Masuk“Bapak ibu saja! Lebih bagus,” sahutnya sumringah.
Kebahagiaan mereka seolah-olah nampak seperti sebuah hubungan yang dibangun berdasarkan cinta yang murni tanpa noda, kedua pasangan terlarang itu benar-benar sedang dibutakan oleh nafsu hingga mengesampingkan hubungan murni yang sebenarnya. Keduanya pun kini tak segan-segan lagi dan tak perlu sembunyi-sembunyi lagi menunjukkan kemesraan mereka di dalam rumah.
“Mas, skincare aku habis!”
“Ini, kamu beli yang banyak yo biar makin cantik!” Malikh memberikan sejumlah uang.
“Lima juta? Mas ini banyak banget, kamu yakin?” Tasya terkejut.
“Ini uang sekolah anak-anak, kamu pakek saja dulu, kebutuhanmu lebih penting nanti Mas bisa minta lagi ke Angel!” ucapnya enteng.
“Terima kasih Mas! Dek jadi makin sayang sama Mas.”
Drrt! Drrrt! gawai Malikh berdering
“Eh orangnya panjang umur, sebentar ya sayang Mas mau minta uang dulu!”
[Halo, assalamualaikum Mas]
[Ya, walaikumsalam!]
[Kabar keluarga di rumah bagaimana Mas? Mas sudah baikan?]
[Baik, semuanya baik. Kamu sendiri bagaimana sudah gajian belum?] tanya Malikh tak sungkan.
[Mas, maaf memangnya kamu ndak mau tahu kabarku di sini tiba-tiba sudah tanya gaji aku?] Angel sedih.
[Eee, maaf Mas lupa! Kabarmu bagaimana?] Malikh kikuk.
[Baik, Mas. Aku baik, tapi aku kangen sama kamu dan anak-anak ee Mas lagi ndak sibuk? Aku mau ngomong sama anak-anak Mas,] pintanya.
[Anak-anak lagi main ke rumah temennya, udahlah lain kali saja!]
[Eee kalau Ibuk ada Mas?]
[Ibuk ke kebun, biasanya sore baru pulang ... jadi bagaimana kamu sudah dapat uang atau belum?] tanyanya kembali.
[Hah, ya sudah kalau begitu! Lain kali aku minta tolong ya Mas kalau anak-anak dan Ibuk pas ada di rumah telpon aku!] jawabnya, mengabaikan pertanyaan Malikh tentang uang.
[Kamu ini pura-pura ndak dengar apa bagaimana? Dari tadi aku tanya kamu sudah gajian atau belum?] tekannya. Malikh mulai kesal.
[Belum Mas, aku kan biasanya gajian toh langsung tak kirim ke rekeningmu Mas.]
[Kalau begitu kamu ada tabungan apa ndak?]
[Buat apa Mas?]
[Aku tanya kok malah ditanya balik! Aku ya perlu untuk kebutuhan rumah sama sekolah anak-anak!]
[Tapi Mas, bulan lalu aku kan sudah kirim untuk keperluan di rumah sama sekolah anak-anak lima puluh juta. Biasanya kan segitu masih cukup, nanti kalau aku sudah gajian kan aku kirim lagi to.]
[Sekarang itu apa-apa mahal! Uang segitu sudah ndak cukup lagi, aku perlu buat bayar sekolah anak-anak besok!]
[Tolong disiasati to Mas biar cukup, aku di sini kan juga perlu untuk kebutuhanku.]
[Loh, kamu pikir ngolah uang gampang? Kamu enak tinggal nyari saja, aku stress yang ngurus! Memangnya kamu mau anak-anak telat bayar uang sekolahnya?]
[Astagfirullah Mas, aku yo juga capek Mas! Kerja siang malam kamu pikir ndak habisin tenaga to? Kenapa kamu gini Mas, kok kamu jadi ndak ngehargain aku?] Angel kecewa dengan sikap Malikh.
[Iyo-iyo, aku ya bisa apa cuma bisa minta ke kamu. Kalau begitu aku ndak bisa bantu banyak, biarkan saja sekolah anak-anak bermasalah itu pun kalau kamu tega! Aku di matamu yo cuma tukang minta-minta to makanya kamu berani melawan suamimu ini karena kamu merasa sudah lebih hebat dari pada suamimu yang ndak berguna ini, begitu toh maksudmu?] Malikh mulai menjual kesedihan untuk memengaruhi perasaan Angel.
[Ndak begitu maksudku Mas! Aku minta maaf kalau sudah nyinggung perasaanmu, aku juga ndak tega biarin sekolah anak-anak terbengkalai. Ya sudah kalau begitu, nanti aku transfer lagi pakek tabungan daruratku dulu!] Angel luluh dengan begitu mudahnya termakan bualan Malikh.
[Iyo aku tunggu! Kalau bisa sekarang biar besok bisa langsung tak bayar!]
[Iya Mas! Mas aku ....] Panggilan telepon dimatikan begitu saja saat Malikh sudah mendapatkan apa yang ia mau.
“Bagaimana Mas? Uangnya dapet?”
“Dapet dek! Jadi uang ini kalau kamu mau pakek belanja aman, uang sekolah anak-anak nanti di transfer lagi!”
“Makasi ya Mas, uang ini aku mau pakek beli keperluanku!”
“Iya sayang, kamu pakek saja nanti kalau kurang kasi tahu Mas saja biar Mas bisa minta lagi sama Angel! Pokoknya istri Mas yang tersayang ini harus tetap cantik!”
“Iya Mas makasi banyak! Dek juga sayang sama Mas.”
“Pak, tadi Ibuk nelpon ya?” tanya Rafa.
“Aduh kamu bikin kaget saja, kamu ini suka sekali muncul tiba-tiba bikin orang tua jantungan!”
“Maaf Pak, bener tadi Ibuk yang nelpon?” tanyanya meyakinkan.
“Iya, kenapa memangnya?”
“Aku sama Aira kangen sama Ibuk! Sudah lama kita ndak ngomong sama Ibuk,” jelasnya.
“Iya Pak, Ira kangen sama Ibuk!” timpal Aira merengek.
“Aduh kalian ini seperti baru ditinggal sama Ibuk saja, tadi Ibuk nelpon sebentar karena dia sibuk mau lanjut kerja lagi. Sudah sana kalian belajar lagi, nanti kalau Ibuk nelpon Bapak kasi tahu,” kilahnya.
“Ibuk ndak ada nanyain kita to?”
“Dia sibuk, mana ada waktu buat nanyain kalian! Sudah sana.”
Aira dan Rafa kembali belajar dengan ekspresi muka ditekuk, mereka kecewa karena akhir-akhir ini merasa tak dipedulikan lagi oleh ibu mereka.
“Biasanya Ibuk kalau nelpon pasti selalu nanyain kita yo dek? Sekarang kok Ibuk ndak seperti dulu lagi,” keluhnya kecewa.
“Iya Mas, dek kangen sama Ibuk!”
“Kalau begitu bagaimana besok kita ke rumah tante Nesya saja! Pasti tante Nesya sering telponan sama Ibuk jadi kita bisa telpon Ibuk pakek hp nya tante Nesya,” usulnya bersemangat.
“Tapi Mas, dek takut nanti Bapak marahin kita lagi ... Bapak kan pernah bilang waktu ini jangan main sama tante Nesya lagi!”
“Itu kalau ditau sama Bapak! Besok kamu ikutin Mas, pas Bapak ndak ada di rumah. Kamu jangan bilang-bilang ke Bapak atau tante Tasya yo!”
“Iya Mas.”
“Mas, bagaimana ini? Anak-anak kok bisa senekat itu?” tanya Tasya khawatir kedoknya terbongkar. Wanita itu ternyata menguping pembicaraan kedua anak itu.
“Anak-anak itu memang bandel, ndak pernah denger omongan Bapaknya persis seperti Ibuknya keras kepala!”
“Terus bagaimana ini Mas? Kalau sampai Nesya tahu kita sudah nikah pasti dia bakalan ngadu ke Mbak Angel!” Tasya semakin ketakutan.
“Kamu tenang saja dek, biar Mas yang atur. Kalau sampai Nesya berani melakukan itu, Mas ndak bakalan segan-segan ngelakuin sesuatu ke dia!”
“Mas, kamu jangan cari masalah lagi!”
“Sudah kamu tenang saja, ini urusan Mas. Kamu ndak usah ikut campur nanti stress, kasian anak kita!”
“Terus urusan Rafa sama Aira bagaimana Mas?”
Bersambung ...
Riuh suara musik membuat telinga yang tak biasa mendengarnya akan rusak seketika, tetapi tidak bagi penikmatnya, misalnya bagi seorang wanita yang tengah menyenderkan badannya di ambang pintu, ia kehilangan setengah kesadarannya. Penampilannya dengan rok mini yang begitu mencolok pun menarik perhatian banyak pria yang lalu lalang di bar pinggir jalan itu.“Kamu Tasya kan?” tanya salah seorang pria berkemeja hitam dengan bagian leher sedikit terbuka.“Kamu siapa?” tanya Tasya balik.“Aku Edo.”“Kamu kenapa bisa tahu aku?” Tasya pun penasaran.“Siapa sih yang tidak tahu Tasya di sini! Kamu itu diincar banyak orang termasuk aku!” Tasya memasang wajah masam.“Hahh, becanda! Ngomong-ngomong aku anter pulang ya bahaya cewek cantik ditinggal sendirian di sini apa lagi sepertinya kamu mabuk ya!” Tanpa basa-basi, Tasya pun mengiyakan ajakan seorang pria asing yang baru saja dikenalnya itu. Sementara itu, seorang bapak yang tengah berdiri di ambang pintu deng
“Berani-beraninya dia giniian aku dan anakku! Kejadian ini ndak bakal aku lupain, awalnya aku masih menyimpan harapan besar untuk mereka berdua bisa berubah!”“Kenapa? Ada apa ini Nduk?”“Buk, Mas Malikh sudah keterlaluan sekali! Dia hari ini berani ngancem aku pakek Aira, aku khawatir Buk sedangkan aku ndak bisa apa-apa saat itu ... Mas Malikh sudah sangat keterlaluan dia tahu kelemahanku di anak-anak, aku ndak bisa maafin dia kali ini pokoknya aku ndak akan pernah kasi lagi anak-anak kembali ke rumah itu!”“Tenang Nduk tenang, kasihan anak-anak dia bingung lihat kamu begini! Intinya sekarang Aira ndak papa to? Ibuk tahu kamu khawatir tapi anak-anak juga masih kecil mereka belum paham dengan masalah sebesar ini. Ayo duduk dulu, Ibuk ambilin minum yo!” Angel benar-benar syok, karena ia mengira hari ini adalah hari terakhirnya berjumpa dengan anaknya-Aira. Malikh sudah kelewat batas, menggunakan kelemahan Angel untuk memeras uangnya kali ini, tanpa sepengetahuan Angel Tasya
“Jangan macem-macem kamu Tasya! Ini kalau salah bertindak aku yang jadi taruhannya, ini kamu sudah pikirin mateng-mateng belum?”“Sudah ikutin saja Mas! Main rapi makanya, kalau memang Mas ragu mau ngelakuin yang ini ya sudah kalau begitu Mas pergi kerja sekarang! Jadi Mas mau pilih yang mana?” tawarnya.“Hah, iya-iya!”***“Ini kok ndak ada yang ngangkat telpon sih!”“Bagaimana Nduk? Sudah ada yang ngangkat?”“Belum ada Buk, biar Angel saja lah kalau begitu yang ke sana langsung dari pada nungguin mereka nelpon yang ada aku makin khawatir di rumah!”“Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati di jalan.”“Iya Buk, Rafa aku ajak yo Buk biar Aira mau pulang.”“Iya, kamu ajak anak hati-hati yo jangan terlalu banyak pikiran di jalan bahaya!”*“Buk, kenapa Tante Tasya bisa nikah dengan Ayah?” tanya Rafa tiba-tiba.“Rafa, maaf Ibuk ndak bisa jelasin lebih banyak ke kamu ... nanti kalau kamu sudah cukup umur Ibuk pasti bakalan cerita semuanya ke kamu, yang pasti intinya sekarang kamu sudah tahu t
“Mas bangun Mas!”“Ekhhh, masih ngantuk!!!”“Mas memangnya sudah ndak mau uang lagi yo?”“Hah uang?” Malikh sontak terbangun dari tidur lelapnya. “Di mana ada uang?”“Makanya bangun dulu, nanti aku jelaskan!”“Iya-iya!” Malikh pun bangun tanpa keterpaksaan perkara uang.“Nah, jadi gini Mas! Aira sudah menawarkan janji ke Angel untuk menginap di sini jadi waktu Aira menginap aku pengen Mas ngelakuin sesuatu!”“Maksudmu? Apa hubungannya uang dengan Aira, makin hari makin aneh saja kamu yo!”“Nah itu yang kamu ndak ngerti Mas! Kalau kita bisa menguasai Aira itu artinya Angel juga bisa kita kuasai dan dia bisa berada di bawah kendali kita!”“Oh, jadi maksudmu ini to yang kemarin! Mas kan sudah bilang ke kamu to kalau Mas ndak mau ikut-ikutan lagi! Kalau misalnya kita kalah lagi tamat riwayat kita dan berakhir jadi gelandangan luntang-lantung di jalan tahu ndak!”“Iya tapi Mas tenang dulu, kali ini beda! Kita punya umpan yang bagus, kita buat Aira makin betah tinggal di sini jadi dari kond
“Kapan Tante Tasya bilang begitu?”“Waktu di rumah Bapak tadi Buk,” jawabnya polos. “Apa maksud Tasya menjelaskan hal itu pada Aira?” Angel pun bertanya-tanya dan merasa curiga ada maksud dibaliknya.“Bagaimana Nduk, Malikh ada di rumah?”“Ada Buk, ya dia seperti biasalah di rumah saja memangnya dia mau ke mana lagi!”“Kamu bener juga, ya yang penting sekarang Aira keinginannya sudah keturutan.”“Iya sih Buk, tapi aku kok khawatir yo habis pulang dari sana? Aku ndak tahu kenapa seperti merasa ada hal buruk yang bakal mereka lakukan lagi!”“Sudah, kamu ndak usah gelisah begitu! Kasihan anak-anak, Ibuk ndak mau Rafa dan Aira jadi kepikiran ... tapi kalau kamu ada merasa cemas lagi cerita saja ke Ibuk yo jangan dipendam-pendam.”“Iyo Buk, makasi ya.”***“Nyari siapa buk?”“Ini buk, saya mau nyari anak saya namanya Aira Zulaikha.”“Ow, kelas berapa ya buk?”“Kelas tiga buk, sudah pulang ya? Soalnya, biasanya anak saya pasti nunggu di pos satpam sini sekarang kok tumben jam segini belum
“Mas Rafa, Ira kangen sama Bapak ... Bapak ke mana yo?”“Bapak kan tinggal sama Tante Tasya di rumah kita yang dulu, Ira kangen sekali yo sama Bapak?”“Hek’e Mas.” Sungguh malang nasib kedua bocah itu, di usia mereka yang sangat belia harus merasakan pahitnya perpisahan kedua orang tua mereka akibatnya mereka sendiri pun bingung dengan keadaan yang sedang terjadi.“Loh, kalian kok masih di sini? Ibuk panggil dari tadi buat makan kok ndak ada yang ke luar to ini?”“Anu, ini Buk, Ira kangen katanya sama Bapak! Kira-kira Bapak masih ndak yo tinggal di rumah kita Buk?” tanyanya sedikit ragu.Angel terdiam, ia bingung harus bereaksi seperti apa.“Sudah-sudah, kalian jangan buat Ibuk kalian pusing! Mending sekarang kalian makan, kasian Ibukmu sudah capek-capek masak ndak ada yang mau makan!” sela Surti memecah ketegangan. Semuanya makan di ruang makan, tetapi dengan ekspresi canggung.“Kenapa to kalian ini murung dari tadi? Ndak enak yo makanan Ibuk?”“Enak kok Buk,







