LOGINEvelyn tersentak tubuhnya ditarik sampai membentur dada Bram, dia memeluk pinggang Evelyn.
Sebelum bisa protes, Evelyn mendengar suara jentikan jari dan pandangannya seketika menjadi gelap. Dia bisa merasakan bahwa mereka bergerak melaju sangat cepat melewati terowongan hitam. Perutnya terasa berputar, asam lambungnya naik ke tenggorokan. Bibirnya meringis saat kepalanya berdenyut. Lutut Evelyn gemetar menopang tubuhnya sendiri. Evelyn hampir tumbang jika Bram tidak mengeratkan pelukan, membantunya tidak ambruk. BRUGH!! "Awhh," ringisan keluar dari bibir Evelyn saat tubuhnya mendadak terjatuh dengan posisi Bram di bawahnya. Menjaga agar gadisnya tidak kesakitan saat menghantam tanah. Evelyn belum beranjak, napasnya masih memburu dan otaknya butuh memproses kejadian aneh barusan. "Ah, kepalaku sakit." Evelyn mengaduh saat denyutannya masih terasa. "Itu efek dari teleportasi barusan. Memang efeknya akan jauh lebih sakit untuk manusia." Ujar Bram. "Teleportasi? Apa itu?" Gumam Evelyn meringis dan menjambak rambutnya. Berusaha mengurangi rasa sakit. Evelyn mengerjap saat Bram menggenggam tangannya, berusaha melepaskan jambakannya sendiri sebelum menggantikannya dengan usapan lembut. "Maaf, aku tidak bisa menghilangkan efeknya seperti Darianth atau yang lain. Hanya ini yang bisa aku lakukan." Bisik Bram mengeratkan pelukannya dengan sebelah tangan masih setia mengusap kepalanya. Evelyn tertegun sejenak, telinganya yang menempel pada dada Bram bisa mendengar degupan jantung pria itu. Meskipun bicaranya pesimis, tapi usapan Bram sukses meredakan sakit kepalanya. Evelyn sontak mendorong dadanya dan bangkit berdiri. "Kau sudah baik-baik saja?" Tanya Bram mendekat. Tangannya terulur ingin memeriksa namun terhenti saat Evelyn menjaga jarak dengan mata waspada dan raut ketakutan. Hati Bram berdenyut sakit, gadisnya sangat takut padanya. Padahal dulu mata itu selalu menatapnya penuh kasih dan kagum. Namun Bram menepis itu semua, dia harus bersikap seadanya pada Evelyn. Agar Evelyn tidak terus-menerus takut padanya. "Melihat wajah garangmu, sepertinya kau sudah baik-baik saja." Ujar Bram tertawa sambil mengacak rambut Evelyn. "Ihhhh, jangan menyentuhku!" Tukas Evelyn kesal dan memukul lengan Bram. "Jelaskan apa yang kau lakukan barusan kepadaku! Apa itu teleportasi?!" Tuntut Evelyn. "Kita berpindah tempat dengan kekuatanku. Tadinya kita ada di dunia manusia, sekarang kita sudah ada di dunia supranatural." Ujar Bram mencoba membuat simple agar Evelyn tidak sulit mencerna. "Omong kosong! Dunia supranatural bapakmu!" Evelyn mendengus sebelum tersentak saat melihat sekitarnya. Dia bukan berada di gerbang pabrik, tapi di hutan berkabut dengan pepohonan yang menjulang ke langit. Baru Evelyn bergidik saat merasakan suhu udara dingin menusuk kulitnya lewat pakaian tipis. Kening Evelyn mengerut, dia pikir Bram mengarang. Tapi logikanya tidak sampai jika harus menjelaskan perpindahan tempat mereka dalam beberapa detik. Tubuh Evelyn mematung sebelum tersentak berlebihan saat Bram mengguncang pundaknya. "Jangan dipikirkan dengan pola pikir manusia karena tidak akan sampai. Kau hanya harus mempercayainya." Ujar Bram sebelum mengaduh tatkala Evelyn memukul lengannya. "Jangan sentuh aku!" Peringat Evelyn. "Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga." Sungut Bram. "Aku bukan istrimu! Aku bahkan tidak kenal siapa dirimu, kenapa kau memaksa?" Tanya Evelyn kesal. "Karena kau memang istriku. Ralat, istri kami semua." Jawab Bram mengedikan bahunya. Kening Evelyn mengerut, "kami semua? Maksudnya tujuh pria penyusup kemarin? Kau gila, ya? Otakmu kopong atau bagaimana? Bagaimana bisa satu wanita punya tujuh orang suami?!" Bram meremas dadanya sakit mendengar ucapan tajam itu "Kau tidak berubah, ya? Dari dulu mulutmu ini ingin aku perbaiki." "Ahhh, lepaskan!" Keluh Evelyn memukul lengan Bram yang meraup bibirnya gemas. "Kau menyebalkan! Mesum! Gila! Tidak waras!" Umpat Evelyn memukuli lengan Bram. "Iya tapi kau menyukaiku." Tukas Bram tertawa mengejek. "Mimpi!" Sentak Evelyn menjauh dengan dada naik turun. "Mahluk apapun dirimu, pokoknya kembalikan aku ke dunia manusia! Aku tidak akan pernah menjadi istri kalian para pria dari negeri ajaib ini!" Titah Evelyn melipat tangan sambil menghentakkan kaki ke tanah. "Ehm, jangan menjilat ludahmu sendiri nanti, bocah." Ledek Bram sambil menarik ujung rambut Evelyn. Evelyn melotot sebelum balas menjambak rambut merah Bram yang dipotong wolf cut sebahu dan diikat kuda. "Aw! Evelyn! Kau merontokan rambutku!" Tukas Bram meringis perih saat Evelyn menjambaknya beringas. "Biar saja karena kau menyebalkan! Ini akibatnya jika menyentuh dada perempuan dan memeluk sembarangan!" "Aku melakukannya hanya padamu!" Tukas Bram sebelum mencekal kedua pergelangan tangan Evelyn. Bibir gadis itu menjerit saat keseimbangannya hilang dan jatuh ke tanah dengan Bram menimpanya. Evelyn tertegun saat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, bahkan Evelyn bisa merasakan napas panas Bram menerpa wajahnya. "Lepas tidak?!" Ancam Evelyn saat kedua tangannya tetap digenggam. "Kalau begini kau tidak akan bisa menjambakku, bukan?" Tanya Bram tertawa menang membuat Evelyn kesal. Dugh! "Argh!" Ringis Bram berguling ke samping dengan posisi meringkuk saat Evelyn menendang area privasinya. "Evelyn! Ini masa depanmu tahu! Kau ingin merusaknya, ha?!" Tukas Bram membuat Evelyn berdecih. "Mesum." Sungut Evelyn sebelum berlari meninggalkan Bram yang kesakitan. "Heh, bocah tunggu! Mau kemana kau? Hutan ini berbahaya karena ini masuk area hutan terlarang! Evelyn, kembali ke sini!" Teriak Bram. Evelyn menjulurkan lidahnya mengejek. "Lebih berbahaya berduaan di hutan dengan pria mesum seperti dirimu!" Teriak Evelyn berlari sekuat yang dia bisa. "Ck, gadis keras kepala itu." Decak Bram. Dia harus segera menyusulnya sebelum gadis itu merenggang nyawa di hutan terlarang ini. Namun area privasinya sakit sekali, Evelyn benar-benar berniat menghancurkannya. "Kalau begini, Darianth akan membunuhku kalau tahu Evelyn tersesat di hutan terlarang." Decak Bram, apalagi Darianth sudah melarangnya membawa Evelyn ke dunia ini dengan paksa. Sementara Evelyn berlari masuk lebih dalam ke area hutan. Suara burung hantu dan gesekan ranting menemani suara napasnya sendiri. Evelyn tidak merasakan tanda-tanda mahluk bernyawa lain di sini. Namun, Evelyn tidak mau kembali. Dia sudah muak mendengar ocehan bahwa dia adalah istri dari tujuh pria penyusup itu. Evelyn tidak mengenal mereka. Mereka yang mendadak datang dan membawa dongeng ajaib ke dunia manusia Evelyn. Kepalanya menggeleng kuat, Evelyn tidak mau mempercayainya. Evelyn ingin pulang! Evelyn ingin kembali ke kehidupan normalnya! Sontak langkah Evelyn terhenti, matanya membola dengan jantung yang hampir meloncat keluar. Langkahnya termundur dengan keringat dingin dan pundak bergetar saat mendapati serigala setinggi satu meter mengaung dan mengincar dirinya. Evelyn ingin berlari namun kakinya tersandung, tubuhnya terjatuh. Mendadak semua suara menghilang dari telinganya, air mata keluar dari sudut matanya dengan pikiran penuh. Evelyn ingin kembali ke kehidupan normalnya? Tapi ... Sejak kapan kehidupan Evelyn di dunia manusia itu normal? Hidupnya hanya berisi kepedihan dan rasa sakit yang dibawa kedua saudaranya dan takdir hidupnya. Kini dia harus berakhir dimakan dua serigala lapar? Air mata turun membasahi pipinya dengan tangan mengepal kuat. Evelyn benci takdirnya yang seperti ini. Evelyn sontak bangkit berdiri, dia akan melarikan diri sekuat tenaga. Namun, baru beberapa langkah ... Serigala itu menerjang tubuhnya sampai menghantam tanah. Evelyn menjerit sakit saat kedua bahunya ditahan oleh kedua cakar Serigala yang menembus kulitnya. "Aarghhh!" Jerit Evelyn memalingkan wajah ke samping saat liur serigala menyentuh kulit lehernya. Rasanya dingin saat taring tajam itu menyentuh kulitnya. Sialan! Evelyn akan mati! "T-tolong ... Siapapun." Bisik Evelyn sebelum tersentak tatkala serigala barusan terdorong menghantam tanah beberapa meter ke samping. Evelyn tersentak, reflek bangkit duduk untuk melihat yang terjadi. Evelyn tertegun saat mendapati serigala raksasa setinggi dua meter, berbulu cokelat kemerahan menatapnya tajam. Serigala raksasa itu menyelamatkannya!"Kau akan pergi ke mana?" Tanya Salim menghentikan langkah Raidne keluar ruangan."Pa-pantai."Blam!Pintu ditutup meninggalkan Salim yang masih terjerat dokumen di meja kerjanya. Salim jadi menghela nafas, dia tidak berhak menghentikan karena pekerjaan Raidne sudah tuntas.Hanya saja ada yang menganggu benak Salim."Sepertinya dia ke pantai untuk menghindar dari Ratu." Simpul Salim menggeleng pelan.Raidne adalah orang yang cerdas, buktinya dia selalu menjadi orang tercepat menyelesaikan tugas Kerajaan. Karena itu pula dia bisa menjadi Raja.Kelemahannya adalah di ketakutan dan keraguannya sendiri.Jika saja Raidne tidak berpikir berlebihan bahwa semuanya akan berakhir buruk mungkin dia tidak perlu menyimpan rahasia pada Ratu."Mungkin." Gumam Salim.Dia sendiri jadi meragu saat mengingat masa lalu dimana terjadi masalah besar yang melibatkan Raidne dan Evelyn.Hari itu Salim menyuruhnya tenang dan berhenti memprediksi semua akhir bu
Langkah Darianth terhenti saat pintu utama Istana terbuka. Penjaga memberitakan kedatangan Evelyn dan Raidne.Kebetulan sekali."Makan malam sudah siap, mari-," ucapan Darianth terhenti dengan netra melebar.Keningnya mengernyit melihat keadaan keduanya yang kacau. Pakaian Evelyn robek dan memakai jubah Raidne asal sedangkan kondisi Raidne lebih parah. Tubuhnya berlumuran darah, hidungnya patah dan wajahnya babak belur.Keduanya bergeming dengan raut wajah tidak terbaca, apalagi mereka berdiri dengan jarak."Apa yang terjadi?" Tanya Darianth.Hening.Tidak ada jawaban dari keduanya sampai Darianth tersentak. Ujung jarinya terhenti beberapa senti di depan leher evelyn yang terluka. Ada bekas cekikan di sana."Sebenarnya apa yang-," ucapan Darianth terhenti saat Raidne melewatinya.Beranjak pergi tanpa mengatakan apapun. Darianth jadi menoleh pada Evelyn yang menunduk sambil mengusap lengannya. Raut wajahnya tidak terbaca. Kenin
"Raidne tidak mungkin seorang pembunuh. Aku tidak akan tetipu." Ujar Evelyn menggeleng kuat dengan jantung berdegup kencang.Dalam artian buruk.Tapi dia akan tetap mempercayai Raidne."Aku tidak tahu apa hubunganmu dengannya, tapi terlihat bahwa pria ini menaruh kasih sayang dan cinta besar untukmu namun sepertinya itu hanya perasaan sepihak, ya?" Tanya Raidne membuat Evelyn tersentak."Kau ... Sama sekali tidak tahu apapun soal pria ini. Sedari awal kau hanya menumbuhkan kepercayaan tanpa tahu bagaimana karakter asli san masa lalunya."Evelyn jadi meneguk ludah dengan jantung mencelos, yang dikatakan hantu itu benar adanya."Kalau begitu, haruskah aku ceritakan bagaimana sifat Siren yang sebenarnya?" Tanyanya membuat Evelyn jadi bimbang.Haruskah Evelyn mendengarkannya karena sejujurnya dia sangat penasaran apalagi Raidne terlihat menghindar dan menyembunyikan sesuatu darinya."Kau sepertinya penasaran. Baiklah, akan aku ceritakan padamu-,"
"Raidne! Ohok-ohok ... A-apa yang kau lakukan?!" Jerit Evelyn terbatuk perih saat cekikan tangan Raidne semakin menguat. Membuat tenggorokannya tertekan dan kesulita mengambil nafas. Evelyn melotot dan meronta saat cekikan Raidne seolah ingin mematahkan tulang lehernya. Suara tawa melengking dari hantu laut itu kembali memenuhi atmosfer, seolah menertawakannya yang tengah sekarat. Jemari Evelyn mencoba mencengkram sekitarnya, dia meraup pasir dan melemparkannya ke mata Raidne namun yang terjadi adalah Evelyn lebih terkejut saat Raidne tetap membuka matanya meskipun memerah karena pasir. Ini gila! "Bunuh! bunuh!" Desis Raidne dengan gigi menggertak. Evelyn kembali meronta, meraba-raba sekitarnya untuk mencari benda apapun yang bisa dia gunakan. "Aku akan membunuhmu terlebih dahulu, membuat Siren ini menderita sebelum kemudian membunuhnya untuk menyusulmu!" Desis Raidne menyeringai dengan netra melotot dan diakhiri
"Hahh, akhirnya selesai juga." Gumam Bram merenggangkan badan dan pinggangnya, berdiri di pelataran Rumah sakit."Anda tidak perlu memaksakan diri, Yang Mulia." Ujar Yul di sampingnya."Aku tidak, namun jika tidak melihat langsung kondisi para korban yang terluka, aku sama sekali tidak bisa tenang." Ujar Bram.Yul jadi mengulum senyum di wajahnya yang renta, "anda sungguh berhati mulia, Yang Mulia.""Tentu saja. Sekarang, ayo mulai bekerja. Aku harus cepat menyelesaikannya karena ada istriku yang cerewet tengah menungguku." Ujar Bram tersenyum geli saat wajah kesal Evelyn terbayang di kepalanya."Anda pasti menyelesaikannya dengan cepat.""Tentu saja! Rakyat percaya padaku karena aku bijak, berhati mulia dan baik hati. Apalagi aku sangat populer karena ketampananku." Tukas Bram sambil menyeringai bangga."Lalu, apakah dengan itu semua Ratu Evelyn sudah menyukai anda kembali, Yang Mulia?" Tanya Yul sontak membuat Bram terbatuk karena ucapannya tepat s
"Raidne, ada apa?" Tanya Evelyn bingung saat dia ditarik untuk berlari menjauh dari pantai.Tapi Evelyn tidak mendapatkan jawaban apapun saat Raidne terus berlari dengan wajah panik. Seolah secepat mungkin ingin membawa Evelyn pergi dari sana.Nafas Evelyn memburu saat langkah mereka terhenti di depan gua sebelumnya, kali ini dengan tangga menanjak."Ah!" Tukas Evelyn terkejut saat tubuhnya diangkat ke pundak. Raidne memanggulnya seperti sekarung beras sebelum menaiki tangga gua dengan sangat cepat.Raidne tidak bisa mendapatkan risiko kaki Evelyn yang tergellincir jatuh di tangga seperti sebelumnya. Dia juga tidak tega jika harus menarik Evelyn tertatih-tatih ditangga.Cukup lama sampai keduanya berhasil keluar dari gua. Evelyn pikir Raidne akan langsung menurunkannya namun ternyata tidak, dia lanjut berlari sambil terus menggendongnya melewati hutan sebelumnya.Kening Evelyn mengernyit dengan mata membelalak saat langit yang sebelumnya cerah mendadak g







