FAZER LOGINMalam itu hujan belum juga reda. Titik-titik air masih jatuh membasahi halaman rumah, menciptakan suara yang monoton tetapi anehnya menenangkan. Bram masih duduk di teras dengan tubuh sedikit membungkuk, sementara secangkir kopi di depannya mulai dingin tanpa disentuh. Ucapannya beberapa menit lalu masih menggantung di udara.'Aku kehilangan rumah bahkan sebelum kamu benar-benar pergi.'Julia terdiam cukup lama mendengar kalimat itu. Perempuan itu memandang wajah lelaki di depannya lekat-lekat. Bram terlihat sangat berbeda dibanding beberapa bulan lalu. Tidak ada lagi aura percaya diri yang dulu melekat kuat pada dirinya. Kini yang tersisa hanya lelaki lelah dengan mata penuh penyesalan.Namun luka di hati Julia belum benar-benar sembuh.Dan ia sendiri tidak tahu apakah luka itu bisa sembuh.“Mas,” ucap Julia akhirnya pelan, “kadang penyesalan datang terlalu terlambat.”Bram tertawa kecil hambar sambil menunduk.“Aku tahu.”“Aku dulu percaya banget sama kamu.”Angin malam meniup pelan
Hujan turun sejak sore, membasahi halaman rumah dan menciptakan suara rintik yang terdengar sendu di atap teras. Di dalam rumah, aroma sup hangat memenuhi ruang makan kecil mereka. Julia sibuk menuangkan makanan ke mangkuk sambil sesekali memperhatikan Hana yang sedang menggambar di lantai ruang tamu.Sudah beberapa hari berlalu sejak surat gugatan cerai itu diketahui Bram. Tidak ada pertengkaran besar setelahnya. Namun justru ketenangan itulah yang terasa paling menyakitkan. Mereka hidup serumah, tetapi seperti dua orang asing yang sama-sama takut membuka luka baru.Bram kini mulai bekerja di perusahaan distribusi kecil di pinggir kota. Gajinya jauh dari cukup dibanding kehidupan mereka dulu. Bahkan untuk membeli bensin dan kebutuhan rumah tangga saja, Bram harus menghitung berkali-kali.Dan itu menyiksa harga dirinya setiap hari.Malam itu, suara pintu depan terbuka pelan. Bram masuk dengan tubuh lelah dan kemeja yang sedikit basah terkena hujan. Wajahnya tampak kusut, jauh berbeda
Pagi datang bersama langit mendung dan udara dingin yang merayap masuk dari celah jendela. Rumah itu masih sama, tetapi suasananya terasa jauh berbeda sejak malam penuh tangisan kemarin. Tidak ada suara pertengkaran, tidak ada bentakan, namun justru keheningan itulah yang membuat semuanya terasa semakin retak.Julia terbangun lebih pagi dari biasanya. Ia memandangi Hana yang masih tertidur di sampingnya sambil memeluk boneka Upin dengan erat. Bekas tangisan semalam masih terlihat jelas di wajah kecil putrinya. Mata gadis kecil itu sedikit bengkak, membuat dada Julia kembali terasa sesak.Perempuan itu mengusap lembut rambut Hana.Rasa bersalah perlahan merambat di hatinya.Ia terlalu fokus bertahan dengan lukanya sendiri sampai lupa bahwa anak mereka ikut tenggelam di tengah kehancuran rumah tangga ini.Sementara di luar kamar, Bram duduk sendirian di meja makan sejak subuh. Secangkir kopi di depannya sudah dingin, tetapi belum tersentuh sedikit pun. Matanya kosong menatap surat gugat
Malam itu menjadi malam paling sunyi sekaligus paling menyakitkan bagi rumah kecil mereka. Setelah kata cerai terucap, udara terasa berubah dingin. Bahkan suara detak jam dinding terdengar begitu jelas di tengah keheningan yang menyesakkan.Bram masih berdiri mematung di ruang tamu. Surat gugatan itu tergeletak di atas meja seperti vonis yang perlahan membunuhnya hidup-hidup. Sementara Julia tampak kelelahan secara emosional. Perempuan itu berdiri dengan mata sembab, tetapi sorot matanya tidak lagi penuh amarah seperti dulu.Justru kosong.Dan kekosongan itu jauh lebih menakutkan.“Apa udah gak ada sedikit pun kesempatan buat aku?” tanya Bram lirih.Julia menunduk sesaat sebelum menjawab pelan, “Aku gak tahu.”Jawaban itu menghancurkan sisa harapan Bram.Bukan penolakan yang membuatnya takut.Tetapi ketidakpastian.Karena itu berarti hati Julia benar-benar sudah berada di ujung batasnya.Bram berjalan perlahan mendekati istrinya. Wajah lelaki itu terlihat kacau. Rambutnya berantakan,
Pagi itu rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Tidak ada suara televisi menyala, tidak ada percakapan kecil di meja makan, bahkan langkah kaki Julia terdengar begitu pelan seperti seseorang yang tak lagi ingin meninggalkan jejak.Bram terbangun di sofa ruang tamu dengan tubuh pegal. Semalaman ia tertidur di sana setelah terlalu lama memikirkan ucapan Julia.'Kalau suatu hari aku benar-benar pergi… jangan salahkan siapa-siapa lagi.'Kalimat itu terus menghantui kepalanya sampai pagi.Ia mengusap wajah kasar lalu menoleh ke arah kamar. Pintu kamar Hana sedikit terbuka. Dari celah itu, ia melihat Julia sedang memakaikan seragam sekolah untuk putri mereka dengan wajah tenang.Terlalu tenang.Dan Bram mulai membenci ketenangan itu.Karena ketenangan Julia sekarang terasa seperti jarak yang perlahan tak bisa lagi ia gapai.“Papa!” Hana tiba-tiba melihatnya lalu berlari kecil menghampiri. “Hari ini anter Hana sekolah?”Bram memaksakan senyum. “Iya.”“Janji?”“Iya, Sayang.”Hana l
Malam turun perlahan, tetapi ketegangan di dalam rumah itu belum juga reda. Udara terasa berat, dipenuhi amarah, kekecewaan, dan ego yang saling bertabrakan. Julia berdiri di dekat meja makan dengan wajah pucat, sementara Bu Sulastri masih mengomel tanpa henti seperti merasa dirinya paling benar.“Kalau kamu memang istri yang baik, harusnya kamu bantu keluarga suami!” hardiknya sambil menunjuk wajah Julia.Julia memejamkan mata sesaat.Biasanya ia masih mencoba menahan diri.Masih mencoba memahami.Namun entah kenapa malam itu, kesabarannya benar-benar berada di ujung tanduk.“Saya sudah bantu terlalu banyak, Bu.”Bu Sulastri mendengus sinis. “Bantu apa? Cuma kerja terus merasa paling berjasa!”Nita ikut menimpali sambil melipat tangan di dada. “Iya. Mentang-mentang sekarang punya uang jadi sombong.”Julia menatap mereka bergantian.Lucu.Saat dirinya tak punya apa-apa dulu, ia dianggap beban. Saat kini mampu berdiri sendiri, ia dituduh sombong.Tidak ada yang pernah benar di mata kel







