Share

Bab 128 : Piknik (4)

Penulis: Fortunata
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-26 12:00:39

Suara Brian terdengar putus di ujung telepon.

Ia menatap layar ponsel dengan rahang mengencang.

"Gimana?" tanya Lalita cepat.

"Dokternya dalam perjalanan. Tapi katanya hujan deras banget di bawah. Jalanan licin dan ada beberapa titik longsor kecil. Mereka butuh waktu buat naik ke sini."

Lalita menatap ayahnya.

Tubuh Hadi kini terlihat menggigil, meskipun suhu tubuhnya masih tinggi.

"Kita nggak bisa nunggu gini aja, Brian..." gumam Lalita.

"Iya. Kita harus turunin demamnya sekarang juga."

Mereka langsung bergerak.

Lalita berlari ke kamar mandi, membasahi handuk kecil dengan air hangat.

Sementara Brian mencari kotak P3K dan mengambil parasetamol dari dalamnya.

"Ini," ujarnya, menyerahkan obat itu pada Lalita.

Hati-hati, Lalita menyentuh pipi ayahnya.

"Pa... buka mulut sebentar ya..." bisiknya.

Hadi menggeliat pelan. Kesadarannya seperti terapung—tak sepenuhnya bangun, tapi juga tak sepenuhn

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 130 : Piknik (6)

    Lalita berdiri di dapur.Tangan kirinya memegang gelas kopi kosong yang sudah dingin sejak tadi.Tangan kanannya bergetar pelan.“Gila tuh orang…” gumam Lalita.Suara langkah Brian terdengar dari belakang, mendekat perlahan.“Lita…”Lalita tidak menjawab.Pandangan matanya lurus ke luar jendela.Ia bingung bagaimana harus menghadapi Brian.“Lita, aku tahu kamu terganggu…”“Aku nggak terganggu.”Suaranya datar.Brian menahan napas.Ia tahu, itu artinya Lalita sangat terganggu.“Maaf ya, Lit…”Lalita mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa kamu harus minta maaf? Kan kamu bilang kamu gak kasih tahu apa-apa ke dia. Atau jangan-jangan kamu penyebab dia ada di sini?”Brian menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.“Beneran

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 129 : Piknik (5)

    Malam itu berlalu dengan pelan. Brian dan Lalita menjaga Hadi bergantian. Saat cahaya pagi mulai masuk melalui jendela, Hadi membuka mata. Wajahnya terlihat lebih segar. Keringat dingin di dahinya mengering. Warna kulitnya kembali normal.“Pagi," gumam Hadi pelan.Lalita yang juga baru bangun itu langsung tersenyum."Papa gimana rasanya sekarang? Ada yang sakit""Gak ada. Demamnya juga udah lewat," jawab Hadi.Hadi pun memegang keningnya sendiri. Memang sudah tidak panas lagi.Di tengah percakapan itu, Brian datang membawa segelas air hangat. “Minum dulu, pa. Papa bener-bener bikin kita deg-degan semalaman.”Hadi hanya tertawa kecil. “Ternyata nginep di kabin seru juga. Dapet bonus drama sakit juga.”***Suasana kabin kembali hangat. Lalita memasak bubur, Brian membuat kopi. Hadi duduk di sofa dengan selimut, masih lemas tapi jauh lebih baik.Semua terasa damai… Sampai

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 128 : Piknik (4)

    Suara Brian terdengar putus di ujung telepon. Ia menatap layar ponsel dengan rahang mengencang."Gimana?" tanya Lalita cepat."Dokternya dalam perjalanan. Tapi katanya hujan deras banget di bawah. Jalanan licin dan ada beberapa titik longsor kecil. Mereka butuh waktu buat naik ke sini."Lalita menatap ayahnya.Tubuh Hadi kini terlihat menggigil, meskipun suhu tubuhnya masih tinggi."Kita nggak bisa nunggu gini aja, Brian..." gumam Lalita."Iya. Kita harus turunin demamnya sekarang juga."Mereka langsung bergerak.Lalita berlari ke kamar mandi, membasahi handuk kecil dengan air hangat. Sementara Brian mencari kotak P3K dan mengambil parasetamol dari dalamnya."Ini," ujarnya, menyerahkan obat itu pada Lalita.Hati-hati, Lalita menyentuh pipi ayahnya."Pa... buka mulut sebentar ya..." bisiknya.Hadi menggeliat pelan. Kesadarannya seperti terapung—tak sepenuhnya bangun, tapi juga tak sepenuhn

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 127 : Piknik (3)

    Lalita tersenyum miring. "Ini camping versi Papa. Aman, bersih, dan ada air panas.""Lebih tepatnya camping versi kamu," sahut Hadi sambil melirik sekilas. "Kamu mana mau diajak wisata alam beneran, kayak naik gunung. Satu-satunya cara ya cuma gini biar kamu mau ikut.""Heheee... Papa memang paling tahu aku deh! Makasih, papaaa..."Lalita memeluk Hadi erat. Hangat, manja, seperti anak kecil yang menolak dewasa.Setelah itu mereka mulai membagi tugas.Hadi menyeduh kopi dari biji kopi yang ia bawa sendiri dari rumah. Aromanya benar-benar memenuhi seluruh kabin.Brian sendiri membuka pintu kaca balkon, membiarkan angin menyusup masuk.Sementara itu, Lalita membuka koper, menyusun barang-barang pribadinya satu per satu.Cuaca hari ini sedikit mendung. Kabut tipis mengitari langit. Cahaya matahari yang terlihat malu untuk keluar itu menciptakan nuansa yang menenangkan.Bahkan terlalu tenang... Dan hari yang terlalu tenang sering kali jadi pertanda datangnya badai.Saat mereka dud

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 126 : Piknik (2)

    “Iya! Papa panik setengah mati! Udah keliling ke tukang sayur, tukang ikan, ke tukang pecel, semua Papa tanyain. Tahu-tahu, anak ini duduk manis di warung nasi uduk, makan kerupuk, nyanyi-nyanyi...”Brian langsung tertawa lepas. “Oh Tuhan… Lita!” serunya sambil melirik perempuan di sebelahnya.Lalita hanya menutup wajah dengan kedua tangan. “Pa, tolong deh… jangan buka semua arsip memalukan aku sekarang...”"Tapi kan ini momen langka, Lit. Papa jarang bisa ikut jalan-jalan bareng kayak gini. Masa Papa nggak boleh cerita? Lagian dulu itu kan masa-masa usaha papa masih belum bagus…"Tiba-tiba Lalita teringat mamanya. Masa-masa papa merintis usaha dan belum punya uang itu adalah masa dimana mamanya masih hidup.“Cerita yang lain aja deh...” gumam Lalita lemah.“Yang mana? Tentang kamu nangis minta nikah sama aktor ganteng pas umur tiga tahun itu?”“PAP

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 125 : Piknik

    "Ya kalau itu anak SD juga tahu kalau kamu datang buat piknik," bisik Lalita dengan nada tajam, meski wajahnya tetap menoleh ke arah mobil seolah tak terjadi apa-apa. "Maksud aku, kenapa sih kamu gak tolak aja ajakan papa..."Brian hanya meliriknya sekilas. Senyum santainya membuat Lalita makin jengkel."Ya ngapain aku tolak? Aku juga mau ikut kok..."Lalita menoleh cepat. Matanya menajam. "Kita kan udah cerai, Brian!""Tapi aku belum tanda tangan suratnya," jawab Brian santai, menutup pintu bagasi mobil milik Hadi.Lalita tercekat. Langkahnya terhenti, dan untuk sejenak, angin sore meniup rambutnya yang mulai berantakan. Jantungnya berdetak kencang, tak karuan."Tapi kamu kan tetap akan tanda tangan surat itu," ucapnya lagi, kali ini lebih lirih, seperti mengingatkan dirinya sendiri.Namun Brian malah menatapnya tajam dan bertanya pelan, nyaris seperti tantangan, "Kalau aku gak mau tanda tangan, gimana?"Lalita kembal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status