LOGIN“Lo naik apa?” tanya Brian.Dia masih belum ingin berpisah dari Lalita.“Baru mau pesen ojol pulang. Gue gak bawa mobil. Pas berangkat tadi masih ngantuk, jadi gak berani nyetir,” jawab Lalita jujur.“Kalau gitu ayo, gue anterin pulang.”Belum sempat Lalita menolak, tangan Brian sudah lebih dulu menggenggam pergelangan tangannya.Ia ditarik masuk ke dalam mobil, lalu Brian dengan cekatan memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya.“Yan… lo tuh gak nanya dulu gue mau atau enggak,” protes Lalita. “Main tarik aja.”Brian tersenyum kecil. “Gue masih mau ngobrol sama lo. Tadi keputus gara-gara ada Citra. Lo gak mau ngobrol sama gue? Kan udah lama gak ketemu.” Lalita terdiam.Ada bagian dalam dirinya yang ingin menolak. Tapi ada bagian lain yang jauh lebih jujur—rasa rindu. Akhirnya, ia memilih diam dan pasrah.Mobil melaju. Namun setelah beberapa menit, Lalita menyadari satu hal.“Yan… ini bukan jalan ke rumah papa.”Brian tetap fokus ke depan. “Iya.”“Terus kita mau ke mana?”“Ke rumah
Lalita menjelaskan situasi terakhir dari pertemuannya dengan Citra yang masih menggantung.Mengingat zaman sekarang berbagai hal mudah sekali tersebar di media sosial, Brian sangat paham akan kekhawatiran Lalita.Mungkin terdengar berlebihan, tapi belakangan ini terlalu banyak keributan kecil yang menjadi viral. Bahkan sampai diundang ke acara gosip.Ugh! Membaca berita-berita itu saja membuat kepala Lalita pusing.Mereka sepakat untuk tetap diam di tempat, menunggu sampai orang-orang itu pergi.“Yan… tolong perhatiin mereka ya,” bisik Lalita. “Jangan sampai salah satu dari mereka noleh ke arah kita.”Brian mengangguk pelan.“Tapi dia bisa sampai sewa pengacara begitu,” lanjut Brian. “Mereka emangnya punya uang?”“Gue juga gak tahu,” jawab Lalita singkat.Lalita menghela napas panjang. “Kasusnya jadi alot banget. Mereka tuh tipe yang gak segan-segan
“Mungkin dia memang sengaja mau dapetin lo karena duit. Lo nyebutin gak kalo lo kaya pas kenalan sama dia?” tanya Brian sambil duduk di seberang Lalita.Brian pun melambaikan tangan dan memesan makanan dengan sopan. Hal yang baru Lalita sadari adalah suara Brian merupakan suara “ganteng” versi Lalita. Berat dan merdu saat berucap kata.Mbak pelayan bahkan tersipu malu usai melihat Brian.Jujur saja Lalita sedikit sebal. Dasar tukang tebar pesona!“Enggak. Gue cuma bilang gue direktur Fort,” jawab Lalita sedikit merajuk. Meski agak bingung kenapa harus merajuk, ia tetap melanjutkan obrolannya dengan Brian.“Lagian Fort juga bukan perusahaan IPO. Gak bakal muncul berita di Gugel yang kasih tahu kalau pewaris Fort itu adalah direkturnya.”“Tapi dia tahu lo janda?”“Gue cuma bilang pernah nikah. Detailnya enggak. Ya normal lah, fase awal kenalan.”“Oh…” Brian mengangguk pelan. “Berarti lo baru kenal sama dia?”“Iya. Dari dating apps.”Brian mengernyit tipis. “Terus… lo masih ada jadwal ng
Hampa.Perasaan itu menempel begitu saja di dada Brian, tanpa sebab yang jelas. Namun, ia tahu—kesepian ini tak akan lama.Ia akan segera ikut Roy ke Korea. Lingkungan baru, udara baru, hidup baru. Setidaknya, ia berharap dapat segera sembuh.Otaknya masih kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada target, tidak ada ambisi, bahkan keinginan kecil pun nyaris tidak mampir di kepalanya. Hidup seperti berjalan, tapi tanpa tujuan.Meski begitu, di sudut hati dan pikirannya masih terbesit akan Lalita. Akankah Lalita menunggunya? Tapi… Bukankah ia harus sembuh dulu?Brian terus duduk di sofa tanpa melakukan apapun. Sesekali melirik lemari kamar, teringat bahwa dia belum berkemas sama sekali.Karena tubuhnya terasa cukup segar, Brian memutuskan mengemasi pakaiannya sendiri. Ia melipat satu per satu dengan rapi dan memasukkannya ke dalam koper.Saat koper akhirnya tertutup, Brian menariknya keluar kamar. Langkahnya terhenti sejenak ketika ia melewati kamar yang dulu ditempati Lalita.Mixed feelings
Setelah diberi lampu hijau oleh Hadi, Lalita datang setiap hari tanpa absen—tak satu pun terlewat.Begitu pula hari ini.Hanya saja, tubuh Lalita sedang tidak bersahabat. Kepalanya terasa berat, tenggorokannya perih, dan hidungnya tersumbat. Badannya hangat, jelas sedang tidak fit.Ia tetap datang, mengenakan masker.“Pagi…” sapa Lalita pelan begitu memasuki ruang rawat Brian.“Pagi,” jawab Darren dan Roy hampir bersamaan. Keduanya sedang membantu Brian bersiap untuk sarapan.“Eh… aku baru sadar lupa beli sarapan di jalan,” ujar Lalita sambil menepuk pelan dahinya. “Aku keluar sebentar ya, Kak.”“Jangan,” tahan Roy cepat. “Kamu di sini aja temenin Brian. Kak Roy yang beliin. Kamu mau apa?”“Hmmm… bubur ayam aja deh, Kak,” jawab Lalita. Suaranya serak.Roy menatapnya sekilas, alisnya sedikit mengernyit, tapi ia tak berkomentar apa pun dan langsung keluar.“Kamu gimana hari ini, Yan?” tanya Lalita sambil duduk di sisi ranjang.Brian menoleh ke arahnya, menatap lama. Lalita tidak melepas
"Jadi Yan. Lo harus semangat buat sembuh! Dan... Diana juga udah gak gue izinin masuk. Ayo, Yan. Masih ada kesempatan rujuk sama Lita!"Brian hanya bisa tertawa dalam hati melihat kakaknya yang bersemangat. Bukankah harusnya Brian yang paling senang mendengar berita itu?"Lo juga harus cepet sembuh karena gue kangen sama cewek gue. Gue mau cepetan balik US. Oke? Jangan jahat-jahat sama kakak lo ini. Lo gak akan nemu kakak seganteng dan sebaik gue. Lo dan Roy adalah adik paling beruntung di dunia ini..."Dan Darren… terus mengoceh.Tentang hal-hal sepele, tentang masa depan, tentang betapa menyebalkannya Roy, sampai akhirnya perawat masuk dan memanggil Brian untuk sesi pemeriksaan berikutnya.***Hari ini, lagi-lagi, Citra berdiri di depan gedung Fort—dan lagi-lagi ditolak.“Maafkan kami, Bu Citra,” ujar satpam, “Ibu tidak diizinkan masuk.”Jujur saja satpam Fort sudah lelah menghadapi Citra.







