Masuk“Mungkin dia memang sengaja mau dapetin lo karena duit. Lo nyebutin gak kalo lo kaya pas kenalan sama dia?” tanya Brian sambil duduk di seberang Lalita.Brian pun melambaikan tangan dan memesan makanan dengan sopan. Hal yang baru Lalita sadari adalah suara Brian merupakan suara “ganteng” versi Lalita. Berat dan merdu saat berucap kata.Mbak pelayan bahkan tersipu malu usai melihat Brian.Jujur saja Lalita sedikit sebal. Dasar tukang tebar pesona!“Enggak. Gue cuma bilang gue direktur Fort,” jawab Lalita sedikit merajuk. Meski agak bingung kenapa harus merajuk, ia tetap melanjutkan obrolannya dengan Brian.“Lagian Fort juga bukan perusahaan IPO. Gak bakal muncul berita di Gugel yang kasih tahu kalau pewaris Fort itu adalah direkturnya.”“Tapi dia tahu lo janda?”“Gue cuma bilang pernah nikah. Detailnya enggak. Ya normal lah, fase awal kenalan.”“Oh…” Brian mengangguk pelan. “Berarti lo baru kenal sama dia?”“Iya. Dari dating apps.”Brian mengernyit tipis. “Terus… lo masih ada jadwal ng
Hampa.Perasaan itu menempel begitu saja di dada Brian, tanpa sebab yang jelas. Namun, ia tahu—kesepian ini tak akan lama.Ia akan segera ikut Roy ke Korea. Lingkungan baru, udara baru, hidup baru. Setidaknya, ia berharap dapat segera sembuh.Otaknya masih kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada target, tidak ada ambisi, bahkan keinginan kecil pun nyaris tidak mampir di kepalanya. Hidup seperti berjalan, tapi tanpa tujuan.Meski begitu, di sudut hati dan pikirannya masih terbesit akan Lalita. Akankah Lalita menunggunya? Tapi… Bukankah ia harus sembuh dulu?Brian terus duduk di sofa tanpa melakukan apapun. Sesekali melirik lemari kamar, teringat bahwa dia belum berkemas sama sekali.Karena tubuhnya terasa cukup segar, Brian memutuskan mengemasi pakaiannya sendiri. Ia melipat satu per satu dengan rapi dan memasukkannya ke dalam koper.Saat koper akhirnya tertutup, Brian menariknya keluar kamar. Langkahnya terhenti sejenak ketika ia melewati kamar yang dulu ditempati Lalita.Mixed feelings
Setelah diberi lampu hijau oleh Hadi, Lalita datang setiap hari tanpa absen—tak satu pun terlewat.Begitu pula hari ini.Hanya saja, tubuh Lalita sedang tidak bersahabat. Kepalanya terasa berat, tenggorokannya perih, dan hidungnya tersumbat. Badannya hangat, jelas sedang tidak fit.Ia tetap datang, mengenakan masker.“Pagi…” sapa Lalita pelan begitu memasuki ruang rawat Brian.“Pagi,” jawab Darren dan Roy hampir bersamaan. Keduanya sedang membantu Brian bersiap untuk sarapan.“Eh… aku baru sadar lupa beli sarapan di jalan,” ujar Lalita sambil menepuk pelan dahinya. “Aku keluar sebentar ya, Kak.”“Jangan,” tahan Roy cepat. “Kamu di sini aja temenin Brian. Kak Roy yang beliin. Kamu mau apa?”“Hmmm… bubur ayam aja deh, Kak,” jawab Lalita. Suaranya serak.Roy menatapnya sekilas, alisnya sedikit mengernyit, tapi ia tak berkomentar apa pun dan langsung keluar.“Kamu gimana hari ini, Yan?” tanya Lalita sambil duduk di sisi ranjang.Brian menoleh ke arahnya, menatap lama. Lalita tidak melepas
"Jadi Yan. Lo harus semangat buat sembuh! Dan... Diana juga udah gak gue izinin masuk. Ayo, Yan. Masih ada kesempatan rujuk sama Lita!"Brian hanya bisa tertawa dalam hati melihat kakaknya yang bersemangat. Bukankah harusnya Brian yang paling senang mendengar berita itu?"Lo juga harus cepet sembuh karena gue kangen sama cewek gue. Gue mau cepetan balik US. Oke? Jangan jahat-jahat sama kakak lo ini. Lo gak akan nemu kakak seganteng dan sebaik gue. Lo dan Roy adalah adik paling beruntung di dunia ini..."Dan Darren… terus mengoceh.Tentang hal-hal sepele, tentang masa depan, tentang betapa menyebalkannya Roy, sampai akhirnya perawat masuk dan memanggil Brian untuk sesi pemeriksaan berikutnya.***Hari ini, lagi-lagi, Citra berdiri di depan gedung Fort—dan lagi-lagi ditolak.“Maafkan kami, Bu Citra,” ujar satpam, “Ibu tidak diizinkan masuk.”Jujur saja satpam Fort sudah lelah menghadapi Citra.
“Aku nggak ngerti sih apa yang ada di otaknya itu. Kok bisa ya orang nggak punya urat malu sama sekali.”Lalita sangat kesal sampai-sampai ia tak sadar melahap sandwich dengan potongan besar, nyaris tanpa jeda untuk mengunyah.Brian mengkhawatirkan Hadi. Bagaimanapun, Fuad dan Hadi bersahabat sangat dekat. Pasti lukanya masih membekas.“Aa… ka… mu… gi… ma… na….”Suara Brian terdengar sangat pelan, terputus-putus. Beberapa kali pun mencoba, Brian tetap tidak bisa melafalkan satu kata pun dengan jelas.Lalita yang berusaha untuk mendengar pun sama saja. Tidak bisa menangkap satu kata pun.Hanya saja, Lalita tidak ingin menyerah.“Hm?” Lalita menghentikan kunyahannya, lalu mendekatkan wajah ke arah Brian. “Kamu ngomong apa?”Brian kembali berusaha. Bibirnya bergerak perlahan, otot-otot wajahnya tampak tegang, setiap suku kata yang ia keluarkan terasa berat.Namun tetap saja, Lalita tak bisa mendengarnya.“P…a… pa…”Akhirnya, ia coba untuk menebak.“Papa?” Lalita mengernyit. “Maksud kamu…
Kediaman utama Wiguna berubah menjadi medan perang di hari tersebut. Deri, Darren, dan Roy—marah besar pada Sabrina.Tak satu pun dari mereka menyangka, perempuan yang selama ini berdiri sebagai ibu dan istri, tega memperlakukan anak perempuan orang lain seperti itu.Entah patut disebut beruntung atau tidak, Sabrina memang tak pernah memiliki anak perempuan.“Hati-hati karma, kamu juga punya anak perempuan” atau “Gimana perasaanmu kalau anak perempuanmu diperlakukan seperti itu?” Kedua kalimat nasihat di atas tidak akan berlaku untuk Sabrina.Namun kini, lihatlah Brian.Deri menelan nafas dalam. Jika karma memang benar adanya, mungkin inilah wujudnya. Karma tidak selalu datang dengan bentuk yang sama. Kadang ia hadir, menampar jauh lebih dalam—melalui orang yang paling disayangi.Kini, meski permintaan maaf yang mereka bawa terasa egois—karena berangkat dari keputusasaan seorang ayah—Deri tahu ia sungguh-sungguh menyesal







