seperti kebingungan melihat kondisi pagi ini rumahnya sepi melompong tak ada siapa pun yang biasanya pagi-pagi akan diisi suara riuh pertengkaran dari Rafa dan Aira.“Hmm, aku lagi buru-buru anak-anak pasti ikut Ibuk aman! Mudah-mudahan Erik ndak kenapa-napa.” Rupanya yang membuat pagi Angel was-was adalah sesosok yang tengah mengisi hatinya. Pagi-pagi sekali Angel yang panik bergegas pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Erik baik-baik saja. Entah apa yang sebenarnya sedang terjadi, semua orang yang dihubungi Angel pagi ini seakan enggan mengangkat telepon darinya. Ia merasakan ada sesuatu hal yang aneh, pasalnya saat ia pergi ke rumah sakit tak ada nama pasien atas nama Erik di sana, perasaan Angel pun makin tak karuan.TINGG! [Suara pesan masuk]“Loh,
“Astagfirullahalazim Buk! Apa ini? Kok banyak banget dari siapa?”“Loh, bukan kamu yang mesen? Tadi Ibuk kira kamu yang mesen jadi Ibuk terima saja, terus kalau bukan kamu siapa?”Drrrt! Drrrt! Drrrt! [Gawai Angel berdering][Halo, assalamualaikum Rik! Ada apa tumben nelpon pagi-pagi sekali?][Waalaikumsalam, a-anu Ngel ... emmmm][Kamu mau ngomong apa to Rik? Kok ndak jelas gini!][Ekhmm, itu barangnya sudah sampai?][Barang? Maksudmu barang yang pagi ini baru sampai di rumahku itu kamu yang ngirim?][Lebih tepatnya sih Mama Ngel! Aku juga sudah ngasi tahu kalau memang mau ngasi secukupnya saja tapi ya taulah Mama ndak dengerin aku, maaf yo jadi menuh-menuhin rumah kamu.][Yak ampun, aku kira tadi paket nyasar! Ini kok banyak banget, sampai repot-repot begini loh aku jadi ndak enak ... lain kali tolong bilangin mama kamu jangan repot-repot begini lagi!][Aku tahu kamu bakalan bilang kayak begini Ngel makanya aku sudah ngasi tahu Mama duluan tapi tetap saja ya seperti yang kamu lihat
“Aku penasaran deh bagaimana caranya kamu bisa nanganin ini semua? Padahal Malikh itu termasuk orang yang sangat nekat!”“Bagaimana yo jelasinnya? Ya intinya karena itu kamu! Aku rela ngelakuin apa pun itu demi kamu.”“Ndak mungkin karena itu saja kan! Malikh itu bukan orang yang mudah dibodoh-bodohi apa lagi cuma sekadar diancam.” Angel merasa ragu dengan penjelasan sederhana dari Erik.“Hah, panjang ceritanya nanti kamu juga bakalan tahu sendiri pelan-pelan.” Erik masing enggan mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.“Tapi bener kan kamu ndak papa? Kevin, ibuk sama nenek?”“Aku dan mereka semua baik-baik saja Ngel kamu tenang saja!”“Bagaimana aku bisa tenang Rik saat orang-orang terdekatku dalam bahaya! Aku bahkan sampai mikir yang enggak-enggak karena Malikh itu orangnya nekat banget, aku cuma mau mastiin kalau kalian sudah bener-bener aman sekarang!”***“Nduk! Kenapa hal sebesar ini kamu ndak cerita ke Ibuk sih!” sesalnya.“Maaf Buk, bukannya aku ndak mau cerita tapi aku cuma nd
Erik sudah menanti hari ini karena saatnya ia menyudahi pertanyaan-pertanyaan yang telah bersarang di benaknya beberapa hari ini, ia akan segera menyelesaikan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.“Jadi bener to kamu orangnya!” tekannya.Malikh menatap tajam seakan menantang, “Kenapa? Kamu nyariin aku selama ini? Oh selamat akhirnya kita ketemu!”“Jangan banyak basa-basi! Aku ke sini mau menyelesaikan urusanku denganmu! Jauhi Angel!” ucapnya tanpa langsung ke intinya.Dahi Malikh mengerinyit, “Heh! Harusnya kamu yang jauhi Angel karena dia adalah istriku!”“Tepatnya mantan istri! Dia sekarang adalah calon istriku, berhenti menghayal Malikh!”“Kamu yang harusnya berhenti menghayal! Aku dan Angel sudah punya anak dua dan anak-anak itu ingin orang tuanya kembali lengkap! Apa kamu tega merusak kebahagiaan mereka?”“Ini yang aku bilang menghayal! Mereka itu sudah lupakan kamu Malikh, mana mau mereka mengingat kejadian kejam yang sudah menimpa mereka selama hidup sama kamu!”“Dasar lic
“Aku yakin pasti ada yang ndak beres dari Angel! Dia sebelumnya seyakin itu kenapa tiba-tiba ndak ada masalah apa-apa dia kembali ragu? Aku justru semakin khawatir dengan keadaannya sekarang!” Erik mulai curiga.*“Habis dari mana kamu Mas? Kamu ndak tahu ya kalau hari ini aku masih harus pergi kerja, kamu malah asyik keluyuran ke luar!”“Aku ada urusan penting!”“Lebih penting mana dengan kerjaanku? Kamu tinggal disuruh jaga anak saja ndak becus apa lagi kamu yang aku suruh cari nafkah!”“Selama kerjaanmu masih ndak bener jangan coba-coba merendahkan aku Tasya! Kamu sama rendahnya bahkan lebih rendah dari aku!”“Kamu yang harusnya jaga omonganmu Mas! Nih jaga Gavin aku mau pergi!” Tasya lantas pergi.“Tunggu! Kamu masih kerja di sana/” tanyanya sekadar penasaran.“Iya,” jawabnya singkat tanpa menoleh sedikit pun.“Mau sampai kapan? Waktumu tinggal besok!” ucapnya memberi peringatan.“Hari ini aku terakhir kerja!”“Terus, sudah ada penggantinya?”“Ndak ada, lagian ya Mas aku ndak mau
Tatapan Angel terpaku cukup lama, memandang kendaraan lalu lalang di jalan. Ucapan ibunya kembali terngiang di ingatannya, namun di sisi lain hatinya seperti bertentangan. Kini wanita itu menghadapi dilema yang sangat besar.“Kenapa perasaan ini harus muncul lagi sekarang? Apa yang harus aku lakukan?” Angel terus mengecek jam tangannya, ia tampak sedang menunggu seseorang.“Ternyata kamu datang juga!” ucap seseorang dari belakang Angel, laki-laki itu masih tetap sama seperti beberapa waktu ke belakang.Angel menyoroti tubuh pria itu dari atas hingga bawah, “Apa yang terjadi dengan kaki kamu Mas?”“Aku habis kecelakaan kerja, tapi kamu tenang saja sakitnya ndak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit yang kamu tinggalkan.” Malikh menatap tajam ke arah Angel, seakan memberikan peringatan tentang kejadian di masa lalu.“Apa lagi sih yang mau kamu bahas Mas? Aku rasa semuanya sudah cukup dan selesai pada saat itu, apa lagi yang mau kamu paksakan dalam keadaan ini a
“Kenapa kamu kaget begitu? Bukannya kamu sudah buang keluargamu, tega kamu dengan anak-anakmu!”“Jangan sembarangan ngomong buk! Aku ndak ada buang keluargaku apalagi anak-anak, aku selalu memenuhi kebutuhan mereka semua selama ini sampai sekarang!” jelasnya.“Heh, nafkahin pakek uang haram saja ba
“Kamu ndak usah jadi merasa sok suci begitu dong Ngel! Aku dan Tasya adikmu sudah berbesar hati mau nerima kamu, kalau kamu ndak egois memikirkan perasaanmu sendiri kita masih bisa kok hidup rukun-rukun saja!”“Mas, kamu kapan sadarnya sih? Kenapa dari tadi kamu masih bisa ngasi pernyataan begitu,
Malikh dan Tasya mulai gelisah, mereka panik kehabisan cara untuk membujuk Angel tak mengusir mereka dari rumah itu. Tentu saja, mereka akan berjuang keras untuk mempertahankam rumah itu pasalnya tanpa seorang Angel mereka berdua hanyalah sesosok benalu yang menempel pada inangnya dan t
“Loh, ndak bisa begitu!”Wajah Angel mendatar, reaksi Malikh terlihat begitu menjijikkan. Pria tak tahu malu itu seakan-akan pernah berkontribusi dalam membangun rumah itu, hingga menolak keras tindakan Angel mengusirnya dari rumah.“Mbak ndak usah seenaknya begitu ngusir kita! Mbak jangan lupa sela







