Home / Romansa / Istana yang Retak / Bab 44. Retak yang Semakin Dalam

Share

Bab 44. Retak yang Semakin Dalam

Author: Lia Lintang
last update publish date: 2026-05-17 20:20:12

Sepanjang perjalanan menuju rumah, tangan Julia terus gemetar. Pikirannya kacau membayangkan Hana menangis kesakitan. Suara Bram di telepon tadi terdengar panik, dan itu cukup membuat dadanya terasa sesak. Ia bahkan tak sadar sejak tadi terus menggigit kuku jarinya sendiri hingga Rendra melirik sekilas ke arahnya.

“Hana pasti gak apa-apa,” ujar pria itu mencoba menenangkan.

Julia memejamkan mata sesaat lalu mengangguk pelan. “Aku takut dia kenapa-kenapa.”

“Anak kecil memang sering jatuh.”

“Tapi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istana yang Retak   Bab 47. Perempuan yang Selalu Disalahkan

    Koridor rumah sakit mendadak sunyi setelah ucapan Bu Sulastri barusan. Hanya suara roda brankar yang sesekali melintas dan aroma obat-obatan yang menusuk hidung memenuhi udara. Namun bagi Julia, suasana itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada ruang sempit tanpa jendela.Ia berdiri diam dengan tangan mengepal pelan di sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras, sementara dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang sulit dijelaskan.Lelah.Kecewa.Dan perlahan… mati rasa.Bram terlihat gelisah. Lelaki itu beberapa kali menatap ibunya, lalu berpindah menatap Julia dengan wajah penuh tekanan. Ia tahu siapa yang salah. Ia sadar semua kehancuran ini bermula dari dirinya. Namun di saat yang sama, Bram juga terlalu terbiasa menjadi anak yang selalu tunduk pada ibunya.Dan kebiasaan itu kini kembali menjeratnya.“Bu, jangan bicara sembarangan,” ucap Bram akhirnya, meski suaranya tak sekeras yang Julia harapkan.Bu Sulastri tertawa sinis sambil memegang dadanya dramatis. “Sembarangan? Kamu lihat sendiri s

  • Istana yang Retak   Bab 46. Rumah yang Kehilangan Hangatnya

    Hujan turun sejak dini hari, meninggalkan udara dingin yang merayap sampai ke dalam rumah. Namun anehnya, bukan cuaca yang membuat Julia menggigil pagi itu. Melainkan perasaan kosong yang semakin hari semakin besar di dalam dadanya.Ia berdiri di dapur sambil mengaduk kopi tanpa fokus. Matanya sembab karena semalaman nyaris tidak tidur. Video viral tentang Twin memang mulai mengalihkan perhatian publik, tetapi fitnah yang menyeret namanya masih tersisa di beberapa akun gosip. Beberapa rekan kerja bahkan diam-diam mulai membicarakannya di belakang.Dan itu melelahkan.Sangat melelahkan.Suara kursi bergeser membuat Julia menoleh. Bram duduk perlahan di meja makan sambil membawa map lusuh berisi beberapa lembar lamaran kerja yang kembali ditolak.Wajah lelaki itu tampak jauh lebih tua dibanding beberapa bulan lalu. Sorot matanya redup. Bahunya turun. Bahkan cara duduknya kini terlihat seperti orang yang kehilangan harga dirinya sedikit demi sedikit.“Mas udah sarapan?” tanya Julia pelan

  • Istana yang Retak   Bab 45. Serangan Balik

    Pagi itu berubah menjadi mimpi buruk lain bagi Julia. Jemarinya terus gemetar saat menggulir layar ponsel. Foto dirinya bersama Rendra tersebar luas di media sosial dengan narasi penuh fitnah. Beberapa akun anonim bahkan sengaja menambahkan bumbu seolah dirinya selama ini hanya berpura-pura menjadi korban perselingkuhan.Perempuan murahan. Sama saja ternyata. Kasihan suaminya.Komentar demi komentar bermunculan tanpa ampun.Julia mematung di tepi ranjang. Wajahnya pucat, sementara dadanya terasa sesak seperti dihimpit batu besar. Rasanya melelahkan sekali harus terus menjadi bahan gunjingan orang lain.“Aku capek…” bisiknya lirih.Bram yang berdiri di belakangnya mengepalkan tangan kuat-kuat. Rahangnya mengeras saat membaca isi komentar yang semakin liar.“Kurang ajar!” desisnya.Ia tahu.Ia sangat tahu siapa dalang semua ini.Twin.Perempuan itu belum selesai menghancurkan hidup mereka.Bram langsung mengambil ponselnya lalu berjalan cepat keluar kamar. Namun sebelum sempat menelepon

  • Istana yang Retak   Bab 44. Retak yang Semakin Dalam

    Sepanjang perjalanan menuju rumah, tangan Julia terus gemetar. Pikirannya kacau membayangkan Hana menangis kesakitan. Suara Bram di telepon tadi terdengar panik, dan itu cukup membuat dadanya terasa sesak. Ia bahkan tak sadar sejak tadi terus menggigit kuku jarinya sendiri hingga Rendra melirik sekilas ke arahnya.“Hana pasti gak apa-apa,” ujar pria itu mencoba menenangkan.Julia memejamkan mata sesaat lalu mengangguk pelan. “Aku takut dia kenapa-kenapa.”“Anak kecil memang sering jatuh.”“Tapi Hana akhir-akhir ini gampang kaget,” bisik Julia lirih. “Dia belum benar-benar pulih.”Rendra terdiam.Ia tahu maksud ucapan itu bukan sekadar luka fisik.Trauma anak kecil sering kali lebih dalam daripada yang terlihat.Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Bahkan sebelum kendaraan itu benar-benar mati, Julia sudah membuka pintu dan berlari masuk.“Hana!”Suara tangis kecil langsung terdengar dari ruang tengah.Bram sedang duduk di lantai sambil memangku Hana yang terus terisak. Di pelipis g

  • Istana yang Retak   Bab 43. Luka yang Tidak Pernah Selesai

    Pagi datang dengan suasana yang lebih sunyi dari biasanya. Setelah pertengkaran besar semalam, rumah itu terasa seperti kehilangan napas. Tidak ada suara televisi menyala keras, tidak ada ocehan Nita dari dapur, bahkan langkah kaki Arman pun nyaris tak terdengar. Kedua pasangan itu akhirnya benar-benar pergi dini hari tadi setelah Bram, dengan wajah penuh malu, meminta mereka mencari tempat lain.Namun anehnya, meski rumah kembali lengang, dada Bram justru terasa semakin sesak.Ia berdiri di dapur sambil menatap dua cangkir teh yang mengepulkan uap tipis. Tangannya bergerak lambat ketika menuangkan gula, pikirannya masih dipenuhi ucapan Julia semalam.'Aku masih bertahan karena Hana.'Kalimat itu terus berputar di kepalanya seperti hukuman yang tak selesai-selesai.Suara langkah kecil membuat Bram menoleh. Hana berjalan keluar kamar dengan rambut berantakan dan mata setengah mengantuk sambil memeluk boneka Upin.“Papa,” panggilnya lirih.Bram memaksakan senyum. “Bangun, Putri kecil?”

  • Istana yang Retak   Bab 42. Luka yang Menumpuk

    Sejak kejadian di kantor kemarin, suasana rumah semakin tidak nyaman. Nita tak lagi banyak bicara pada Julia, tetapi tatapan perempuan itu berubah penuh kebencian. Ia berjalan mondar-mandir di rumah seperti orang yang dipermalukan habis-habisan, sesekali menggerutu pelan sambil membanting barang agar semua orang tahu bahwa ia sedang tersinggung.Sementara Arman justru semakin tenggelam dalam kebiasaan buruknya. Lelaki itu lebih sering bermain ponsel sambil memasang earphone, tertawa sendiri ketika menang judi online, lalu mendadak mengumpat ketika kalah. Kadang ia meminjam uang secara diam-diam kepada Bram dengan alasan membeli kebutuhan anak, tetapi ujung-ujungnya habis untuk taruhan.Dan semua itu perlahan membuat Bram merasa rumahnya berubah menjadi tempat yang asing.Malam itu hujan turun rintik-rintik. Julia baru pulang kerja hampir pukul sembilan malam dengan tubuh lelah dan kepala pening karena seharian meeting. Begitu masuk rumah, langkahnya langsung terhenti.Ruang tamu beran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status